Aku tulis ini kala penyakit melemahkanku. Dua malam tidur bersama
ketidaknyamanan. Tapi itu pun sama saja dengan aku menikmati 24 jam waktu yang
telah diberikan Tuhan kepadaku. Begitu pun ketika aku harus merasakan sakit
dalam tiap malam pembaringanku, maka sebenanrnya itu hanya tipu daya yang
membuatku terbatas dalam gerak dan aktivitas. Lihatlah lidah yang mulai memutih
karena suhu badan yang terlalu tinggi. Lihat pula bibir yang mulai mengering
karena alasan yang sama. Tapi itu juga hanya sebatas penebus atas dosa-dosa
yang aku buat selama ini. Begitupun atas 24 jam waktu yang belum bisa aku
sempurnakan manfaatnya.
Aku tidak menyesali ini sebagai hukuman atau konsekuensi atas
tindakanku. Tapi ini lebih memiliki kecenderungan pada waktu yang tepat untuk
memastikan diri berada pada perenungan dan penghitungan diri. Atas segala
kebaikan juga keburukan yang telah terjadi selama 24 jam waktu yang diberi
Tuhan setiap harinya kepadaku. Ada saatnya juga tubuh butuh istirahat. Ada
saatnya juga badan harus berhenti dari aktivitas karena manusia bukanlah robot.
Mudah-mudahan ini menjadi penanda baik untuk 24 jam-24 jam waktu yang mungkin
masih akan diberikan Tuhan kepadaku, kepada kita, manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar