Ini seperti angin kering yang biasa aku dapati. Pada deret pohon kelapa
sepanjang tepian sawah yang luas menghampar di depan mata. Daunnya mendesah
seperti mendapat lecutan dari angin yang tak kunjung berhenti. Suaranya kadang
tidak hanya menggetarkan daun dan merontokkan daun yang tak kuat pada
cengkeramannya bahkan menggetarkan perasaan yang terlanjur berani.
Bocah-bocah kecil berlari dalam kegirangan menarik ulur layang-layang kertas yang baru saja dibelinya dari warung di seberang desa. Di sini tidak ada yang menjualnya kecuali mau dan bisa untuk membuatnya. Mereka biasa menyebut layangan, yaitu bermain layang-layang diantara hamparan sawah yang sudah menguning. Biasanya ketika matahari hampir terbenam di ujung barat anak-anak kecil itu sudah mendahuluinya menenteng layang-layang mereka menembus pekarangan menuju sawah. Orang-orang tua kadang ikut juga dalam kegembiraan anak-anaknya dipinggiran, mencari angin sawah yang deras ditepian ujung dan batas antara tanah biasa dan tanah yang berubah menjad pesawahan.
Sambil menunggu anak-anak yang kegirangan menghalau layangan naik ke
langit, orang-orang yang muda lagi itu menghabiskan waktu dalam kisah dan
cerita. Adapula yang karena kegemarannya merangkai janur menjadi ketupat.
Anak-anak yang kehilangan layangan atau memang tidak punya biasanya menghibur
diri dengan sama-sama belajar membuat ketupat dari daun kelapa muda yang mudah
didapat di tepian sawah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar