Ketika
aku membaca sebuah cerita dari adik kelas, aku merasa malu dan sangat malu
dengan kebodohan diriku. Aku hanya bisa bersantai dan terlena denga keadaan yang membuatku lalai, tenang dan
tertidur. Ya Rabb, ampuni dosa yang terlampau besar ini. Maka kepada siapa lagi
aku harus berkisah kecuali kepada zat yang maha pengampun seperti MU. Tidak ada
lagi batasanmu untuk semua nikmat yang telah aku dapatkan hingga saat ini. Tapi
apa yang aku kerjakan sebagai bentuk rasa syukur itu ternyata sangat jauh dari
kata syukur, terimakasih sama sekali tidak mau menyentuh dan berdekatan dengan
aku. Ya Rabb, ampuni aku.
Maka
aku tidak perlu malu untuk belajar dari siapapun termasuk adikku yang belum
sempat aku bertemunya saat sekolah dulu. Subhanallah, kamu banyak membuat orang
berubah untuk kebaikan. Alangkah bangganya aku, meski baru sempat sekedar kabar
dari Semarang. Bahkan orang yang menjadi salah satu kiblat dalam penulisanmu
ada di hadapanku hamper setiap hari, tapi apa yang bisa aku lakukan? Hanya
kagum dan berhenti pada kesibukkan yang melupakan.
Seharusnya aku bisa belajar
darimu, dan barangkali aku terlambat terlalu jauh dari harapan ke dua orang
tua. Tapi aku harus berdiri mulai saat ini. Putuskan akan jadi apa kau!! Makilah
dirimu, tidak perlu menunggu orang lain memakimu kalau kau terus begini. Dua
puluh satu tahun sedang kau tuju, buktikan apa yang mampu kau perbuat. Bukan
dosa dan dosa yang terus silih berganti mengekormu, tapi penantian sebuah hasil
positif yang dinantikan dari orang di sekitarmu apalagi orang tuamu. Sudah
terlalu letih mereka bekerja untukmu. Apa hanya itu yang mampu kau kerjakan?
Hanya itu? Jawablah, jangan hanya merenungi kesalahnmu di masa lalu. Dosa dan
dosa tidak akan pernah membuatmu merasa puas, hanya penyesalan dan rasa
bersalah yang akan keluar dari batinmu. Masih ingatkah kau dengan
kalimat-kalimat dari orang yang paling berjasa dalam hidupmu. Atau karena
terlalu banyak, telingamu tak mampu lagi untuk mendengar dan mengingatnya. Satu
kalimatpun? Tidak mampu kau ingat?
Masih
ingat dengan kalimat ini?
Masih
ingat dengan kalimat yang satu ini? Dan yang ini? Bagaimana dengan yang ini?
Saya
yakin dengan sangat yakin kau masih
merekamnya dalam kepalamu itu. Hanya kegelapan dalam kepalamu itu yang selalu
menutup jalan cerdas dari otakmu. Kepalamu terlalu dipenuhi dengan
pikiran-pikiran yang kotor. Bukan sekedar deterjen biasa yang kau butuhkan.
Bukan lagi sekedar sapu ijuk biasa yang kau butuhkan untuk membereskan isi
kepalamu, apalagi sapu sampah tukang sapu jalanan yang sudah terlalu kaku,
kotor dan busuk. Tidak ada lagi pembersih-pembersih kepala dan hati yang lebih
efektif dari medekatkan diri kepadaMU ya Rabb.
Maka
jikalau selama ini kau tutupi wajah aslimu dengan manis dan gengsi, tidakkah
kau merasa malu? Tidakkah kau ingat dari mana kau mendapatkan itu semua? Orang
tuamu hampir mati untuk kau bisa bertahan hidup. Tapi kau hamper-hampir
mendurhakainya. Tidakkah dosa yang lebih besar dari pada itu kau hampir
perbuat?kaca cermin pun sepertinya tidak akan mampu lagi memantulkan wajahmu,
karena dia hanya akan bekerja ketika melihat wajah seseorang bercahaya karena
iman. Sedangkan wajah,kepala, dan hatimu terlalu kotor dan gelap untuk
kejujuran kaca cermin. Maka kepada siapa lagi aku harus bersihkan tubuh yang
sudah terlalu dosa ini, wahai suara hati?
“
Tidak ada lagi kecuali kau menguatkan iman, dan ibadahmu kepada Tuhan maha
pengampun ALLAH swt. Maka ampunan itu tidak pernah kita tahu kapan datangnya.
Tidak pernah kita tahu juga apakah DIA yang maha pengampun masih memberikan
keberkahan pada kau yang sudah lama mengindahkannya. Tapi kau patut bersyukur
karena kau masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dirimu. Kesempatan ini
adalah bentuk perhatianNYA yang masih senantiasa melindungimu. Bukti nyata
kasih ALLAH pada umatNYA. Tidak perlu lagi kau maki dirimu, karena makian
sebanyak apapun tidak bisa mengganti cerita yang sudah berubah menjadi sejarah.
Masa depanmu masih bisa kau pandang di depan. Ukir itu dengan guratan indah
ketika kau memulainya dan begitupun saat kau menutupnya dengan kematian.”
Jakarta, Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar