#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 14 Januari 2013

MIMPI MALAM ITU




Ketika aku membaca sebuah cerita dari adik kelas, aku merasa malu dan sangat malu dengan kebodohan diriku. Aku hanya bisa bersantai dan terlena denga  keadaan yang membuatku lalai, tenang dan tertidur. Ya Rabb, ampuni dosa yang terlampau besar ini. Maka kepada siapa lagi aku harus berkisah kecuali kepada zat yang maha pengampun seperti MU. Tidak ada lagi batasanmu untuk semua nikmat yang telah aku dapatkan hingga saat ini. Tapi apa yang aku kerjakan sebagai bentuk rasa syukur itu ternyata sangat jauh dari kata syukur, terimakasih sama sekali tidak mau menyentuh dan berdekatan dengan aku. Ya Rabb, ampuni aku.
Maka aku tidak perlu malu untuk belajar dari siapapun termasuk adikku yang belum sempat aku bertemunya saat sekolah dulu. Subhanallah, kamu banyak membuat orang berubah untuk kebaikan. Alangkah bangganya aku, meski baru sempat sekedar kabar dari Semarang. Bahkan orang yang menjadi salah satu kiblat dalam penulisanmu ada di hadapanku hamper setiap hari, tapi apa yang bisa aku lakukan? Hanya kagum dan berhenti pada kesibukkan yang melupakan. 

Seharusnya aku bisa belajar darimu, dan barangkali aku terlambat terlalu jauh dari harapan ke dua orang tua. Tapi aku harus berdiri mulai saat ini. Putuskan akan jadi apa kau!! Makilah dirimu, tidak perlu menunggu orang lain memakimu kalau kau terus begini. Dua puluh satu tahun sedang kau tuju, buktikan apa yang mampu kau perbuat. Bukan dosa dan dosa yang terus silih berganti mengekormu, tapi penantian sebuah hasil positif yang dinantikan dari orang di sekitarmu apalagi orang tuamu. Sudah terlalu letih mereka bekerja untukmu. Apa hanya itu yang mampu kau kerjakan? Hanya itu? Jawablah, jangan hanya merenungi kesalahnmu di masa lalu. Dosa dan dosa tidak akan pernah membuatmu merasa puas, hanya penyesalan dan rasa bersalah yang akan keluar dari batinmu. Masih ingatkah kau dengan kalimat-kalimat dari orang yang paling berjasa dalam hidupmu. Atau karena terlalu banyak, telingamu tak mampu lagi untuk mendengar dan mengingatnya. Satu kalimatpun? Tidak mampu kau ingat?

Masih ingat dengan kalimat ini?
Masih ingat dengan kalimat yang satu ini? Dan yang ini? Bagaimana dengan yang ini?
Saya yakin  dengan sangat yakin kau masih merekamnya dalam kepalamu itu. Hanya kegelapan dalam kepalamu itu yang selalu menutup jalan cerdas dari otakmu. Kepalamu terlalu dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang kotor. Bukan sekedar deterjen biasa yang kau butuhkan. Bukan lagi sekedar sapu ijuk biasa yang kau butuhkan untuk membereskan isi kepalamu, apalagi sapu sampah tukang sapu jalanan yang sudah terlalu kaku, kotor dan busuk. Tidak ada lagi pembersih-pembersih kepala dan hati yang lebih efektif dari medekatkan diri kepadaMU ya Rabb.

Maka jikalau selama ini kau tutupi wajah aslimu dengan manis dan gengsi, tidakkah kau merasa malu? Tidakkah kau ingat dari mana kau mendapatkan itu semua? Orang tuamu hampir mati untuk kau bisa bertahan hidup. Tapi kau hamper-hampir mendurhakainya. Tidakkah dosa yang lebih besar dari pada itu kau hampir perbuat?kaca cermin pun sepertinya tidak akan mampu lagi memantulkan wajahmu, karena dia hanya akan bekerja ketika melihat wajah seseorang bercahaya karena iman. Sedangkan wajah,kepala, dan hatimu terlalu kotor dan gelap untuk kejujuran kaca cermin. Maka kepada siapa lagi aku harus bersihkan tubuh yang sudah terlalu dosa ini, wahai suara hati?

“ Tidak ada lagi kecuali kau menguatkan iman, dan ibadahmu kepada Tuhan maha pengampun ALLAH swt. Maka ampunan itu tidak pernah kita tahu kapan datangnya. Tidak pernah kita tahu juga apakah DIA yang maha pengampun masih memberikan keberkahan pada kau yang sudah lama mengindahkannya. Tapi kau patut bersyukur karena kau masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dirimu. Kesempatan ini adalah bentuk perhatianNYA yang masih senantiasa melindungimu. Bukti nyata kasih ALLAH pada umatNYA. Tidak perlu lagi kau maki dirimu, karena makian sebanyak apapun tidak bisa mengganti cerita yang sudah berubah menjadi sejarah. Masa depanmu masih bisa kau pandang di depan. Ukir itu dengan guratan indah ketika kau memulainya dan begitupun saat kau menutupnya dengan kematian.”

Jakarta, Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar