#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Sabtu, 21 September 2013

Menjadi orang lain



Kami adalah keluarga. Tapi aku tak pernah menganggap kau adik apalagi kakak. Bagiku ketika waktu mendudukkan kita bersama-sama di hadapan orang tua kita, maka saat itu kita sedang duduk sebagai musuh bukan saudara. Semua karena kita dibesarkan dengan cara yang berbeda. Aku merasa berdiri karena kedua kakiku sendiri bukan atas uluran tangan-tangan ibu bapakku. Aku sudah bosan meminta. Jadi aku putuskan untuk mencari kehidupanku sendiri. Silakan hidupkan saudaraku yang masih butuh banyak perhatian.

      Aku dibesarkan untuk menjadi takdir rivalitas dalam rumahku sendiri. Ini agenda besar orang tuaku yang telah bosan dengan teriakan-teriakanku menjelang dewasa saat itu. Kini aku putuskan untuk berikan apa yang aku bisa untuk orang lain dengan jalan dan caraku sendiri. Aku tak lagi kenal kata euforia pribadi atau golongan. Euforia bagiku hanya ada ketika aku berbagi dengan orang lain bukan dengan orang tua, saudara atau diriku sendiri. Bagiku kebahagiaan terbesar bukanlah ketika aku bisa menertawakan saudaraku dengan sepuas-puasnya, melainkan menaklukan wajah-wajah sangar kepada senyuman paling bebas.

      Aku tak pernah menanyakan mengapa ibu-bapakku begitu sayang pada saudaraku itu. Aku terlanjur kehilangan perhatian dan rasa kekerabatan dengan saudaraku sendiri. Selalu saja batas itu begitu tampak sekalipun orang-orang tak pernah ambil pusing soal ini. Tapi aku jauh lebih tahu dari apa yang orang-orang anggap wajar dan sederhana. Hingga pada suatu ketika ibu-bapakku benar-benar memberikan hak asuh atas aku sepenuhnya kepada seseorang. Begitupun atas saudaraku. Tak pernah aku bayangkan ini semua akan terjadi. Titik tengah yang diambil oleh kedua orang tuaku sama sekali tak mencerminkan kasih sayang lagi kepada anak-anaknya. Melepas begitu saja anak-anak yang terlahir tanpa niat dan keinginan keluar rumah. Peristiwa ini adalah pengusiran pertama yang aku terima sepanjang hidupku menjelang 21 tahun. Aku kehilangan simpati bahkan kepada rahim ibuku sendiri.

      Tidak pernah aku bayangkan aku akan terbuang dari rumahku sendiri. Sementara 2 tahun setelah pengusiran halus itu aku mendengar kabar bahwa saudaraku telah kembali ke rumah. Lebih tepatnya dijemput oleh ibu-bapakku. Aku menantikan saat-saat yang sama tapi sampai dengan penantian itu hilang ditelan kekecewaan, orang tuaku  tak pernah datang. Saat-saat itu adalah hari-hari yang begitu panjang bagiku. Hidup dalam asuhan orang yang sama sekali tak aku kenal secara nomaden. Tak ada atap atau tembok yang membuat benteng dari segala udara panas, maupun dingin. Apalagi rumah permanen dengan pendingin ruang dan daun-daun hijau di terasnya. Tapi aku punya lebih banyak dari itu. Taman-taman yang aku tiduri memberiku lebih banyak kebahagiaan dari sekadar pembuangan. Dari sinila aku temukan kehidupan dan kebahagiaan hidup yang sebenarnya. Pada orang-orang nomaden tanpa kelas, strata apalagi status hidup yang tak pernah ada pada catatan sipil kelurahan.

 Hingga akhirnya aku menemukan orang tuaku di sana tanpa statusnya lagi.
Jakarta, 10 September 2013


Sepasang Mata bola


Ada deskripsi yang sama tentang keindahan. Senyuman. Tapi akhirnya semua akan bermula lagi dari awal. Pada masa ketika sosok kecil menari-nari bak angsa di tanah yang luas. Sayap-sayapnya imajiner mengembangkan daya tarik untuk siapa saja yang melihatnya. Kau mungkin bisa melihatnya juga ketika mata bertemu pandang untuk pertama kalinya. Tapi cukup berjarak untuk bisa mendekat. Tapi sebenarnya kedekatan tidak terlalu menentukan sifat indah, namun bagaimana cara menikmati keindahan yang bisa membuat perasaan nyaman itu ada. Suatu saat kau menemukan indah itu ada di sana. Tapi saat yang lain kau juga menemukan di tempat yang sama sebuah pesakitan. Lagi-lagi karena kau punya cara pandang yang berbeda di lain kesempatan.

Latar belakang. Kadang hal itu adalah motivasi utama kau mempunyai keinginan untuk menyukai atau membenci sesuatu. Semua wajar dengan bekal hasrat yang dimiliki oleh setiap pemilik ruh yang sehat. Sepasang mata bola akhirnya akan menggelinding menurut kemauannya. Kau takkan pernah menangkapnya sampai dengan kau mau untuk menjemputnya ke bawah. Karena naluri tak akan sampai membuat bola bisa melawan gravitasi dan menggelinding ke atas. Kecuali kau mau menjadi penopangnya selalu di belakang.
Sepasang mata bola jatuh pada lubang yang salah. Tenggelam dan akhirnya menghilang dalam dekapan sekalipun. Kemudian sesal menjadi teladan yang dipersalahkan.


Jakarta, 21 September 2013.

Selasa, 17 September 2013

Melihatnya lagi


Ada beberapa hal yang membuatku tak juga ingin menidurkan mata hingga tengah malam ini. Ini adalah tentang langkah-langkah yang kembali mengingatkanku pada titik romantika masa yang sulit. Antara perasaan yang tertekan karena takut mengungkapkan dan perasaan lega yang harus segera terpuaskan. Hingga pada akhirnya aku memilih pilihan yang ke dua dengan berbagai konsekuensi kemungkinan. Konsekuensi tersebut antaranya adalah fisik yang tak lagi punya ruh karena ruh kabur meninggalkan raga yang malu menampakkan kebodohan. Ke dua adalah raga yang bertambah panas tiba-tiba dan mengucurkan keringat yang dingin. Ke tiga adalah soal ruh yang begitu berpengaruh pada rasa curiga, khawatir, takut, dan menduga-duga sesuatu yang mungkin.
Pada akhirnya perasaan tertekan itu pun lepas bagai balon yang lepas ke udara langit. Seiring dengan itu ke dua tangan itu mulai bergandeng malu pada perjalanan malam. Pulang.
Malam ini aku melihatnya lagi, maka aku menulisnya.
00:22

25 Juli 2013

Bola Ping-pong


Pantas saja Iwan Fals memberi gelar bahkan untuk sebuah mata dengan bola pingpong pada wanita. Barangkali saat lirik lagu itu ditulis dia pun merasakan hal yang sama dengan saya saat ini. Atau lebih tepatnya saya yang memiliki perasaan yang sama dengannya. Nyatanya memang sulit untuk dijelaskan dengan metode keilmuann manapun, kecuali perasaan yang mungkin bisa sedikit dijelaskan oleh psikologi. Tapi psikologi terlalu jatuh pada teori-teori yang menjenuhkan. Sementara ini jelas sekali ada dalam hati setiap orang. Bagaimana mungkin sebuah bola mata menjadi menyerupai bola pingpong dalam pandangan mata orang lain? Bahkan bukan sekadar bola matapun sebenarnya banyak lagi anggota tubuh yang menjadi tampak lebih spesial dari biasanya.

Bola pingpong. Apakah Iwan punya deskripsi bayang pada mata wanita yang dilihatnya saat itu, bahwa mata yang biasa itu menjadi bola pingpong ketika bertatap temu dengan matanya? Atau hatinya yang barangkali naik turun dan memantul layaknya bola pingpong saat melihatnya sengaja ataupun tanpa sengaja. Hati kecil manapun pasti akan berbisik dengan penuh emosional kepada pemiliknya,”Dia manis.”


Jakarta, September 2013

Minggu, 28 Juli 2013

Dinamika


Kami tidak percaya lagi pada pendidikan, barangkali. Ini titik menjenuhkan jadi semua kata tak tersensor, maaf. Semakin kami terdidik semakin kami menyadari betapa tidak jelasnya pendidikan yang ditinggi-tinggikan itu. Waktu sama sekali tidak dihargai di sini. Hanya waktu sang guru yang berharga. Kami layaknya kacang yang dikupas dan di jual eceran di pinggiran jalan untuk mendapatkan uang. Kami jembatan menuju penghargaan yang absurd. Apakah pendidikan sudah serusak ini? Kami yang lahir dari bingkai kerusakan apakah akan muncul sebagai anak hilang yang terdidik dengan ketidakjelasan. Kami anak yang terasing dari hak kami apakah akan menjadi anak yang pasrah pada sang guru. Kami bukan kerbau yang manggut untuk dicucuk setiap waktu kapanpun kau mau. Kami anak Tuhan yang dititipkan untuk kau cerdaskan. Tidak dengan segala tuntutan dan kewajiban tapi juga pengertian dan pemahaman.

Engkau sang guru apakah akan menunggu anak-anakmu bergerak dalam barisan yang tak terduga? Engkau sang guru telah kebal dengan nurani yang melas karena kepala telah penuh dengan ilmu-ilmu non praktis. Duniawi yang mengancam pendidikan estetis sekalipun. Pembelajaran karakter tidak bermakna! Hanya konsep dan alibi penelitian! Mungkin sekali waktu sang guru pun harus dipindahtugaskan ke bukit-bukit kemilau di NTT atau Papua karena penelitian mereka bilang punya nilai guna. Maka di sanalah saatnya nilai guna itu dimanfaatkan. Bukan dikebumikan dalam perpustakaan-perpustakaan para borjuis. Inikah filsafat aksiologis yang digadang-gadang oleh para ilmuwan? Kemana aksi-aksi atas penelitian berlabuh?

Paradoks in melahirkan efek domino tidak hanya soal kebermanfaatan tapi juga perkara waktu yang tersita untuk “kurcaci-kurcaci” mereka di kelas. Terkadang alibi pengabdian sering menyendirikan para siswa. Katanya sih belajar mandiri. Kalau begitu untuk apa status sang guru itu? Aduh terlalu banyak pertanyaan yang muncul setelah mendapat stimulus kamuflase pendidikan hari ini. Sebagai orang yang terdidik saya sama sekali tidak ingin hal seperti ini saya kerjakan alami juga. Sejatinya ilmu adalah kebermanfaatan untuk orang lain bukan diri sendiri. Sejatinya kamipun tidak ingin meneladani contoh dan pengalaman yang absurd ini. Ini harus segera dibongkak, didobrak dan segera dikebumikan dari bumi pendidikan!


Jakarta, 3 Juli 2013

18:39 WIB

Keluar rumah


Sekarang saya mengerti tentang apa yang dipikirkannya. Tidak sedangkal yang saya kira. Ini bukan lagi sekadar gengsi atau rivalitas semata yang dipertaruhkan. Meskipun nyata-nyata keadaan sekarang tidak menguntungkan. Bagaimanapun cara cerdas itu harus kelar juga dengan sesingkat mungkin. Harga diri tidak akan pernah terjual seberapapun besarnya dengan apapun. Barangkali itulah yang menjadi prinsipnya. Sekarang saya mengerti bagaimana dulu saya dibesarkan buka hanya dalam hati tapi juga dalam sejarah. Sekali lagi mungkin itu cara salah satu cara cerdas yang dipilih. Maaf mungkin agak terhalang konteks tulisan dengan situasi anda sekarang. Saya memang sengaja menulisnya demikian.
Bahkan sampai dengan detik ini pun saya harus mengakui kekalahan itu sebenarnya dengan besar hati. Maka akhirnya saya memutuskan untuk keluar rumah dan bercerita dengan anak-anak di kampung sebelah. Ternyata di sana jauh menyenangkan daripada berdiam diri di rumah. Inilah kebahagiaan berbagi yang takkan pernah terganti dengan kegiatan apapun. Bagi saya.

Jakarta, 28 Juli 2013

16:48

Jumat, 26 Juli 2013

Bukti Kata


Ternyata kata-kata itu begitu hebat. Malam tadi aku mendapatkan bukti dari kata-kata yang keluar dari lisan seseorang. Dia begitu merendahkan diri dalam sebuah forum padahal dia punya sesuatu yang lebih daripada sekadar penurunan kualitas dan keterampilannya. Yah saya jadi teringat pada waktu-waktu yang telah berlalu sebelumnya. Kami sempat mempunyai forum lain dalam satu atap yang cukup membuatnya rendah diri mungkin. Hal tersebut dimulai dengan niatan mengevaluasi dan perbaikan. Namun karena kata-kata yang kurang bisa menghargai kerja kerasnya akhirnya kata-kata tersebut juga yang terbawa sampai dengan detik malam tadi. Semoga kita mengambil pelajaran dari hal kecil semacam ini. Saran maupun kritik itu sesuatu yang wajar. Tapi selayaknya berikan motivasi juga, tak sekadar mengungkapkan kekurangan dan ketidaksenangan ke orang lain.


26 Juli 2013 (03:42)

Rabu, 24 Juli 2013

Kesempatan yang berbeda


Ada beberapa hal yang membuatku tak juga ingin menidurkan mata hingga tengah malam ini. Ini adalah tentang langkah-langkah yang kembali mengingatkanku pada titik romantika masa yang sulit. Antara perasaan yang tertekan karena takut mengungkapkan dan perasaan lega yang harus segera terpuaskan. Hingga pada akhirnya aku memilih pilihan yang ke dua dengan berbagai konsekuensi kemungkinan. Konsekuensi tersebut antaranya adalah fisik yang tak lagi punya ruh karena ruh kabur meninggalkan raga yang malu menampakkan kebodohan. Ke dua adalah raga yang bertambah panas tiba-tiba dan mengucurkan keringat yang dingin. Ke tiga adalah soal ruh yang begitu berpengaruh pada rasa curiga, khawatir, takut, dan menduga-duga sesuatu yang mungkin.
Pada akhirnya perasaan tertekan itu pun lepas bagai balon yang lepas ke udara langit. Seiring dengan itu ke dua tangan itu mulai bergandeng malu pada perjalanan malam. Pulang.
Malam ini aku melihatnya lagi, maka aku menulisnya.

00:22

25 Juli 2013

Batas Imajiner



Maaf ini bukan soal tempat yang megah atau panggung yang indah tapi ini soal siapa yang akan melihatnya. Kita memang berbeda. Terlalu sulit untuk menyatukannya. Lagi-lagi ada batas imajiner yang terus menghalangi kedekatan kita. Kau kah itu sejarah yang panjang? Sejarah ada untuk membesarkan kita seharusnya. Tapi ini justru membuat rival yang tidak jelas ujungnya. Kita sama-sama mengakui jarak imajiner itu. Tapi mengapa sejarahnya menciptanya begitu indah? Kau kah itu dunia  yang berurusan dengan materi dan nepotisme.
Anak kecil akan tetap tersenyum lagi sekalipun dia baru saja menangis. Bahkan seringkali dia tersenyum dalam tetesan air matanya. Nurani pada akhirnya akan mengalahkan segalanya bagi orang yang memilikinya. Ini pilihan yang kita jalani masing-masing. Ini yang aku yakini kebenarannya. Kau pun menyakini kebenaran idealismemu. Kita hidup serumah tapi dalam kamar yang berbeda.

24 Juli 2013

15:57

Senin, 22 Juli 2013

Samar


Sesungguuhnya saya baru benar-benar menyadari kalau segala keabsurdan yang selama ini saya jalani hanyalah kamuflase untuk menghidupkan kembali arwah raga yang gentayangan dimakan kerapuhan fisik, usia dan ketidakpedulian. Saya tidak menafik ada sisa-sisa kepedulian di ujung nafas yang hampir habis. Tapi itu sekejap saja, setelah itu pergi dan benar-benar habis nafas. Hanya segelintir orang saja yang benar-benar masih saya hormati di sini. Mereka yang mau disebut sebagai senior maupun junior. Bagi saya sama saja. Ketika anda bertanggung jawab atas komitmen maka di situlah saya akan menghargai keberadaan. Tapi sekali anda berkilah maka setelah itu percuma saja kau berusaha menghapus kesalahan itu. 


Saya tidak suka pendendam hanya tidak mau dibohongi untuk beberapa kali. Apalagi dengan tipuan sekilas yang baru saya sadari sekarang. Masih ada sisa sebagian yang benar-benar merasa punya tanggung jawab dalam bangunan raga ini. Selebihnya hanya menuntut untuk ini dan itu. Habis itu kabur dan pura-pura diam atau tidak tahu. Alasan klasiknya “Ini bukan masa gue lagi. Ini waktu kalian. Maka segera saja ” tiba-tiba senyap sebentar dan gue pergi!

Romantisme kecil



Hari ini tiba-tiba ingin merasakan lagi romantisme sakit dan bahagia saat jatuh cinta. Biarpun lebih banyak perasaan luka yang tertinggal bersamamu tapi tak ada alasan bagiku untuk mengelakanmu. Tidak untuk selamanya karena aku pasti takkan bisa.bersamamu adalah kenangan singkat yang sampai dengan saat ini tak pernah hilang dari ingatan. Kau mungkin mudah saja untuk menghapus jejak singkat di antara kita. Tapi tidak bagiku. Aku tahu aku hidup bukan untuk masa lalu tapi dari masa aku bertolak untuk masa yang akan datang. Kau telah mengganti sayang dengan orang-orang setelahku. Mudah memang bagimu untuk segera beranjak dari kisah yang terlalu singkat. Bahkan aku masih ingat betul sangat sambungan telepon jarak jauh mengakhiri semuanya. Aku sadar yang memulainya saat itu. aku melihat indikasi ketidakenakan pada kau saat itu. aku terlalu sibuk dengan urusanku dan begitupun kau. Mungkin sampai dengan sekarang. Aku hadir sebagai dian yang tak lagi menyala seterang dulu menurutmu. Tapi aku justru merasa lebih terang dari sebelumnya sekalipun dian-dian lain berlalu menggantikan dian yang sempat meninggalkanmu sementara.
Ini bukan soal ketidaksetiaan tapi tentang tanggung jawab. Aku datang tanpa apa-apa kecuali perasaan yang memotivasiku untuk mengatakan sesuatu yang kini kusebut “cinta.” Hanya itu. Tapi aku sadar seiring hasratku mengatakan hal tersebut. Selalu ada konsekuensi yang harus aku terima meskipun terloihat kurang bersahabat denganmu. Aku terima dan semoga saja “iya” denganmu.

Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu. Tapi untuk mendapatkanmu..

25 Juni 2013

Yang ini untuk kau

Aku malu
Jika apa yang aku tahu tidak sampai pada adikku
Aku malu
Jika apa yang aku tahu menjadi milikku sendiri
Aku malu
Jika apa yang aku tahu menjadi kesombongan
Aku malu
Jika apa yang aku tahu tak sampai mengubahku
Aku malu
Jika apa yang aku tahu tak diketahui oleh adikku
Aku malu
Jika adikku tampil apa adanya
Aku malu
Jika pengetahuanku berhenti pada titik ini
Aku malu
Jika aku meninggalkan adikku tanpa bekal apa dan apa
Aku malu
Jika aku tak merasa
Itu aku

KKL:perjalanan


Belajar banyak mengenal niat dan tujuan. Apalah anda mendeskripsikannya. Terkadang apa yang dilakukan bisa saja diterjemahkan sebagai sesuatu yang salah orang lain. Bahkan hanya sekadar jabat tangan atau duduk di tempat yang dirasa nyaman dan santai. Bahkan niat mengakrabkan bisa berubah menjadi lakuan yang salah seratus delapan puluh derajat. Inilah yang terjadi saat ini. Perjalanan penjang Bali-Jogja yang sama panjangnya dengan singgungan banyak cara dari orang yang berbeda juga. Ada yang diam, ada juga yang tidak mau tahu dengan apa yang terjadi. Tidak ada kepentingan maka tidak ada urusan. Ini saat yang menyenangkan kawan. Tapi kau hendak menerjemahkan sebagai sesuatu yang lain. Sayang. Lebih baik menikmati perjalanan panjang ini.
Tapi semua perjalanan bergantung pada masing-masing pejalannya. Saya tidak berhak memaksakan anda untuk menikmati kesenangan atau kesedihan anda. Yang terpenting bagaimana cara pandang anda saja. Saya tidak ada niatan lain kecuali untuk menikmati setiap perjalanan yang saya jalani. Sekarang bersama anda dan juga anda.

Indah kalau ada peduli. Tapi peduli untuk memerhatikan bukan untuk menyalahkan. Sifat dan sikap terserah anda.

13 Mei 

Sudut pandang:lagi

Mulai lagi. aku telah cukup lama meninggalkan kebiasaan lama untuk terus mengabadikan setiap kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Tapi ide-ide indah itu menguap begitu saja seiring dengan satu tugas yang begitu aku tuhankan melebihi segalanya. Aku salah tapi tak berdaya menerimanya. Sampai dengan batas-batas yang seharusnya harus segera aku dobrak tak kunjung aku pecahkan. Bahkan membuat benteng pandangan mata yang kaku dan menjadi pribadi yang egois. Maaf kawan seharusnya ini membuatku berubah menjadi pribadi yang lebih simpatik tapi aku melihatnya dari sudut yang tidak menguntungkan.

Ini tidak sesuai dengan jalur yang seharusnya aku tempuh. Tapi terlanjur berjalan. Ini tidak boleh berakhir begitu saja tanpa bekas-bekas keindahan dan kepuasan batin yang melegakan. Ini harus berlanjut ketimbang berhenti di tengah jalan dengan rasa lelah yang menanggung. Yah,,aku akan tetap terjaga dalam program yang berbelit dan lama. Hasil tak jelas tapi aku lakukan juga. Hanya demi eksistensi. Bahkan lupa diri dan melupakan orang lain. Maaf. Kalian…

3 Mei 2013

Masih tentang personality


Ada kegelisahan dalam  lindap langkah tanpa keyakinan. Pada tatap mata penuh beban dan  tekanan. Membisukan mulut yang biasa riang tanpa pertimbangan. Hingga mengunci bahkan untuk sekadar senyum melihat kelucuan seorang anak kecil menggendong seekor kelinci. Apa salah yang dia hadapi. Tidak ada kecuali membatu dalam kesombongan. Mestinya ini tidak terjadi. Bahkan untuk sedetik sekalipun. Karena mengubahmu menjadi diam dalam kesibukanmu adalah sesuatu yang ironis. Paradoks kebenaran dengan cia-cita yang terpaksa kau jalani. Bukan! bukan seperti itu caranya!

Mulailah dengan sedikit keihklasan untuk berbagi. Tidak ada salahnya membagikan kesenangan dengan yang lain. Begitupun dengan beban tugas yang sedang kau jalani. Tidak perlu belajar menghibur diri kalau toh nyatanya kau tak pernah bisa melakukannya. 

18 April 2013

Penyampaian



Perlahan aku mulai bisa menemukan pola pengendalian diri yang paling efektif. Malam ini aku menemukan dan sekaligus melakukannya. Apapun kepedulian kalian padaku saat ini, aku ucapkan terimakasih banyak telah bersama-sama sampai denga hari ini. Aku paham benar kesibukan ini pun kadang melengahkanku dari tanggungjawab dan amanah. Berapa banyak komunitas yang telah aku sisihkan, aku juga sampai lupa berapa jumlahnya. Tetapi paling tidak sekarang aku hanya punya kalian Teater Zat yang menjadi satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Kian bertambah waktu kian paham bahwa aku tak dapat meraihnya sekaligus. Tapi jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Aku dilahirkan bukan untuk menguasai segalanya, aku bukan robot. Aku terlahir untuk satu keahlian utama saja. Selebihnya adalah keterampilan tambahan yang menyempurnakan. Semoga ini jalan benar yang diizinkanNya. 

2 April 2013

Penyampaian



Perlahan aku mulai bisa menemukan pola pengendalian diri yang paling efektif. Malam ini aku menemukan dan sekaligus melakukannya. Apapun kepedulian kalian padaku saat ini, aku ucapkan terimakasih banyak telah bersama-sama sampai denga hari ini. Aku paham benar kesibukan ini pun kadang melengahkanku dari tanggungjawab dan amanah. Berapa banyak komunitas yang telah aku sisihkan, aku juga sampai lupa berapa jumlahnya. Tetapi paling tidak sekarang aku hanya punya kalian Teater Zat yang menjadi satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Kian bertambah waktu kian paham bahwa aku tak dapat meraihnya sekaligus. Tapi jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Aku dilahirkan bukan untuk menguasai segalanya, aku bukan robot. Aku terlahir untuk satu keahlian utama saja. Selebihnya adalah keterampilan tambahan yang menyempurnakan. Semoga ini jalan benar yang diizinkanNya. 

2 April 2013

Penyampaian



Perlahan aku mulai bisa menemukan pola pengendalian diri yang paling efektif. Malam ini aku menemukan dan sekaligus melakukannya. Apapun kepedulian kalian padaku saat ini, aku ucapkan terimakasih banyak telah bersama-sama sampai denga hari ini. Aku paham benar kesibukan ini pun kadang melengahkanku dari tanggungjawab dan amanah. Berapa banyak komunitas yang telah aku sisihkan, aku juga sampai lupa berapa jumlahnya. Tetapi paling tidak sekarang aku hanya punya kalian Teater Zat yang menjadi satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Kian bertambah waktu kian paham bahwa aku tak dapat meraihnya sekaligus. Tapi jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Aku dilahirkan bukan untuk menguasai segalanya, aku bukan robot. Aku terlahir untuk satu keahlian utama saja. Selebihnya adalah keterampilan tambahan yang menyempurnakan. Semoga ini jalan benar yang diizinkanNya. 

2 April 2013

Posisi dan tanggungjawab


Posisi dan tanggungjawab seringkali memaksa orang untuk berbuat melebihi kemauannya. Membongkar batas-batas diri yang mengurungnya dalam sebuah penjara kreativitas dan produktivitas kerja. Begitupun yang terjadi hari ini denganku. Meskipun aku hidup di antara kesadaran dan ketaksadaran yang tinggi namun keberadaanku saat ini memaksaku berlabuh cepat pada tiap-tiap target untuk menciptakan rencana menjadi realita. Menjadi sesuatu yang benar-benar wujud. Tidak sekadar konsep dan wacana lagi.
Sekarang aku pun sadar ternyata amanah itu membuatku jauh lebih cepat dari biasanya. Memaksaku mencari lebih banyak dan lebih cepat dari biasanya. Memang kadangkala keterpaksaan itu penting untuk memajukan seseorang. Dalam hal ini aku.
Sore tadi aku bercakap di fb dengan seorang teman baru. Aktivis teater dari UNY. Perempuan mahasiswa jurusan bahasa Perancis angkatan 2010. Berarti seumuranlah. Tidak ada niat lain kecuali menguras semua kegiatan teater di sana seperti apa. Dan inilah yang aku dapat sementara ini.

Bahwa teater menjadi program adalah benar dengan beberapa kegiatan diantaranya adalah jelajah alam, workshop, pentas teater, regenerasi, antologi sastra dan lain-lain. Lakon yang pernah dimainkan diantaranya Pinangan, dll.

29 Maret 2013 

Sudut pandang



Sempat terpikir untuk membuat semacam tulisan bercambung berbentuk cerita dalam berbagai variasi sudut pandang yang berbeda. Melihat satu hal yang sama dari berbagai sisi. Sederhananya seperti itu. Barangkali aku akan banyak belajar dan menjadi orang paling bijak dalam tulisanku sendiri. Ini ide bagus yang tinggal menjalankannya saja dan pelan namun pasti aku akan menyamai esai Goenawan Mohamad yang terbit setiap pekannya di tempo. 

29 Maret 2013