#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 23 Januari 2013

Deret kehidupan


Ini seperti angin kering yang biasa aku dapati. Pada deret pohon kelapa sepanjang tepian sawah yang luas menghampar di depan mata. Daunnya mendesah seperti mendapat lecutan dari angin yang tak kunjung berhenti. Suaranya kadang tidak hanya menggetarkan daun dan merontokkan daun yang tak kuat pada cengkeramannya bahkan menggetarkan perasaan yang terlanjur berani.

Bocah-bocah kecil berlari dalam kegirangan menarik ulur layang-layang kertas yang baru saja dibelinya dari warung di seberang desa. Di sini tidak ada yang menjualnya kecuali mau dan bisa untuk membuatnya. Mereka biasa menyebut layangan, yaitu bermain layang-layang diantara hamparan sawah yang sudah menguning. Biasanya ketika matahari hampir terbenam di ujung barat anak-anak kecil itu sudah mendahuluinya menenteng layang-layang mereka menembus pekarangan menuju sawah. Orang-orang tua kadang ikut juga dalam kegembiraan anak-anaknya dipinggiran, mencari angin sawah yang deras ditepian ujung dan batas antara tanah biasa dan tanah yang berubah menjad pesawahan.
Sambil menunggu anak-anak yang kegirangan menghalau layangan naik ke langit, orang-orang yang muda lagi itu menghabiskan waktu dalam kisah dan cerita. Adapula yang karena kegemarannya merangkai janur menjadi ketupat. Anak-anak yang kehilangan layangan atau memang tidak punya biasanya menghibur diri dengan sama-sama belajar membuat ketupat dari daun kelapa muda yang mudah didapat di tepian sawah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar