#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 14 Januari 2013

Sesekali




Aku tidur selepas mahrib, kemudian salat Isya ketika telah lewat dari waktu tepat Isya.
Hari ini ada satu yang menjadi bahan pikiran utama dalam kepalaku, yaitu departemen kerohanian. Mau aku bawa kemana? Dengan melihat kepalanya saja yang belum sempat kathamul quran? Maka ada banyak yang harus aku benahi, terutama dari dalam diri dulu lah, jangan muluk-muluk. Setelah itu waktunya memberi.
Ekor di kepalaku jatuh padamu kampong halamanku. Aku harus mengakui kerinduanku pada kakekku. 

Masih saja teringat dalam pikiranku wajah, berlipat kake yang selalu sendiri setiap malam tidur dalam bilik bambu. Umurnya barangkali sekitar 70-an tahun. Biasanya hanya radio yang menemani beliau dalam kesendiriannya. Kala mengingat musim hujan seperti ini adalah puncak kerinduan itu ada. Aku kasihan dengan beliau, tapi aku terlalu banyak kata tetapi yang membuatku jarang sekali bisa bertemu beliau. Padahal umur beliau sudah dibilang di penghujung hidup, meskipun tidak ada yang pernah tahu kapan kehidupan akan tercabut dari raga seseorang. Tapi bahwa kerentaan telah menjadi sosok kakek sekarang, adalah menjadi bukti semakin dekatnya hal tersebut pada beliau.

Maka aku menjadi sangat ingin kembali, karena hanya jarak semalam saja yang memisahkan aku dengan beliau. Ya Rabb, nerikan aku kesempatan untuk bertemu beliau lagi dalam keadaan yang menyenangkan. Aminn

Maka jangan sampai penyesalan membuahkan air mata yang tidak semestinya jatuh terlalu cepat ya Rabb.
Aku tidak pernah tahu apa yang sedang beliau lakukan sekarang, malam ini. Akuk harap malam ini adalah malam yang tenang dengan mimpi indah yang menaungi beliau hingga besok hari menjelang. Kesedihanku adalah ketika harus membayangkan kesendirian beliau di usia senjanya. Hamper semua anak-anaknya jauh dari beliau, mereka kebanyakan merantau ke luar daerah, termasuk ibuku di Jakarta. Dan aku sebagai cucunya sekaligus ada bersama ibuku disini, Jakarta.  Cucunya yang lain kebanyakan sama denganku, mereka kebanyakan ada di luar daerah, kebanyakan memang Jakarta. Maka tinggalah kakek dengan seorang satu-satunya anaknya yang rumahnya saling membelakangi dengan dua orang cucunya. Harapan semua keluarga ada padanya untuk menjaga selalu kesehatan kakek. Anak-anak beliau yang lain hanya mendukung dengan iuran bulanan untuk menjamin kebutuhan beliau. 

Sesekali saja ada anak yang telefon, sekedar melepas kerinduan dan kemudian suaranya menghilang menunggu tamu kerinduan itu datang lagi.
Malam ini aku berharap banyak juga pada radio hitama milik beliau yag senantiasa mendongeng dalam permulaan tidur beliau untuk tidak lupa melakukan tugasnya. Kekhawatiran seringkali datang, karena radio tersebut seringkali mogok bercerita pada kakek. Kalau sudah begitu maka hanya suara jangkrik dan binatang malam saja yang menemani tidur beliau. Sungguh keadaan yang tidak menyenangkan untuk dibayangkan. Apalagi ketika hujan turun. Seringkali diikuti padamnya listrik. Aku pernah merasakan kesendirian dalam sebuah rumah ketika malam tiba dengan hujan dan petir menyala-nyala dalam gelap malam. Sungguh batin merasa tidak di perhatikan oleh orang sekitarku, orang-orang yang paling dekat sekalipun. Maka apapun yang dirasakan oleh seorang tua seperti beliau, barangkali lebih dalam dari perasaan pengalamanku. Aku tidak pernah membayangkan ketika kakek harus meraba dinding berbilik bambu itu untuk mencari sebatang lilin atau dian yang masih tergantung dengan sumbu minyaknya. Matanya sudah tidak lagi seterang mata normal. Indikasi kebutaan bahkan telah menjadi vonis dari dokter. Siang menjadi sore. Sore menjadi malam, malam menjadi gelap kemudian samar dan tidak bisa melihat. Itulah beliau.

Terakhir aku meniggalkan beliau, aku masih melihat dian itu masih tergantung di atas sebuah ranjang bambu di bale-bale rumah berbilik beliau. Aku tidak yakin sekarang masih ada atau tidak karena minyak tanah semakin langka saja. Ada beberapa batang lilin yang tertinggal memang saat itu. Tapi keyakinan bahwa lilin-lilin itu telah habis sangat kuat. Jadi aku kembali berharap pada bibi untuk selalu menilik beliau pada setiap kesempatan. Sebuah senter kepunyaan beliau kadang juga mati nyala, bahkan aku lupa apakah aku telah mengembalikannya atau belum pada kakek. Aku sempat meminjamnya. Tapi..aku lupa.

Bahkan ketika beberapa anak beliau ada, kakek masih saja terlihat kesepian. Apalagi ketika keadaan seperti sekarang ini. Bagaimana kesepian pasti tidak akan pernah jauh dari hati beliau. Dengan rentan beliau berjalan mengeja tanah. Seolah membaca kembali semua kehidupan beliau sejak muda dulu.
Ya Rabb..sampaikan aku untuk bertemu lagi dengan beliau dalam keadaan yang menyenangkan. Amiin.
 Hari ini, Rabu malam, 2 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar