#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 04 Januari 2013

Panggung Sandiwara


Kamis, 4 oktober 2012

Sutradara menyuruhku berhenti dari kebingungan. Aku pun berhenti. Sutradara berhenti pula memberikan instruksi. Aku jalan saja dengan kebingungan yang baru saja lenyap dari tindakan. Tak lama berselang adegan berganti dan aku pun hilang dalam peran yang berbeda lagi. aku pindah haluan di belakang panggung. Tanpa sandiwara namun dituntut tetap berpura-pura. Sutradara bilang supaya tak datang lagi kebingungan itu. Aku iya saja kemudian hening dan diam menunggu saja peran yang selanjutnya akan segera berganti. Ternyata membosankan sekali peran untuk hening dan diam. Tapi terlalu lama berada di atas panggung juga tidak kalah melelahkannya. Orang-orang mungkin asik saja dengan yang dilihatnya. Mereka hanya penonton.
Sutradara kembali memanggil. Peran di panggung segera berganti. Giliranku lagi. rasanya baru saja aku mimpi, tiba-tiba sudah saja berakhir. Terus terang saja ini mengecewakan karena mimpiku belum selesai. Ini akan membuatku kembali penasaran di atas panggung, memikirkan apa yang seharusnya tidak aku pikirkan. Sutradara memanggilku lagi. mukanya sudah memucat merah tanda gelisah. Aku sama saja gugupnya. Sutradara enak di belakang saja. Aku jadi korban pemikirannya yang aneh.
Tidak apa-apalah. Bagiku kepuasan orang lain, termasuk juga kepuasan sutradara adalah kepuasan juga bagiku. Senag biarpun aku dipaksa bersandiwara dengan kesenangan itu. Payah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar