#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 23 Januari 2013

Selangkah dalam pintu kemenangan



Masuk dalam gerbang kemuliaan adalah penanda musim baru dalam beramal dan beribadah. Tidak disangka-sangka lagi semuanya telah menunggu. Siapa saja dari tukang sol sepatu, pedagang jagung rebus, penjual kacang godog, tukang roti keliling hingga imam masjid yang setia menunggu muadzin mengumandangkan azan. Orang tua itu tidak pernah absen menjadi orang pertama yang menginjakkan kai di tempat wudu setelah imam masjid dan muadzin. Tapi suara muadzin itu merdunya kemana-mana menyebar dan mengundang penasaran orang yang mendengarnya. Apalagi menara setinggi hampir 15 meter di samping masjid itu semakin menggemakan suaranya. Begitupun  lantunan ayat-ayat suciNya yang rutin didengarkan 10 menit sebelum salat berjamaah lima waktu dimulai. Mengingatkan orang-orang segera datangnya waktu salat.

Sopir taksi biru itu bergegas menutup dan mengunci pintu mobilnya rapat-rapat. Melemaskan badan sejenak dalam teras pembaringan masjid yang hangat. Tidak cukup luas pembaringan itu. Letaknya persis di bawah menara yang tinggi menusuk langit. Hampir semua orang merebahkan dahulu badannya yang lemah bekerja, di sini sebelum akhirnya mengambil wudu dan menunaikan kewajiban salatnya. Semuanya termasuk tukang sapu jalanan dan para tukang sol sepatu. Terkecuali imam masjid dan muadzin. Barangkali karena keduanya sudah terlalu sering menimati pijatan alam itu yang gratis.

Tapi kali ini tidak ada seorang pun dalam lantai keramik itu melainkan seorang tua bersatung kotak-kotak. Siapa yang tahu orang itu? Petugas keamanan hanya mengenalnya kalau bertemu di sana. Selebihnya tidak ada yang tahu. Dia memakai kopiah putih yang mucuk di kepalanya. Maka ketika angin agak kencang menerpa kepalanya, peci itu hampir-hampir jatuh. Suara iqomah sudah dilantangkan menyeret semua jemaah untuk segera menyusun barisan salat di dalam ruang utama masjid. Tapi bapak tua itu tidak juga turut masuk ke dalam. Malah aku lihat dalam kesempatan-kesempatan terakhirku masuk ke dalam masjid, beliau turut pasang badan juga untuk salat. Tapi di luar. Pintu itu bergeser menutup pandanganan mataku untuk terakhir kalinya melihat beliau. Saat itu saja. setelahnya masih juga bertemu dalam kesempatan yang sama.

Baik barisan jamaah di dalam maupun bapak tua yang di luar sama-sama mengerjakan kewajibanya. Setelah itu, selesai dan semua orang keluar dari ruang utama menuju ke luar. Mengambil alas kaki kemudian pergi dengan senyum miris bapak tua. Burung-burung gelatik kembali beterbangan merespon orang-orang yang bergerak cepat. Taksi biru, gerobak-gerobak para pedagang, serta bajai-bajai yang terparkir di depan pun beranjak satu per satu tanpa aturan. Bebas masing-masing. Sama juga dengan burung gelatik yang terbang entah kemana dalam kelompoknya. Namun sore nanti mereka pasti akan kembali sebelum aku datang.

Nyatanya aku tidak datang sore itu. Janjiku untuk melihat kembali burung-burung yang mematuk kembang-kembang kurma itu gagal aku temui. Mereka keburu berlari dengan sayap-sayap mereka setelah imam selesai membacakan doa penutup salat. Anak-anak kecil melangkah paling cepat dari lainnya. Berlarian saling mendahului dan seolah hendak berteriak,”Aku yang terdepan, Aku yang pertama!!”

Tapi goresan tulis dilarang berisik di dinding tembok itu sepertinya dipatuhi betul oleh anak-anak. Mungkin jauh sebelumnya tidak juga. Pasti ada proses panjang. Aku tahu setelah salah seorang jamaah mendekat ke kerumunan anak-anak sambil melirik ke arah mereka. tanpa suara tanpa kontak fisik. Hanya mata yang beradu berbicara dan menegur sembari mengingatkan. Dari mulai masuk hingga keluar, tertib tanpa suara. Tapi toh anak-anak, sekalipun lisan tidak juga bersuara tapi gemuruh kaki-kaki mereka berlarian meributkan juga. Tanpa dialog hanya deskripsi. Mata yang melihat dalam ingatan tanpa percakapan.

Pada hari-hari itu aku mendengar lagi ayat-ayat yang sama. Suci mengingatkan segala dosa. Kemudian semua orang hendak terpanggil. Termasuk juga aku yang segera merapat dalam barisan yang disebut saf. Saat-saat yang menyejukan kembali terulang. Meneguhkan hati yang renta. Mengembalikan rasa yang sempat putus. Terunggah lagi dalam perasaaan terdalam. Penyesalan dan rasa bersalah.

Sore yang menguning. Mahrib menjelang. Semua orang bersiap. Orang-orang lalu lalang lupa kewajiban. Ada orang dengan kemewah tertawa ria dalam mobilnya. Ada orang berkurang usia malah berfoya ria. Ada orang dewasa belum pada waktunya. Lalai tugas suka kekanak-kanakan. Ada orang sakit menjadi alasan untuk bersitirahat. Pada hari-hari itu aku lupa. Mengikuti jejak langkah semua orang. Ayat-ayat yang terdengar mulai melirih bersama dengan suara bajai yang semakin bising. Tapi suara azan itu tetap memanggil setia. Pada orang-orang di tengah ladang aspal. Pada punggung-punggung para pekerja. Kala itu barisan hanya menyisakan satu barisan saja. Imam dan muazin hanya berteman lelaki tua bersarung kotak. Tekun dalam keyakinan. Abai terhadap segala goda.

Lelaki tua itu memandang imam dan muazin dengan senyum. Seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya kesepian yang perlahan mulai dia rasakan. Ternyata tidak ada lagi orang-orang yang biasanya memandang dia aneh. Tidak ada lagi orang-orang yang mengajaknya masuk ke dalam ruang utama, kecuali pemimpin salat yang kala itu rajin memanggilnya. Hari-hari itu dia merasa diperhatikan betul oleh empunya masjid. Tidak ada sekalipun waktu yang lupa untuk mengajaknya turut bersama.
Burung-burung gelatik telah pergi bermigrasi. Meninggalkan pohon kurma yang semakin tua. Hilang dengan kembangnya. Jatuh gugur seiring usia. Menunggu kematian pada hari-hari itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar