#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 30 Januari 2013

Jujur



Jujur saya belum bisa menerima perlakuanmu. Sekalipun maksud hati mungkin baik. Tapi cara yang kau tempuh terlalu mengenang dan membekas. Telah lewat dari satu bulan setelah puncak acara itu, mungkin saya akan berhadapan lagi dengan orang-orang sepertimu dengan cara yang berbeda. Serius ini adalah pengalaman. Begitupun pengalaman membimbing anak-anak sekolah dasar kelas 5 sekolah dasar dalam bermain drama. Tapi itu lebih mengasikkan dari pengalaman yang sebelumnya, darimu. Ini bukan soal cinta atau perasaan. Ini soal prinsip dan ketegakkan diri di mata orang. Ini bukan soal berbangga diri tapi kebutuhan untuk lebih dihargai. Sekecil apapun yang belum juga saya dapatkan dari perlakuanmu.
Tapi pengalaman mengajari dan membuat saya lebih berlapang dada untuk menerima.

Selasa, 29 Januari 2013

Batas


Jakarta 28 Januari 2013

Cepat sekali berlalu. Kepeningan ini akhirnya akan segera berganti dengan cerita-cerita tentang kalian. Di masa itu. Waktu yang menyenangkan juga kadang menyusahkan. Semua teringat pada segala kejadian. Dosa, kebaikan, malaikat, keburukan hingga keberkahan. Pahala, nilai, dan ibadah. Kelupaan dan kesengajaan. Penyesalan dan kedamaian. Ketenangan dan kelalaian. Kesempatan dan ketidakpedulian. Perhatian dan abai. Semuanya berlalu cepat dan lewat begitu saja sampai dengan datang masa yang tidak kau inginkan. Saat itu adalah kekosongan waktu. Kelenyapan kesempatan untuk menikmati kembali masa-masa menyenangkan dan kedamaian. Ketenangan serta hiburan. Kesenangan serta kebersamaan. Senyuman serta tawa canda. Doa juga harapan. Cita-cita juga keinginan. Semuanya pergi dan kau sadar ini bukan main-main. Ini bukan sandiwara yang pernah kau pentaskan dihadapan teman-temanmu. Ini bukan lagi kesempatan untuk mengulanginya lagi karena waktu itu kau telah berkesempatan. Ini saat pertanggungjawaban. Ini kesempatan untuk menjawab segala pertanyaan dariNya.

Dalam deretan itu semua kenangan mengular ke belakang. Bersiap menghakimi kedustaanmu dan mengawal segala kejujuran. Piala kemenangan itu hanya milik kesadaran. Pemilik kesadaran adalah pemilik kemenangan bersama kejujuran. Ini adalah obyektivitas dari segala penilaian dan penimbangan. Tidak ada kecurangan dan rasa belas kasih. Kesalahan dibalas dengan sewajarnya. Begitu juga kebenaran dibalas sesuai porsinya. Panggun kehidupanmu telah berlalu. Kau takkan pernah kembali ke sana. Di sini keabadian segala umat. Tidak seorang pun bisa menyangkal. Ini saat keengganan akan membunuh segalanya. Ini waktu kebosanan harus segera dibuang. Ini kala kesia-siaan tidak lagi dikenal. Segalanya berjalan dengan teratur. Tidak ada pembangkangan karena pembangkangan adalah dosa. Tidak ada lagi pembiaran dan tidak ada lagi kesempatan meminta perbaikan dan ampunan.

Berbahagialah mereka yang sadar dengan keberadaanya sebelum menembus batas ini. Kehidupan itu bukanlah garis lurus tanpa hilir dan titik. Kenyamanan itu bukanlah garis lurus tanpa jeda. Tetapi titik itu bukanlah penghenti segalanya karena setelahnya ada garis baru lagi. Tanpa henti. Tanpa jeda. Lalu kapankah batas antara hidup dan mati itu akan kita temui? 

Sabtu, 26 Januari 2013

Maninjau


Jakarta 22 Januari 13
Maninjau. Pagi ini saya berkunjung ke danau indah di kota Bukit Tinggi. Airnya tenang dihias cahaya surya yang pagi. Tambak-tambak ikan mulai nampak kehidupannya. Orang-orang mulai datang bergantian. Selepas salat subuh ditegakkan. Perahu-perahu dilepaskan dari tambatan, dayung-dayung mulai diayunkan, tambak-tambak mulai diperiksa, bertukar tawar terhadap barang dagang. Surau-surau dalam pesantren ramai oleh bacaan kitab suci sang pencipta dan pemelihara alam semesta.
Saya bertemu dengan Buya Hamka. Ulama, politikus, sastrawan dan guru kehidupan bagi banyak orang. Kesempatan langka yang emas bagi saya. Setidaknya foto-foto itu tampak dekat sekali dengan saya. Lebih nyata dari sekedar banyangan. Melukiskan gambaran perjuangan dan suri tauladan untuk kita. Keteguhan serta iman yang kuat. Anti komunis. Konsisten sekalipun ancaman rasa sakit mengancam tubuhnya yang tua. Teguh sekalipun aliran listrik menyetrum tubuhnya. Kokoh sekalipun bui menjadi rumah tinggalnya selama lebih dari dua tahun. 

Rabu, 23 Januari 2013

Deret kehidupan


Ini seperti angin kering yang biasa aku dapati. Pada deret pohon kelapa sepanjang tepian sawah yang luas menghampar di depan mata. Daunnya mendesah seperti mendapat lecutan dari angin yang tak kunjung berhenti. Suaranya kadang tidak hanya menggetarkan daun dan merontokkan daun yang tak kuat pada cengkeramannya bahkan menggetarkan perasaan yang terlanjur berani.

Bocah-bocah kecil berlari dalam kegirangan menarik ulur layang-layang kertas yang baru saja dibelinya dari warung di seberang desa. Di sini tidak ada yang menjualnya kecuali mau dan bisa untuk membuatnya. Mereka biasa menyebut layangan, yaitu bermain layang-layang diantara hamparan sawah yang sudah menguning. Biasanya ketika matahari hampir terbenam di ujung barat anak-anak kecil itu sudah mendahuluinya menenteng layang-layang mereka menembus pekarangan menuju sawah. Orang-orang tua kadang ikut juga dalam kegembiraan anak-anaknya dipinggiran, mencari angin sawah yang deras ditepian ujung dan batas antara tanah biasa dan tanah yang berubah menjad pesawahan.
Sambil menunggu anak-anak yang kegirangan menghalau layangan naik ke langit, orang-orang yang muda lagi itu menghabiskan waktu dalam kisah dan cerita. Adapula yang karena kegemarannya merangkai janur menjadi ketupat. Anak-anak yang kehilangan layangan atau memang tidak punya biasanya menghibur diri dengan sama-sama belajar membuat ketupat dari daun kelapa muda yang mudah didapat di tepian sawah. 

Selangkah dalam pintu kemenangan



Masuk dalam gerbang kemuliaan adalah penanda musim baru dalam beramal dan beribadah. Tidak disangka-sangka lagi semuanya telah menunggu. Siapa saja dari tukang sol sepatu, pedagang jagung rebus, penjual kacang godog, tukang roti keliling hingga imam masjid yang setia menunggu muadzin mengumandangkan azan. Orang tua itu tidak pernah absen menjadi orang pertama yang menginjakkan kai di tempat wudu setelah imam masjid dan muadzin. Tapi suara muadzin itu merdunya kemana-mana menyebar dan mengundang penasaran orang yang mendengarnya. Apalagi menara setinggi hampir 15 meter di samping masjid itu semakin menggemakan suaranya. Begitupun  lantunan ayat-ayat suciNya yang rutin didengarkan 10 menit sebelum salat berjamaah lima waktu dimulai. Mengingatkan orang-orang segera datangnya waktu salat.

Sopir taksi biru itu bergegas menutup dan mengunci pintu mobilnya rapat-rapat. Melemaskan badan sejenak dalam teras pembaringan masjid yang hangat. Tidak cukup luas pembaringan itu. Letaknya persis di bawah menara yang tinggi menusuk langit. Hampir semua orang merebahkan dahulu badannya yang lemah bekerja, di sini sebelum akhirnya mengambil wudu dan menunaikan kewajiban salatnya. Semuanya termasuk tukang sapu jalanan dan para tukang sol sepatu. Terkecuali imam masjid dan muadzin. Barangkali karena keduanya sudah terlalu sering menimati pijatan alam itu yang gratis.

Tapi kali ini tidak ada seorang pun dalam lantai keramik itu melainkan seorang tua bersatung kotak-kotak. Siapa yang tahu orang itu? Petugas keamanan hanya mengenalnya kalau bertemu di sana. Selebihnya tidak ada yang tahu. Dia memakai kopiah putih yang mucuk di kepalanya. Maka ketika angin agak kencang menerpa kepalanya, peci itu hampir-hampir jatuh. Suara iqomah sudah dilantangkan menyeret semua jemaah untuk segera menyusun barisan salat di dalam ruang utama masjid. Tapi bapak tua itu tidak juga turut masuk ke dalam. Malah aku lihat dalam kesempatan-kesempatan terakhirku masuk ke dalam masjid, beliau turut pasang badan juga untuk salat. Tapi di luar. Pintu itu bergeser menutup pandanganan mataku untuk terakhir kalinya melihat beliau. Saat itu saja. setelahnya masih juga bertemu dalam kesempatan yang sama.

Baik barisan jamaah di dalam maupun bapak tua yang di luar sama-sama mengerjakan kewajibanya. Setelah itu, selesai dan semua orang keluar dari ruang utama menuju ke luar. Mengambil alas kaki kemudian pergi dengan senyum miris bapak tua. Burung-burung gelatik kembali beterbangan merespon orang-orang yang bergerak cepat. Taksi biru, gerobak-gerobak para pedagang, serta bajai-bajai yang terparkir di depan pun beranjak satu per satu tanpa aturan. Bebas masing-masing. Sama juga dengan burung gelatik yang terbang entah kemana dalam kelompoknya. Namun sore nanti mereka pasti akan kembali sebelum aku datang.

Nyatanya aku tidak datang sore itu. Janjiku untuk melihat kembali burung-burung yang mematuk kembang-kembang kurma itu gagal aku temui. Mereka keburu berlari dengan sayap-sayap mereka setelah imam selesai membacakan doa penutup salat. Anak-anak kecil melangkah paling cepat dari lainnya. Berlarian saling mendahului dan seolah hendak berteriak,”Aku yang terdepan, Aku yang pertama!!”

Tapi goresan tulis dilarang berisik di dinding tembok itu sepertinya dipatuhi betul oleh anak-anak. Mungkin jauh sebelumnya tidak juga. Pasti ada proses panjang. Aku tahu setelah salah seorang jamaah mendekat ke kerumunan anak-anak sambil melirik ke arah mereka. tanpa suara tanpa kontak fisik. Hanya mata yang beradu berbicara dan menegur sembari mengingatkan. Dari mulai masuk hingga keluar, tertib tanpa suara. Tapi toh anak-anak, sekalipun lisan tidak juga bersuara tapi gemuruh kaki-kaki mereka berlarian meributkan juga. Tanpa dialog hanya deskripsi. Mata yang melihat dalam ingatan tanpa percakapan.

Pada hari-hari itu aku mendengar lagi ayat-ayat yang sama. Suci mengingatkan segala dosa. Kemudian semua orang hendak terpanggil. Termasuk juga aku yang segera merapat dalam barisan yang disebut saf. Saat-saat yang menyejukan kembali terulang. Meneguhkan hati yang renta. Mengembalikan rasa yang sempat putus. Terunggah lagi dalam perasaaan terdalam. Penyesalan dan rasa bersalah.

Sore yang menguning. Mahrib menjelang. Semua orang bersiap. Orang-orang lalu lalang lupa kewajiban. Ada orang dengan kemewah tertawa ria dalam mobilnya. Ada orang berkurang usia malah berfoya ria. Ada orang dewasa belum pada waktunya. Lalai tugas suka kekanak-kanakan. Ada orang sakit menjadi alasan untuk bersitirahat. Pada hari-hari itu aku lupa. Mengikuti jejak langkah semua orang. Ayat-ayat yang terdengar mulai melirih bersama dengan suara bajai yang semakin bising. Tapi suara azan itu tetap memanggil setia. Pada orang-orang di tengah ladang aspal. Pada punggung-punggung para pekerja. Kala itu barisan hanya menyisakan satu barisan saja. Imam dan muazin hanya berteman lelaki tua bersarung kotak. Tekun dalam keyakinan. Abai terhadap segala goda.

Lelaki tua itu memandang imam dan muazin dengan senyum. Seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya kesepian yang perlahan mulai dia rasakan. Ternyata tidak ada lagi orang-orang yang biasanya memandang dia aneh. Tidak ada lagi orang-orang yang mengajaknya masuk ke dalam ruang utama, kecuali pemimpin salat yang kala itu rajin memanggilnya. Hari-hari itu dia merasa diperhatikan betul oleh empunya masjid. Tidak ada sekalipun waktu yang lupa untuk mengajaknya turut bersama.
Burung-burung gelatik telah pergi bermigrasi. Meninggalkan pohon kurma yang semakin tua. Hilang dengan kembangnya. Jatuh gugur seiring usia. Menunggu kematian pada hari-hari itu. 

Sabtu, 19 Januari 2013

Gerbang kemuliaan



Dua tikungan jalan beraspal itu tidak lagi aku lewati. Pos pengamanan yang diam membisu pun tidak lagi aku lalui. Telah lama aku meninggalkan kompleks perumahan itu. Dua tikungan lagi adalah belokan pertama menuju jalan utama dan menuju rumah ibadah yang agung. Di dekatnya ada sebuah taman. Pedagang kaki lima rukun berjejer dengan petugas pengamanan kompleks. Begitupun rumah yang berjejer mewah mengawal setiap langkah yang berjalan. Para pengojek dan supir bajai setia menunggu penumpang di depan sebuah sekolah dasar. Sebuah menara menjulang ke langit bersama pohon kurma tua yang tak kunjung berbuah. Bunga-bunganya berjatuhan tersibak sayap-sayap burung gelatik yang terbang berkelompok.
Seorang anak kecil sedang merayu kakaknya yang perempuan untuk ikut bermain. Dia merengek memaksa bermain. Kakaknya terpaksa juga ikut kemauan adiknya. Sepedanya diseret bersama dengan kekesalannya yang hendak memuncak. Tapi toh ditahan juga demi adiknya. Kakak beradik itu mengantarkanku kala menuju masjid di seberang jalan itu. Dua tikungan dari rumah tempat aku menginap. Empat tikungan dari awal aku keluar pintu pagar rumah. Lantunan ayat suciNya telah mendahului langkahku. Suaranya indah mengikuti ayat-ayat yang keluar dari lisan yang suci. Aku tidak mungkin melupakannya. Lantunannya menuntunku mengikuti jalan yang seolah menjadi penunjuk jalanku. Aku mengikuti saja. tibalah aku pada pintu gerbang kemuliaan itu. 

Senin, 14 Januari 2013

Sesekali




Aku tidur selepas mahrib, kemudian salat Isya ketika telah lewat dari waktu tepat Isya.
Hari ini ada satu yang menjadi bahan pikiran utama dalam kepalaku, yaitu departemen kerohanian. Mau aku bawa kemana? Dengan melihat kepalanya saja yang belum sempat kathamul quran? Maka ada banyak yang harus aku benahi, terutama dari dalam diri dulu lah, jangan muluk-muluk. Setelah itu waktunya memberi.
Ekor di kepalaku jatuh padamu kampong halamanku. Aku harus mengakui kerinduanku pada kakekku. 

Masih saja teringat dalam pikiranku wajah, berlipat kake yang selalu sendiri setiap malam tidur dalam bilik bambu. Umurnya barangkali sekitar 70-an tahun. Biasanya hanya radio yang menemani beliau dalam kesendiriannya. Kala mengingat musim hujan seperti ini adalah puncak kerinduan itu ada. Aku kasihan dengan beliau, tapi aku terlalu banyak kata tetapi yang membuatku jarang sekali bisa bertemu beliau. Padahal umur beliau sudah dibilang di penghujung hidup, meskipun tidak ada yang pernah tahu kapan kehidupan akan tercabut dari raga seseorang. Tapi bahwa kerentaan telah menjadi sosok kakek sekarang, adalah menjadi bukti semakin dekatnya hal tersebut pada beliau.

Maka aku menjadi sangat ingin kembali, karena hanya jarak semalam saja yang memisahkan aku dengan beliau. Ya Rabb, nerikan aku kesempatan untuk bertemu beliau lagi dalam keadaan yang menyenangkan. Aminn

Maka jangan sampai penyesalan membuahkan air mata yang tidak semestinya jatuh terlalu cepat ya Rabb.
Aku tidak pernah tahu apa yang sedang beliau lakukan sekarang, malam ini. Akuk harap malam ini adalah malam yang tenang dengan mimpi indah yang menaungi beliau hingga besok hari menjelang. Kesedihanku adalah ketika harus membayangkan kesendirian beliau di usia senjanya. Hamper semua anak-anaknya jauh dari beliau, mereka kebanyakan merantau ke luar daerah, termasuk ibuku di Jakarta. Dan aku sebagai cucunya sekaligus ada bersama ibuku disini, Jakarta.  Cucunya yang lain kebanyakan sama denganku, mereka kebanyakan ada di luar daerah, kebanyakan memang Jakarta. Maka tinggalah kakek dengan seorang satu-satunya anaknya yang rumahnya saling membelakangi dengan dua orang cucunya. Harapan semua keluarga ada padanya untuk menjaga selalu kesehatan kakek. Anak-anak beliau yang lain hanya mendukung dengan iuran bulanan untuk menjamin kebutuhan beliau. 

Sesekali saja ada anak yang telefon, sekedar melepas kerinduan dan kemudian suaranya menghilang menunggu tamu kerinduan itu datang lagi.
Malam ini aku berharap banyak juga pada radio hitama milik beliau yag senantiasa mendongeng dalam permulaan tidur beliau untuk tidak lupa melakukan tugasnya. Kekhawatiran seringkali datang, karena radio tersebut seringkali mogok bercerita pada kakek. Kalau sudah begitu maka hanya suara jangkrik dan binatang malam saja yang menemani tidur beliau. Sungguh keadaan yang tidak menyenangkan untuk dibayangkan. Apalagi ketika hujan turun. Seringkali diikuti padamnya listrik. Aku pernah merasakan kesendirian dalam sebuah rumah ketika malam tiba dengan hujan dan petir menyala-nyala dalam gelap malam. Sungguh batin merasa tidak di perhatikan oleh orang sekitarku, orang-orang yang paling dekat sekalipun. Maka apapun yang dirasakan oleh seorang tua seperti beliau, barangkali lebih dalam dari perasaan pengalamanku. Aku tidak pernah membayangkan ketika kakek harus meraba dinding berbilik bambu itu untuk mencari sebatang lilin atau dian yang masih tergantung dengan sumbu minyaknya. Matanya sudah tidak lagi seterang mata normal. Indikasi kebutaan bahkan telah menjadi vonis dari dokter. Siang menjadi sore. Sore menjadi malam, malam menjadi gelap kemudian samar dan tidak bisa melihat. Itulah beliau.

Terakhir aku meniggalkan beliau, aku masih melihat dian itu masih tergantung di atas sebuah ranjang bambu di bale-bale rumah berbilik beliau. Aku tidak yakin sekarang masih ada atau tidak karena minyak tanah semakin langka saja. Ada beberapa batang lilin yang tertinggal memang saat itu. Tapi keyakinan bahwa lilin-lilin itu telah habis sangat kuat. Jadi aku kembali berharap pada bibi untuk selalu menilik beliau pada setiap kesempatan. Sebuah senter kepunyaan beliau kadang juga mati nyala, bahkan aku lupa apakah aku telah mengembalikannya atau belum pada kakek. Aku sempat meminjamnya. Tapi..aku lupa.

Bahkan ketika beberapa anak beliau ada, kakek masih saja terlihat kesepian. Apalagi ketika keadaan seperti sekarang ini. Bagaimana kesepian pasti tidak akan pernah jauh dari hati beliau. Dengan rentan beliau berjalan mengeja tanah. Seolah membaca kembali semua kehidupan beliau sejak muda dulu.
Ya Rabb..sampaikan aku untuk bertemu lagi dengan beliau dalam keadaan yang menyenangkan. Amiin.
 Hari ini, Rabu malam, 2 Januari 2012

MIMPI MALAM ITU




Ketika aku membaca sebuah cerita dari adik kelas, aku merasa malu dan sangat malu dengan kebodohan diriku. Aku hanya bisa bersantai dan terlena denga  keadaan yang membuatku lalai, tenang dan tertidur. Ya Rabb, ampuni dosa yang terlampau besar ini. Maka kepada siapa lagi aku harus berkisah kecuali kepada zat yang maha pengampun seperti MU. Tidak ada lagi batasanmu untuk semua nikmat yang telah aku dapatkan hingga saat ini. Tapi apa yang aku kerjakan sebagai bentuk rasa syukur itu ternyata sangat jauh dari kata syukur, terimakasih sama sekali tidak mau menyentuh dan berdekatan dengan aku. Ya Rabb, ampuni aku.
Maka aku tidak perlu malu untuk belajar dari siapapun termasuk adikku yang belum sempat aku bertemunya saat sekolah dulu. Subhanallah, kamu banyak membuat orang berubah untuk kebaikan. Alangkah bangganya aku, meski baru sempat sekedar kabar dari Semarang. Bahkan orang yang menjadi salah satu kiblat dalam penulisanmu ada di hadapanku hamper setiap hari, tapi apa yang bisa aku lakukan? Hanya kagum dan berhenti pada kesibukkan yang melupakan. 

Seharusnya aku bisa belajar darimu, dan barangkali aku terlambat terlalu jauh dari harapan ke dua orang tua. Tapi aku harus berdiri mulai saat ini. Putuskan akan jadi apa kau!! Makilah dirimu, tidak perlu menunggu orang lain memakimu kalau kau terus begini. Dua puluh satu tahun sedang kau tuju, buktikan apa yang mampu kau perbuat. Bukan dosa dan dosa yang terus silih berganti mengekormu, tapi penantian sebuah hasil positif yang dinantikan dari orang di sekitarmu apalagi orang tuamu. Sudah terlalu letih mereka bekerja untukmu. Apa hanya itu yang mampu kau kerjakan? Hanya itu? Jawablah, jangan hanya merenungi kesalahnmu di masa lalu. Dosa dan dosa tidak akan pernah membuatmu merasa puas, hanya penyesalan dan rasa bersalah yang akan keluar dari batinmu. Masih ingatkah kau dengan kalimat-kalimat dari orang yang paling berjasa dalam hidupmu. Atau karena terlalu banyak, telingamu tak mampu lagi untuk mendengar dan mengingatnya. Satu kalimatpun? Tidak mampu kau ingat?

Masih ingat dengan kalimat ini?
Masih ingat dengan kalimat yang satu ini? Dan yang ini? Bagaimana dengan yang ini?
Saya yakin  dengan sangat yakin kau masih merekamnya dalam kepalamu itu. Hanya kegelapan dalam kepalamu itu yang selalu menutup jalan cerdas dari otakmu. Kepalamu terlalu dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang kotor. Bukan sekedar deterjen biasa yang kau butuhkan. Bukan lagi sekedar sapu ijuk biasa yang kau butuhkan untuk membereskan isi kepalamu, apalagi sapu sampah tukang sapu jalanan yang sudah terlalu kaku, kotor dan busuk. Tidak ada lagi pembersih-pembersih kepala dan hati yang lebih efektif dari medekatkan diri kepadaMU ya Rabb.

Maka jikalau selama ini kau tutupi wajah aslimu dengan manis dan gengsi, tidakkah kau merasa malu? Tidakkah kau ingat dari mana kau mendapatkan itu semua? Orang tuamu hampir mati untuk kau bisa bertahan hidup. Tapi kau hamper-hampir mendurhakainya. Tidakkah dosa yang lebih besar dari pada itu kau hampir perbuat?kaca cermin pun sepertinya tidak akan mampu lagi memantulkan wajahmu, karena dia hanya akan bekerja ketika melihat wajah seseorang bercahaya karena iman. Sedangkan wajah,kepala, dan hatimu terlalu kotor dan gelap untuk kejujuran kaca cermin. Maka kepada siapa lagi aku harus bersihkan tubuh yang sudah terlalu dosa ini, wahai suara hati?

“ Tidak ada lagi kecuali kau menguatkan iman, dan ibadahmu kepada Tuhan maha pengampun ALLAH swt. Maka ampunan itu tidak pernah kita tahu kapan datangnya. Tidak pernah kita tahu juga apakah DIA yang maha pengampun masih memberikan keberkahan pada kau yang sudah lama mengindahkannya. Tapi kau patut bersyukur karena kau masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dirimu. Kesempatan ini adalah bentuk perhatianNYA yang masih senantiasa melindungimu. Bukti nyata kasih ALLAH pada umatNYA. Tidak perlu lagi kau maki dirimu, karena makian sebanyak apapun tidak bisa mengganti cerita yang sudah berubah menjadi sejarah. Masa depanmu masih bisa kau pandang di depan. Ukir itu dengan guratan indah ketika kau memulainya dan begitupun saat kau menutupnya dengan kematian.”

Jakarta, Desember 2011

Sebuah peringatan



“Berikan semua jarimu! Ke sinikan sebelah tanganmu. Mana!” perintah seorang Ibu tua padaku. Aku hanya pasrah menerima perintah Ibu tua itu. Dia tampak tua, rambutnya menempel lemah di kepalanya yang berat. Kumal dan keriting. Seperti enggan berlama-lagi di teras tua rumah yang baru berpenghuni ini, lama ditinggal oleh pemiliknya yang terpaksa menyeret kakinya keluar rumah. Tapi ini terjadi bukan di teras rumah yang masih menampakkan siang cahaya meskipun malam bertamu kapanpun.

Sebuah tiang listrik kaku berdiri di sudut rumah membisu jadi saksi setiap langkah manusia yang berada di bawahnya. Bola lampu kuning kejinggaan bergantung atas tiang itu selalu. Maka tidak heran, teras rumah selalu disiangi cahaya maskipun malam  bertamu. Maka ketika tiang itu runtuh karena tidak mampu lagi menjadi saksi peristiwa dosa yang terlalu dosa, dia kemudian berbaring dan menyerahkan panjang tubuhnya seketika untuk bersujud meminta ampun. Padahal pembuat dosa tetap saja menikmati gairah dosa yang bahkan mampu merubuhkan tiang sekokoh itu. Barangkali tiang mampu lebih sedikit peka dan simpati daripada manusia yang acuh. Rumah lain tampak sediam penghuninya, kukuh dengan egonya.

Entah dari mana datangnya ibu tua itu. Dia ada begitu saja bersama dengan nenekku dari pintu menuju dapur dan ruang makan. Cepat-cepat aku pasrahkan ke dua tangan kecilku. Aku ayunkan tangan sebelah kananku pertama. Lima jari melebar dalam ayunan kemudian medarat di tangan keriput ibu tua yang galak menangkap tanganku.
“Aku tidak mau tangan kananmu, berikan tangan kirimu!” ibu tua itu memerintah paksa ikhlas untu menukar dengan tangan kiriku. Umurnya memang sudah tidak muda lagi, tapi aku bias merasakan kekuatan tangannya yang tidak sebanding dengan tangan keriputnya.


Apa yang ada


**
Ketika saya melanjutkan tulisan ini, saya sudah berada lagi ditempat yang sama, ketika pertentangan dan motivasi bertabrakan dalam emosi. Maka pikiran terlalu mudah untuk dibuat pusing karenanya, sedangkan perasaan lebih-lebih mudahnya untuk dipengaruhi oleh lingkungan halusinasi yang berlebih. Kemarin adalah kegelisahan, kemudian adalah ketenangan, selanjutnya relaksasi, pencerahan dan hari ini adalah pembuktian ucapan. Dua hari lalu saya katakan tidak dengan tegas, kemudian saya katakan iya setelahnya. Kemarin saya katakan tanpa persiapan, maka sekarang ini adalah bagian dari persiapan.

Betapa lemah dan mudahnya diri ini dibawa oleh orang lain. Semestinya saya bisa membawa keputusan dengan tepat untuk diri saya sendiri. Tapi ketika keputusanmu dianggap keliru, apalah arti keputusan kemarin. Hari ini adalah kemarin yang sudah direncanakan. Maka hari ini adalah besok yang terencana. Orang bilang mungkin saya labil,karena mudah terpengaruh orang. Itu mungkin ada benarnya. Tapi ketika pengaruh itu membawa kebaikan untuk saya pribadi dan orang kebanyakan, kenapa saya harus ragu menarik kesimpulan yang terlalu cepat kemarin itu.

Selagi tidak ada kebusukan maksud maka itikad baik akan bersambut dengan baik pula. Tapi hati orang siapa yan tau. Maka tahu dirilah dan mengertilah di yang depanmu itu adalah manusia sama sepertimu. Kau bebas memberikan saran dan nasihat, tapi perhatikan bagaimana caramu memberikan nasihat itu. Bisa jadi caramu yang salah justru membuat semakin kacau masalah. Kau mungkin berpikir sudah tepat tapi kau mungkin juga belum mencoba menanyakan hal itu pada orang lain.
Kuasa Tuhan lebih aku percaya daripada nasihatmu sekalipun Tuhan mungkin memberikan nasihat melaluimu..

Jumat, 04 Januari 2013

Bilik dibalik bambu



Malam ini aku menjadi bilik bambu
Dalam pinggiran menjadi batas
Angin dan kedinginan
Menembus dalam celah yang rapuh
Aku hampir hilang dalam gelap
Tapi cahaya membuatku terlihat
Semakin lemah dan keropos

Jentikan jari bahkan akan memaksaku pasrah
Menyerah
Ini bagian dari keadaan seseorang yang lebih susah daripadaku
Aku adalah pelindung dengan keterbatasan tuanku
Tuhanku oh kuatkan tuanku yang patut dikasihani
Jangan biarkan kerapuhanku menjalar dalam langkah tuanku
Semangatnya adalah cahaya yang menghapus gelap
Dibalik celah anyam bambu tak sempurna

Aku sederhana
Tapi tuanku lebih sederhana
Aku ingin merapat dalam dingin malam
Melindungi tuanku yang malang
Aku ingin melebar pada siang
Mengantarkan udara untuk Tuan yang kepanasan
Hanya diam
Sekali saja Tuhan..

Jakarta, 29 Juli 2012

360 Derajat



Aku juga ingin menjadi apa yang kau minta
Aku juga ingin hidup 24 jam sehari
Tidak ada tidur
Tidak ada bahkan mengerlipkan mata
Tapi itu tidak mungkin

Aku bukan siap-siapa
Juga kau bukan apa-apa
Retorikamu memang indah
Tapi terlalu tajam untuk sekadar diraba

Kau mau aku setajam itu
Tunggu!
Aku putar dulu 360 derajat!

Panggung Sandiwara


Kamis, 4 oktober 2012

Sutradara menyuruhku berhenti dari kebingungan. Aku pun berhenti. Sutradara berhenti pula memberikan instruksi. Aku jalan saja dengan kebingungan yang baru saja lenyap dari tindakan. Tak lama berselang adegan berganti dan aku pun hilang dalam peran yang berbeda lagi. aku pindah haluan di belakang panggung. Tanpa sandiwara namun dituntut tetap berpura-pura. Sutradara bilang supaya tak datang lagi kebingungan itu. Aku iya saja kemudian hening dan diam menunggu saja peran yang selanjutnya akan segera berganti. Ternyata membosankan sekali peran untuk hening dan diam. Tapi terlalu lama berada di atas panggung juga tidak kalah melelahkannya. Orang-orang mungkin asik saja dengan yang dilihatnya. Mereka hanya penonton.
Sutradara kembali memanggil. Peran di panggung segera berganti. Giliranku lagi. rasanya baru saja aku mimpi, tiba-tiba sudah saja berakhir. Terus terang saja ini mengecewakan karena mimpiku belum selesai. Ini akan membuatku kembali penasaran di atas panggung, memikirkan apa yang seharusnya tidak aku pikirkan. Sutradara memanggilku lagi. mukanya sudah memucat merah tanda gelisah. Aku sama saja gugupnya. Sutradara enak di belakang saja. Aku jadi korban pemikirannya yang aneh.
Tidak apa-apalah. Bagiku kepuasan orang lain, termasuk juga kepuasan sutradara adalah kepuasan juga bagiku. Senag biarpun aku dipaksa bersandiwara dengan kesenangan itu. Payah.


Sebelum Terpejam



Rabu, 18 Juli 2012

Hari ini, malam ini mungkin aku merasa lega bisa berkisah kepada orang-orang yang awalnya tidak mungkin menjadi limpahan atas segala perasaan dalam dadaku. Tapi kedekatan membuatku berubah dan yakin aku bercerita pada orang-orang yang tepat. Lingkaran ilmu itu hampir tak mungkin aku masuki saat itu. Aku tidak mengenalnya, jadi aku abai saja kepadanya, termasuk mereka yang ada di dalamnya. Saya terlanjur terjebak pada persepsi dan praduga yang salah, maafkan aku. Tapi malam ini menjadi saksi kekeliriuanku yang salah saat itu. Aku tidak akan menghapus begitu saja ilmu-ilmu, persahabatan dan kekeluargaan yang sudah kalian bangun untukku di sini. Semoga utuh selamanya dalam lingkar forum ilmu ini.

Aku tidak mengenalnya maka aku mencoba mengenalnya. Melihat lebih dekat dari sekedar mendengar dari obrolan orang lain yang tidak jelas kebenaran informasinya. Mereka terbuka, siap menerima dalam keadaan apapun aku saat itu. Ketidaktahuanku memang sempat membuat blok emosi yang selalu merangsang pikiranku untuk mengurungkan niat itu. Tapi pada akhirnya aku tidak mungkin diam dan bodoh selamanya mempercayakan anggapanku yang prematur kepada cerita-cerita yang terbangun sebelum aku ada di sini.

Bahkan aku sempat dan sering berpikir aku pasti salah berada disini dalam halaqah lingkaran orang-orang “mushola.” Wajar, karena saya tidak ada keturunan atau bahkan saudara ustad atau kiayi di kampung. Tapi masa iya orang beriman hanya karena keturunan? Tidak mungkin. Maka sebenarnya aku hanya mencoba untuk sedikit lebih mengerti dan memahami ilmu agama, islam. Wajar kan ingin tahu lebih tentang agamaku sendiri. Belajar dari yang lebih tahu karena buku saja belum  cukup meyakinkan untuk diambil mutlak isinya. Ada saja yang tetap harus menjadi bahan diskusi agar tidak salah mengambil persepsi lagi.

Mengapa aku ada di sini? Perasaaan dan kesadaran seseorang hanya Allah SWT yang maha tahu. Begitupun keputusan dan ketetapanNya. Dimanapun dan kapanpun aku berada adalah bagaian dari rencanaNya yang lebih tahu. Namun yang jelas adalah bagaimana perasaan nyaman dan atau tidaknya berada di sini. Kuncinya adalah bisa menyesuaikan. Awalan selalu menjadi hal tersulit untuk dilakukan, maka saat itu aku  pun masih “kumat-kumatan” untuk terus berkumpul dan saling berdiskusi dan mengingatkan serta merefresh ruhaniah kita. Keluarlah perlahan dari zona kenyamananmu maka perlahan kamu akan bisa berubah. Bahkan hingga air mata yang tersembunyi untuk orang lain mampu kau tumpahkan dalam lingkaran ini.

Malam ini aku menangis. Tidak aku rencanakan. Semua berjalan begitu saja, mengalir cerita beriring dengan air mata yang turut menetes. Aku menangis? Sebuah hal yang sangat di luar rencana. Bahkan tidak mungkin bisa aku melakukan ini. Tapi aku bisa menumpahkannya di sini. Telah datang keyakinanku untuk bercerita, pada orang-orang yang tepat. Itulah pada akhirnya yang membuatku bisa bercerita bebas dan lepas. Mungkin aku tidak bisa melakukannya di luar ini. Terimakasih ya Allah telah mengenalkanku dengan mereka.

Pernyataan



“Kalau loe terus seperti ini dengan gaya psimistis loe, maka gue yakin semua perempuan akan mengahapus nama loe dari daftar calon suami bahkan hanya sekedar untuk berpacaran.”

Sebuah pernyataan yang cukup menyentil hari ini untuk saya. Bagaimana bisa saya terus yakin dengan gaya pesimistis ini? Padahal saya memegang posisi yang harus jauh-jauh membuang gaya ini. Saya terlalu banyak dosa. Saya hilang kendali karena nafsu. Saya diperbudak olehnya. Sisi gelap yang menghilangkan kreativitas. Saya harus bangkit. Tulisan ini tidak boleh hanya sekedar tulisan insidental yang muncul sesaat saja tanpa ada kelanjutan atas usaha dan pencerahan yang telah saya dapat hari ini.
Terimakasih kawan. Kalian telah mengingatkan saya hari ini. Entahlah, suatu ketika saya merasa memiliki motivasi tinggi tapi di saat yang lain saya mudah sekali kehilangan motivasi itu. Untunglah kalian mengingatkan kembali rasa dan keindahan mendapatkan motivasi kembali.