#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 06 Februari 2013

Gelap terang




Malam ini saya menemukan dua kenyataan yang sama-sama membuat efek kelogisan bekerja lebih lemah ketimbang perasaan. Anehnya dua kenyataan ini saling bertolakbelakang namun mengakibatkan rasa yang sama yaitu ketakutan. Yang pertama sepi yang diwakili oleh gelap. Yang kedua keramaian. 

Mengapa sepi selalu dekat dengan kegelapan. Tanpa cahaya dan penerangan. Tanpa teman dan sendiri. sepi, gelap, sendiri berubah menjadi takut. Bayangkan saja kau melewati terowongan bawah tanah sepanjang semenit perjalanan. Dengan menggenggam sebuah senter penerang pun kalau kau melewatinya sendiri dijamin akan gemetaran langkah kaki tiap pijakan. Apalagi tanpa penerangan apa-apa. Seorang tukang bakso mendorong gerobaknya melewati pesawahan yang membelah dua desa. Jalan itu lurus tapi tanpa penerangan jalan satu titik pun. Hanya langit mendung di atas pohon-pohon tepian sawah yang memantulkan cahaya-cahaya bintang yang temaram. Tidak ada bulan karena mendung. Gerobaknya memasang sebuah dian kecil dan senter. Menyorot langsung ke tanah di depannya membuat jarak pandang yang terbatas. Kanan serta kirinya entahlah. Jalanan itu seperti karpet merah yang di pinggirnya keramaian orang-orang mematai kita. Entah siapa karena hanya gelap yang terlihat dan lubang jalanan beraspal yang becek setelah ditimpa gerimis.
Yah terbayang rasa lelah itu matanya..

Tengah



00:18

Pertanyaannya adalah sampai kapan kau akan terus menjadi sekadar penikmat karya-karya besar disekelilingmu? Jelas tidak mungkin selamanya karena kau butuh seperti mereka. melakukannya dengan segenap kemampuan. Dari awam hingga profesional. Dari merangkak hingga berjalan. Dari berjalan hingga berlari. Dari berlari hingga terbang dan mengangkasa. Mereka punya kebutuhan begitupun dengan kau. Mereka berkarya untuk memenuhi kebutuhannya itu. Lantas denganmu? Kapan kau akan memulainya? Atau kau pura-pura telah memulainya. Membanggakan diri dengan sedikit materi yang sekadar beruntung kau dapatkan itu. Atau lebih menyedihkan lagi itu adalah pemberian bukan hasil kerja. 

Yakin sekarang mereka belum juga tidur. Tapi letih dengan kerja dan karya. Apalagi alasannya kalau bukan kepuasan dan pemenuhan kebutuhan. Itu bukan sekadar kewajiban dalam berumahtangga, katakanlah sudah. Melainkan keperluan dan keharusan untuk terus berlanjut dengan karya-karya yang baru. Menyeragamkan keinginan penikmat karya-karya mereka. Nah kau masih termasuk di dalam penimat itu. Secepatnya kau harus ubah itu. Yakin bahwa kehidupan ini berputar kawan seperti bumi yang berotasi. Begitu pun kehidupan dan hari-harimu mendatang. Tidak ada yang selamanya kecuali kehidupan setelah kematian. Nah ini saat sebelum kematian itu datang. Betapa berdosanya apabila hidup hanya sekadarnya. Apalagi menumpang dari belaskasihan orang lain terus menerus. Berbahagialah kalau kau bisa membagi kebahagiaan itu kepada orang lain. Tapi kau tidak akan pernah bisa berbagi tanpa berkarya. Apapun selagi itu baik dan dihalalkan. Waktu tidak bisa menunggumu. Bahkan sedetik pun tidak akan pernah mau. 
 Percayalah ini bukti bukan kepura-puraan.

Rat




Kalau mengingat jeritan wanita setengah baya itu, tubuh saya hampir selalu meresponnya. Membukakan pintu kelopak mata yang tertutup, berdiri ketika berbaring, bangun ketika tertidur hingga kaget ketika terdiam. Gumamannya selalu mengingatkan saya tentang sebuah hal. Beberapa gumamannya samar-samar sedikit terdengar, selagi tengah malam menembus ke dalam mimpi orang-orang yang terlelap. Hanya itu-itu saja sebenarnya cara dia berbicara, entah dengan siapa. Saya juga tidak mengerti tentang apa yang dimaksudkan wanita berambut lurus memutih itu.
Memang kurang pantas kalau saya sebut dia gila. Tapi dia memang orang yang terguncang jiwanya. Bahkan semenjak saya belum terlahir di sini. Jalannya tak pasti arah. Meringis sepanjang perjalanan. Pulang atau pun pergi beriring tangan yang selalu melilit-lilitkan rambutnya. *kaburrrr!!

Musik



Na na na na na na na..

Pengiring musik saat itu menyatu dengan gerak dan dialog yang kita mainkan. Penghayatan yang merasuk ke dalam karakter dan mengubah yang sebenarnya. Ternyata musik bukan sekadar menjadi hiburan tapi lebih daripada itu. Alunan yang menyejukan bisa membangun emosi dan ingatan yang melebihi ketajaman yang seharusnya. Ada satu alunan ilustrasi musik yang masih saya ingat sampai dengan sekarang ini. Ilustrasi musik harapan. Menyatu sekali dengan keinginan saat itu. Sampai semua yang bermain menikmati peran masing-masing dengan penuh kesenangan. Hidup sekali permainannya saat itu.

Minggu, 03 Februari 2013

Banowati Jalingan Golek: Sebuah Gelaran Budaya




Malam Minggu, 1 Desember 2012, sebuah pentas seni drama dan tari di gelar di Gdung Kesenian Jakarta. dengan mengangkat lakon utama Banowati, komunitas Budaya-ku mencoba menyuguhkan sebuah kolaborasi apik antara musik tradisional Jawa, tembang dan geguritan yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Elly D. Lutan yang memiliki nama asli Indah Harie Yulianti sebagai sutradara terbilang sukses membawakan pertunjukan ini. Penononton terlihat antusias semenjak pertunjukan belum dimulai.

Pertunjukan yang berlansung sekitar satu jam ini didominasi oleh seni tari tradisional yang digarap dengan apik. Sebuah aransemen tari tradisional Jawa yang bercerita tentang kehidupan asmara Banowati. Sebagai urutan kedua yang mendominasi pertunjukan adalah musik dari seperangkat gamelan Jawa yang dipukul berirama menjadi musik gending. Musik gending Jawa inilah yang menjadi pengiring erat setiap gerakan tari dan koreografi para penari di panggung. Perannya begitu penting dalam sendratari ini. Seolah menjadi ruh bagi permainan gerak penarinya.

Musik dan tari menjadi paket yang membuat gumun penontonnya. Tertegun dan kalau diizinkan barangkali mereka akan berteriak “waow!” Saya sendiri tidak bisa melukiskan keindahan koreografi dan musik pengiringnya sebaik apa yang dipertunjukan malam itu. Semoga gelaran budaya semacam ini bisa semakin masif digelar dimanapun tempatnya. Orang mungkin baru akan menyadari keindahan Indonesia yang luar biasa setelah menyaksikan gelaran budaya semacam ini.


Bayang



Ada saat waktu begitu singkat untuk dilewati. Ada saat waktu terlalu lama untuk ditebus. Ada saat secarik kertas kecil begitu berharga demi sebuah kenangan. Ada saat benda-benda tanpa kehidupan mampu menghidupkanmu dalam kenangan. Tempat-tempat sepi tanpa penghuni yang hidup dalam bayang-bayang nyata. Mereka berjalan mengikuti degup jantung setiap kehidupan. Berlari seiring arah yang telah terjadi dan akan terjadi. Masa-masa sebelum kamu pernah melaluinya. Tanpa kejadian yang mengingatkanmu pada seseorang. Anak-anak kecil dalam permainan, orang-orang sawah dengan caping di kepala mereka, kerbau-kerbau yang tidak lagi membajak sawah, dan penggembala bebek yang duduk menghadap gunung di atas sawah-sawah yang baru saja dipanen.

Anak gadis duduk dalam pinggiran jembatan yang semakin renta. Kini dia mungkin sudah lupa. Jembatan-jembatan yang terbaring itu adalah jalan yang setiap hari dilaluinya, dulu. Saat-saat dia ikut mendorong sepeda dames yang ditumpang gabah depan dan belakang bersama ibu dan bapaknya. Juga pada motivasinya untuk terus belajar dalam keterbatasan. Menyusuri jalan-jalan terbaik beralas kaki menggesek debu-debu jalanan. Memisahkan lelah dan rasa malas untuk terus mengejar waktu. Mengejar salam hangat dari ibu dan bapak guru di sekolah. Mendahului lonceng tua sekolah sebelum dipukul oleh penjaga. Mengiring doa-doa sebelum pelajaran dan mengakhirinya dengan doa pula. 
Melihat anak-anak memanjat pohon-pohon miring di belakang kelas dan cangkul cangkul yang beradu dengan tanah pesawahan. Kemudian pulang. Ada selembar kertas. Ada namamu di sana..

08:53
Minggu, 3 Februari 2013

Jumat, 01 Februari 2013

MELAWAN KETERBATASAN



Semua selalu berawal rasa penasaran dan keingintahuan tingkat tinggi. Saya membayangkan indahnya berbagi dengan orang lain dalam sebuah organisasi. Indahnya berbagi dengan orang-orang pinggiran, orang-orang desa dan pelosok nusantara. Mereka yang jauh dari kesombongan kota dan terpinggrikan oleh alam yang justru mendewasakan dan membuat mereka bijak menyikapi kehidupan. Di sana yellow jacket telah berhasil membuat bayangan itu menjadi kenyataan. Di sini pencarian saya selama tiga tiga tahun berakhir di tempat. Apakah keikhlasan yang mungkin belum saya miliki. Mereka yang menerima berkata “Bantulah dari saudara terdekat kita.”  Iya itu sudah dilakukan tapi tak kunjung diselesaikan. Belum juga usai. Lagi mereka yang menerima berkata “Tidak ada sesuatu kebaikan yang instan kawan.” 

Baiklah barangkali saya hanya melihat puncak kemenangan dari mereka. Sementara jalan saya masih terlalu jauh menuju puncak kemenangan itu. Pendakian baru mencapai kaki-kaki gunug yang mulai menanjak memang sudah cukup melelahkan. Tapi ini adalah sebuah perjuangan untuk mencapai puncak itu. Kemenangan berbagi dengan anak-anak lugu pemilik alam. Orang-orang tua yang hidup berdampingan dengan alam dan udara bebas. 

Kunci kemudahan untuk berbagi hanya kesuksesan. Mereka telah membutikan. Giliran kita harus segera menuntaskan. Ayo kawan kita bersakit-sakit dahulu sekarang. Tak peduli perjuangan ini akan terbalaskan dengan puncak kemengan berbagi itu atau tidak. Tak peduli rasa malu atau lelah yang membayangi. Lipat lengan baju kita dan bergegas tunaikan kewajiban. Ini kebutuhan untuk berbagi karena kita hidup bukan untuk diri sendiri. Tapi kita diciptakan untuk membantu orang lain. 

Keindahan yang sempurna adalah kepuasan batin karena berbagi. Rasa lelah adalah naluri sesaat yang kadang melalaikan. Sempatkan saja sebentar kemudian bergegas ulang. Mereka barangkali tidak punya waktu lama untuk menuggu kita. Semakin cepat kita memberikan uluran tangan kita, semakin cepat kita melihat senyum jujur mereka. Saya ada sekarang di sini green jacket bukan untuk disesali dan berdiam diri. Kalau mereka saja bisa meraih puncak kemenangan itu, pastilah kita juga bisa. 

Terkadang saya kasihan dengan kawan-kawan saya di sini karena saya adalah bagian dari mereka. Dia, kawan saya hanya bisa kagum melihat dokumentasi perjalaanan mereka yang sampai pada kemenangan. Saya juga kagum dan menjadi berpikir. Kita sama hanya waktu yang mendahulukan mereka meraih kemenangan. Tenang saja kawan tidak lama lagi kita akan menyusul mereka. Jiwa sosialmu sudah terlatih untuk berbagi. Hanya kesempatan finansial saja yang menunda kita seperti mereka.

Yeah! Jadi kesimpulan sementara kita ternyata untuk berbagi ternyata kita juga butuh bantuan. Tepatnya mencari personal atau lembaga yang memiliki visi seperti kita untuk diajak bersama-sama berbagi dengan mereka, bocah-bocah lugu yang mendiami alam-alam terluar kepulauan nusantara. Sebelum pada akhirnya nanti kita akan dewasa secara finansial dan bisa langsung berbagi dengan mereka. untuk sementara kita memang masih anak kecil tapi kedewasaan itu pasti.

Hanya kepada gunung-gunung yang melongsorkan tanah-tanah tertingginya
Hanya kepada pohon-pohon tua yang menghuni belantara alam
Hanya kepada udara bebas yang terbang dalam kabut-kabut pagi
Dan pada tetesan udara yang mengalir di bawahnya sungai kebeningan
Hanya pada alam yang membuat senyum-senyum mereka
Anak alam pemenang kebersamaan
Rasa jujur dan kedamaian
Tanpa kesombongan
Hanya pagi
Yang mengantarkan kedewasaan pada saatnya nanti

Rabu, 30 Januari 2013

Jujur



Jujur saya belum bisa menerima perlakuanmu. Sekalipun maksud hati mungkin baik. Tapi cara yang kau tempuh terlalu mengenang dan membekas. Telah lewat dari satu bulan setelah puncak acara itu, mungkin saya akan berhadapan lagi dengan orang-orang sepertimu dengan cara yang berbeda. Serius ini adalah pengalaman. Begitupun pengalaman membimbing anak-anak sekolah dasar kelas 5 sekolah dasar dalam bermain drama. Tapi itu lebih mengasikkan dari pengalaman yang sebelumnya, darimu. Ini bukan soal cinta atau perasaan. Ini soal prinsip dan ketegakkan diri di mata orang. Ini bukan soal berbangga diri tapi kebutuhan untuk lebih dihargai. Sekecil apapun yang belum juga saya dapatkan dari perlakuanmu.
Tapi pengalaman mengajari dan membuat saya lebih berlapang dada untuk menerima.

Selasa, 29 Januari 2013

Batas


Jakarta 28 Januari 2013

Cepat sekali berlalu. Kepeningan ini akhirnya akan segera berganti dengan cerita-cerita tentang kalian. Di masa itu. Waktu yang menyenangkan juga kadang menyusahkan. Semua teringat pada segala kejadian. Dosa, kebaikan, malaikat, keburukan hingga keberkahan. Pahala, nilai, dan ibadah. Kelupaan dan kesengajaan. Penyesalan dan kedamaian. Ketenangan dan kelalaian. Kesempatan dan ketidakpedulian. Perhatian dan abai. Semuanya berlalu cepat dan lewat begitu saja sampai dengan datang masa yang tidak kau inginkan. Saat itu adalah kekosongan waktu. Kelenyapan kesempatan untuk menikmati kembali masa-masa menyenangkan dan kedamaian. Ketenangan serta hiburan. Kesenangan serta kebersamaan. Senyuman serta tawa canda. Doa juga harapan. Cita-cita juga keinginan. Semuanya pergi dan kau sadar ini bukan main-main. Ini bukan sandiwara yang pernah kau pentaskan dihadapan teman-temanmu. Ini bukan lagi kesempatan untuk mengulanginya lagi karena waktu itu kau telah berkesempatan. Ini saat pertanggungjawaban. Ini kesempatan untuk menjawab segala pertanyaan dariNya.

Dalam deretan itu semua kenangan mengular ke belakang. Bersiap menghakimi kedustaanmu dan mengawal segala kejujuran. Piala kemenangan itu hanya milik kesadaran. Pemilik kesadaran adalah pemilik kemenangan bersama kejujuran. Ini adalah obyektivitas dari segala penilaian dan penimbangan. Tidak ada kecurangan dan rasa belas kasih. Kesalahan dibalas dengan sewajarnya. Begitu juga kebenaran dibalas sesuai porsinya. Panggun kehidupanmu telah berlalu. Kau takkan pernah kembali ke sana. Di sini keabadian segala umat. Tidak seorang pun bisa menyangkal. Ini saat keengganan akan membunuh segalanya. Ini waktu kebosanan harus segera dibuang. Ini kala kesia-siaan tidak lagi dikenal. Segalanya berjalan dengan teratur. Tidak ada pembangkangan karena pembangkangan adalah dosa. Tidak ada lagi pembiaran dan tidak ada lagi kesempatan meminta perbaikan dan ampunan.

Berbahagialah mereka yang sadar dengan keberadaanya sebelum menembus batas ini. Kehidupan itu bukanlah garis lurus tanpa hilir dan titik. Kenyamanan itu bukanlah garis lurus tanpa jeda. Tetapi titik itu bukanlah penghenti segalanya karena setelahnya ada garis baru lagi. Tanpa henti. Tanpa jeda. Lalu kapankah batas antara hidup dan mati itu akan kita temui? 

Sabtu, 26 Januari 2013

Maninjau


Jakarta 22 Januari 13
Maninjau. Pagi ini saya berkunjung ke danau indah di kota Bukit Tinggi. Airnya tenang dihias cahaya surya yang pagi. Tambak-tambak ikan mulai nampak kehidupannya. Orang-orang mulai datang bergantian. Selepas salat subuh ditegakkan. Perahu-perahu dilepaskan dari tambatan, dayung-dayung mulai diayunkan, tambak-tambak mulai diperiksa, bertukar tawar terhadap barang dagang. Surau-surau dalam pesantren ramai oleh bacaan kitab suci sang pencipta dan pemelihara alam semesta.
Saya bertemu dengan Buya Hamka. Ulama, politikus, sastrawan dan guru kehidupan bagi banyak orang. Kesempatan langka yang emas bagi saya. Setidaknya foto-foto itu tampak dekat sekali dengan saya. Lebih nyata dari sekedar banyangan. Melukiskan gambaran perjuangan dan suri tauladan untuk kita. Keteguhan serta iman yang kuat. Anti komunis. Konsisten sekalipun ancaman rasa sakit mengancam tubuhnya yang tua. Teguh sekalipun aliran listrik menyetrum tubuhnya. Kokoh sekalipun bui menjadi rumah tinggalnya selama lebih dari dua tahun. 

Rabu, 23 Januari 2013

Deret kehidupan


Ini seperti angin kering yang biasa aku dapati. Pada deret pohon kelapa sepanjang tepian sawah yang luas menghampar di depan mata. Daunnya mendesah seperti mendapat lecutan dari angin yang tak kunjung berhenti. Suaranya kadang tidak hanya menggetarkan daun dan merontokkan daun yang tak kuat pada cengkeramannya bahkan menggetarkan perasaan yang terlanjur berani.

Bocah-bocah kecil berlari dalam kegirangan menarik ulur layang-layang kertas yang baru saja dibelinya dari warung di seberang desa. Di sini tidak ada yang menjualnya kecuali mau dan bisa untuk membuatnya. Mereka biasa menyebut layangan, yaitu bermain layang-layang diantara hamparan sawah yang sudah menguning. Biasanya ketika matahari hampir terbenam di ujung barat anak-anak kecil itu sudah mendahuluinya menenteng layang-layang mereka menembus pekarangan menuju sawah. Orang-orang tua kadang ikut juga dalam kegembiraan anak-anaknya dipinggiran, mencari angin sawah yang deras ditepian ujung dan batas antara tanah biasa dan tanah yang berubah menjad pesawahan.
Sambil menunggu anak-anak yang kegirangan menghalau layangan naik ke langit, orang-orang yang muda lagi itu menghabiskan waktu dalam kisah dan cerita. Adapula yang karena kegemarannya merangkai janur menjadi ketupat. Anak-anak yang kehilangan layangan atau memang tidak punya biasanya menghibur diri dengan sama-sama belajar membuat ketupat dari daun kelapa muda yang mudah didapat di tepian sawah. 

Selangkah dalam pintu kemenangan



Masuk dalam gerbang kemuliaan adalah penanda musim baru dalam beramal dan beribadah. Tidak disangka-sangka lagi semuanya telah menunggu. Siapa saja dari tukang sol sepatu, pedagang jagung rebus, penjual kacang godog, tukang roti keliling hingga imam masjid yang setia menunggu muadzin mengumandangkan azan. Orang tua itu tidak pernah absen menjadi orang pertama yang menginjakkan kai di tempat wudu setelah imam masjid dan muadzin. Tapi suara muadzin itu merdunya kemana-mana menyebar dan mengundang penasaran orang yang mendengarnya. Apalagi menara setinggi hampir 15 meter di samping masjid itu semakin menggemakan suaranya. Begitupun  lantunan ayat-ayat suciNya yang rutin didengarkan 10 menit sebelum salat berjamaah lima waktu dimulai. Mengingatkan orang-orang segera datangnya waktu salat.

Sopir taksi biru itu bergegas menutup dan mengunci pintu mobilnya rapat-rapat. Melemaskan badan sejenak dalam teras pembaringan masjid yang hangat. Tidak cukup luas pembaringan itu. Letaknya persis di bawah menara yang tinggi menusuk langit. Hampir semua orang merebahkan dahulu badannya yang lemah bekerja, di sini sebelum akhirnya mengambil wudu dan menunaikan kewajiban salatnya. Semuanya termasuk tukang sapu jalanan dan para tukang sol sepatu. Terkecuali imam masjid dan muadzin. Barangkali karena keduanya sudah terlalu sering menimati pijatan alam itu yang gratis.

Tapi kali ini tidak ada seorang pun dalam lantai keramik itu melainkan seorang tua bersatung kotak-kotak. Siapa yang tahu orang itu? Petugas keamanan hanya mengenalnya kalau bertemu di sana. Selebihnya tidak ada yang tahu. Dia memakai kopiah putih yang mucuk di kepalanya. Maka ketika angin agak kencang menerpa kepalanya, peci itu hampir-hampir jatuh. Suara iqomah sudah dilantangkan menyeret semua jemaah untuk segera menyusun barisan salat di dalam ruang utama masjid. Tapi bapak tua itu tidak juga turut masuk ke dalam. Malah aku lihat dalam kesempatan-kesempatan terakhirku masuk ke dalam masjid, beliau turut pasang badan juga untuk salat. Tapi di luar. Pintu itu bergeser menutup pandanganan mataku untuk terakhir kalinya melihat beliau. Saat itu saja. setelahnya masih juga bertemu dalam kesempatan yang sama.

Baik barisan jamaah di dalam maupun bapak tua yang di luar sama-sama mengerjakan kewajibanya. Setelah itu, selesai dan semua orang keluar dari ruang utama menuju ke luar. Mengambil alas kaki kemudian pergi dengan senyum miris bapak tua. Burung-burung gelatik kembali beterbangan merespon orang-orang yang bergerak cepat. Taksi biru, gerobak-gerobak para pedagang, serta bajai-bajai yang terparkir di depan pun beranjak satu per satu tanpa aturan. Bebas masing-masing. Sama juga dengan burung gelatik yang terbang entah kemana dalam kelompoknya. Namun sore nanti mereka pasti akan kembali sebelum aku datang.

Nyatanya aku tidak datang sore itu. Janjiku untuk melihat kembali burung-burung yang mematuk kembang-kembang kurma itu gagal aku temui. Mereka keburu berlari dengan sayap-sayap mereka setelah imam selesai membacakan doa penutup salat. Anak-anak kecil melangkah paling cepat dari lainnya. Berlarian saling mendahului dan seolah hendak berteriak,”Aku yang terdepan, Aku yang pertama!!”

Tapi goresan tulis dilarang berisik di dinding tembok itu sepertinya dipatuhi betul oleh anak-anak. Mungkin jauh sebelumnya tidak juga. Pasti ada proses panjang. Aku tahu setelah salah seorang jamaah mendekat ke kerumunan anak-anak sambil melirik ke arah mereka. tanpa suara tanpa kontak fisik. Hanya mata yang beradu berbicara dan menegur sembari mengingatkan. Dari mulai masuk hingga keluar, tertib tanpa suara. Tapi toh anak-anak, sekalipun lisan tidak juga bersuara tapi gemuruh kaki-kaki mereka berlarian meributkan juga. Tanpa dialog hanya deskripsi. Mata yang melihat dalam ingatan tanpa percakapan.

Pada hari-hari itu aku mendengar lagi ayat-ayat yang sama. Suci mengingatkan segala dosa. Kemudian semua orang hendak terpanggil. Termasuk juga aku yang segera merapat dalam barisan yang disebut saf. Saat-saat yang menyejukan kembali terulang. Meneguhkan hati yang renta. Mengembalikan rasa yang sempat putus. Terunggah lagi dalam perasaaan terdalam. Penyesalan dan rasa bersalah.

Sore yang menguning. Mahrib menjelang. Semua orang bersiap. Orang-orang lalu lalang lupa kewajiban. Ada orang dengan kemewah tertawa ria dalam mobilnya. Ada orang berkurang usia malah berfoya ria. Ada orang dewasa belum pada waktunya. Lalai tugas suka kekanak-kanakan. Ada orang sakit menjadi alasan untuk bersitirahat. Pada hari-hari itu aku lupa. Mengikuti jejak langkah semua orang. Ayat-ayat yang terdengar mulai melirih bersama dengan suara bajai yang semakin bising. Tapi suara azan itu tetap memanggil setia. Pada orang-orang di tengah ladang aspal. Pada punggung-punggung para pekerja. Kala itu barisan hanya menyisakan satu barisan saja. Imam dan muazin hanya berteman lelaki tua bersarung kotak. Tekun dalam keyakinan. Abai terhadap segala goda.

Lelaki tua itu memandang imam dan muazin dengan senyum. Seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya kesepian yang perlahan mulai dia rasakan. Ternyata tidak ada lagi orang-orang yang biasanya memandang dia aneh. Tidak ada lagi orang-orang yang mengajaknya masuk ke dalam ruang utama, kecuali pemimpin salat yang kala itu rajin memanggilnya. Hari-hari itu dia merasa diperhatikan betul oleh empunya masjid. Tidak ada sekalipun waktu yang lupa untuk mengajaknya turut bersama.
Burung-burung gelatik telah pergi bermigrasi. Meninggalkan pohon kurma yang semakin tua. Hilang dengan kembangnya. Jatuh gugur seiring usia. Menunggu kematian pada hari-hari itu. 

Sabtu, 19 Januari 2013

Gerbang kemuliaan



Dua tikungan jalan beraspal itu tidak lagi aku lewati. Pos pengamanan yang diam membisu pun tidak lagi aku lalui. Telah lama aku meninggalkan kompleks perumahan itu. Dua tikungan lagi adalah belokan pertama menuju jalan utama dan menuju rumah ibadah yang agung. Di dekatnya ada sebuah taman. Pedagang kaki lima rukun berjejer dengan petugas pengamanan kompleks. Begitupun rumah yang berjejer mewah mengawal setiap langkah yang berjalan. Para pengojek dan supir bajai setia menunggu penumpang di depan sebuah sekolah dasar. Sebuah menara menjulang ke langit bersama pohon kurma tua yang tak kunjung berbuah. Bunga-bunganya berjatuhan tersibak sayap-sayap burung gelatik yang terbang berkelompok.
Seorang anak kecil sedang merayu kakaknya yang perempuan untuk ikut bermain. Dia merengek memaksa bermain. Kakaknya terpaksa juga ikut kemauan adiknya. Sepedanya diseret bersama dengan kekesalannya yang hendak memuncak. Tapi toh ditahan juga demi adiknya. Kakak beradik itu mengantarkanku kala menuju masjid di seberang jalan itu. Dua tikungan dari rumah tempat aku menginap. Empat tikungan dari awal aku keluar pintu pagar rumah. Lantunan ayat suciNya telah mendahului langkahku. Suaranya indah mengikuti ayat-ayat yang keluar dari lisan yang suci. Aku tidak mungkin melupakannya. Lantunannya menuntunku mengikuti jalan yang seolah menjadi penunjuk jalanku. Aku mengikuti saja. tibalah aku pada pintu gerbang kemuliaan itu. 

Senin, 14 Januari 2013

Sesekali




Aku tidur selepas mahrib, kemudian salat Isya ketika telah lewat dari waktu tepat Isya.
Hari ini ada satu yang menjadi bahan pikiran utama dalam kepalaku, yaitu departemen kerohanian. Mau aku bawa kemana? Dengan melihat kepalanya saja yang belum sempat kathamul quran? Maka ada banyak yang harus aku benahi, terutama dari dalam diri dulu lah, jangan muluk-muluk. Setelah itu waktunya memberi.
Ekor di kepalaku jatuh padamu kampong halamanku. Aku harus mengakui kerinduanku pada kakekku. 

Masih saja teringat dalam pikiranku wajah, berlipat kake yang selalu sendiri setiap malam tidur dalam bilik bambu. Umurnya barangkali sekitar 70-an tahun. Biasanya hanya radio yang menemani beliau dalam kesendiriannya. Kala mengingat musim hujan seperti ini adalah puncak kerinduan itu ada. Aku kasihan dengan beliau, tapi aku terlalu banyak kata tetapi yang membuatku jarang sekali bisa bertemu beliau. Padahal umur beliau sudah dibilang di penghujung hidup, meskipun tidak ada yang pernah tahu kapan kehidupan akan tercabut dari raga seseorang. Tapi bahwa kerentaan telah menjadi sosok kakek sekarang, adalah menjadi bukti semakin dekatnya hal tersebut pada beliau.

Maka aku menjadi sangat ingin kembali, karena hanya jarak semalam saja yang memisahkan aku dengan beliau. Ya Rabb, nerikan aku kesempatan untuk bertemu beliau lagi dalam keadaan yang menyenangkan. Aminn

Maka jangan sampai penyesalan membuahkan air mata yang tidak semestinya jatuh terlalu cepat ya Rabb.
Aku tidak pernah tahu apa yang sedang beliau lakukan sekarang, malam ini. Akuk harap malam ini adalah malam yang tenang dengan mimpi indah yang menaungi beliau hingga besok hari menjelang. Kesedihanku adalah ketika harus membayangkan kesendirian beliau di usia senjanya. Hamper semua anak-anaknya jauh dari beliau, mereka kebanyakan merantau ke luar daerah, termasuk ibuku di Jakarta. Dan aku sebagai cucunya sekaligus ada bersama ibuku disini, Jakarta.  Cucunya yang lain kebanyakan sama denganku, mereka kebanyakan ada di luar daerah, kebanyakan memang Jakarta. Maka tinggalah kakek dengan seorang satu-satunya anaknya yang rumahnya saling membelakangi dengan dua orang cucunya. Harapan semua keluarga ada padanya untuk menjaga selalu kesehatan kakek. Anak-anak beliau yang lain hanya mendukung dengan iuran bulanan untuk menjamin kebutuhan beliau. 

Sesekali saja ada anak yang telefon, sekedar melepas kerinduan dan kemudian suaranya menghilang menunggu tamu kerinduan itu datang lagi.
Malam ini aku berharap banyak juga pada radio hitama milik beliau yag senantiasa mendongeng dalam permulaan tidur beliau untuk tidak lupa melakukan tugasnya. Kekhawatiran seringkali datang, karena radio tersebut seringkali mogok bercerita pada kakek. Kalau sudah begitu maka hanya suara jangkrik dan binatang malam saja yang menemani tidur beliau. Sungguh keadaan yang tidak menyenangkan untuk dibayangkan. Apalagi ketika hujan turun. Seringkali diikuti padamnya listrik. Aku pernah merasakan kesendirian dalam sebuah rumah ketika malam tiba dengan hujan dan petir menyala-nyala dalam gelap malam. Sungguh batin merasa tidak di perhatikan oleh orang sekitarku, orang-orang yang paling dekat sekalipun. Maka apapun yang dirasakan oleh seorang tua seperti beliau, barangkali lebih dalam dari perasaan pengalamanku. Aku tidak pernah membayangkan ketika kakek harus meraba dinding berbilik bambu itu untuk mencari sebatang lilin atau dian yang masih tergantung dengan sumbu minyaknya. Matanya sudah tidak lagi seterang mata normal. Indikasi kebutaan bahkan telah menjadi vonis dari dokter. Siang menjadi sore. Sore menjadi malam, malam menjadi gelap kemudian samar dan tidak bisa melihat. Itulah beliau.

Terakhir aku meniggalkan beliau, aku masih melihat dian itu masih tergantung di atas sebuah ranjang bambu di bale-bale rumah berbilik beliau. Aku tidak yakin sekarang masih ada atau tidak karena minyak tanah semakin langka saja. Ada beberapa batang lilin yang tertinggal memang saat itu. Tapi keyakinan bahwa lilin-lilin itu telah habis sangat kuat. Jadi aku kembali berharap pada bibi untuk selalu menilik beliau pada setiap kesempatan. Sebuah senter kepunyaan beliau kadang juga mati nyala, bahkan aku lupa apakah aku telah mengembalikannya atau belum pada kakek. Aku sempat meminjamnya. Tapi..aku lupa.

Bahkan ketika beberapa anak beliau ada, kakek masih saja terlihat kesepian. Apalagi ketika keadaan seperti sekarang ini. Bagaimana kesepian pasti tidak akan pernah jauh dari hati beliau. Dengan rentan beliau berjalan mengeja tanah. Seolah membaca kembali semua kehidupan beliau sejak muda dulu.
Ya Rabb..sampaikan aku untuk bertemu lagi dengan beliau dalam keadaan yang menyenangkan. Amiin.
 Hari ini, Rabu malam, 2 Januari 2012