Dua tikungan jalan beraspal itu tidak lagi aku lewati. Pos pengamanan yang diam membisu pun tidak lagi aku lalui. Telah lama aku meninggalkan kompleks perumahan itu. Dua tikungan lagi adalah belokan pertama menuju jalan utama dan menuju rumah ibadah yang agung. Di dekatnya ada sebuah taman. Pedagang kaki lima rukun berjejer dengan petugas pengamanan kompleks. Begitupun rumah yang berjejer mewah mengawal setiap langkah yang berjalan. Para pengojek dan supir bajai setia menunggu penumpang di depan sebuah sekolah dasar. Sebuah menara menjulang ke langit bersama pohon kurma tua yang tak kunjung berbuah. Bunga-bunganya berjatuhan tersibak sayap-sayap burung gelatik yang terbang berkelompok.
Seorang anak kecil sedang merayu kakaknya yang perempuan untuk ikut
bermain. Dia merengek memaksa bermain. Kakaknya terpaksa juga ikut kemauan
adiknya. Sepedanya diseret bersama dengan kekesalannya yang hendak memuncak.
Tapi toh ditahan juga demi adiknya. Kakak beradik itu mengantarkanku kala
menuju masjid di seberang jalan itu. Dua tikungan dari rumah tempat aku
menginap. Empat tikungan dari awal aku keluar pintu pagar rumah. Lantunan ayat
suciNya telah mendahului langkahku. Suaranya indah mengikuti ayat-ayat yang
keluar dari lisan yang suci. Aku tidak mungkin melupakannya. Lantunannya
menuntunku mengikuti jalan yang seolah menjadi penunjuk jalanku. Aku mengikuti
saja. tibalah aku pada pintu gerbang kemuliaan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar