#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 14 Mei 2012

Edisi ke dua



Kajian sore edisi ke 2 -dept kerohanian BEM JBSI UNJ –
Pengisi : kak HARIS (LDK UNJ)

Sore ini kembali menjadi saksi atas sebuah kajian tentang sastra dan AL QURAN. Salut dengan teman-teman kerohanian yang  telah menjadi fasilitator dalam pelaksaan kajian sore ini. Edisi yang ke dua Alhamdulillahiroobilalamin bisa berjalan juga. Bertempat di lokasi yang sama dengan kajian pertama, kak Haris membukanya dengan sebuah salam. Salam membuat kita merasa lebih dekat dalam persaudaraan, maka ucapkanlah salam. Begitulah kajian sore dibuka dengan sebuah ajakan untuk mmeberikan salam kepada siapapun dalam setiap kesempatan pertemuan. 

Segala puji bagi ALLAH, zat maha penentu atas segala rencana,usaha dan doa. Persiapan yang tidak terlalu lama. Berawal dari niat menjalankan amanat dan didukung momentum yang tepat.  Maka pada hari ini , selasa  8 Mei 2012 kajian berhasil dilaksanakan. Shalawat teriring salam mari tetap kita sampaikan kepada nabi besar Muhammad SAW yang telah member banyak kemudahan dan pencerahan kepada umatnya. Semoga kita mendapatkan pertolongan beliau di hari akhir kelak. Amiin.

Intensitas pertemuan memang mendukung atas perencanaan suatu agenda yang baik. Namun kualitas pertemuan tidak kalah dalam menentukan perencanaan yang baik. Maka maksimalkan intensitas pertemuan yang tidak terlalu banyak untuk pertemuan yang efektif. 

Kak Haris kemudian melanjutkan dengan memberikan motivasi pentingnya berkumpul di tempat-tempat budaya ilmu dan majelis. “ Sesungguhnya ALLAH menjadikan malaikat-malaikat berkeliling diantara majelis dzikir dan majelis ilmu. Maka dikerumuni majelis itu oleh para malaikat, dan sayap-sayapnya membuat perlindungan menembus batas langit dunia.

Bahkan dengan jamnan langsung dari ALLAH sekalipun terkadang kita masih saja enggan untuk turut berkumpul dalam budaya ilmu. Memang sebuah pilihan, apalagi kala dalam satu kesempatan yang sama amanah lain tidak mungkin ditinggalkan. Maka kerjakan amal kebaikanmu meskipun bukan dalam kesempatan semacam ini. Karena bumi adalah ladang ibadah umat manusia bagi mereka yang menyadari.
Ada mata yang berkaca-kaca ketika kak Haris melantunkan beberapa ayat suci AL QURAN. Aku tidak sengaja melihatnya. Tapi setidaknya dia yang berkaca-kaca telah menyadari dan bahkan mungkin membuktikan betapa kitab suci AL QURAN mampu menjadi pengobat segala macam beban dunia bahkan akhirat nanti. Mata itu tidak lagi sekedar lisan yang bercerita, tapi symbol kenyataan. Semoga kelak kita bisa merasakan ketika mata tertunduk dalam kesucian firmanNYA. Amiin.

Berikut ini adalah beberapa pesan kak Haris yang tertulis dalam catatan. Semoga bermanfaat.
  1. Jangan jadikan pandangan-pandangan filsafat sebagai pedoman hidup tapi jadikanlah hanya sebagai ilmu dalam perkuliahan. Jadikanlah AL QURAN sebagai pedoman hidupmu. Tentu sahabat lebih bisa mengerti tentang ilmu dan pedoman hidup.
  2. Bagaimana menjadikan AL QURAN sebagi pedoman hidup adalah dengan mulai memperbaiki cara membacanya karena sesungguhnya AL QURAN diciptakan untuk manusia dengan kemudahan-kemudahan dalam mempelajarinya.
  3. Hafalkanlah AL QURAN ketika bacaan AL QURAN telah diperbaiki. Harusnya iri melihat orang lain yang memiliki lebih banyak hafalan AL QURANnya.
Demikian mungkin yang tercatat. Semoga bisa bermanfaat.
Subhanaka allahuma wabihamdika asyhadualla ilahaila anta astagfiruka waatubu ilaik..
Salam sahabat. Semoga kajan sore selanjutnya selalu lebih baik. Amiin.

Jakarta, 14 Mei 2012
19:52


Minggu, 13 Mei 2012

Mereka ada, bukan untuk ditiadakan



Malam mendung
Ini kisah perjalanan malam. Belum tengah malam, dan bahkan hampir tengah malam pun tidak sama sekali. Bisa dikata masih dalam punggung beruas menuju puncak malam. mungkin selasarnya. Padahal tidak jelas puncak malam kapan waktunya. Tapi ini sebuah perjalanan. Aku menganggapnya ini tidak terlalu buruk untuk dikisahkan, maka aku menceritakannya. Aku menganggap aku tidak pandai bercerita, maka aku menuliskannya. Tapi aku tidak pernah menganggap aku pandai menuliskannya. Hanya jalan ini sepertinya yang lebih aku sukai saat ini. 

Ini lagi-lagi kisah dan cerita yang mungkin tidak terlalu penting untuk dituliskan. Tapi aku menganggapnya ini cerita yang layak untuk dituliskan. Malam yang dini itu tampil seperti biasa. Tidak ada yang tampak berbeda dengan sebelumnya. Memang malam lebih pandai menerima kenyataan dan telah menguasai keikhlasan dalam menerima. Jadi apapun malam dan dimanapun adalah penerimaan atas wujudnya. Lain dengan manusia yang selalu ingin berubah dan berkembang. Itu memang telah menjadi naluri alamiahnya. Tetapi ketika perkembangan itu terlalu memaksa dan enggan menerima bentuk norma di masyarakat, maka perkembangan itu telah digunakan sebagai alat yang merusak tatanan sosial kita sendiri. Iyakah manusia mau hidup tanpa tata tertib? Iyakah manusia mau hidup sendiri tanpa orang lain? Iyakah manusia mau hidup dengan kebebasan tanpa batas, yang mau semau-maunya?  Tapi apakah iya manusia mau hidup selama-lamanya di dunia?

Bagi manusia yang masih menaruh kuat pada Tuhannya sudah selayaknya mereka menyadari bahwa tidak mungkin manusia akan bisa membebaskan diri mereka sebebas-bebasnya karena aturan yang menjaga mereka dari kesesatan. Seharusnya kita menyadari betul bahwa peraturan Tuhan adalah pembatas yang akan menolong kita dari jurang yang sangat dalam. Namun lagi-lagi terkadang memang jurang itu dianggapnya sebagai tantangan. Padahal telah jelas larangan dan apa yang ada di dalam jurang sana. Tidak lain lagi karena manusia tidak mau lagi mendapatkan batasan yang justru mejatuhkan mereka sendiri dalam gelap yang terlalu gelap. Bayangan diri pun lenyap dalam pekat, enggan menemani diri mereka. 

Malam muda ini pun berlalu dalam perjalanannya sendiri dalam pencarian. Aku meluncur saja mengikuti arah yang baru saja kuhafal. Ada yang berbeda, dan apa pula yang sama. Lagi-lagi ada dia, seorang wanita berjarit lusuh di tikungan jalan itu. Sebelahnya adalah tugu kecil yang selau kutakuti, apalagi kalau malam bertambah gelap. Bayangannya jatuh memutih memunculkan gaya pandang yang mejatuhkan mata. Takut dengan keberadaan yang tidak ada. Takut dengan apa yang dipikirkan sendiri. Wanita tua itu hadir lagi dalam pinggiran jalan, tepat di bawah pohon palem kecil. Enggan menengadahkan kepalanya. Tangannya pun tak lagi menoleh ke atas,  tapi sudah jatuh ke tanah. Namun orang-orang masih mengerti tujuannya meskipun tidak juga menanggapinya. 

Kerikil-kerikil kecil itu menjadi teman dalam hiburannya sendiri dalam hitungan satu, dua,  tiga, empat dan seterusnya ketika orang-orang berlalu saja. Ada yang sekedar berhenti, mungkin memastikan apakah wanita berjarit itu benar-benar dari sejenisnya, manusia. Ada lagi yang sekedar menoleh dan sudah bisa memastikan keberadaannya. Namun ada pula yang lalu begitu saja, mungkin karena terlalu fokus pada jalan di depannya.
Wanita itu ada di tepi jalan tepat sebelum tikungan, membuat siapapun menentukan pilihan. Sama dengan harapan yang dibesarkan dalam hatinya. Semoga ada sisa simpati untuk memilihnya sebagai sasaran pemberian. Apa saja pasti diterimanya. Sebuntel plastik telah terbuka meminta jatah yang biasa diterimanya.
Malam masih dini. Mungkinkah ini menjadi sebabnya. Buntelan plastik itu belum terisi juga. Hanya beberapa koin saja bebas beradu di dalamnya ketika wanita berjarit itu menggoyangnya. 

Matanya lagi-lagi tak mau menolehnya ke arah jalan di hadapannya. Menunduk dalam perenungan. Seperti padi yang lebih dulu berisi dalam hamparan padi muda yang sombong berdiri tegak. Mata yang tak mungkin terlihat, tapi wnaita itu selalu dilihat oleh siapapun yang berlalu. Begitulah seterusnya hingga hilang pandangku melalui.

Ini  adalah pandangan yang lain dari tempat yang lain pula. Tapi keadaan tak jauh berbeda. Seorang wanita tua dnegan anak kecil disebelahnya. Setumpuk botol air mineral berkumpul dalam karungnya. Airnya meneteskan sisa hisapan orang-orang yang kehausan dalam siang. Merembes membasahi karung yang tadinya kering. Ada cahaya lampu di depan mereka. di belakangnya adalah aliran sungai kecil yang tidak terlalu bening. Tapi pantulan cahaya dari airnya menggelombangkan sinar yang beriak-riak. Binatang-binatang kecil terbang melintas di atasnya. Sementara kawanan cicak dari deretan pinus di punggung tanggul sungai itu siap berburu dan berpesta menyergap lalat dan nyamuk kecil yang kelelahan. 

Di ujung jalan ini adalah seorang lelaki tua yang terduduk dalam kepasrahan. Kopiahnya hitam bergaris kecoklatan bukan karena motif melainkan karena usangnya. Kaki-kakinya ditekuk mendekat ke pangkal pahanya. Tangannya memegang sebuah buntelan, tak jelas apakah isinya. Satu lagi yang lain memegang erat karung yang belum terisi penuh. Aku lebih dulu menganggapnya karung itu adalah barang berharga milik kakek itu. Lihatlah mata yangtak lagi memancarkan sinar pagi itu. Rambut yang tak lagi hitam lebat memutih karena usia. Pakaiannya adalah sepotong celana pendek dan baju panjang merah berkotak yang telah memudar. Bibirnya kering dalam lapar dan haus. Nafas yang yang lancar lagi tak teratur.

Apa yang dipikirkan mereka hanyalah apa yang akan bisa membuat mereka ada untuk besok dan esok dan seterusnya. Sementara apa yang kamu pikirkan untuk mereka? apakah justru tak pernah mengakui keberadaan mereka?










 

Selasa, 08 Mei 2012

Terbang dengan tulisan


Orang tua berjalan gontai
Ini kisah dan cerita. Tentang seorang yang tidak muda lagi. Tubuh kering tapi gempal dengan beban hidup yang tampak tidak semudah yang aku jalani. Iyakah menuntunku untuk terus kembali mengingat syukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan kemudahan yang telah ditiupkan dalam setiap langkah dan lingkaran tubuh berbalut dosa ini. Aku ragu berbuat apa. Ada amanah dan ada tanggungjawab yang segera menuntut balas atas apa yang telah mereka berikan. Ada rasa takut dan cemas yang berlebih dari orang yang mengesampingkan tanggung jawab dan amanahnya. Ada kelompok penuntut balas atas kinerja. Ada keberadaan yang semakin terasingkan oleh kesibukan tak berharga. Ada kebohongan untuk menunda ketakutan dan ada retorika untuk menghilangkan kekhawatiran. 

Seorang yang lain memandang hampa dalam harapan yang berbeda. Ada lagi tanggungan yang lain, sewaktu tapi beda. Kulminasi dari kesibukan. Keberadaan yang justru mencemaskan. Padahal niat mendapat pengakuan, malah terancam karena senjata pribadi. Strategi yang salah. Dari segan dan enggan menolak saran dan ajakan kawan, menjadi penggeser dan perusak tatanan segala rutinitas yang seharusnya tidak boleh terabaikan. Kalau sudah ada akibat baru mendapat pengalaman berharga. Bisakah mendapatkan pengalaman tanpa merasakan akibatnya di awal waktu? Karena kalau hanya mendapatkan kisah dari pendongeng, aku tidak akan pernah mendapatkan kepuasan. 

Orang tua itu mengalihkan juga perhatianku. Penatnya kepala membuatku pening. Akibat rencana yang tidak terencana dengan baik. Salah merencanakan menjadi salah berbuat dan salah. Seorang tua bertopi koboi membungkuk dengan nafas setengah-setengah. Topinya adalah perlawanannya terhadap kemiskinan yang dapat dipastikan tidak juga mau pergi darinya. Seorang prajurit berkuda, pejuang keadilan, penentang kemelaratan. Tapi lelaki tua itu tak berkuda. Hanya sebilah bambu yang telah dibelah. Melenting menunjukan kekuatannya. Tubuh gempal kering itu terpaksa mengimbangi bambu yang melengkung karena beban di ujung-ujungnya. Beban diujung bambunya tidak mungkin terbuang begitu saja, karena beban-beban itu adalah penyambung hidupnya. 

Memang beraneka barang ia tawarkan pada setiap orang duduk dimana ia temui. Pada sepasang muda yang lupa orang tua. Pada orang-orang kaya tak simpati. Pada sesamanya. Orang miskin berbalut kain kebohongan menutup identitas yang sebenarnya. Mataku menoleh tak akan tega. Tulang selangkanya telah ikut beserta lengkungan bambu di pundaknya. Seperti menjadi bantalan empuk untuk beban yang dipikulnya.
Kepada siapa derita hendak dibagi, sedangkan kehidupan adalah perjuangannya menahan diri, menahan beban untuk beban esok harinya. Lantas ada apa dengan aku yang menunggu dan hanya menunggu. Menunggu besok yang sama dengan hampir sama dengan hari ini. Menanti esok dengan rencana-rencana yang tidak teratur. Menunggu lagi keberadaan yang akan segera membuatku cemas, khawatir dan ketakutan dengan rencanaku sendiri. Aku hilang. Aku pergi. Seorang tua itu duduk beristirahat menertawakan melirik ke arahku. Aku tak berbayang kalau-kalau aku bertukar tempat dengannya.

Senin, 30 April 2012

Semangat pemuda membangun bangsa


Semangat pemuda membangun bangsa
Oleh Imam Arifudin
Membangun bangsa bukanlah sebuah hal yang mudah. Tetapi bukan juga hal yang mustahil untuk dilakukan. Kuncinya terletak pada semboyan “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.” Bangsa mana lagi yang mampu membangun negaranya tanpa persatuan. Tidakkan individualis tidak akan pernah berlaku dalam kehidupan sosial. Mau hidup sendiri, tidak mungkin terjadi. Memang ada sebuah hal tertentu yang menjadikan mansia sebagai mahluk yang sendiri. namun akan lebih banyak manusia berinteraksi dalam ruang sosial tertentu di masyarakat. Maka apa yang hendak kau bangun ketika yang hendak kau bangun adalah bangsa sebesar Indonesia? Sedangkan kau mahluk kecil di antara bangsa besar ini.
“Berikan aku 10 orang pemuda, akan aku guncangkan dunia” adalah sebuah pengakuan jujur Sukarno pada bangsa ini dan dunia bahwa Ir Sukarno sekalipun membutuhkan orang lain. Idealism beliau hanya akan menjadi tumpukan cita-cita yang terkubur kalau saja tidak ada Bung Hatta, Sutan Syahrir, M Yamin, serta rakyat Indonesia yang bahu membahu memperjuangkan untuk kemerdekaan Indonesia tahun 1945 silam. Maka kunci untuk membangun bangsa yang pertama adalah persatuan.
Melihat bangsa Indonesia yang sangat beragam dari segi budaya, bahasa, adat, suku dan lain hal memang menjadi tantangan sendiri untuk pemimpin bangsa ini. Tetapi mereka pejuang kemerdekaan telah membuktikan bahwa mereka bisa menyatukan bangsa ini. Maka bukan suatu hal yang mustahik untuk menjaga terus persatuan yang telah dirintis oleh pejuang-pejuang bangsa sebelum  kita itu. Mempertahankan dan menjaga memang tidak mudah, tapi kembali lagi bukan sesuatu yang mustahil. Ancaman pihak-pihak asing yang tidak menginginkan ketenangan di bumi Indonesia adalah hal yang lumrah karena posisi strategis dan peran negera kita yang cukup dipertimbangkan di mata asing. Terutaa karena kepemilikan sumber daya alam yang sudah tak terbantahkan kekayaannya.
Hal ke dua yang harus dimiliki oleh pemimpin bangsa ataupun calon pemimpin bangsa yang bermimpi hendak membangun bangsa adalah kematangan fisik dan mental. Nilai-nilai kejujuran, dapat dipercaya atau amanat, cerdas, serta merakyat. Bukan mengatasnamakan kepentingan rakyat dalam mengambil kebijakan yang sebenarnya tidak pro terhadap rakyat. Pemimpin yang mau mengambil risiko dan menempatkan posisi bijaknya dalam setiap pengambilan keputusan. Namun hal terpenting dalam pembangunan sebuah bangsa adalah pembangunan pribadi atas anggota bangsa tersebut. Pribadi yang matang dan mapan akan menjadi komunitas dalam sebuah bangsa yang besar. Semangat membangun bangsa.

Minggu, 22 April 2012

Kadang sebuah proses memang bikin STRESS


Yth. Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Republik Indonesia
Di Jakarta

Dengan segala rasa hormat,
Sebagai warga Negara yang tidak tahu banyak masalah birokrasi, administrasi dan atau apapun hal yang terkait dengan hal-hal tersebut. Maka saya hanya ingin menyampaikan pengalaman saya ketika mencoba berhadapan langsung dengan para birokrat, orang yang ahli dalam masalah birokrasi. Pengalaman saya adalah ketika akan memindahkan nama atau mutasi kendaraan bermotor roda dua di Samsat Jakarta, jalan gunung sahari jakarta.
Sangat berbelit. Itu hal wajib yang saya rasakan ketika harus mengurus sendiri keperluan saya tersebut. Selain alur dan mekanisme yang “tidak dijelaskan” berbagai pungutan pun tak bisa dihindari. Entah resmi ataupun tidak, tapi perasaan mengatakan tidak resmi alias illegal. Pasalnya bukti pembayaran tak pernah saya dapat dari para petugas yang terlihat superior atas orang-orang macam saya yang baru pertama kali datang.
Banyak pungutan
Entah berapa kali saya dipaksa mengeluarkan uang untuk “memperlancar proses” yang memang menjadi hajat saya. Terlepas dari legal atau ilegalnya pungutan uang tersebut, yang jelas saya sangat kesulitan “menjadi warga Negara yang baik”  yaitu dengan mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan. Pun dengan sosialisasi mekanisme/ tata cara mutasi kendaraan dan lain hal yang tidak saya dapatkan di samsat tersebut. Saya hanya mendapatkan selebaran atau pamflet pembuatan sim mobil di depan loket pendaftaran cek fisik kendaraan. Tidak ada publikasi lain yang memvisualisasikan berbagai cara yang harus saya lakukan ketika memutasi kendaraan, dari Jakarta ke daerah dan sebaliknya. Saya hanya mendapati orang-orang yang hilir mudik dengan buntelan berkas-berkas yang terlalu tebal di tangan mereka, keluar dan masuk ruang kerja petugas dengan mudahnya, urusan pun tak kurang dari 5 menit selesai. Entah apa gunanya tulisan tebal di atas kertas A4 yang tertempel kukuh di kaca depan loket tersebut. “ Selain petugas dilarang masuk!”
Saya tidak pernah tahu siapa mereka. Yang jelas di depan kantor yang berdiri megah di seberang Mall Mangga Dua ini terpampang tulisan “ HINDARI BERHUBUNGAN DENGAN CALO.” Saya jadi berpikir apa yang membedakan antara calo dan biro jasa? Menurut saya biro jasa hanyalah calo yang dilegalkan saja. Memang lebih elegan kedengarannya. Hmm, tapi inilah negeri ini.
Profesinalitas petugas pun patut untuk dipertanyakan, pasalnya kalau saya tidak banyak inisiatif untuk meminta penjelasan, maka jangan harap informasi terkait alur atau tata cara mutasi yang hendak saya tempuh akan saya dapatkan. Padahal sudah selayaknya petugas memberikan pelayanan terbaiknya kepada para “pelanggannya.”
Ada banyak pungutan, namun yang saya ingat adalah, pertama di loket cek fisik kendaraan roda dua, di sana saya diminta uang sebesar Rp 30.000,00, kemudian di loket fiscal Rp 15.000,00, loket arsip Rp 10.000,00 dan yang tebesar di loket pengambilan berkas mutasi sebesar Rp 325.000,00. Semuanya tidak ada yang memberikan terkait bukti pembayaran kepada saya. Alhasil saya pun seperti cuma-cuma memberikan uang saya tersebut. “Untuk kelancaran proses”, itulah normatif jawaban yang saya dapat ketika menanyakan perihal uang yang saya berikan. Ketidaktahuan saya membuat saya mengamini saja.
Filosofi  malu bertanya sesat di jalan memang benar, tapi tidak mutlak kebenarannya. Karena kalau yang tahu informasi diam saja melihat gelagat orang yang sedang kebingungan, maka sesatlah pada akhirnya. Sambutlah setiap warga Negara yang mencoba menjadi warga Negara yang baik. Jangan patahkan atau membuat putus asa orang yang hendak menjadi warga yang baik dengan ketidakramahan kerja yang disajikan. Padahal petugas pada dasarnya adalah pelayan, yang mempunyai sifat keharusan memberikan jasa terbaiknya untuk pelanggannya.
*ketidaksinkronan antar lembaga
Belum lagi habis rasa putus asa yang telah diciptakan oleh birokrasi di samsat Jakarta, ketika ke samsat daerah “cilacap” pun sama saja. Ternyata birokrasi di negeri Indonesia diciptakan hanya untuk orang-orang yang sangat maha sabar. Beruntunglah saya masih bisa menjaga dinginnya kepala, sehingga terhindar dari tindakan yang bisa semakin membuat saya merugi.
Selesai berurusan dengan birokrat Jakarta maka nalar saya memang harus segera mengurus berkas baru yang akan dibuatkan di daerah yaitu Cilacap. Namun ternyata saya masih kekurangan satu berkas yaitu cek fisik kendaraan. Padahal saya sudah cek fisik di Jakarta. Ternyata harus cek fisik juga di samsat Cilacap. Lagi-lagi tidak ada pemberitahuan dari samsat Jakarta ketika saya mengurus berkas-berkas di sana. Kemudian saya menanyakan lebih lanjut terkait apa-apa saja yang harus saya lakukan selanjutnya. Petugas samsat di Cilacap tergolong lebih ramah daripada samsat Jakarta. tidak bermaksud membandingkan, tapi itu yang bisa saya rasakan. Dari arahan petugas saya memang harus cek fisik kendaraan di sini, kemudian ke polres Cilacap untuk crosscheck data di loket mins ops lantas, dan urusan BPKB. Lagi-lagi pungutan kembali diminta. Terhitung Rp 40.000 masuk ke petugas mins ops lantas dan Rp 80.000 masuk ke petugas urusan BPKP. Hanya yang membedakan, saya medapat kuitansi untuk pembayaran yang sejumlah Rp 80.000, tapi tidak untuk yang sejumlah Rp 40.000. semoga tersalurkan ke kas Negara.
Selelesai urusan di polres maka saya kembali ke samsat berjarak 20 menit dari polres untuk urusan cek fisik kendaraan. Namun ternyata tidak bisa karena memang kendaraan yang akan di cek fisik kebetulan tidak saya bawa. Namun petugas cek fisik berseragam rapi kepolisian di samsat Cilacap member solusi sederhana. “ Mas cek fisik lagi saja di Jakarta, namun jangan ditandatangani petugas pemeriksa. Nanti biar saya yang akan tandatangan.”
Tanda Tanya besar langsung terbesit di pikiran saya. Oh ternyata bisa seperti itu ya?
Maka sore harinya saya meluncur lagi semalaman bersama gerbong ekonomi kereta ke Jakarta. Cek fisik kendaraan lagi. Saya jelaskan keperluan, namun saya diberi solusi lain. Masih sama tetap cek fisik, namun cek fisik berlabel bantuan, katanya untuk motor yang mau cek fisik di daerah namun supaya motor tersebut tidak perlu di bawa ke daerah. Jadi cukup dilegalisir di daerah nanti. Maka kembali saya mengamini saja apa yang diberitahukan sang petugas. Semalaman kembali saya meluncur ke daerah Cilacap.
Seperti air susu dibalas air tuba dibalas lagi dengan sari bratawali yang pahitnya luar biasa. Usaha dan dan segala pengorbanan yang telah dilakukan berdasarkan perintah sang petugas nyatanya ditolak mentah-mentah. Hati siapa yang tidak jenuh dengan situasi macam ini. Petugas yang menyarankan, petugas pula yang membalikkan keadaan. Maka layaknya Tuhan sebagai penentu kebijakan dan keputusan. Saya belajar dari mereka bahwa  tidak ada kesamaan kebijakan, peraturan, tatacara/ mekanisme kerja antara pusat dan daerah. Maka bersiaplah untuk menanggung kecewa dan membuang waktu, lelah, dan pengorbanan yang sia-sia. Hingga kini, saya biarkan saja berkas-berkas yang belum selesai di samsat Cilacap. Percuma saja mau menjadi warga Negara yang baik. Mungkin memang menjadi tidak baik diantara yang tidak baik jauh lebih tepat. Sesat. Semoga Tuhan melindungi keteguhan untuk tetap berusaha mennjadi warga Negara yang baik. Dan semoga birokrasi segera berbenah dengan situasi yang menyusahkan “pelangganya.”
Maka dengan seyakin-yakinkannya saya menekan tombol tidak puas pada pelayanan samsat ketika di Jakarta. sayang sekali ketika di Cilacap tidak ada. Apalagi tombol indicator kepuasan layanan, kotak saran pun saya tidak melihat.

Maka kalau masih begini-begini saja, reformasi birokrasi seperti apa yang sebenarnya menjadi tujuan??
ini hanya kebodohan saya yang baru tahu "proses prosedurnya."
moon dimaafkan..

Sabtu, 10 Maret 2012

Edisi perdana

Edisi perdana
Kajian Sore BEM Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Bismillahirohmanirrohim
Alhamdulillah, segala puji bagi ALLAH, Tuhan yang maha kuasa atas segala sesuatu. Akhirnya pada sore hari ini Selasa, 6 Maret 2012 Tuhan memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada BEM JBSI untuk melaksanakan agenda Kajian Sore. Bertempat di Puri Lingua, pendopo milik bersama jurusan bahasa dan sastra Indonesia dan Bahasa Inggris, Kajian Sore dilaksakan. Dengan membawakan tema pembicaraan “ Antara Kesibukan dan Produktivitas” diskusi dan transfer informasi serta ilmu akhirnya terlaksana di tempat kecil beralaskan karpet biru, warisan sekaligus inventaris BEM JBSI.
Persiapan yang singkat. Memang terkesan seadanya, tapi bukan seadanya niat untuk mengadakan kegiatan ini karena dari keterbatasan kita belajar untuk memperbaiki. Dengan keterbatasan bukan berarti harus berhenti dan pasrah serta akhirnya menyerah kepada keadaan. Ketika sudah terbesit pemikiran macam itu, maka yakin apapun rencana yang diagendakan pasti akan batal atau urung terlaksana. Berkobar-kobar ketika melihat mimpi, namun padam ketika terbangun dan melihat sungai mengelilingi. Arungilah sungai itu dengan ataupun tanpa rakit. Banyak cara disediakan, hanya niat, usaha dan doa yang akan membawa ke puncak mimpi itu. Dari Negeri 5 Menara maka ada sosok Alif dengan pengalamanya dengan semangat MAN JADDA WA JADA. Siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil.
Keberhasilan memang hanya milik subyek yang terlalu cepat merasa terpuaskan atas apa yang telah dikerjakannya. Namun ini baru langkah awal menuju tapak selanjutnya yang masih cukup panjang. Harapan konsistensi tentu menjadi bagian siapa saja yang pro dengan manfaatnya. Sementara yang lain, tidak ada urusan untuk memikirkan apa yang mungkin disebut sebagai jalan belajar ini. Bukan pada pencitraan melainkan niat untuk memberikan dan membiasakan budaya ilmu, salah satunya dengan jalan ini.
Dalam Kajian sore ini kak Mahar banyak memberikan pemahaman baru tentang bahasa, sastra dan kaitanya dengan seputar wawasan keislaman. Di bagian awal beliau langsung memberikan pembicaraan ringan terkait PBB di Indonesia, yaitu Persatuan Bahasa Bangsa, maklum saja mengingat Indonesia memang kaya dengan ragam bahasa yang tersebar di setiap pulaunya. Bukan hanya bahasa daerah namun juga bahasa serapan yang diambil dari bahasa asing. Contohnya brug dalam bahasa Jawa, diserap dari bahasa Belanda yang berarti jembatan. Buku berasal dari bahasa Inggris book. Dan masih banyak lagi.
Identik kak Mahar mungkin beliau suka mengeluarkan kata atau pernyataan yang terdengar aneh tapi lucu, sehingga pembawaan diskusi yang awalnya dingin dan kaku menjadi mencair juga dengan sedikit lelucon yang dibuatnya. Coba saja dengan akronim yang dibuatnya. GEMPAR, Gerakan Mahasiswa Produktif, Aktif dan Rajin :D, KANGKER yaitu Kangmas Kerja dan lain-lain yang dirangkai dengan metode kisah dalam penyampaian materinya sehingga membuat asik untuk terus diikuti.
Ada beberapa yang menjadi pesan dari Kajian Sore ini. Mungkin yang tercatat adalah sebagai berikut.
·         Sahabat adalah bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk saling menumbuhkan.
·         PerintahNYA adalah untuk saling mengingatkan ketika sahabat telah berbuat keliru, bukan untuk menggosipkan.
·         PerintahNYA bukan mencari kesalahan sahabat, melainkan mencari potensi yang dimiliki sahabat.
·         Antara kesibukan dan produktivitas harus selalu mengingat bahwa ada keluarga yang selalu bersama kita. Maka usahakan untuk berbuat adil diantara kesibukan dan produktivitasmu.
·         Diantara kesibukan dan produktivitas ada masyarakat yang menunggu peran dan kontribusimu.
·         Diantara kesibukan dan produktivitas ada Negara yang akan kamu bawa kemana arah dan tujuannya.
Dibagian akhir pembicaraan, beliau menyampaikan opininya tentang Indonesia yang setuju dengan lagu Bang Rhoma Irama. Yang kaya makin kaya yanag miskin makin miskin plus yang bodoh makin bodoh. Mengapa? Karena yang pintar tidak mau memberikan ilmunya kepada yang lain yang tidak bisa. Paradigma inilah yang menjadi pobia dalam pencitraan individualisme sehingga mementingkan pribadinya. Jangan sampai seperti itu karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diwariskan.
Salam. Terimakasih untuk semua yang telah mendukung kegiatan ini. Semoga Kajian selanjutnya selalu menjadi lebih baik.
Jakarta, 6 Maret 2012--22:36--

Biodata singkat pembicara
Nama lengkap                          : Mu’allifin Mahar (Kak Mahar)
Tempat, tanggal lahir                : Tegal, 23 Maret 1989
Alamat                                    : Jalan Remaja 2 RT 09 RW 04
                                                 Jatinegara kaum, Pulogadung, Jakarta
AKtivitas sekarang                  : Aktif di korwil Brigade PII Jakarta
Motto hidup                            : Kesana kemari membawa manfaat
No ponsel                               : 0856 7617 785

Jumat, 06 Januari 2012

kerinduanku pada beliau

Sebentar saja aku berpikir, kemudian jatuh dalam lamunan. Sempat aku membuka kenyataan yang hampir tak bisa aku terima, ternyata masih mimpi. Untunglah. Rasa khawatir itu selalu ada. Kemana lagi sosok harus aku cari, selain dari pada kembali. Ini bukan sekedar kerinduan, melebihi makna rindu itu sendiri. Aku tak mendapatkan kata yang lebih tepat, yang bisa menggambarkan dan mewakili perasaan sekarang ini.
Sekarang antara Jakarta dan pelosok kampung di sana. Aku akan menyusulnya.