#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 06 Februari 2013

Tengah



00:18

Pertanyaannya adalah sampai kapan kau akan terus menjadi sekadar penikmat karya-karya besar disekelilingmu? Jelas tidak mungkin selamanya karena kau butuh seperti mereka. melakukannya dengan segenap kemampuan. Dari awam hingga profesional. Dari merangkak hingga berjalan. Dari berjalan hingga berlari. Dari berlari hingga terbang dan mengangkasa. Mereka punya kebutuhan begitupun dengan kau. Mereka berkarya untuk memenuhi kebutuhannya itu. Lantas denganmu? Kapan kau akan memulainya? Atau kau pura-pura telah memulainya. Membanggakan diri dengan sedikit materi yang sekadar beruntung kau dapatkan itu. Atau lebih menyedihkan lagi itu adalah pemberian bukan hasil kerja. 

Yakin sekarang mereka belum juga tidur. Tapi letih dengan kerja dan karya. Apalagi alasannya kalau bukan kepuasan dan pemenuhan kebutuhan. Itu bukan sekadar kewajiban dalam berumahtangga, katakanlah sudah. Melainkan keperluan dan keharusan untuk terus berlanjut dengan karya-karya yang baru. Menyeragamkan keinginan penikmat karya-karya mereka. Nah kau masih termasuk di dalam penimat itu. Secepatnya kau harus ubah itu. Yakin bahwa kehidupan ini berputar kawan seperti bumi yang berotasi. Begitu pun kehidupan dan hari-harimu mendatang. Tidak ada yang selamanya kecuali kehidupan setelah kematian. Nah ini saat sebelum kematian itu datang. Betapa berdosanya apabila hidup hanya sekadarnya. Apalagi menumpang dari belaskasihan orang lain terus menerus. Berbahagialah kalau kau bisa membagi kebahagiaan itu kepada orang lain. Tapi kau tidak akan pernah bisa berbagi tanpa berkarya. Apapun selagi itu baik dan dihalalkan. Waktu tidak bisa menunggumu. Bahkan sedetik pun tidak akan pernah mau. 
 Percayalah ini bukti bukan kepura-puraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar