Berbisik
selalu menjadi tanda yang mengawali kecurigaan. Ada sesuatu yang tersembunyi
atau sengaja disembunyikan yang tidak boleh dketahui isi dari bisikannya itu.
Apalagi jika bisikkan diolah dengan lirikan mata. Maka sempurnalah kecurigaan.
Jika orang-orang disekitarmu ada yang berbisik-bisik tentu kau akan merasa
resah, bukan karena khawatir atau takut tapi karena rasa ingintahumu ditekan
oleh orang lain.
Jumat, 03 Oktober 2014
Ambang
Apa
yang terjadi kemarin maupun hari ini? Kemarin seharusnya menjadi hari yang
menyenangkan karena semua kembali seperti adanya. Lepas lebih dari 2 minggu
tanpa mereka,kemarin malam kembali menjadi bagian indah bersama mereka,
seharusnya. Tapi yang terjadi sama sekali berbeda. Malam menjelang akhir,
ternyata menyisakan pesan yang tak kunjung bisa dilupakan begitu saja. Tak bisa
sedikitpun aku melepas pesan singkat itu semalam. Tolong ....... Begitulah kira-kira pesan singkat
yang menjadi bebanku sekarang. Tanpa basa-basi dan tanpa pengantar atau
pendahuluan, strukturnya tidak lengkap tapi terarah jelas pada tujuannya. Semuanya
berawal dari pesan itu.
Yah
aku tak pernah berpikir untuk membuat sebuah tindakan yang membuat orang lain
merasa dirugikan atau dibuat kecewa. Sama sekali tak merencanakan untuk yang
demikian. Kemarin semua berjalan wajar tapi ketidakwajaran ternyata dirasakan
oleh orang yang berbeda. Sungguh di luar perkiraan. Aku tidak bisa melepaskan
kesalahan yang tanpa sengaja itu sampai sekarang. Perjalanan hari ini pun
menjadi melayang tanpa tujuan. Begitupun dengan semua lengan dan kepala yang
tiba-tiba lemas tanpa syarat dan perintah. Semuanya melemah dan mengambang
mengakibatkan aku bergelut dengan ketidakjelasan. Semua perkara seperti
menuntut dalam waktu yang bersama-sama tanpa antrean tanpa urutan. Sekarang
atau mati saja kau!
Senin, 30 Juni 2014
Empat yang kemarin
Ada banyak orang dengan banyak sudut pandang. Tapi apakah kamu pernah berpikir pada orang-orang yang tidak seberuntung kamu sekarang? Aku tak pernah membuat masalah, sekalipun kamu tak ambil peduli pada orang-orang sekitarmu. Bagiku hanya ketukan hatimu yang sedang melirih pada nurani yang makin lebur pada empati. Tapi kepercayaan tinggi selalu ada pada setiap orang. Tak peduli apakah dia masih bisa mengambil sikap terhadap apa yang dilihatnya maupun tidak. Mereka adalah orang-orang dengan titik Tuhan yang tinggi. Cobalah tanyakan pada dirimu sendiri ketika rasa takut membuatmu panik karena berbuat salah. Itu adalah penanda paling jujur terhadap keempatianmu yang sesungguhnya masih ada, hanya tertidur sesaat.
Tak butuh banyak uang atau materi untuk sebuah empati. Tak perlu juga menunggu kaya, karena menolong tak pernah kenal kata status. Bukan hanya karena materi kau bisa tersenyum bahagia. Ada banyak cara kau bisa menebusnya. Tentu pesan dari kakekmu masih kau ingat. Hentikan kepura-puraanmu dan berhentilah bertanya karena kau tahu apa yang harus kau lakukan. Malam maupun siang kita akan tetap menemukan orang-orang yang sama dengan latar belakang yang berbeda. Setidaknya kata yang tertulis di sini telah mengawali penyadaranku secara pribadi. Mungkin kau lebih dulu atau bahkan baru saja, mungkin juga segera mendapatkannya. Pada saat itu kau akan mendapatkan senyuman itu tanpa syarat apapun. Tanpa wanita, tanpa pesta dan tanpa asap apapun yang membuatku senang sesaat kemudian sesak berkepanjangan.
Pilihan akan menentukan kepada siapa kita pada akhirnya berhenti dan berjalan. Keputusan juga yang pada saatnya akan menuntun dan membimbing kita pada jalan yang bebas dari rasa takut dan khawatir. Semua dimulai dari penyadaran.
Empat yang kemarin adalah penebusan
Dua yang sekarang adalah kekuatan
Satu yang terakhir adalah kesadaran
Jakarta, 16 September 2013
22:50
Ibu dan Bapak
Air baru saja selesai mengguyur gang-gang sempit dan padat di sekitar rumah kami. Di antara gang-gang yang sempit, ada sebuah gang yang paling lebar di tepian sebuah warung. Di antara warung dan tembok-tembok rumah itulah orang-orang kampung biasa menghilangkan kepenatan dan kejenuhan pikiran. Ada yang bermain kartu, ada yang bermain karet, ada yang sekadar ngobrol satu dengan yang lainnya. Anak-anak, tua maupun muda bergabung tanpa risih atau sungkan. Kadang kalau bapak-bapak kami selesai memandikan ayam-ayamnya, sesekali bapak mengadunya sembari menjemur bulu-bulu ayamnya yang basah. Kami senang menontonnya ketika cucuk-cucuk ayam mematuk kepala ayam yang lain. Kami juga senang melihat bulu-bulu ayam mengembang memperlihatkan kejagoannya kepada yang lain. Tapi kami sebenarnya tak tega melihat bulu-bulu yang masih muda terpaksa tercabut oleh yang lain. Tapi kami juga tak tega melihat bapak kami murung dan termenung setiap pagi memikirkan pekerjaan yang belum juga datang. Kami lebih senang melihat bapak kami tersenyum melihat jagoannya menang saat diadu dengan ayam tetangga. Kami juga senang melihat bapak tak lagi diam dan termenung setiap pagi di emperan rumah kami yang tak berteras. Biarlah ayam-ayam itu menjadi semangat bapak kami untuk mengajak kami bermain dengan caranya.
Sementara bapak kami mengurusi ayam-ayamnya, ibu-ibu kami tak punya perkerjaan juga selepas masak dan mengambil air. Biasanya ibu kami melamun di depan kompor tungku memikirkan nyala kompor yang makin hari makin kecil dan redup, memikirkan apa yang akan dimasak besok, memikirkan seragam sekolah kami yang harus segera diganti, memikirkan kami yang akan ujian nasional, memikirkan pakan ayam-ayam yang belum dibeli bapak, memikirkan uang kontrak rumah bulan depan, memikirkan segala-gala tentang hidup. Kami kasihan memerhatikan ibu-ibu kami. Tapi hari ini kami merasa senang karena ibu kami sudah punya pekerjaan lain selain berpikir yang berupa-rupa itu. Ibu kami duduk bersama-sama saling memegangi kepala yang lain sambil berkeluh kesah dan berbicara satu sama lain. Kami senang melihat ibu berbicara karena artinya ibu tidak lagi memikirkan tapi membicarakan dengan ibu-ibu yang lain. Kami senang karena ibu-ibu kami saling meringankan beban dengan memijat kepala-kepala yang berat karena banyak beban. Kami senang karena kepala ibu kami jadi ringan dan tidak gatal lagi setelah banyak kutu dipanen. Kami juga senang karena ibu mengajari kami cara bermain monopoli biarpun sebenarnya kami ingin sekali diajari cara melipat origami. Kami juga senang dibelikan kelereng sekalipun kami lebih senang dibelikan sebuah pensil dan selembar kertas. Tapi kami tahu sebutir kelereng lebih murah ketimbang sebatang pensil atau selembar kertas.
Ibu kami memang bijak. Selepas sekolah kami diberi karet agar belajar melompat tinggi, mengejar cita-cita dan impian. Sebelum tidur kami didongeng agar punya cerita yang bisa dibagi ke teman-teman kami besok. Sebelum tidur kami didoa agar jadi anak yang baik dan berguna bagi orang lain. Saat tidur kami berkelana ke ujung dunia meninggalkan gang-gang sempit metropolitan menuju ruang sebebas-bebasnya meraih terang dan menghapus gelap. Kami tinggalkan kejahilan, kami tinggalkan prasangka buruk, kami tinggalkan ayam bapak, kami tinggalkan kelereng, kami tinggalkan untaian karet dari ibu dan kami tinggalkan bapak dan ibu kami yang kasihan. Rasanya kami tak ingin terbangun lagi.
Minggu, 29 Juni 2014
Minggu terakhir di bulan Juni
Minggu terakhir di bulan Juni ini
aku bertemu dengan kawan lama di sekitaran Kapuk, tak jauh dari kota Tua. Ini adalah
pertemuan rutin yang selalu kami rencanakan di setiap akhir bulan. Tapi Juni
ini sepertinya bukan menjadi bulan yang mengenakan bagi kawanku. Memang dia
cerdik sekali melucu dibalik masalahnya. Aku pun tanpa paksaan membaca sebuah
catatan yang masih menyala di laptop kerjanya ketika dia meminjamkannya padaku
selang sebulan setelah pertemuan Juni itu. Banyak rasa ingin tauku membuat
banyak mencari tau. Tanpa sengaja aku membaca ini persis setelah laptop
kunyalakan. Tentu ini catatan yang tidak mengenakan baginya. Kurang lebihnya
seperti ini..
“
Hari
ini saya tidak bisa diam barang sebentar menunggu kabar dari kendaraan yang
akan mengangkut kami, tak kunjung datang. Pesan singkat sudah terkirim namun
tak ada balas. Telefon dilayangkan namun tak berjawab. Hanya rasa gugup dan
khawatir yang menguasai diri. Lebih pada khawatir agenda kerja yang akan
berantakan dan tertunda bahkan mungkin gagal karena tak ada kendaraan yang
bakal mengangkut rekan-rekan kantor ke tujuan.
Hampir
seminggu yang lalu saya mati-matian (beruntung tak sampai mati) mengejar
setoran untuk berjalannya acara yang diagendakan berlangsung selama beberapa
waktu di tepian Juni. Apapun alasannya saya telah berkeyakinan bahwa tidak
mungkin tertunda lagi karena bakal membawa beban yang semakin berat buat saya
sendiri tentunya. Ada lebih banyak kekecewaan yang saya dapatkan di sini.
Orang-orang banyak yang menganggap ini sebagai sebuah pembelajaran. Yah ini
memang pembelajaran dan lebih tepat sebagai pembelajaran pribadi yang terlalu
ekstrim. Ibarat anak muda mungkin konteks pembelajaran yang dimaksud seperti
dalam kalimat mampus, ini pelajaran buat
loe! Maka ini jadi seperti tulisan yang meredam efek traumatik yang telah
saya jalani dengan sekuat tenaga selama ini. Betapapun lelah dan kasihannya,
saya tidak banyak mendapat bantuan kecuali pertanyaan dan permintaan maaf.
Sesuatu yang sulit untuk ditolak tapi juga menyakitkan untuk menerimanya. Perasaan
yang demikian membuat semangat saya menggebu-gebu.
Tapi
sayang sekali, datangnya semangat tersebut bukan karena alasan yang bagus, Bukan
karena motivasi yang hebat atau tantangan yang meminta jawab. Bukan juga karena
jatah waktu yang makin sempit. Tapi karena psimisme dan ketiadaan kekuatan lagi
untuk bertahan. Sekali-kali saya juga pernah berbalas sumpah serapah tapi toh
tak juga mau keluar dari kata-kata kecuali teriakan dalam hati yang tertimbun
nurani. Hati nurani terlanjur berbisik untuk sabar dan memaafkan. Tak tega juga
seandainya harus membuat perasaan semacam ini kembali dirasakan oleh orang
lain. Meskipun gregetan juga bilamana melihat rekan lain memungut rasa
ketiadategaan saya itu menjadi bahan untuk maklum. Saya menjadi menyesal
menyimpan rasa tidak tega itu untuk orang yang tidak tepat. Mungkin sebaiknya siapapun
belajar supaya tidak mendapatkan pelajaran yang sama dengan apa yang pernah
saya terima. Makin banyak pelajaran makin sempurnalah hidup. Dengan catatan siapapun
harus tahu diri!
Tidak
sadar saya pun telah melenyapkan kepentingan diri saya sendiri demi kepentingan
ini. Ironi bagi saya karena mesti melenyapkan diri sendiri terlebih dulu bahkan
hanya untuk mengangkat dan menjulurkan sebuah jari tangan saya sendiri ke atas
meminta ulur tangan yang lain. Seperti pekerjaan yang bakal sia-sia karena toh
kehidupan setelah kelenyapan hanyalah kehidupan yang semu dan antisosial
kecuali pada dunia metafisis yang hilang. Tapi kepercayaan membuat saya
bergeming dan bertahan dengan semangat menggebu-gebu tadi. Saya pun merasa
menjadi orang yang altruis karena tersesat bukan karena keinginan dan motivasi
yang benar tapi karena kebetulan. Egoisme saya hancur berkeping-keping melihat
empati rekan saya juga yang telah larut bersama permintaan maaf. Saya tidak
butuh itu! Apalagi penyesalan karena sudah tidak berfaedah lagi sekarang. Sudah
saya bayangkan bagaimana perasaan bebas itu. Sudah saya siapkan prosesi mewah
untuk menyambut jiwa-jiwa yang keluar dari penjara kamar. Sudah saya perkirakan
kapan waktu dan tempat perayaan itu. Yang jelas saya tidak akan mengundang
siapa-siapa kecuali orang-orang yang masih punya tanggung jawab dan empati, itu
saja. Yang lain silakan mengantri untuk mendapat dua syarat itu jika ingin
datang. Keyakinan saya adalah tak mungkin ada yang datang kecuali kebiasaan
untuk mewakilkan kedatangan dengan permintaan maaf.
Seandainya
saya bisa menolak etika maka akan kulindas orang-orang yang berpura-pura punya
etika. Sialan, enak saja! Tapi saya tak kuasa menolaknya maka saya mencoba mati
demi kehidupan yang telah dijanjikan oleh konsekuensi. Saya melanglang mencari
jalan, memutar kepala membuka mata mencari celah untuk menutup kekurangan. Saya
hampir tak sanggup dan gontai mencari kawan. Tapi saya juga urung menemukan
kecuali kawan lama, sahabat maaf dan sahabat sesal. Biarpun begitu saya selalu
mengucap terimakasih demi sebuah pelajaran ini. Pelajaran ini telah mendatangkan kekuatan dan kepercayaan untuk
menutup dan memutus ini. Jadi saya anggap ini untung biarpun buntung di
sana-sini. Saya anggap berlebih sekalipun defisit untuk membuat akar kuat pada
optimisme.
Beranjak
dari sebuah tempat ke tempat yang lain saya akhirnya nekat untuk jalan karena
desakan waktu. Seiringan dengan itu keringat dan letih saya sudah hampir selesai,
nafas makin pendek dan cepat, kepasrahan makin dekat, ketegangan makin
memuncak, dan emosi makin tak terarah. Saya menyerah untuk mengorbankan diri. Waktu
saat itu melemah dan sejenak membuat saya tenang. Saya tidak ingat apa-apa pada
diri saya sendiri kecuali pada kewajiban ini. Pada saat itu saya berada puncak
ketiadaan. Beban-beban sebagai individu telah saya sesatkan entah kemana. Meskipun saya tahu mereka pun suatu saat bakal
meminta jawab untuk diselesaikan.
Menjelang
pukul 8 malam saya kembali. Rekan-rekan telah berkumpul menunggu di depan ruang
kerja. Ada yang berdiskusi, ada yang juga yang sembari menikmati segelas kopi.
Melihatnya sepertinya nikmat sekali ketimbang harus mengisap kenalpot kopaja
ibu kota, dan mengisap baju yang penuh keringat sepanjang hari tadi. Apalagi
jika harus berteman dengan kemacetan yang mengular sepanjang jalan. Mata yang
letih pun tak kuasa juga memejamkannya. Hanya kepala yang miring dan pusing
sebagai penggantinya. Saya langsung saja menyampaikan poin baiknya. Lepas itu
saya pergi mengistirahatkan diri di rumah. Tapi ponsel genggam saya berdering
sepanjang saya hendak memejamkan mata. Pesan singkat silih berganti meminta
balasan segera. Saya kehilangan kesempatan lagi untuk istirahat. Lagi-lagi
urusan kerja yang terus saja membuntuti hingga rumah.
Pagi
pun menjelang lebih cepat dari biasanya. Tidak banyak waktu tersedia untuk
ayah, ibu, kakak maupun adik. Mereka melihat saya hanya ketika membuka dan
menutup pintu penanda pergi dan pulang. Itu saja, karena selebihnya saya tidak
di rumah. Apalagi hari
ini adalah kelangsungan acara yang penting bagi kantor. Selepas pukul 7 pagi tuan direktur dari rekanan kantor akan membuka acara secara simbolik. Namun
menjelang pukul 6 pagi kendaraan yang akan mengangkut rekan-rekan kantor dan
segala kebutuhan acara tak kunjung datang. Ponsel saya semakin panas mencari alternatif
tapi sia-sia.
"Selang 3 hari kemudian saya dipecat!”
Saya diam memandang layar laptop yang masih menyala. Sebagai rekan kantornya yang cukup lama dan dekat selama ini ternyata aku belumlah mengenalnya.
Senin, 23 Juni 2014
Kunci
Aku
bebas keluar masuk rumahku sendiri. Tapi aku tak bisa pergi dan kabur karena
pasti semua orang akan mencariku. Bukan mencariku sebagai seonggok tubuh, tapi
mencari kunci yang selalu aku bawa. Mereka tak membawanya selalu, maka aku harus
menjadi kakak yang selalu siaga pada kepulangan maupun kepergian. Tak jarang
mereka tak pulang selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Sampai dengan
datang berita bahwa dia tak akan pernah kembali lagi. Ada juga yang datang
sebentar kemudian pulang dengan sebuntel tanda tangan. Ada pula yang datang
tergopoh-gopoh dengan berbagai masalah di punggungnya. Aku melayani siapapun
yang datang dengan sebaik-baiknya. Tak pernah aku membedakan dia cantik atau
sebaliknya. Aku hanya tau dia bagian dari rumah warisan ini. Sekarang aku
kehilangan kunci di rumah sendiri.
Mereka satu per satu pergi dan tak kembali. Bukan karena bosan tapi karena tak ada lagi kunci.
Senin, 26 Mei 2014
SURAT MALAM
4 tahun lalu
Jikalau malam kini tak lagi melihat
kesempurnaan karena waktu
Jikalau malam kini tak mampu
menyapamu lagi
karena kesempatan
Jikalau malam kini tak sanggup lagi
mengulurkan
seribu tangannya karena jaraknya
Jikalau seribu kali harapan
kau gantungkan aku di malam ini
dan malam kini seolah tak lagi
bersahabat
seperti awalnya karena aku
Haruskah ranting dedaunan tanggal
begitu saja
hanya dalam satu hembusan angin malam
Mungkin seperti dua titik
yang tak pernah sekalipun terhubung
Meskipun telah berikrar diantaranya
untuk sebuah g a r i s . . .
Kemeriahan dan kesepian
Ada yang bilang ini seperti makan
buah simalakama. Ada juga yang bilang sakit seperti ketika gigi memahat lidahmu
sendiri. Tapi tidak ada pilihan. Ini bukan paksaan tapi keharusan. Semua orang
mengamini saya untuk ada di sini. Saya tidak mengatakan saya tidak bisa. Tapi
saya ingin mengatakan saya tidak bisa tanpa bantuan kalian. Itulah yang saya
khawatirkan. Prosesi pengangkatan memang berjalan meriah dengan suasana
kekeluargaan yang luar biasa. Saya memang merasakan itu di sana, di permulaan,
ketika saya baru akan memulai. Tapi selepas start
dimulai kemeriahan itu mulai luntur juga. Kekhawatiran terjawab dengan
keadaan. Saya bisa menjawab kondisi ini dengan berbagai konsekuensi. Bukan
loyalitas atau komitmen yang saya gadaikan tapi kepetingan pribadi yang
tergerus organisasi. Konsekuen-konsekuen itu mulai bisa diraba dan dirasakan
sekarang bahkan melihatnya pun tak sesulit seperti mengumpulkan anak-anak untuk
belajar membaca, menulis dan menghitung.
Semangat pun mudah luntur seperti
bara api tanpa kawan. Hanya datangnya rasa sesal yang bisa sedikit mengobati
waktu yang telah terluka. Tapi saya juga meragukan datangnya rasa sesal itu,
hanya pelajaran yang bakal mengubahnya. Saya bukan aktor, bukan juga
superman! Saya mengada tapi lebih sering kalian meniadakan. Jujur saya merindukan kemeriahan itu bukan pada saat prosesi lepas jabatan dan pengangkatan. Tapi saat proses hanya ditemani kesepian.
#Meretas batas melawan keterbatasan!
Rabu, 07 Mei 2014
Seharusnya saya menulis sesuatu yang lain
Tapi pikiranku tak juga
mau pergi dari hal-hal yang sepele. Pada kepura-puraan kehilangan kesadaran,
kepura-puraan kehilangan ingatan, kepura-puraan banyak kesibukan, kepura-puraan
tidak tahu dan kepura-puraan lupa. Rasanya sudah tidak sabar saya memberikan
pelajaran kepada kepura-puraan itu. Begitupun kalian yang merasakan hal yang
sama. Rasanya ingin segera pergi dari perihal sepele demikian.
Sudah tak terhitung
berapa kali saya meminta bantuan, sesering itu pula saya mendapatkan
kepura-puraan. Saya mulai mengadu argumen di dalam pikiran saya sendiri.
Kalaulah kepura-puraan ditentangkan dengan kepura-puraan yang lain, apa yang
bakal terjadi adalah kebinasaan.
Barangkali itu jawaban dari sebuah perjalanan. Sayang sekali tidak ada manusia
layaknya superman yang bisa
mengerjakan semua kegiatan sendiri. Sayang sekali juga setiap orang dibekali
dengan keterbatasan. Namun lebih sayang lagi karena setiap orang dibekali
kemampuan untuk berpura-pura. Sekali lagi jawabannya adalah agar kita bisa
berinteraksi dengan orang lain. Takdir Tuhan menentukan kebaikan untuk setiap
ciptaannya, termasuk kepura-puraan. Kalau
tak ada kepura-puraan maka tak ada sandiwara. Kalau tak ada sandiwara maka
tak ada tontonan dan hiburan. Kalau tak ada hiburan kita suntuk. Kalau suntuk
apalagi yang mesti datang kecuali rasa kantuk. Kalau sudah datang rasa kantuk
maka tidurlah kita dan mati sesaat kalau beruntung, yang sial tidur selamanya
kemudian disyukuri orang-orang.
Kalau janji sudah
dipenuhi, tanggung jawab sudah dijalani, dan totalitas sudah diberikan apalagi
yang mau ditunggu kecuali menunggu rasa kantuk dan tertidur. Yang beruntung
tidur sesaat dan kemudian bangun tanpa kepura-puraan. Yang sial, tidur dan mati
dalam kepuran-puraan dan orang-orang tidak tahu dalam kepura-puraan kemudian
menguburkannya.
Sadar dan tak sadar
ternyata saya ada di penghujung jembatan gantung. Melangkah ke depan berarti
kebinasaan untuk orang lain. Melangkah ke belakang berarti menunda masa depan.
Melangkah ke samping berarti bunuh diri. Memutus tali jembatan berarti membunuh
semuanya. Mebuat jembatan baru berarti meminta bantuan orang lain. Meminta
bantuan orang lain berarti harus bersiap mendapat kepura-puraan. Jadi mana yang
harus saya binasakan paling dulu? Kepura-puraan.
Tapi bagaimana
membumihanguskan kepura-puraan adalah dengan membakar akar pangkalnya yaitu
cara berpikir untung dan rugi. Kalau sudah berbicara persoalan keuntungan maka
bersiaplah untuk memilih sadar atau berpura-pura. Jangan menanyakan siapa yang
diuntungkan karena tak ada yang diuntungkan kecuali diri kita sendiri. Tapi
tanyakanlah pada hati kecil berapa banyak orang yang kita rugikan.
Sial sekali. Momen
ketakberdayaan tubuh membuat orang berusaha bangkit dari kematian. Tapi datang
kepulihan, kemudian tubuh dipaksa kembali mati. Begitu seterusnya.
Sayang sekali tidak ada
superman, bahkan juga manusia burung
yang bisa terbang melarikan diri. Tapi saya harus memilih, tentu dengan tanpa
kepura-puraan. Sebaiknya jangan berpura-pura karena ini harus diselesaikan
tanpa kepura-puraan. Serius! Saya tidak berpura-pura!
10 April 2014_05:45
Rabu, 15 Januari 2014
Karakter: hanya pelengkap?
Sebuah momen mengumpulkan beberapa
bakal calon rektor baru dari sebuah kampus hadir dalam acara diskusi yang
diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa. Diskusi ini lebih banyak
dimonopoli oleh ceramah dengan motif kepentingan menyampaikan visi misi.
Diskusi yang juga membicarakan keinginan-keinginan yang kadang mengambil tajuk
khayalan yang terlampau jauh dan tinggi hingga lupa diri.
Berbicara
tentang keterbukaan, keadilan, kompetensi, daya saing, integritas dan moto
hidup lainnya adalah soal pemilihan kata yang bisa dilakukan oleh semua orang. Jenuh
rasanya mendengarkan hal demikian berjam-jam dari beberapa orang dalam waktu
yang bersamaan dalam panggung yang sama, panggung sejarah calon penguasa. Pemimpin
dipilih bukan untuk memilih kata-kata terbaik ketika ditakdirkan, tapi berkerja
dengan komitmen pengabdian yang terbaik dalam perjalananya. Mereka semua
berbicara banyak dan visioner. Tapi lupa pada hal-hal kecil yang bersifat
praktis. Obrolan mandeg pada evaluasi dan penjajakan solusi yang teoritis dan
normatif tapi lupa pada kebermanfaatan dan penerapannnya.
3 jam menunggui
ceramah ini saya hanya mendapatkan upaya dialogis yang begitu mapan dan mumpuni
dari semua bakal calon rektor. Kalau saya bertindak sebagai dosen pengampu mata
kuliah berbicara maka saya akan langsung menganugrahi nilai A pada ketiganya.
Gaya berbahasanya meyakinkan dengan sesekali akronim-akronim baru serta jargon-jargon
yang mereka buat. Tapi kalau saya bertindak sebagai juri dalam pertandingan
badminton, maka saya hanya melihat shuttle
cock yang dimainkan masing-masing oleh bakal calon rektor ini
melayang-layang di atas kepala. Tidak ada arah dan sasaran yang jelas dalam
praktik-praktik dan penerapan dari mimpi-mimpi yang telah mereka utarakan.
Semua masih melayang-layang di atas kepala karena logika manusia teori yang
berjalan bukan manusia sosial yang mengambil posisi manfaat dan gerak pasti. Semua
mengambil jarak terhadap nilai-nilai praktis dan sikap terhadap seni dan
budaya.
Padahal
integritas yang dimaksud dalam pendidikan tidak mungkin mengabaikan seni dan
budaya sebagai landasannya. Kalaulah kampus mau dibangun untuk mencetak
manusia-manusia robot yang terlatih dalam kotak-kotak fakultasnya masing-masing
maka diskusi hari ini sudah mengarah ke sana. Pendidikan karakter mungkin hanya
akan dibangun dengan pembangunan fisik baik dari segi sarana dan prasarana
penunjang maupun ketangguhan manusianya dalam hal akademik. Otak kiri akan
digenjot sedemikian rupa sehingga menggembung sebesar-besarnya dan otak kanan
yang berbasis kreativitas dan kesenian akan digembosi sehingga menyusut
sedemikian rupa hingga menjadi kerdil. Maka tidak ada perubahan yang mungkin
bisa diharapkan dari penguasa baru kampus kecuali melanjutkan pengerdilan. *semoga tidak terjadi.
Pada
akhirnya semoga timbul kesadaran dan kemauan penguasa baru untuk menjadikan
kampus yang cerdas akademik juga cerdas budaya tanpa berlindung dibalik
tendensi apapun dan siapapun. Jangan biarkan nafsu materi menguasai tapi
biarkanlah nurani untuk berpikir dan menentukan pilihannya.
Jumat, 13 Desember 2013
111213
Segala-galanya memang
telah berakhir untuk sementara ini. PKM. Praktik keterampilan mengajar yang
menjadi rutinitas selama satu semester ini resmi telah berakhir dan dilepas
sekolah rabu kemarin, 11 Desember 2013. Meskipun baru hari inilah kami
benar-benar angkat kaki dari sekolah, SMPN 71 Jakarta menuju rutinitas kampus
lagi.
Satu semester ini saya,
Ivana, dan Yuliana dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia menjalaninya
bersama. Bersama dengan kami juga Abdul Latif, Dwi Lina, Arum, Dina dan Desi.
Mereka dari jurusan IPS dari kampus yang sama. Membicarakan mereka adalah
bercerita tentang kelucuan, kekakuan, kegalauan dan segala hal tentang anak
muda yang kadang aneh dan tidak bisa dimengerti. Begitulah tapi saya tidak akan
membicarakan salah satu dari mereka. Kalian semua baik dan luar biasa. Semua
perkara anak-anak yang membuat kita greget dan marah telah berhasil sama-sama
kita selesaikan satu semester ini. Untuk sementara kita berhasil “dikasih tahu” oleh anak anak-anak bagaimana
cara mendidik yang selama ini hanya kita bayangkan.
Acara perpisahan yang
sederhana yang pada awalnya tak hendak dihadiri oleh dosen pembimbing, akhirnya
justru dihadiri oleh keduanya. Takdir yang membuat senang dan haru di saat yang
penting. Namun betapapun senangnya melepas tugas, selalu ada perasaan gugup dan
rasa bersalah pada orang-orang yang hendak ditinggalkan. Ada kata yang mungkin
terlalu banyak diucap. Ada kalimat yang mungkin justru tak sempat terucap. Ada
pesan yang mungkin terabaikan dan ada banyak lagi kemungkinan yang membuat kita
salah di sana. Pengalaman ini baru
setetes air dari maha luasnya lautan. Begitu pesan salah satu guru pamong
di sana. Sebuah kalimat sederhana yang memang benar adanya.
Saya dipaksa mengusap mata kali ini.
Semoga kesalahan yang
sempat kami perbuat di sana tak lantas membuat kenangan buruk yang tersimpan
lama dalam hati. Terimakasih Bunda Fitri MZ dan rekan-rekan guru di SMPN 71.
Ini pengalaman yang luar biasa. Pasti saya kembali lagi ke sana suatu saat
nanti.
Semoga kesuksesan
selalu menyertai kita.:)
Jakarta,
131213.
- Salam -
Selasa, 10 Desember 2013
DUKA
Dramatis. Tapi ini bukan sebuah
drama melainkan tragedi ketika sebuah rangkaian gerbong kereta api beradu
kekuatan dengan sebuah truk pengangkut bahan bakar minyak sebanyak 24.000
kiloliter. Tapi bukan karena kuatnya kereta menghantam truk tersebut, melainkan
karena tanggungjawab seorang masinis, teknisi, beserta asisten masinis di
dalamnya yangn membuat saya merinding. Betapa tidak, mereka berkorban nyawa
untuk memberikan lebih banyak kesempatan hidup untuk para penumpangnya. Padahal
kesempatan untuk lekas keluar dari rangkaian gerbong itu jelas betul terbuka
lebar.
Penuturan yang begitu jujur dari
salah satu korban yang selamat membuat siapapun yang mendengar kisah ini akan
sangat bangga terhadap mereka. Syuhada jelas
menjadi konsekuensi atas tanggung jawab profesi yang begitu besar sampai detik
nafas yang terakhir bagi mereka.keegoisan itu pasti ada pada setiap orang, tapi
entah firasat apa yang membuat mereka memilih untuk altruis hebat hingga
mengorbankan kehidupannya sendiri. Sebuah teladan yang akan sangat sulit kita
temukan di tengah puncak keegoisan manusia kota yang begitu tinggi. Semoga tempat
terindah telah membuat tenang kalian di sana bersama dengan korban-korban
lainnya yang tak sempat menghindari maut. Amiin.
Senin, 09 Desember 2013
Hakim
Itu artinya masih ada satu lagi
kemungkinan hakim yang akan datang padaku. Aku tak menampakkan diri beberapa
hari ini. Bukan karena aku takut pada hakim yang sewaktu-waktu datang ke
rumahku. Pikiran pun sudah bermacam-macam rupa untuk untuk mendeskripsikan
siapa hakim itu, barang apa saja yang dibawanya, hingga para pengawal yang
mengamankan setiap jengkal langkahnya. Oh tidak. Perkaranya adalah aku tidak
pernah tahu siapa dia yang akan menjadi hakim atas kasus ini. Bahkan aku tak
pernah mendapat penjelasan tentang kasus yang katanya telah aku perbuat.
Media-media masa mengabarkan dengan begitu menggebu-gebu kasus yang ternyata
sama sekali tak penting ini. Soal kepercayaan dan penghianatan. Tak penting
karena semakin banyak orang menganggap materi jauh lebih dari soal hati dan
nurani. Materi untuk bertahan dan menyerang. Sementara hati sekadar meminta
belas kasih. Menyedihkan. Tapi rupanya ketidakpentingan inilah yang justru
menarik para pemburu berita.
Korban menjadi terdakwa. Bayangan
bui dan cambuk sudah berkali-kali mampir dalam setiap malam. Kini penantian
semakin dekat. Rumah semakin sering didatangi orang-orang yang tak aku kenal.
Beruntunglah aku hanya mendapatkan ceritanya dari tetangga yang menyampaikan
pesan kepadaku. Setelah pesan-pesan tetanggaku itu jatuh ke kepalaku, aku
menjadi semakin curiga dengan setiap orang. Laku aneh pun mulai menjadi kebiasaan.
Soal kesehatan tak lagi jadi kebutuhan. Aku hanya memikirkan rasa aman yang
direnggut oleh berita-berita yang hipokrit, kamera-kamera yang menusuk, hingga
pada mulut-mulut yang tak henti-hentinya mencabik-cabik kebebasan gerak
langkahku, bahkan di dalam rumahku sendiri.
Ruang kesadaran berubah menjadi
ruang imajinasi. Ruang imajinasi telah melebur menjadi ruang gossip ibu-ibu
murahan. Tak tersisa lagi ruang untuk sekadar memicingkan mata ke teras rumah.
Tak tersisa lagi ruang untuk mengintip rumahku sendiri. Aku dipasung zaman. Menjadi
manusia dengan seribu pasang bola mata yang seolah bertindak seperti kamera
pengintai. Setiap pasang mata adalah mata-mata yang harus saya hindari. Aku
kehilangan keberanian untuk menatap ke depan. leherku kehilangan tenaga untuk
melihat langit yang maha tinggi. Oh betapa besar derita orang biasa sepertiku.
Aku sudah tak tahan lagi menahan
diri dalam pengawasan seribu mata di sini. Aku kecil yang dilindas kekuasaan
dan kedudukan. Aku punya mulut tapi dibungkam. Aku punya kaki tapi dipasung.
Aku punya tangan tapi diikat. Aku punya otak tapi digebiri. Aku punya keluarga
tapi ditakut-takuti. Aku punya saudara tapi diancam mati. Aku punya kawan tapi
kini menjadi lawan karena hasutan. Aku punya mata tapi dibutakan. Aku punya hak
tapi direnggut. Aku punya suara tapi dibisukan. Aku mendengar tapi ditulikan. Aku
merasakan tapi mati rasa karena tekanan. Aku hanya punya hati sekarang, yang
tak bisa kau bohongi. Hati yang berkata benar untuk kebenaran. Hati yang
berkata jujur untuk kejujuran. Hati yang menunduk untuk kesalahan. Hati yang
tegar karena penderitaan. Hati yang masih bisa memaafkan.
Bersambung…
Puas. Perihal hasrat yang harus
segera diselesaikan. Tanpa pemenuhannya adalah sebuah tekanan sekaligus siksa
batin yang menyedihkan. Pilihannya kadang antara menyenangkan diri atau
menghukum diri. Menyenangkan diri ketka sebuah keinginan tersalurkan. Konsekuensinya
pada saluran yang bahkan bisa jebol menahan gempuran hasrat yang berlebih, atau
pilihan sakti lainnya adalah derita untuk penerima hasrat. Barangkali dalam
hati setelah hasrat itu tersalurkan semua orang akan berkata dengan degup
jantung yang urung berhenti. Mampus kau! Kemudian tak lama setelahnya dia akan
mengakui penyesalannya dengan tertutup. Semacam perenungan untuk mencapai titik
katarsis. Selang tak lama kemudian lupa dan hilang.
Saya tak sedang bermimpi atau mengangan
sesuatu apapun. Tak ada juga keinginan yang buru-buru hendak saya capai selain
mencoba menghayati cara memberi dan menerima dengan cara yang terbaik. Apa yang
telah maupun akan saya terima adalah bekal yang berharga sebelum saya
memberikan sesuatu kepada orang lain. Emosi tidak selamanya mengandung nilai
yang cacat. Ada celah-celah pesan yang sebenarnya terselip diantara cara
biacara yang semakin cepat, mulut yang mengumpat tanpa henti hingga gesture
tangan yang terlihat semakin alami memainkan benda apa saja di sekitarnya. Keinginan
ke dua yang ingin segera saya salurkan adalah memuat kata-kata tak berguna ini
pada rumah pribadi saya. Tak peduli siapa hendak berkomentar apa tentang ini
karena sampai dengan saat ini saya masih meyakini itu adalah cara terbaik untuk
menyalurkan keinginan yang sederhana. Tanpa mencabut harga diri orang lain,
tanpa biaya mahal, tanpa memalukan diri sendiri, tanpa mengangkat kesombongan
sebagai alibi dasar membuat orang lain kecil, tanpa kedudukan untuk memerintah,
tanpa kekuasaan untuk mengatur dan tanpa kekerasan untuk menindak.
Tak banyak pasang mata yang akan
mengintip rumah orang lain. Prinsipnya sama, karena mengintip adalah suatu hal
yang tabu. Jadi membaca pun adalah sebuah kegiatan yang tidak wajar dan harus
dicurigai.
Ada hakim-hakim yang hanya berlaga
label sarjana tanpa hati dan nurani. Sekali lagi bukan untuk memelasi dan
merasa iba pada terdakwa. Tapi melaslah pada korban yang telah terlanjur
menjadi korban dan tak bakal kembali pulang menjadi sesuatu yang utuh lagi. Ahh
nurani tak patut buat diplintir dan diimprovisasi. Biarkan dia ada untuk
menerima dan memilih sendiri nasibnya. Seperti sebuah tulisan yang akan
mendapatkan predikat sebagai anak haram,
sampah hingga kotoran oleh pembacanya. Semua tak pernah aku perkarakan
karena keinginan telah terselesaikan. Tak perlu lagi mengundang akses opini
untuk menghibur diri karena setelah ini pasti ada keinginan lain yang segera
meminta saluran pembuangannya.
Saya membenci orang-orang yang tak
mau mengakui kesalahannya. Saya membenci juga orang-orang yang menajiskan
kepercayaan yang telah saya berikan. Saya membenci kedudukan tinggi yang selalu
menekan siapapun yang di bawahnya. Saya membenci orang-orang tak tahu apa-apa
berbicara hingga berbusa-busa. Saya membenci kata-kata bijak yang tak dibuang
pada tempatnya. Maka katakanlah dengan jujur tanpa ditutup-tutupi. Saya tak
butuh kesenangan yang semu.
AKSES
Akses. Jalan untuk
memudahkan sebuah langkah panjang. Perihal sedikit yang sering dilupakan hingga
kebingungan menjadi lingkaran yang sulit untuk dipecahkan. Sama halnya dengan
pribahasa tikus mati di lumbung padi.
Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mengapa bisa terjadi demikian? Jawaban
simpelnya adalah karena tak ada akses untuk menjangkau makanan tersebut.
Seberapapun besar dan banyak makanan yang tersedia di dekat kita kalau kita tak
punya akses untuk mendapatkanya maka sama halnya kita menunggu kematian. Saya
tak hendak menyamakan kita dengan tikus. Tapi nasibnya akan sebodoh tikus
ketika banyaknya peluang di sekitar kita namun hanya sebatas penglihatan dan
kemudian hilang.
Pentingnya akses untuk menggapai
sebuah tujuan adalah sebuah kebutuhan. Sampai-sampai orang begitu rela
kehilangan harga diri untuk “mengemis dan
meminta” hanya untuk sebuah akses.
Mereka yang beruntung memanfaatkan jaringan nepotisnya untuk akses
tersebut. Yang kurang beruntung hanya bisa bersiap menunggu kematian menjemput.
Yang lain lagi memanfaatkan segala cara untuk mendapatkannya. Dari mulai dukun
sakti, paranormal, orang pintar,guru spiritual,
professor hingga tukang pukul dikerahkan untuk mendapatkan akses. Cara
yang terakhir biasanya lebih banyak menjadi pilihan karena alasan pribadi yang
lemah tapi berkecukupan secara materi. Cara baik ditempuh oleh orang-orang yang
baik. Cara yang buruk dipilih oleh orang-orang yang buruk. Apapun cara yang
ditempuh semuanya untuk satu tujuan yang sama, akses.
Di sini tidak berlaku kedudukan
yang sama. Justru kedudukan dan kekuasaan sangat menentukan. Maka wajar saja
ketika di bangku sekolah dasar dulu bahkan hingga sekolah menengah berlaku
kalimat bijak tempat duduk menentukan
sebuah hasil yang dicapai. Anak-anak pun berlomba-lomba untuk datang lebih
pagi dari yang lain untuk sekadar memilih kedudukan yang paling strategis
secara pengawasan. Sadar ataupun tidak itulah realita yang pasti kita sama-sama
amini. Sebegitu pentingnya akses hingga orang mati terbunuh karenanya atau satu
tingkat yang lebih beruntung dibawahnya adalah gila.
Padahal kebahagiaan sebagai tujuan hidup tidak bisa didapat hanya sekadar
mendapatkan akses. Akses kebahagiaan yang paling sederhana adalah memberikan
akses kebahagiaan yang kita punya sekecil apapun untuk orang-orang disekitar
kita.
Kamis, 05 Desember 2013
Menatap optimisme di penghujung PKM
Mengawali dengan optimisme yang
sama, mengakhiri pun dengan semangat optimis yang sama. Nah yang akan tertulis
ini adalah proses berjalannya. Ada keoptimisan yang tetap terjaga, tapi juga
ada keprihatinan (bukan sekadar mengucap saya
turut prihatin ya,hehe). Tapi saya berusaha membuatnya berimbang antara rasa
optimis yang dibangun sejak awal hingga menjaganya sampai dengan batas waktu
memutuskan hubungan mitra ini. Pengalaman pasti didapat. Tak semuanya
memuaskan, tapi ada juga yang enggan melepas, barangkali ada juga yang bersorak
gembira karena taka da lagi Pak Imam yang selalu marah-marah di depan kelas. Tapi
mungkin ada juga yang kecewa karena tidak bisa melihat lagi pak Imam kepanasan sambil mengusap
keringat yang terjun bebas dari pipinya.
Jujur saya memang senang bisa
melepas dan menyelesaikan tugas ini pada akhirnya. Munafik juga kalau saya
berpura-pura tetap ingin bertahan. Bukan karena tak mau tapi karena masih
banyak hal menanti harus yang saya selesaikan juga setelah PKM ini. Anak yang
menyebalkan adalah hal yang wajar, tapi masalahnya menjadi hal yang tidak wajar
ketika sifat yang sama dilakukan secara kolektif. Jujur saja itu yang belum
bisa saya selesaikan sampai dengan saat ini. Ada beban antara tidak mau disebut
sebagai guru yang hanya suka ceramah dan marah-marah dengan cara untuk
mengondisikan kelas yang kondusif. Lagi-lagi anak-anak, punya tradisi yang sama
pada usia menjelang remaja.
Berat sebenarnya meninggalkan
anak-anak dengan kekikukan yang masih sama bahkan ketika diajak untuk menuliskan
pengalaman keseharian mereka. Rasanya mereka sulit sekali bahkan hanya untuk
merangkai kata dan kata menjadi sebuah kalimat. Begitupun ketika kelas bermain
drama berlangsung. Keaktifan mereka juga belum tersalurkan secara maksimal di
dalam setiap peran yang mereka bawakan. Ini adalah cermin, jadi saya pantas
mengoreksi diri.
Sekarang tinggal sisa-sisa berkas
yang harus kembali saya kumpulkan untuk urusan birokratis kampus. Bayangan
anak-anak segera menjadi masa lalu. Indah pada saatnya nanti.
Hari ini pun telah menjemputku
untuk segera tinggalkan mata-mata kalian yang penuh rasa ingin tahu. Jujur saja tiba-tiba ada kegugupan sekaligus
rasa khawatir yang sama ketika harus ada kata perpisahan, termasuk dengan kalian.
Tapi telah menjadi jalan yang sama dimanapun bahwa setiap pasangan pertemuan
adalah perpisahan. Hari ini saya kikuk bertemu kalian bukan karena saya takut
bertemu kalian atau belum menyiapkan materi untuk belajar. Kegugupan itu ada mengikuti
momen yang akan segera berakhir. Ada pesan dan kesan yang harus segera saya
tuntaskan dengan kalian. Setidaknya saya akan merasa senang ketika ada
perubahan nyata ke arah yang positif setelah kita tidak bersama-sama lagi.
Saya bahkan pernah menulis sebuah
surat pink untuk orang yang dulu pernah saya sukai. Tapi apa yang saya tulis
sekarang ini jauh lebih mengenang daripada surat cinta yang pertama itu. Saya
bukan siapa-siapa. Hanya orang yang kebetulan diberi kesempatan untuk bertemu
kalian di sini hanya untuk satu tujuan pengalaman. Saya mendapatkan pengalaman
yang berharga dari kalian. Semoga kalian juga mendapatkan pengalaman yang sma
berharganya dengan apa yang sama dapatkan bersama kalian. Bahkan jauh lebih
berharga daripada sekadar cara mengajar saya di kelas yang mungkin aneh dan
tidak jelas. Ambil yang teladan yang baik dari saya dan tinggalkan contoh yang
buruk dari saya. Sampai dengan saat ini saya masih menyakini bahwa kalian
memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari apa yang kalian punya sekarang.
Kalau bisa menjadi yang terbaik mengapa harus menunda. Kalau ada contoh yang
nyata-nyata memotivasi kalian mengapa harus mengabaikan. Kunci dari kemenangan
adalah semangat meraih apa yang dicita-citakan. Kalian mungkin tidak akan
mendapatkan hasilnya sekarang secara langsung. Tapi di masa-masa yang akan
datang mungkin manfaat itu baru bisa kalian rasakan. Berpikir positif dan
belajar menerima saran dan pendapat orang lain. Saya juga sama seperti kalian
dan anak-anak yang lain. Ada kelemahan, ada kemalasan, ada keburukan tapi kita
semua punya kekuatan, punya semangat, punya kelebihan untuk menjadi pribadi
yang terbaik.
Ingatkan selalu pada diri sendiri
juga untuk tak menjadi pribadi yang angkuh dengan ilmu dan pencapaian kalian.
Tak ada pantasnya menyombongkan apapun yang kita punya. Buka mata, buka hati
dan buka pikiran bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang jauh lebih
hebat dari kita sekarang. Ada saatnya kalian sendiri dan ada saatnya nanti
kalian harus bekerja bersama-sama dalam tim. Kurangi keegoisan untuk membentuk
tim yang solid. Ingat pesan yang saya selipkan ketika kita berhitung di dalam
kelas.
Semoga kesempatan lain segera
membuat pertemuan kita lagi di waktu yang akan datang.
Ada kalian: 8-6 & 82
SMPN
71 JAKARTA
Senin, 25 November 2013
Jauh panggang dari api
Tidak penting bagi saya soal
persiapan yang begitu macam kalau pada akhirnya tak terlaksana juga. Apalagi tipe
serupa superpengawas yang hanya meminta jatah perbekalan sebelum per jalanan
panjang. Ini pendidikan sudah terlalu akut dengan nilai-nilai kognitif yang
dituhankan. Betapa teori-teori tentang kecakapan hidup dalam hubungan sosial berhenti
pada batasan konsep dan diskusi. Pendidikan mandeg dan terjebak pada egois nilai-nilai
yang menjadi target belajar. Bagi saya nilai adalah kejujuran, bukan soal
tinggi rendahnya angka yang didapat tapi tentang keterampilan yang dia punya. Ini
tentang nilai-nilai altruis yang kemudian mulai harus ditumbuhkan dan kepekaan sosial
yang mulai diperhatikan.
