Malam ini saya menemukan dua kenyataan yang sama-sama membuat efek
kelogisan bekerja lebih lemah ketimbang perasaan. Anehnya dua kenyataan ini
saling bertolakbelakang namun mengakibatkan rasa yang sama yaitu ketakutan.
Yang pertama sepi yang diwakili oleh gelap. Yang kedua keramaian.
Mengapa sepi selalu dekat dengan kegelapan. Tanpa cahaya dan penerangan.
Tanpa teman dan sendiri. sepi, gelap, sendiri berubah menjadi takut. Bayangkan
saja kau melewati terowongan bawah tanah sepanjang semenit perjalanan. Dengan
menggenggam sebuah senter penerang pun kalau kau melewatinya sendiri dijamin
akan gemetaran langkah kaki tiap pijakan. Apalagi tanpa penerangan apa-apa. Seorang
tukang bakso mendorong gerobaknya melewati pesawahan yang membelah dua desa.
Jalan itu lurus tapi tanpa penerangan jalan satu titik pun. Hanya langit
mendung di atas pohon-pohon tepian sawah yang memantulkan cahaya-cahaya bintang
yang temaram. Tidak ada bulan karena mendung. Gerobaknya memasang sebuah dian
kecil dan senter. Menyorot langsung ke tanah di depannya membuat jarak pandang
yang terbatas. Kanan serta kirinya entahlah. Jalanan itu seperti karpet merah
yang di pinggirnya keramaian orang-orang mematai kita. Entah siapa karena hanya
gelap yang terlihat dan lubang jalanan beraspal yang becek setelah ditimpa
gerimis.
Yah terbayang rasa lelah itu matanya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar