Aku tidur selepas mahrib, kemudian salat Isya ketika telah
lewat dari waktu tepat Isya.
Hari ini ada satu yang menjadi bahan pikiran utama dalam
kepalaku, yaitu departemen kerohanian. Mau aku bawa kemana? Dengan melihat
kepalanya saja yang belum sempat kathamul quran? Maka ada banyak yang harus aku
benahi, terutama dari dalam diri dulu lah, jangan muluk-muluk. Setelah itu
waktunya memberi.
Ekor di kepalaku jatuh padamu kampong halamanku. Aku harus
mengakui kerinduanku pada kakekku.
Masih saja teringat dalam pikiranku wajah,
berlipat kake yang selalu sendiri setiap malam tidur dalam bilik bambu. Umurnya
barangkali sekitar 70-an tahun. Biasanya hanya radio yang menemani beliau dalam
kesendiriannya. Kala mengingat musim hujan seperti ini adalah puncak kerinduan
itu ada. Aku kasihan dengan beliau, tapi aku terlalu banyak kata tetapi yang
membuatku jarang sekali bisa bertemu beliau. Padahal umur beliau sudah dibilang
di penghujung hidup, meskipun tidak ada yang pernah tahu kapan kehidupan akan
tercabut dari raga seseorang. Tapi bahwa kerentaan telah menjadi sosok kakek
sekarang, adalah menjadi bukti semakin dekatnya hal tersebut pada beliau.
Maka aku menjadi sangat ingin kembali, karena hanya jarak
semalam saja yang memisahkan aku dengan beliau. Ya Rabb, nerikan aku kesempatan
untuk bertemu beliau lagi dalam keadaan yang menyenangkan. Aminn
Maka jangan sampai penyesalan membuahkan air mata yang tidak
semestinya jatuh terlalu cepat ya Rabb.
Aku tidak pernah tahu apa yang sedang beliau lakukan
sekarang, malam ini. Akuk harap malam ini adalah malam yang tenang dengan mimpi
indah yang menaungi beliau hingga besok hari menjelang. Kesedihanku adalah
ketika harus membayangkan kesendirian beliau di usia senjanya. Hamper semua
anak-anaknya jauh dari beliau, mereka kebanyakan merantau ke luar daerah,
termasuk ibuku di Jakarta. Dan aku sebagai cucunya sekaligus ada bersama ibuku
disini, Jakarta. Cucunya yang lain
kebanyakan sama denganku, mereka kebanyakan ada di luar daerah, kebanyakan
memang Jakarta. Maka tinggalah kakek dengan seorang satu-satunya anaknya yang
rumahnya saling membelakangi dengan dua orang cucunya. Harapan semua keluarga
ada padanya untuk menjaga selalu kesehatan kakek. Anak-anak beliau yang lain
hanya mendukung dengan iuran bulanan untuk menjamin kebutuhan beliau.
Sesekali
saja ada anak yang telefon, sekedar melepas kerinduan dan kemudian suaranya
menghilang menunggu tamu kerinduan itu datang lagi.
Malam ini aku berharap banyak juga pada radio hitama milik
beliau yag senantiasa mendongeng dalam permulaan tidur beliau untuk tidak lupa
melakukan tugasnya. Kekhawatiran seringkali datang, karena radio tersebut
seringkali mogok bercerita pada kakek. Kalau sudah begitu maka hanya suara
jangkrik dan binatang malam saja yang menemani tidur beliau. Sungguh keadaan
yang tidak menyenangkan untuk dibayangkan. Apalagi ketika hujan turun. Seringkali
diikuti padamnya listrik. Aku pernah merasakan kesendirian dalam sebuah rumah
ketika malam tiba dengan hujan dan petir menyala-nyala dalam gelap malam.
Sungguh batin merasa tidak di perhatikan oleh orang sekitarku, orang-orang yang
paling dekat sekalipun. Maka apapun yang dirasakan oleh seorang tua seperti
beliau, barangkali lebih dalam dari perasaan pengalamanku. Aku tidak pernah
membayangkan ketika kakek harus meraba dinding berbilik bambu itu untuk mencari
sebatang lilin atau dian yang masih
tergantung dengan sumbu minyaknya. Matanya sudah tidak lagi seterang mata
normal. Indikasi kebutaan bahkan telah menjadi vonis dari dokter. Siang menjadi
sore. Sore menjadi malam, malam menjadi gelap kemudian samar dan tidak bisa
melihat. Itulah beliau.
Terakhir aku meniggalkan beliau, aku masih melihat dian itu masih tergantung di atas sebuah
ranjang bambu di bale-bale rumah berbilik beliau. Aku tidak yakin sekarang
masih ada atau tidak karena minyak tanah semakin langka saja. Ada beberapa
batang lilin yang tertinggal memang saat itu. Tapi keyakinan bahwa lilin-lilin
itu telah habis sangat kuat. Jadi aku kembali berharap pada bibi untuk selalu
menilik beliau pada setiap kesempatan. Sebuah senter kepunyaan beliau kadang
juga mati nyala, bahkan aku lupa apakah aku telah mengembalikannya atau belum
pada kakek. Aku sempat meminjamnya. Tapi..aku lupa.
Bahkan ketika beberapa anak beliau ada, kakek masih saja
terlihat kesepian. Apalagi ketika keadaan seperti sekarang ini. Bagaimana
kesepian pasti tidak akan pernah jauh dari hati beliau. Dengan rentan beliau
berjalan mengeja tanah. Seolah membaca kembali semua kehidupan beliau sejak
muda dulu.
Ya Rabb..sampaikan aku untuk bertemu lagi dengan beliau dalam
keadaan yang menyenangkan. Amiin.
Hari ini, Rabu malam, 2 Januari 2012