#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 22 Juli 2013

Sama


Aku tulis ini kala penyakit melemahkanku. Dua malam tidur bersama ketidaknyamanan. Tapi itu pun sama saja dengan aku menikmati 24 jam waktu yang telah diberikan Tuhan kepadaku. Begitu pun ketika aku harus merasakan sakit dalam tiap malam pembaringanku, maka sebenanrnya itu hanya tipu daya yang membuatku terbatas dalam gerak dan aktivitas. Lihatlah lidah yang mulai memutih karena suhu badan yang terlalu tinggi. Lihat pula bibir yang mulai mengering karena alasan yang sama. Tapi itu juga hanya sebatas penebus atas dosa-dosa yang aku buat selama ini. Begitupun atas 24 jam waktu yang belum bisa aku sempurnakan manfaatnya.

Aku tidak menyesali ini sebagai hukuman atau konsekuensi atas tindakanku. Tapi ini lebih memiliki kecenderungan pada waktu yang tepat untuk memastikan diri berada pada perenungan dan penghitungan diri. Atas segala kebaikan juga keburukan yang telah terjadi selama 24 jam waktu yang diberi Tuhan setiap harinya kepadaku. Ada saatnya juga tubuh butuh istirahat. Ada saatnya juga badan harus berhenti dari aktivitas karena manusia bukanlah robot. Mudah-mudahan ini menjadi penanda baik untuk 24 jam-24 jam waktu yang mungkin masih akan diberikan Tuhan kepadaku, kepada kita, manusia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar