#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 06 Februari 2013

Teluk



AIR
Percakapan itu dimulai lagi.
“ Kenapa mas, melamun aja?”
“ Cari angin.”
Singkat dia beralasan sebagaimana kebiasaan angin menjadi korban dan modus beralasan. Padahal memang tidak jelas keberadaan dia di atas pembaringan yang gratis di dudukinya itu.
Seorang kakek tua sedang menghibur anak kecil. Kakinya mengayuh sekuat tenaga menggerakkan becak yang telah disulapnya menjadi mainan anak-anak. Semuanya demi kehidupan dan senyum anak kecil itu. Sementara itu ibu bocah tersebut menggendong anaknya yang lain. Mengibaratkan tubuhnya menjadi ayunan yang menidurkan. Di lain menghampar mata sepasang remaja perempuan. Baru saja datang. Tidak bermaksud menghampiri. Hanya kebetulan berhenti di tempat yang beruntung. Dia menjadi berpura-pura dalam penjagaan, seolah menikmati suasana yang ada. Padahal pengamen baru saja dibiarkanya mengaduh meminta jatah suaranya yang baru saja diobral.
Keduanya menatap ingin tahu atau sekedar curiga. Ada sedikit senyum menghampar ke laut lepas di depan mereka. sebentar saja kemudian mereka saling melempar muka. Kemudian hanya diam yang berkuasa sebelum tukang es krim keliling menghancurkan renungan itu.

Gelap terang




Malam ini saya menemukan dua kenyataan yang sama-sama membuat efek kelogisan bekerja lebih lemah ketimbang perasaan. Anehnya dua kenyataan ini saling bertolakbelakang namun mengakibatkan rasa yang sama yaitu ketakutan. Yang pertama sepi yang diwakili oleh gelap. Yang kedua keramaian. 

Mengapa sepi selalu dekat dengan kegelapan. Tanpa cahaya dan penerangan. Tanpa teman dan sendiri. sepi, gelap, sendiri berubah menjadi takut. Bayangkan saja kau melewati terowongan bawah tanah sepanjang semenit perjalanan. Dengan menggenggam sebuah senter penerang pun kalau kau melewatinya sendiri dijamin akan gemetaran langkah kaki tiap pijakan. Apalagi tanpa penerangan apa-apa. Seorang tukang bakso mendorong gerobaknya melewati pesawahan yang membelah dua desa. Jalan itu lurus tapi tanpa penerangan jalan satu titik pun. Hanya langit mendung di atas pohon-pohon tepian sawah yang memantulkan cahaya-cahaya bintang yang temaram. Tidak ada bulan karena mendung. Gerobaknya memasang sebuah dian kecil dan senter. Menyorot langsung ke tanah di depannya membuat jarak pandang yang terbatas. Kanan serta kirinya entahlah. Jalanan itu seperti karpet merah yang di pinggirnya keramaian orang-orang mematai kita. Entah siapa karena hanya gelap yang terlihat dan lubang jalanan beraspal yang becek setelah ditimpa gerimis.
Yah terbayang rasa lelah itu matanya..

Tengah



00:18

Pertanyaannya adalah sampai kapan kau akan terus menjadi sekadar penikmat karya-karya besar disekelilingmu? Jelas tidak mungkin selamanya karena kau butuh seperti mereka. melakukannya dengan segenap kemampuan. Dari awam hingga profesional. Dari merangkak hingga berjalan. Dari berjalan hingga berlari. Dari berlari hingga terbang dan mengangkasa. Mereka punya kebutuhan begitupun dengan kau. Mereka berkarya untuk memenuhi kebutuhannya itu. Lantas denganmu? Kapan kau akan memulainya? Atau kau pura-pura telah memulainya. Membanggakan diri dengan sedikit materi yang sekadar beruntung kau dapatkan itu. Atau lebih menyedihkan lagi itu adalah pemberian bukan hasil kerja. 

Yakin sekarang mereka belum juga tidur. Tapi letih dengan kerja dan karya. Apalagi alasannya kalau bukan kepuasan dan pemenuhan kebutuhan. Itu bukan sekadar kewajiban dalam berumahtangga, katakanlah sudah. Melainkan keperluan dan keharusan untuk terus berlanjut dengan karya-karya yang baru. Menyeragamkan keinginan penikmat karya-karya mereka. Nah kau masih termasuk di dalam penimat itu. Secepatnya kau harus ubah itu. Yakin bahwa kehidupan ini berputar kawan seperti bumi yang berotasi. Begitu pun kehidupan dan hari-harimu mendatang. Tidak ada yang selamanya kecuali kehidupan setelah kematian. Nah ini saat sebelum kematian itu datang. Betapa berdosanya apabila hidup hanya sekadarnya. Apalagi menumpang dari belaskasihan orang lain terus menerus. Berbahagialah kalau kau bisa membagi kebahagiaan itu kepada orang lain. Tapi kau tidak akan pernah bisa berbagi tanpa berkarya. Apapun selagi itu baik dan dihalalkan. Waktu tidak bisa menunggumu. Bahkan sedetik pun tidak akan pernah mau. 
 Percayalah ini bukti bukan kepura-puraan.

Rat




Kalau mengingat jeritan wanita setengah baya itu, tubuh saya hampir selalu meresponnya. Membukakan pintu kelopak mata yang tertutup, berdiri ketika berbaring, bangun ketika tertidur hingga kaget ketika terdiam. Gumamannya selalu mengingatkan saya tentang sebuah hal. Beberapa gumamannya samar-samar sedikit terdengar, selagi tengah malam menembus ke dalam mimpi orang-orang yang terlelap. Hanya itu-itu saja sebenarnya cara dia berbicara, entah dengan siapa. Saya juga tidak mengerti tentang apa yang dimaksudkan wanita berambut lurus memutih itu.
Memang kurang pantas kalau saya sebut dia gila. Tapi dia memang orang yang terguncang jiwanya. Bahkan semenjak saya belum terlahir di sini. Jalannya tak pasti arah. Meringis sepanjang perjalanan. Pulang atau pun pergi beriring tangan yang selalu melilit-lilitkan rambutnya. *kaburrrr!!

Musik



Na na na na na na na..

Pengiring musik saat itu menyatu dengan gerak dan dialog yang kita mainkan. Penghayatan yang merasuk ke dalam karakter dan mengubah yang sebenarnya. Ternyata musik bukan sekadar menjadi hiburan tapi lebih daripada itu. Alunan yang menyejukan bisa membangun emosi dan ingatan yang melebihi ketajaman yang seharusnya. Ada satu alunan ilustrasi musik yang masih saya ingat sampai dengan sekarang ini. Ilustrasi musik harapan. Menyatu sekali dengan keinginan saat itu. Sampai semua yang bermain menikmati peran masing-masing dengan penuh kesenangan. Hidup sekali permainannya saat itu.

Minggu, 03 Februari 2013

Banowati Jalingan Golek: Sebuah Gelaran Budaya




Malam Minggu, 1 Desember 2012, sebuah pentas seni drama dan tari di gelar di Gdung Kesenian Jakarta. dengan mengangkat lakon utama Banowati, komunitas Budaya-ku mencoba menyuguhkan sebuah kolaborasi apik antara musik tradisional Jawa, tembang dan geguritan yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Elly D. Lutan yang memiliki nama asli Indah Harie Yulianti sebagai sutradara terbilang sukses membawakan pertunjukan ini. Penononton terlihat antusias semenjak pertunjukan belum dimulai.

Pertunjukan yang berlansung sekitar satu jam ini didominasi oleh seni tari tradisional yang digarap dengan apik. Sebuah aransemen tari tradisional Jawa yang bercerita tentang kehidupan asmara Banowati. Sebagai urutan kedua yang mendominasi pertunjukan adalah musik dari seperangkat gamelan Jawa yang dipukul berirama menjadi musik gending. Musik gending Jawa inilah yang menjadi pengiring erat setiap gerakan tari dan koreografi para penari di panggung. Perannya begitu penting dalam sendratari ini. Seolah menjadi ruh bagi permainan gerak penarinya.

Musik dan tari menjadi paket yang membuat gumun penontonnya. Tertegun dan kalau diizinkan barangkali mereka akan berteriak “waow!” Saya sendiri tidak bisa melukiskan keindahan koreografi dan musik pengiringnya sebaik apa yang dipertunjukan malam itu. Semoga gelaran budaya semacam ini bisa semakin masif digelar dimanapun tempatnya. Orang mungkin baru akan menyadari keindahan Indonesia yang luar biasa setelah menyaksikan gelaran budaya semacam ini.


Bayang



Ada saat waktu begitu singkat untuk dilewati. Ada saat waktu terlalu lama untuk ditebus. Ada saat secarik kertas kecil begitu berharga demi sebuah kenangan. Ada saat benda-benda tanpa kehidupan mampu menghidupkanmu dalam kenangan. Tempat-tempat sepi tanpa penghuni yang hidup dalam bayang-bayang nyata. Mereka berjalan mengikuti degup jantung setiap kehidupan. Berlari seiring arah yang telah terjadi dan akan terjadi. Masa-masa sebelum kamu pernah melaluinya. Tanpa kejadian yang mengingatkanmu pada seseorang. Anak-anak kecil dalam permainan, orang-orang sawah dengan caping di kepala mereka, kerbau-kerbau yang tidak lagi membajak sawah, dan penggembala bebek yang duduk menghadap gunung di atas sawah-sawah yang baru saja dipanen.

Anak gadis duduk dalam pinggiran jembatan yang semakin renta. Kini dia mungkin sudah lupa. Jembatan-jembatan yang terbaring itu adalah jalan yang setiap hari dilaluinya, dulu. Saat-saat dia ikut mendorong sepeda dames yang ditumpang gabah depan dan belakang bersama ibu dan bapaknya. Juga pada motivasinya untuk terus belajar dalam keterbatasan. Menyusuri jalan-jalan terbaik beralas kaki menggesek debu-debu jalanan. Memisahkan lelah dan rasa malas untuk terus mengejar waktu. Mengejar salam hangat dari ibu dan bapak guru di sekolah. Mendahului lonceng tua sekolah sebelum dipukul oleh penjaga. Mengiring doa-doa sebelum pelajaran dan mengakhirinya dengan doa pula. 
Melihat anak-anak memanjat pohon-pohon miring di belakang kelas dan cangkul cangkul yang beradu dengan tanah pesawahan. Kemudian pulang. Ada selembar kertas. Ada namamu di sana..

08:53
Minggu, 3 Februari 2013

Jumat, 01 Februari 2013

MELAWAN KETERBATASAN



Semua selalu berawal rasa penasaran dan keingintahuan tingkat tinggi. Saya membayangkan indahnya berbagi dengan orang lain dalam sebuah organisasi. Indahnya berbagi dengan orang-orang pinggiran, orang-orang desa dan pelosok nusantara. Mereka yang jauh dari kesombongan kota dan terpinggrikan oleh alam yang justru mendewasakan dan membuat mereka bijak menyikapi kehidupan. Di sana yellow jacket telah berhasil membuat bayangan itu menjadi kenyataan. Di sini pencarian saya selama tiga tiga tahun berakhir di tempat. Apakah keikhlasan yang mungkin belum saya miliki. Mereka yang menerima berkata “Bantulah dari saudara terdekat kita.”  Iya itu sudah dilakukan tapi tak kunjung diselesaikan. Belum juga usai. Lagi mereka yang menerima berkata “Tidak ada sesuatu kebaikan yang instan kawan.” 

Baiklah barangkali saya hanya melihat puncak kemenangan dari mereka. Sementara jalan saya masih terlalu jauh menuju puncak kemenangan itu. Pendakian baru mencapai kaki-kaki gunug yang mulai menanjak memang sudah cukup melelahkan. Tapi ini adalah sebuah perjuangan untuk mencapai puncak itu. Kemenangan berbagi dengan anak-anak lugu pemilik alam. Orang-orang tua yang hidup berdampingan dengan alam dan udara bebas. 

Kunci kemudahan untuk berbagi hanya kesuksesan. Mereka telah membutikan. Giliran kita harus segera menuntaskan. Ayo kawan kita bersakit-sakit dahulu sekarang. Tak peduli perjuangan ini akan terbalaskan dengan puncak kemengan berbagi itu atau tidak. Tak peduli rasa malu atau lelah yang membayangi. Lipat lengan baju kita dan bergegas tunaikan kewajiban. Ini kebutuhan untuk berbagi karena kita hidup bukan untuk diri sendiri. Tapi kita diciptakan untuk membantu orang lain. 

Keindahan yang sempurna adalah kepuasan batin karena berbagi. Rasa lelah adalah naluri sesaat yang kadang melalaikan. Sempatkan saja sebentar kemudian bergegas ulang. Mereka barangkali tidak punya waktu lama untuk menuggu kita. Semakin cepat kita memberikan uluran tangan kita, semakin cepat kita melihat senyum jujur mereka. Saya ada sekarang di sini green jacket bukan untuk disesali dan berdiam diri. Kalau mereka saja bisa meraih puncak kemenangan itu, pastilah kita juga bisa. 

Terkadang saya kasihan dengan kawan-kawan saya di sini karena saya adalah bagian dari mereka. Dia, kawan saya hanya bisa kagum melihat dokumentasi perjalaanan mereka yang sampai pada kemenangan. Saya juga kagum dan menjadi berpikir. Kita sama hanya waktu yang mendahulukan mereka meraih kemenangan. Tenang saja kawan tidak lama lagi kita akan menyusul mereka. Jiwa sosialmu sudah terlatih untuk berbagi. Hanya kesempatan finansial saja yang menunda kita seperti mereka.

Yeah! Jadi kesimpulan sementara kita ternyata untuk berbagi ternyata kita juga butuh bantuan. Tepatnya mencari personal atau lembaga yang memiliki visi seperti kita untuk diajak bersama-sama berbagi dengan mereka, bocah-bocah lugu yang mendiami alam-alam terluar kepulauan nusantara. Sebelum pada akhirnya nanti kita akan dewasa secara finansial dan bisa langsung berbagi dengan mereka. untuk sementara kita memang masih anak kecil tapi kedewasaan itu pasti.

Hanya kepada gunung-gunung yang melongsorkan tanah-tanah tertingginya
Hanya kepada pohon-pohon tua yang menghuni belantara alam
Hanya kepada udara bebas yang terbang dalam kabut-kabut pagi
Dan pada tetesan udara yang mengalir di bawahnya sungai kebeningan
Hanya pada alam yang membuat senyum-senyum mereka
Anak alam pemenang kebersamaan
Rasa jujur dan kedamaian
Tanpa kesombongan
Hanya pagi
Yang mengantarkan kedewasaan pada saatnya nanti

Rabu, 30 Januari 2013

Jujur



Jujur saya belum bisa menerima perlakuanmu. Sekalipun maksud hati mungkin baik. Tapi cara yang kau tempuh terlalu mengenang dan membekas. Telah lewat dari satu bulan setelah puncak acara itu, mungkin saya akan berhadapan lagi dengan orang-orang sepertimu dengan cara yang berbeda. Serius ini adalah pengalaman. Begitupun pengalaman membimbing anak-anak sekolah dasar kelas 5 sekolah dasar dalam bermain drama. Tapi itu lebih mengasikkan dari pengalaman yang sebelumnya, darimu. Ini bukan soal cinta atau perasaan. Ini soal prinsip dan ketegakkan diri di mata orang. Ini bukan soal berbangga diri tapi kebutuhan untuk lebih dihargai. Sekecil apapun yang belum juga saya dapatkan dari perlakuanmu.
Tapi pengalaman mengajari dan membuat saya lebih berlapang dada untuk menerima.

Selasa, 29 Januari 2013

Batas


Jakarta 28 Januari 2013

Cepat sekali berlalu. Kepeningan ini akhirnya akan segera berganti dengan cerita-cerita tentang kalian. Di masa itu. Waktu yang menyenangkan juga kadang menyusahkan. Semua teringat pada segala kejadian. Dosa, kebaikan, malaikat, keburukan hingga keberkahan. Pahala, nilai, dan ibadah. Kelupaan dan kesengajaan. Penyesalan dan kedamaian. Ketenangan dan kelalaian. Kesempatan dan ketidakpedulian. Perhatian dan abai. Semuanya berlalu cepat dan lewat begitu saja sampai dengan datang masa yang tidak kau inginkan. Saat itu adalah kekosongan waktu. Kelenyapan kesempatan untuk menikmati kembali masa-masa menyenangkan dan kedamaian. Ketenangan serta hiburan. Kesenangan serta kebersamaan. Senyuman serta tawa canda. Doa juga harapan. Cita-cita juga keinginan. Semuanya pergi dan kau sadar ini bukan main-main. Ini bukan sandiwara yang pernah kau pentaskan dihadapan teman-temanmu. Ini bukan lagi kesempatan untuk mengulanginya lagi karena waktu itu kau telah berkesempatan. Ini saat pertanggungjawaban. Ini kesempatan untuk menjawab segala pertanyaan dariNya.

Dalam deretan itu semua kenangan mengular ke belakang. Bersiap menghakimi kedustaanmu dan mengawal segala kejujuran. Piala kemenangan itu hanya milik kesadaran. Pemilik kesadaran adalah pemilik kemenangan bersama kejujuran. Ini adalah obyektivitas dari segala penilaian dan penimbangan. Tidak ada kecurangan dan rasa belas kasih. Kesalahan dibalas dengan sewajarnya. Begitu juga kebenaran dibalas sesuai porsinya. Panggun kehidupanmu telah berlalu. Kau takkan pernah kembali ke sana. Di sini keabadian segala umat. Tidak seorang pun bisa menyangkal. Ini saat keengganan akan membunuh segalanya. Ini waktu kebosanan harus segera dibuang. Ini kala kesia-siaan tidak lagi dikenal. Segalanya berjalan dengan teratur. Tidak ada pembangkangan karena pembangkangan adalah dosa. Tidak ada lagi pembiaran dan tidak ada lagi kesempatan meminta perbaikan dan ampunan.

Berbahagialah mereka yang sadar dengan keberadaanya sebelum menembus batas ini. Kehidupan itu bukanlah garis lurus tanpa hilir dan titik. Kenyamanan itu bukanlah garis lurus tanpa jeda. Tetapi titik itu bukanlah penghenti segalanya karena setelahnya ada garis baru lagi. Tanpa henti. Tanpa jeda. Lalu kapankah batas antara hidup dan mati itu akan kita temui? 

Sabtu, 26 Januari 2013

Maninjau


Jakarta 22 Januari 13
Maninjau. Pagi ini saya berkunjung ke danau indah di kota Bukit Tinggi. Airnya tenang dihias cahaya surya yang pagi. Tambak-tambak ikan mulai nampak kehidupannya. Orang-orang mulai datang bergantian. Selepas salat subuh ditegakkan. Perahu-perahu dilepaskan dari tambatan, dayung-dayung mulai diayunkan, tambak-tambak mulai diperiksa, bertukar tawar terhadap barang dagang. Surau-surau dalam pesantren ramai oleh bacaan kitab suci sang pencipta dan pemelihara alam semesta.
Saya bertemu dengan Buya Hamka. Ulama, politikus, sastrawan dan guru kehidupan bagi banyak orang. Kesempatan langka yang emas bagi saya. Setidaknya foto-foto itu tampak dekat sekali dengan saya. Lebih nyata dari sekedar banyangan. Melukiskan gambaran perjuangan dan suri tauladan untuk kita. Keteguhan serta iman yang kuat. Anti komunis. Konsisten sekalipun ancaman rasa sakit mengancam tubuhnya yang tua. Teguh sekalipun aliran listrik menyetrum tubuhnya. Kokoh sekalipun bui menjadi rumah tinggalnya selama lebih dari dua tahun. 

Rabu, 23 Januari 2013

Deret kehidupan


Ini seperti angin kering yang biasa aku dapati. Pada deret pohon kelapa sepanjang tepian sawah yang luas menghampar di depan mata. Daunnya mendesah seperti mendapat lecutan dari angin yang tak kunjung berhenti. Suaranya kadang tidak hanya menggetarkan daun dan merontokkan daun yang tak kuat pada cengkeramannya bahkan menggetarkan perasaan yang terlanjur berani.

Bocah-bocah kecil berlari dalam kegirangan menarik ulur layang-layang kertas yang baru saja dibelinya dari warung di seberang desa. Di sini tidak ada yang menjualnya kecuali mau dan bisa untuk membuatnya. Mereka biasa menyebut layangan, yaitu bermain layang-layang diantara hamparan sawah yang sudah menguning. Biasanya ketika matahari hampir terbenam di ujung barat anak-anak kecil itu sudah mendahuluinya menenteng layang-layang mereka menembus pekarangan menuju sawah. Orang-orang tua kadang ikut juga dalam kegembiraan anak-anaknya dipinggiran, mencari angin sawah yang deras ditepian ujung dan batas antara tanah biasa dan tanah yang berubah menjad pesawahan.
Sambil menunggu anak-anak yang kegirangan menghalau layangan naik ke langit, orang-orang yang muda lagi itu menghabiskan waktu dalam kisah dan cerita. Adapula yang karena kegemarannya merangkai janur menjadi ketupat. Anak-anak yang kehilangan layangan atau memang tidak punya biasanya menghibur diri dengan sama-sama belajar membuat ketupat dari daun kelapa muda yang mudah didapat di tepian sawah.