#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 14 Januari 2013

Sebuah peringatan



“Berikan semua jarimu! Ke sinikan sebelah tanganmu. Mana!” perintah seorang Ibu tua padaku. Aku hanya pasrah menerima perintah Ibu tua itu. Dia tampak tua, rambutnya menempel lemah di kepalanya yang berat. Kumal dan keriting. Seperti enggan berlama-lagi di teras tua rumah yang baru berpenghuni ini, lama ditinggal oleh pemiliknya yang terpaksa menyeret kakinya keluar rumah. Tapi ini terjadi bukan di teras rumah yang masih menampakkan siang cahaya meskipun malam bertamu kapanpun.

Sebuah tiang listrik kaku berdiri di sudut rumah membisu jadi saksi setiap langkah manusia yang berada di bawahnya. Bola lampu kuning kejinggaan bergantung atas tiang itu selalu. Maka tidak heran, teras rumah selalu disiangi cahaya maskipun malam  bertamu. Maka ketika tiang itu runtuh karena tidak mampu lagi menjadi saksi peristiwa dosa yang terlalu dosa, dia kemudian berbaring dan menyerahkan panjang tubuhnya seketika untuk bersujud meminta ampun. Padahal pembuat dosa tetap saja menikmati gairah dosa yang bahkan mampu merubuhkan tiang sekokoh itu. Barangkali tiang mampu lebih sedikit peka dan simpati daripada manusia yang acuh. Rumah lain tampak sediam penghuninya, kukuh dengan egonya.

Entah dari mana datangnya ibu tua itu. Dia ada begitu saja bersama dengan nenekku dari pintu menuju dapur dan ruang makan. Cepat-cepat aku pasrahkan ke dua tangan kecilku. Aku ayunkan tangan sebelah kananku pertama. Lima jari melebar dalam ayunan kemudian medarat di tangan keriput ibu tua yang galak menangkap tanganku.
“Aku tidak mau tangan kananmu, berikan tangan kirimu!” ibu tua itu memerintah paksa ikhlas untu menukar dengan tangan kiriku. Umurnya memang sudah tidak muda lagi, tapi aku bias merasakan kekuatan tangannya yang tidak sebanding dengan tangan keriputnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar