Kamis, 4 oktober 2012
Sutradara menyuruhku berhenti dari kebingungan. Aku pun berhenti.
Sutradara berhenti pula memberikan instruksi. Aku jalan saja dengan kebingungan
yang baru saja lenyap dari tindakan. Tak lama berselang adegan berganti dan aku
pun hilang dalam peran yang berbeda lagi. aku pindah haluan di belakang
panggung. Tanpa sandiwara namun dituntut tetap berpura-pura. Sutradara bilang
supaya tak datang lagi kebingungan itu. Aku iya saja kemudian hening dan diam
menunggu saja peran yang selanjutnya akan segera berganti. Ternyata membosankan
sekali peran untuk hening dan diam. Tapi terlalu lama berada di atas panggung
juga tidak kalah melelahkannya. Orang-orang mungkin asik saja dengan yang
dilihatnya. Mereka hanya penonton.
Sutradara kembali memanggil. Peran di panggung segera berganti.
Giliranku lagi. rasanya baru saja aku mimpi, tiba-tiba sudah saja berakhir.
Terus terang saja ini mengecewakan karena mimpiku belum selesai. Ini akan
membuatku kembali penasaran di atas panggung, memikirkan apa yang seharusnya
tidak aku pikirkan. Sutradara memanggilku lagi. mukanya sudah memucat merah
tanda gelisah. Aku sama saja gugupnya. Sutradara enak di belakang saja. Aku
jadi korban pemikirannya yang aneh.
Tidak apa-apalah. Bagiku kepuasan orang lain, termasuk juga kepuasan
sutradara adalah kepuasan juga bagiku. Senag biarpun aku dipaksa bersandiwara
dengan kesenangan itu. Payah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar