“Berikan semua jarimu! Ke sinikan sebelah tanganmu. Mana!” perintah
seorang Ibu tua padaku. Aku hanya pasrah menerima perintah Ibu tua itu. Dia
tampak tua, rambutnya menempel lemah di kepalanya yang berat. Kumal dan
keriting. Seperti enggan berlama-lagi di teras tua rumah yang baru berpenghuni
ini, lama ditinggal oleh pemiliknya yang terpaksa menyeret kakinya keluar
rumah. Tapi ini terjadi bukan di teras rumah yang masih menampakkan siang
cahaya meskipun malam bertamu kapanpun.
Sebuah tiang listrik kaku berdiri
di sudut rumah membisu jadi saksi setiap langkah manusia yang berada di
bawahnya. Bola lampu kuning kejinggaan bergantung atas tiang itu selalu. Maka
tidak heran, teras rumah selalu disiangi cahaya maskipun malam bertamu. Maka ketika tiang itu runtuh karena
tidak mampu lagi menjadi saksi peristiwa dosa yang terlalu dosa, dia kemudian
berbaring dan menyerahkan panjang tubuhnya seketika untuk bersujud meminta
ampun. Padahal pembuat dosa tetap saja menikmati gairah dosa yang bahkan mampu
merubuhkan tiang sekokoh itu. Barangkali tiang mampu lebih sedikit peka dan
simpati daripada manusia yang acuh. Rumah lain tampak sediam penghuninya, kukuh
dengan egonya.
Entah dari mana datangnya ibu tua
itu. Dia ada begitu saja bersama dengan nenekku dari pintu menuju dapur dan
ruang makan. Cepat-cepat aku pasrahkan ke dua tangan kecilku. Aku ayunkan
tangan sebelah kananku pertama. Lima jari melebar dalam ayunan kemudian medarat
di tangan keriput ibu tua yang galak menangkap tanganku.
“Aku tidak mau tangan kananmu,
berikan tangan kirimu!” ibu tua itu memerintah paksa ikhlas untu menukar dengan
tangan kiriku. Umurnya memang sudah tidak muda lagi, tapi aku bias merasakan
kekuatan tangannya yang tidak sebanding dengan tangan keriputnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar