#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 04 Januari 2013

Sebelum Terpejam



Rabu, 18 Juli 2012

Hari ini, malam ini mungkin aku merasa lega bisa berkisah kepada orang-orang yang awalnya tidak mungkin menjadi limpahan atas segala perasaan dalam dadaku. Tapi kedekatan membuatku berubah dan yakin aku bercerita pada orang-orang yang tepat. Lingkaran ilmu itu hampir tak mungkin aku masuki saat itu. Aku tidak mengenalnya, jadi aku abai saja kepadanya, termasuk mereka yang ada di dalamnya. Saya terlanjur terjebak pada persepsi dan praduga yang salah, maafkan aku. Tapi malam ini menjadi saksi kekeliriuanku yang salah saat itu. Aku tidak akan menghapus begitu saja ilmu-ilmu, persahabatan dan kekeluargaan yang sudah kalian bangun untukku di sini. Semoga utuh selamanya dalam lingkar forum ilmu ini.

Aku tidak mengenalnya maka aku mencoba mengenalnya. Melihat lebih dekat dari sekedar mendengar dari obrolan orang lain yang tidak jelas kebenaran informasinya. Mereka terbuka, siap menerima dalam keadaan apapun aku saat itu. Ketidaktahuanku memang sempat membuat blok emosi yang selalu merangsang pikiranku untuk mengurungkan niat itu. Tapi pada akhirnya aku tidak mungkin diam dan bodoh selamanya mempercayakan anggapanku yang prematur kepada cerita-cerita yang terbangun sebelum aku ada di sini.

Bahkan aku sempat dan sering berpikir aku pasti salah berada disini dalam halaqah lingkaran orang-orang “mushola.” Wajar, karena saya tidak ada keturunan atau bahkan saudara ustad atau kiayi di kampung. Tapi masa iya orang beriman hanya karena keturunan? Tidak mungkin. Maka sebenarnya aku hanya mencoba untuk sedikit lebih mengerti dan memahami ilmu agama, islam. Wajar kan ingin tahu lebih tentang agamaku sendiri. Belajar dari yang lebih tahu karena buku saja belum  cukup meyakinkan untuk diambil mutlak isinya. Ada saja yang tetap harus menjadi bahan diskusi agar tidak salah mengambil persepsi lagi.

Mengapa aku ada di sini? Perasaaan dan kesadaran seseorang hanya Allah SWT yang maha tahu. Begitupun keputusan dan ketetapanNya. Dimanapun dan kapanpun aku berada adalah bagaian dari rencanaNya yang lebih tahu. Namun yang jelas adalah bagaimana perasaan nyaman dan atau tidaknya berada di sini. Kuncinya adalah bisa menyesuaikan. Awalan selalu menjadi hal tersulit untuk dilakukan, maka saat itu aku  pun masih “kumat-kumatan” untuk terus berkumpul dan saling berdiskusi dan mengingatkan serta merefresh ruhaniah kita. Keluarlah perlahan dari zona kenyamananmu maka perlahan kamu akan bisa berubah. Bahkan hingga air mata yang tersembunyi untuk orang lain mampu kau tumpahkan dalam lingkaran ini.

Malam ini aku menangis. Tidak aku rencanakan. Semua berjalan begitu saja, mengalir cerita beriring dengan air mata yang turut menetes. Aku menangis? Sebuah hal yang sangat di luar rencana. Bahkan tidak mungkin bisa aku melakukan ini. Tapi aku bisa menumpahkannya di sini. Telah datang keyakinanku untuk bercerita, pada orang-orang yang tepat. Itulah pada akhirnya yang membuatku bisa bercerita bebas dan lepas. Mungkin aku tidak bisa melakukannya di luar ini. Terimakasih ya Allah telah mengenalkanku dengan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar