#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 06 Februari 2013

Gelap terang




Malam ini saya menemukan dua kenyataan yang sama-sama membuat efek kelogisan bekerja lebih lemah ketimbang perasaan. Anehnya dua kenyataan ini saling bertolakbelakang namun mengakibatkan rasa yang sama yaitu ketakutan. Yang pertama sepi yang diwakili oleh gelap. Yang kedua keramaian. 

Mengapa sepi selalu dekat dengan kegelapan. Tanpa cahaya dan penerangan. Tanpa teman dan sendiri. sepi, gelap, sendiri berubah menjadi takut. Bayangkan saja kau melewati terowongan bawah tanah sepanjang semenit perjalanan. Dengan menggenggam sebuah senter penerang pun kalau kau melewatinya sendiri dijamin akan gemetaran langkah kaki tiap pijakan. Apalagi tanpa penerangan apa-apa. Seorang tukang bakso mendorong gerobaknya melewati pesawahan yang membelah dua desa. Jalan itu lurus tapi tanpa penerangan jalan satu titik pun. Hanya langit mendung di atas pohon-pohon tepian sawah yang memantulkan cahaya-cahaya bintang yang temaram. Tidak ada bulan karena mendung. Gerobaknya memasang sebuah dian kecil dan senter. Menyorot langsung ke tanah di depannya membuat jarak pandang yang terbatas. Kanan serta kirinya entahlah. Jalanan itu seperti karpet merah yang di pinggirnya keramaian orang-orang mematai kita. Entah siapa karena hanya gelap yang terlihat dan lubang jalanan beraspal yang becek setelah ditimpa gerimis.
Yah terbayang rasa lelah itu matanya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar