Kami tidak percaya lagi pada pendidikan, barangkali. Ini titik menjenuhkan jadi semua kata tak tersensor, maaf. Semakin kami terdidik semakin
kami menyadari betapa tidak jelasnya pendidikan yang ditinggi-tinggikan itu. Waktu
sama sekali tidak dihargai di sini. Hanya waktu sang guru yang berharga. Kami
layaknya kacang yang dikupas dan di jual eceran di pinggiran jalan untuk
mendapatkan uang. Kami jembatan menuju penghargaan yang absurd. Apakah
pendidikan sudah serusak ini? Kami yang lahir dari bingkai kerusakan apakah
akan muncul sebagai anak hilang yang terdidik dengan ketidakjelasan. Kami anak
yang terasing dari hak kami apakah akan menjadi anak yang pasrah pada sang
guru. Kami bukan kerbau yang manggut untuk dicucuk setiap waktu kapanpun kau
mau. Kami anak Tuhan yang dititipkan untuk kau cerdaskan. Tidak dengan segala
tuntutan dan kewajiban tapi juga pengertian dan pemahaman.
Engkau sang guru apakah akan menunggu anak-anakmu bergerak dalam barisan
yang tak terduga? Engkau sang guru telah kebal dengan nurani yang melas karena
kepala telah penuh dengan ilmu-ilmu non praktis. Duniawi yang mengancam
pendidikan estetis sekalipun. Pembelajaran karakter tidak bermakna! Hanya
konsep dan alibi penelitian! Mungkin sekali waktu sang guru pun harus
dipindahtugaskan ke bukit-bukit kemilau di NTT atau Papua karena penelitian
mereka bilang punya nilai guna. Maka di sanalah saatnya nilai guna itu
dimanfaatkan. Bukan dikebumikan dalam perpustakaan-perpustakaan para borjuis. Inikah
filsafat aksiologis yang digadang-gadang oleh para ilmuwan? Kemana aksi-aksi
atas penelitian berlabuh?
Paradoks in melahirkan efek domino tidak hanya soal kebermanfaatan tapi
juga perkara waktu yang tersita untuk “kurcaci-kurcaci” mereka di kelas.
Terkadang alibi pengabdian sering menyendirikan para siswa. Katanya sih belajar
mandiri. Kalau begitu untuk apa status sang guru itu? Aduh terlalu banyak
pertanyaan yang muncul setelah mendapat stimulus kamuflase pendidikan hari ini.
Sebagai orang yang terdidik saya sama sekali tidak ingin hal seperti ini saya
kerjakan alami juga. Sejatinya ilmu adalah kebermanfaatan untuk orang lain
bukan diri sendiri. Sejatinya kamipun tidak ingin meneladani contoh dan
pengalaman yang absurd ini. Ini harus segera dibongkak, didobrak dan segera
dikebumikan dari bumi pendidikan!
Jakarta,
3 Juli 2013
18:39
WIB