Rabu, 18 Juli 2012
Hari ini, malam ini mungkin aku merasa lega bisa berkisah kepada orang-orang
yang awalnya tidak mungkin menjadi limpahan atas segala perasaan dalam dadaku.
Tapi kedekatan membuatku berubah dan yakin aku bercerita pada orang-orang yang
tepat. Lingkaran ilmu itu hampir tak mungkin aku masuki saat itu. Aku tidak
mengenalnya, jadi aku abai saja kepadanya, termasuk mereka yang ada di
dalamnya. Saya terlanjur terjebak pada persepsi dan praduga yang salah, maafkan
aku. Tapi malam ini menjadi saksi kekeliriuanku yang salah saat itu. Aku tidak
akan menghapus begitu saja ilmu-ilmu, persahabatan dan kekeluargaan yang sudah
kalian bangun untukku di sini. Semoga utuh selamanya dalam lingkar forum ilmu
ini.
Aku tidak mengenalnya maka aku mencoba mengenalnya. Melihat lebih dekat
dari sekedar mendengar dari obrolan orang lain yang tidak jelas kebenaran
informasinya. Mereka terbuka, siap menerima dalam keadaan apapun aku saat itu.
Ketidaktahuanku memang sempat membuat blok emosi yang selalu merangsang
pikiranku untuk mengurungkan niat itu. Tapi pada akhirnya aku tidak mungkin
diam dan bodoh selamanya mempercayakan anggapanku yang prematur kepada
cerita-cerita yang terbangun sebelum aku ada di sini.
Bahkan aku sempat dan sering berpikir aku pasti salah berada disini
dalam halaqah lingkaran orang-orang “mushola.” Wajar, karena saya tidak ada
keturunan atau bahkan saudara ustad atau kiayi di kampung. Tapi masa iya orang
beriman hanya karena keturunan? Tidak mungkin. Maka sebenarnya aku hanya
mencoba untuk sedikit lebih mengerti dan memahami ilmu agama, islam. Wajar kan
ingin tahu lebih tentang agamaku sendiri. Belajar dari yang lebih tahu karena
buku saja belum cukup meyakinkan untuk
diambil mutlak isinya. Ada saja yang tetap harus menjadi bahan diskusi agar
tidak salah mengambil persepsi lagi.
Mengapa aku ada di sini? Perasaaan dan kesadaran seseorang hanya Allah
SWT yang maha tahu. Begitupun keputusan dan ketetapanNya. Dimanapun dan
kapanpun aku berada adalah bagaian dari rencanaNya yang lebih tahu. Namun yang
jelas adalah bagaimana perasaan nyaman dan atau tidaknya berada di sini.
Kuncinya adalah bisa menyesuaikan. Awalan selalu menjadi hal tersulit untuk
dilakukan, maka saat itu aku pun masih
“kumat-kumatan” untuk terus berkumpul dan saling berdiskusi dan mengingatkan
serta merefresh ruhaniah kita. Keluarlah perlahan dari zona kenyamananmu
maka perlahan kamu akan bisa berubah. Bahkan hingga air mata yang tersembunyi
untuk orang lain mampu kau tumpahkan dalam lingkaran ini.
Malam ini aku menangis. Tidak aku rencanakan. Semua berjalan begitu
saja, mengalir cerita beriring dengan air mata yang turut menetes. Aku
menangis? Sebuah hal yang sangat di luar rencana. Bahkan tidak mungkin bisa aku
melakukan ini. Tapi aku bisa menumpahkannya di sini. Telah datang keyakinanku
untuk bercerita, pada orang-orang yang tepat. Itulah pada akhirnya yang
membuatku bisa bercerita bebas dan lepas. Mungkin aku tidak bisa melakukannya
di luar ini. Terimakasih ya Allah telah mengenalkanku dengan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar