#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 24 Juli 2013

Kesempatan yang berbeda


Ada beberapa hal yang membuatku tak juga ingin menidurkan mata hingga tengah malam ini. Ini adalah tentang langkah-langkah yang kembali mengingatkanku pada titik romantika masa yang sulit. Antara perasaan yang tertekan karena takut mengungkapkan dan perasaan lega yang harus segera terpuaskan. Hingga pada akhirnya aku memilih pilihan yang ke dua dengan berbagai konsekuensi kemungkinan. Konsekuensi tersebut antaranya adalah fisik yang tak lagi punya ruh karena ruh kabur meninggalkan raga yang malu menampakkan kebodohan. Ke dua adalah raga yang bertambah panas tiba-tiba dan mengucurkan keringat yang dingin. Ke tiga adalah soal ruh yang begitu berpengaruh pada rasa curiga, khawatir, takut, dan menduga-duga sesuatu yang mungkin.
Pada akhirnya perasaan tertekan itu pun lepas bagai balon yang lepas ke udara langit. Seiring dengan itu ke dua tangan itu mulai bergandeng malu pada perjalanan malam. Pulang.
Malam ini aku melihatnya lagi, maka aku menulisnya.

00:22

25 Juli 2013

Batas Imajiner



Maaf ini bukan soal tempat yang megah atau panggung yang indah tapi ini soal siapa yang akan melihatnya. Kita memang berbeda. Terlalu sulit untuk menyatukannya. Lagi-lagi ada batas imajiner yang terus menghalangi kedekatan kita. Kau kah itu sejarah yang panjang? Sejarah ada untuk membesarkan kita seharusnya. Tapi ini justru membuat rival yang tidak jelas ujungnya. Kita sama-sama mengakui jarak imajiner itu. Tapi mengapa sejarahnya menciptanya begitu indah? Kau kah itu dunia  yang berurusan dengan materi dan nepotisme.
Anak kecil akan tetap tersenyum lagi sekalipun dia baru saja menangis. Bahkan seringkali dia tersenyum dalam tetesan air matanya. Nurani pada akhirnya akan mengalahkan segalanya bagi orang yang memilikinya. Ini pilihan yang kita jalani masing-masing. Ini yang aku yakini kebenarannya. Kau pun menyakini kebenaran idealismemu. Kita hidup serumah tapi dalam kamar yang berbeda.

24 Juli 2013

15:57

Senin, 22 Juli 2013

Samar


Sesungguuhnya saya baru benar-benar menyadari kalau segala keabsurdan yang selama ini saya jalani hanyalah kamuflase untuk menghidupkan kembali arwah raga yang gentayangan dimakan kerapuhan fisik, usia dan ketidakpedulian. Saya tidak menafik ada sisa-sisa kepedulian di ujung nafas yang hampir habis. Tapi itu sekejap saja, setelah itu pergi dan benar-benar habis nafas. Hanya segelintir orang saja yang benar-benar masih saya hormati di sini. Mereka yang mau disebut sebagai senior maupun junior. Bagi saya sama saja. Ketika anda bertanggung jawab atas komitmen maka di situlah saya akan menghargai keberadaan. Tapi sekali anda berkilah maka setelah itu percuma saja kau berusaha menghapus kesalahan itu. 


Saya tidak suka pendendam hanya tidak mau dibohongi untuk beberapa kali. Apalagi dengan tipuan sekilas yang baru saya sadari sekarang. Masih ada sisa sebagian yang benar-benar merasa punya tanggung jawab dalam bangunan raga ini. Selebihnya hanya menuntut untuk ini dan itu. Habis itu kabur dan pura-pura diam atau tidak tahu. Alasan klasiknya “Ini bukan masa gue lagi. Ini waktu kalian. Maka segera saja ” tiba-tiba senyap sebentar dan gue pergi!

Romantisme kecil



Hari ini tiba-tiba ingin merasakan lagi romantisme sakit dan bahagia saat jatuh cinta. Biarpun lebih banyak perasaan luka yang tertinggal bersamamu tapi tak ada alasan bagiku untuk mengelakanmu. Tidak untuk selamanya karena aku pasti takkan bisa.bersamamu adalah kenangan singkat yang sampai dengan saat ini tak pernah hilang dari ingatan. Kau mungkin mudah saja untuk menghapus jejak singkat di antara kita. Tapi tidak bagiku. Aku tahu aku hidup bukan untuk masa lalu tapi dari masa aku bertolak untuk masa yang akan datang. Kau telah mengganti sayang dengan orang-orang setelahku. Mudah memang bagimu untuk segera beranjak dari kisah yang terlalu singkat. Bahkan aku masih ingat betul sangat sambungan telepon jarak jauh mengakhiri semuanya. Aku sadar yang memulainya saat itu. aku melihat indikasi ketidakenakan pada kau saat itu. aku terlalu sibuk dengan urusanku dan begitupun kau. Mungkin sampai dengan sekarang. Aku hadir sebagai dian yang tak lagi menyala seterang dulu menurutmu. Tapi aku justru merasa lebih terang dari sebelumnya sekalipun dian-dian lain berlalu menggantikan dian yang sempat meninggalkanmu sementara.
Ini bukan soal ketidaksetiaan tapi tentang tanggung jawab. Aku datang tanpa apa-apa kecuali perasaan yang memotivasiku untuk mengatakan sesuatu yang kini kusebut “cinta.” Hanya itu. Tapi aku sadar seiring hasratku mengatakan hal tersebut. Selalu ada konsekuensi yang harus aku terima meskipun terloihat kurang bersahabat denganmu. Aku terima dan semoga saja “iya” denganmu.

Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu. Tapi untuk mendapatkanmu..

25 Juni 2013

Yang ini untuk kau

Aku malu
Jika apa yang aku tahu tidak sampai pada adikku
Aku malu
Jika apa yang aku tahu menjadi milikku sendiri
Aku malu
Jika apa yang aku tahu menjadi kesombongan
Aku malu
Jika apa yang aku tahu tak sampai mengubahku
Aku malu
Jika apa yang aku tahu tak diketahui oleh adikku
Aku malu
Jika adikku tampil apa adanya
Aku malu
Jika pengetahuanku berhenti pada titik ini
Aku malu
Jika aku meninggalkan adikku tanpa bekal apa dan apa
Aku malu
Jika aku tak merasa
Itu aku

KKL:perjalanan


Belajar banyak mengenal niat dan tujuan. Apalah anda mendeskripsikannya. Terkadang apa yang dilakukan bisa saja diterjemahkan sebagai sesuatu yang salah orang lain. Bahkan hanya sekadar jabat tangan atau duduk di tempat yang dirasa nyaman dan santai. Bahkan niat mengakrabkan bisa berubah menjadi lakuan yang salah seratus delapan puluh derajat. Inilah yang terjadi saat ini. Perjalanan penjang Bali-Jogja yang sama panjangnya dengan singgungan banyak cara dari orang yang berbeda juga. Ada yang diam, ada juga yang tidak mau tahu dengan apa yang terjadi. Tidak ada kepentingan maka tidak ada urusan. Ini saat yang menyenangkan kawan. Tapi kau hendak menerjemahkan sebagai sesuatu yang lain. Sayang. Lebih baik menikmati perjalanan panjang ini.
Tapi semua perjalanan bergantung pada masing-masing pejalannya. Saya tidak berhak memaksakan anda untuk menikmati kesenangan atau kesedihan anda. Yang terpenting bagaimana cara pandang anda saja. Saya tidak ada niatan lain kecuali untuk menikmati setiap perjalanan yang saya jalani. Sekarang bersama anda dan juga anda.

Indah kalau ada peduli. Tapi peduli untuk memerhatikan bukan untuk menyalahkan. Sifat dan sikap terserah anda.

13 Mei 

Sudut pandang:lagi

Mulai lagi. aku telah cukup lama meninggalkan kebiasaan lama untuk terus mengabadikan setiap kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Tapi ide-ide indah itu menguap begitu saja seiring dengan satu tugas yang begitu aku tuhankan melebihi segalanya. Aku salah tapi tak berdaya menerimanya. Sampai dengan batas-batas yang seharusnya harus segera aku dobrak tak kunjung aku pecahkan. Bahkan membuat benteng pandangan mata yang kaku dan menjadi pribadi yang egois. Maaf kawan seharusnya ini membuatku berubah menjadi pribadi yang lebih simpatik tapi aku melihatnya dari sudut yang tidak menguntungkan.

Ini tidak sesuai dengan jalur yang seharusnya aku tempuh. Tapi terlanjur berjalan. Ini tidak boleh berakhir begitu saja tanpa bekas-bekas keindahan dan kepuasan batin yang melegakan. Ini harus berlanjut ketimbang berhenti di tengah jalan dengan rasa lelah yang menanggung. Yah,,aku akan tetap terjaga dalam program yang berbelit dan lama. Hasil tak jelas tapi aku lakukan juga. Hanya demi eksistensi. Bahkan lupa diri dan melupakan orang lain. Maaf. Kalian…

3 Mei 2013

Masih tentang personality


Ada kegelisahan dalam  lindap langkah tanpa keyakinan. Pada tatap mata penuh beban dan  tekanan. Membisukan mulut yang biasa riang tanpa pertimbangan. Hingga mengunci bahkan untuk sekadar senyum melihat kelucuan seorang anak kecil menggendong seekor kelinci. Apa salah yang dia hadapi. Tidak ada kecuali membatu dalam kesombongan. Mestinya ini tidak terjadi. Bahkan untuk sedetik sekalipun. Karena mengubahmu menjadi diam dalam kesibukanmu adalah sesuatu yang ironis. Paradoks kebenaran dengan cia-cita yang terpaksa kau jalani. Bukan! bukan seperti itu caranya!

Mulailah dengan sedikit keihklasan untuk berbagi. Tidak ada salahnya membagikan kesenangan dengan yang lain. Begitupun dengan beban tugas yang sedang kau jalani. Tidak perlu belajar menghibur diri kalau toh nyatanya kau tak pernah bisa melakukannya. 

18 April 2013

Penyampaian



Perlahan aku mulai bisa menemukan pola pengendalian diri yang paling efektif. Malam ini aku menemukan dan sekaligus melakukannya. Apapun kepedulian kalian padaku saat ini, aku ucapkan terimakasih banyak telah bersama-sama sampai denga hari ini. Aku paham benar kesibukan ini pun kadang melengahkanku dari tanggungjawab dan amanah. Berapa banyak komunitas yang telah aku sisihkan, aku juga sampai lupa berapa jumlahnya. Tetapi paling tidak sekarang aku hanya punya kalian Teater Zat yang menjadi satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Kian bertambah waktu kian paham bahwa aku tak dapat meraihnya sekaligus. Tapi jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Aku dilahirkan bukan untuk menguasai segalanya, aku bukan robot. Aku terlahir untuk satu keahlian utama saja. Selebihnya adalah keterampilan tambahan yang menyempurnakan. Semoga ini jalan benar yang diizinkanNya. 

2 April 2013

Penyampaian



Perlahan aku mulai bisa menemukan pola pengendalian diri yang paling efektif. Malam ini aku menemukan dan sekaligus melakukannya. Apapun kepedulian kalian padaku saat ini, aku ucapkan terimakasih banyak telah bersama-sama sampai denga hari ini. Aku paham benar kesibukan ini pun kadang melengahkanku dari tanggungjawab dan amanah. Berapa banyak komunitas yang telah aku sisihkan, aku juga sampai lupa berapa jumlahnya. Tetapi paling tidak sekarang aku hanya punya kalian Teater Zat yang menjadi satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Kian bertambah waktu kian paham bahwa aku tak dapat meraihnya sekaligus. Tapi jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Aku dilahirkan bukan untuk menguasai segalanya, aku bukan robot. Aku terlahir untuk satu keahlian utama saja. Selebihnya adalah keterampilan tambahan yang menyempurnakan. Semoga ini jalan benar yang diizinkanNya. 

2 April 2013

Penyampaian



Perlahan aku mulai bisa menemukan pola pengendalian diri yang paling efektif. Malam ini aku menemukan dan sekaligus melakukannya. Apapun kepedulian kalian padaku saat ini, aku ucapkan terimakasih banyak telah bersama-sama sampai denga hari ini. Aku paham benar kesibukan ini pun kadang melengahkanku dari tanggungjawab dan amanah. Berapa banyak komunitas yang telah aku sisihkan, aku juga sampai lupa berapa jumlahnya. Tetapi paling tidak sekarang aku hanya punya kalian Teater Zat yang menjadi satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Kian bertambah waktu kian paham bahwa aku tak dapat meraihnya sekaligus. Tapi jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Aku dilahirkan bukan untuk menguasai segalanya, aku bukan robot. Aku terlahir untuk satu keahlian utama saja. Selebihnya adalah keterampilan tambahan yang menyempurnakan. Semoga ini jalan benar yang diizinkanNya. 

2 April 2013

Posisi dan tanggungjawab


Posisi dan tanggungjawab seringkali memaksa orang untuk berbuat melebihi kemauannya. Membongkar batas-batas diri yang mengurungnya dalam sebuah penjara kreativitas dan produktivitas kerja. Begitupun yang terjadi hari ini denganku. Meskipun aku hidup di antara kesadaran dan ketaksadaran yang tinggi namun keberadaanku saat ini memaksaku berlabuh cepat pada tiap-tiap target untuk menciptakan rencana menjadi realita. Menjadi sesuatu yang benar-benar wujud. Tidak sekadar konsep dan wacana lagi.
Sekarang aku pun sadar ternyata amanah itu membuatku jauh lebih cepat dari biasanya. Memaksaku mencari lebih banyak dan lebih cepat dari biasanya. Memang kadangkala keterpaksaan itu penting untuk memajukan seseorang. Dalam hal ini aku.
Sore tadi aku bercakap di fb dengan seorang teman baru. Aktivis teater dari UNY. Perempuan mahasiswa jurusan bahasa Perancis angkatan 2010. Berarti seumuranlah. Tidak ada niat lain kecuali menguras semua kegiatan teater di sana seperti apa. Dan inilah yang aku dapat sementara ini.

Bahwa teater menjadi program adalah benar dengan beberapa kegiatan diantaranya adalah jelajah alam, workshop, pentas teater, regenerasi, antologi sastra dan lain-lain. Lakon yang pernah dimainkan diantaranya Pinangan, dll.

29 Maret 2013 

Sudut pandang



Sempat terpikir untuk membuat semacam tulisan bercambung berbentuk cerita dalam berbagai variasi sudut pandang yang berbeda. Melihat satu hal yang sama dari berbagai sisi. Sederhananya seperti itu. Barangkali aku akan banyak belajar dan menjadi orang paling bijak dalam tulisanku sendiri. Ini ide bagus yang tinggal menjalankannya saja dan pelan namun pasti aku akan menyamai esai Goenawan Mohamad yang terbit setiap pekannya di tempo. 

29 Maret 2013

Respon


Aku mulai merespon kenangan yang tidak terlalu mengenakkan. Pada sebuah masa yang telah aku tinggalkan. Kelompok-kelompok kecil itu berusaha menjadi maharaja. Tidak ada yang mau mengalah, begitupunpada tiap orang yang mengaduh. Lembaran naskah yang kau baca berulang tak kunjung kau selesaikan tafsirnya. Ini sajak di bawah pohon tua pada selembar kertas. Sambil menunggu keelokan dari seorang yang telah menjanjikan. Ini sajak pada lembaran batin. Tentang penguasan dan yang dikuasai. Ini kewajibanku. Tapi kau tidak acuh. Itu kewajibanmu. Tapi kau mengalihkan.

Aku mulai bosan dengan tulisanku sendiri. kacau tanpa arah dan kejelasan. Aku terlalu asik dengan dunia kertas. Berdiskusi dengan mahluk-mahluk bisu tanpa suara. Aku terlalu pada lembar-lembar kosong itu, yang aku coret sesukanya saja. pada sebuah kertas. Tentang arti diam, suara, dan orang-orang di bawah rangkulan malam. Kosong!

28 Maret 2013 

Awal 1

05:31
Malam tadi baru saja memastikan naskah yang akan dipentaskan bersama di beberapa sekolah di Jakarta. kesepakatan itu akhirnya terbentuk setelah selama pertemuan sebelumnya hanya berputar-putar pada naskah yang berbeda-beda setiap minggunya. Kemudahan ini atas izin Allah dan semoga langkah awal ini semakin terang dan cerah, progresif dari hari ke hari. Waow tentu saja karena waktu pemilihan naskah yang cukup lama telah menghabiskan banyak waktu. Alhasil waktu pendalaman pada naskah ini menjadi semakin sempit. Bisa!

Aku melihat semangat itu masih tetap terpancar pada kalian. Dan karena itu aku yakin ini akan berhasil diselesaikan. Kembali ke niat awal, niat untuk berbagi tentang pendidikan teater dan teater untuk pendidikan. Pasti bisa!

S-I

Hari ini seminar internasional. Katanya? Karena menurut pedoman yang berlaku sekarang seminar internasional minimal harus dihadiri oleh 5 pembicara dari 5 negara yang berbeda. Tapi sekarang hanya ada 2 pembicara dari 2 negara yang berbeda. Tidak apa-apa. Pembelajaran. Modus bela diri. Manusia memang sudah tabiatnya untuk membela diri. Begitulah sampai kadang harus mematikan yang lain. Tapi setidaknya mereka berani dan mampu tampil ke depan. Ets..saya juga tampil tapi hanya sebagai ajudan, mereka jenderalnya.haha luar biasa!


11 Februari 2013
Sergur 15.08

Sama


Aku tulis ini kala penyakit melemahkanku. Dua malam tidur bersama ketidaknyamanan. Tapi itu pun sama saja dengan aku menikmati 24 jam waktu yang telah diberikan Tuhan kepadaku. Begitu pun ketika aku harus merasakan sakit dalam tiap malam pembaringanku, maka sebenanrnya itu hanya tipu daya yang membuatku terbatas dalam gerak dan aktivitas. Lihatlah lidah yang mulai memutih karena suhu badan yang terlalu tinggi. Lihat pula bibir yang mulai mengering karena alasan yang sama. Tapi itu juga hanya sebatas penebus atas dosa-dosa yang aku buat selama ini. Begitupun atas 24 jam waktu yang belum bisa aku sempurnakan manfaatnya.

Aku tidak menyesali ini sebagai hukuman atau konsekuensi atas tindakanku. Tapi ini lebih memiliki kecenderungan pada waktu yang tepat untuk memastikan diri berada pada perenungan dan penghitungan diri. Atas segala kebaikan juga keburukan yang telah terjadi selama 24 jam waktu yang diberi Tuhan setiap harinya kepadaku. Ada saatnya juga tubuh butuh istirahat. Ada saatnya juga badan harus berhenti dari aktivitas karena manusia bukanlah robot. Mudah-mudahan ini menjadi penanda baik untuk 24 jam-24 jam waktu yang mungkin masih akan diberikan Tuhan kepadaku, kepada kita, manusia. 

GREAT TEACHER

ONIZUKA SENSE
Barangkali dialah profil guru idola di negeri sakura Jepang. Malam ini kami baru menamatkan 11 edisi film yang berjudul Great Teacher Onizuka. Tidak disangka Onizuka sebagai guru sekaligus tokoh utama di film benar-benar  memberikan inspirasi tidak hanya pada siswa-siswanya di sana tapi juga para penontonnya, saya yakin. Akhirnya saya menemukan lagi film bergenre pendidikan yang bisa membangkitkan semangat mengajar. Orang-orang seperti saya dan mungkin anda membutuhkan film-film inspiratif seperti ini.

Persoalan yang rumit menjadi sederhana karena si Onizuka, karena guru. Hal terpentingnya lagi adalah betapa seorang guru di Jepang begitu dihargai dalam bentuk semua sapaan. Semua panggilan selalu melekat guru pada nama aslinya. Meskipun hal kurang baiknya adalah anak-anak yang berandal, tidak teratur dan criminal menjadi potret utama masalah pendidikan di sana. Namun pada satu titik mengerucut pada masalah cinta, dan kasih sayang yang hilang dari orang tua kepada anaknya. Begitu rumit dan kompleks. Luar biasa. ini cerita yang tak terduga. Lagi-lagi aku terjebak pada kata bijak “judge the book from the cover.”

Jakarta, 22 Juli 2013

23:09

Sabtu, 16 Maret 2013

Pengendalian




Aku tidur cepat malam ini. Pening kepalaku memaksaku merebahkan badan lebih cepat dari biasanya. Tak kusangka, aku bangun sepagi ini. Pening kepalaku pun telahh kabur terbawa mimpi yang tak terlihat lagi.
Kemarin aku memutuskan untuk "prihatin" sebagai bentuk permohonan ampun atas dosa-dosaku selama ini. Aku bertekad ini akan menjadi kebiasaan baru yang wajib dan tidak boleh ditinggalkan. Pening kepala kemarin aku anggap sebagai bagian dari adaptasi tubuh yang belum biasa. itu pun dudah aku perkirakan sebelumnya. Hingga sampai dengan saat ini aku yakin kebaikan apapun yang aku lakukan tidak akan pernah sia-sia. Semua terbalas sesuai dengan apa yang aku lakukan, pada apa dan siapapun. Hingga saat ini aku juga yakin bahwa pengendalian diri akan menjadi prioritas pertama jika aku mau mengendalikan orang lain.

Ulang tahunku yang kemarin menjadi petanda yang tidak baik sebenarnya. Kala itu sedikit sekali kebaikan yang aku tebar dan taburkan. Hasilnya pun menyesuaikan. Maka kali ini aku hendak mengubahnya dengan serius. Ingin rasanya membawa tubuh yang semakin termakan waktu ini menggantikan masa-masa sulit yang berlalu dengan tidak baik. Esok aku akan mengubahnya. Yang kemarin memang tidak bisa. Tapi selanjutnya pasti bisa. Tidak ada keraguan lagi.
Padahal aku sudah tahu soal pengendalian diri ini sejak lama. Tapi kemarin akalku terlalu sibuk dengan dunia. Alhamdullah hari ini aku terbuka. Aku tinggal  menjaganya dengan segala kemungkinan.

Rabu, 06 Februari 2013

Teluk



AIR
Percakapan itu dimulai lagi.
“ Kenapa mas, melamun aja?”
“ Cari angin.”
Singkat dia beralasan sebagaimana kebiasaan angin menjadi korban dan modus beralasan. Padahal memang tidak jelas keberadaan dia di atas pembaringan yang gratis di dudukinya itu.
Seorang kakek tua sedang menghibur anak kecil. Kakinya mengayuh sekuat tenaga menggerakkan becak yang telah disulapnya menjadi mainan anak-anak. Semuanya demi kehidupan dan senyum anak kecil itu. Sementara itu ibu bocah tersebut menggendong anaknya yang lain. Mengibaratkan tubuhnya menjadi ayunan yang menidurkan. Di lain menghampar mata sepasang remaja perempuan. Baru saja datang. Tidak bermaksud menghampiri. Hanya kebetulan berhenti di tempat yang beruntung. Dia menjadi berpura-pura dalam penjagaan, seolah menikmati suasana yang ada. Padahal pengamen baru saja dibiarkanya mengaduh meminta jatah suaranya yang baru saja diobral.
Keduanya menatap ingin tahu atau sekedar curiga. Ada sedikit senyum menghampar ke laut lepas di depan mereka. sebentar saja kemudian mereka saling melempar muka. Kemudian hanya diam yang berkuasa sebelum tukang es krim keliling menghancurkan renungan itu.