#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 24 Juli 2013

Batas Imajiner



Maaf ini bukan soal tempat yang megah atau panggung yang indah tapi ini soal siapa yang akan melihatnya. Kita memang berbeda. Terlalu sulit untuk menyatukannya. Lagi-lagi ada batas imajiner yang terus menghalangi kedekatan kita. Kau kah itu sejarah yang panjang? Sejarah ada untuk membesarkan kita seharusnya. Tapi ini justru membuat rival yang tidak jelas ujungnya. Kita sama-sama mengakui jarak imajiner itu. Tapi mengapa sejarahnya menciptanya begitu indah? Kau kah itu dunia  yang berurusan dengan materi dan nepotisme.
Anak kecil akan tetap tersenyum lagi sekalipun dia baru saja menangis. Bahkan seringkali dia tersenyum dalam tetesan air matanya. Nurani pada akhirnya akan mengalahkan segalanya bagi orang yang memilikinya. Ini pilihan yang kita jalani masing-masing. Ini yang aku yakini kebenarannya. Kau pun menyakini kebenaran idealismemu. Kita hidup serumah tapi dalam kamar yang berbeda.

24 Juli 2013

15:57

Tidak ada komentar:

Posting Komentar