Saya tercengang membaca sebuah
artikel tentang kelompok masyarakat tertentu yang memosisikan hidup dan
kehidupannya dengan begitu matangnya. Bahkan sampai pada masa dalam kandungan
dan rahim ibu sekalipun. Betapa nilai-nilai kehidupan telah diajarkan oleh
orang tua bahkan sebelum kelahirannya ke dunia. Tapi yang saya temukan pada koran-koran
dan berita-berita di televisi nasional akhir-akhir ini di bumi Indonesia tidaklah
demikian. Bayi-bayi merah terbuang atau mungkin lebih banyak karena sengaja
dibuang diberitakan dimana-mana. Ibu-ibu muda yang mengandung di luar nikah,
hingga praktik aborsi legal maupun ilegal, terbuka maupun sembunyi-sembunyi mulai
terbongkar ke publik. Betapa hidup dan kehidupan tak lagi sebagai sebuah amanat
yang penting dari Tuhan.
Sementara itu tengoklah sejenak
ke sebuah klinik, puskesmas atau rumah sakit terdekat. Anak-anak meratap meminta kesembuhan atas
sakit yang sedang dialami orang tuanya. Ibu-ibu muda bersujud bersama tangis
pilu melihat suaminya yang terkapar. Hingga orang tua yang menangisi anak
semata wayangnya yang sakit terjangkit DBD. Semuanya meminta hal yang sama
kepada Tuhan yaitu kehidupan. Sebuah hal yang ironi sekaligus paradoks dalam
ruang yang sebenarnya berdekatan. Antara kehidupan yang dianggap penting dan
tidak penting.
Tak hanya pada soal kelahiran
bahkan sampai hal paling kecil sekalipun “mereka” sangat memperhatikannya. Asap
rokok, sebuah hal kecil yang disepelekan di bumiku Indonesia. Tak hanya sebagai
penghasil karbonmonoksida, racun yang mematikan bagi manusia tapi juga
mengandung nikotin dan zat-zat lain yang tak kalah destruktif terhadap otak
manusia. Mereka sangat menghindarinya. Kita sudah tahu dampak buruk dari itu
semua. Tapi kita “ndableg” menghisapnya juga. Mereka percaya bahwa dosa asap
rokok adalah dosa turunan yang tak akan pernah berhenti hitungannya. Maka apa
yang terjadi di sini? Anak-anak kecil bahkan balita beberapa kali bahkan nongol
di televisi sebagai perokok aktif yang tak sekadar menghabis satu atau dua
batang rokok setiap harinya. Anak-anak menjadi korban prilaku orang tua yang
tak peduli pada kehidupan dan kesehatan. Prinsip anak adalah aku kerjakan apa yang orang tuaku ucapkan
dan kerjakan. Sederhana tapi terabaikan. Maka wajar saja kalau muncul pribahasa
buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Orang
tua yang ndableg akan menghasilkan anak-anak yang ndableg juga.
Tiba-tiba saya teringat pada
sebuah pidato menteri pendidikan dan kebudayaan dalam rangka peringatan hari
guru nasional kemarin. Katanya dalam sambutan pidati tertulisnya, kita harus
menyiapkan generasi emas penerus bangsa pada tahun 2045 mendatang, menyambut
100 tahun kemerdekaan Negara. Apa jadinya generasi emas itu jika soal kebutuhan
untuk hidup saja bukan menjadi sebuah kebutuhan yang penting dan mendasar.
Barangkali bukan emas 24 karat yang dilahirkan. Tetapi emas yang berkarat.
Sabtu, 23 November 2013
Singkat
Pagi ini salah satu anak didik ada yang jujur berkata, “Tulisan Bapak di blog kaya buku harian pak.”
Terus saya cuma jawab, “Iya ngga apa-apa.”
“Kalau saya sih mending nulis di buku harian pak.”
“Oh iya bagus itu yang penting ada ruang untuk berekspresi.”
Terus saya cuma jawab, “Iya ngga apa-apa.”
“Kalau saya sih mending nulis di buku harian pak.”
“Oh iya bagus itu yang penting ada ruang untuk berekspresi.”
Kami meninggalkan percakapan singkat itu tanpa komando. Ibu kantin langganan saya sudah siap ditangannya lontong sayur lengkap dengan kerupuk di atasnya. Seperti biasa saya duduk menikmati sarapan berkuah pagi ini. Kami pun berlalu.
Tinggi:untuk melihat ke bawah
Puncak tak selamanya menjadi batas tertinggi. Ekspektasi yang terlalu tinggi adalah salah satu penyebab tergelincirnya kepuasaan pada batas yang biasa-biasa saja. Saya teringat pada beberapa kata yang pernah saya tulis sebelum ini. Tidak perlu jauh kau daki gunung-gunung hingga puncak tertinggi bumi jika pada akhirnya kau hanya akan menemukan alasan untuk melupakan penciptamu sendiri. Wajar saja jika lelah kaki berjalan merajai tubuh yang semakin bergetar karena jarak yang tiba-tiba ekstrim. Kaki-kaki menelusuri lembah-lembah yang curam, bertahan dan terus berjalan hanya untuk titik tertinggi daratan ini. Tapi tak sesederhana itu. Di sini adalah tempat berbagi, tak sekadar beban atau curahan perasaan. Lebih dari itu adalah tentang hidup untuk saling menghidupi bukan malah membebani.
Bukan soal ketidakikhlasan yang akan diungkap, tapi soal tanggungjawab atas pribadi yang landai dimakan kaki-kaki yang keram. Puncak pun menunggu klimaks yang tak terduga menembus batas-batas senja bersama kaki-kaki yang kaku, badan yang menggigil, topi yang terbang melayang, kawah yang curam dan api yang menjadi teman tanpa sadar.
10 November 2013
Senin, 28 Oktober 2013
85 Tahun Sumpah Pemuda
Esok
adalah 85 tahun sumpah pemuda. Kalau seseorang
saat itu menjadi bagian dari para pemuda yang mengikat janji persatuan
nusa, bangsa dan bahasa maka sekarang beliau pasti sedang melihat anak cucunya
menikmati hasil perjuangan mereka. Tapi sepertinya seseorang itu tidak akan
puas dengan keadaan sekarang. Lihatlah kita memang sudah merdeka dan bersatu.
Tapi kemerdekaan itu ternyata menciptakan model baru penjajahan dari rakyatnya
sendiri. Bukan rakyat sebenarnya kalau dia menjadi antek dari penjajahan baru
itu. Kedegilan macam itu hanya menjadi sampah dari rumah sendiri. Kedegilan
yang diciptakan oleh oknum-oknum yang antinasionalisme.
Seharusnya
siapapun tahu betapa persatuan dan kemerdekaan adalah harga yang hanya bisa
didapat dengan kerja paling keras, mengorbankan harta, raga dan jiwa sekalipun.
Tapi kau kehilangan harga diri sekarang. Sesuatu yang menjadi barang terlarang
untuk dijual kepada siapapun. Kau jual harga diri berarti kau jual kemerdekaan
itu!
Tak
ada lagi memang pemutaran film-film perjuangan yang diputar secara masal di televisi,
bahkan televise milik Negara sekalipun. Agaknya menjadi tidak penting untuk
mengulang-ulang film yang sama setiap tahun, pikir mereka. Padahal logika
mengatakan setiap ada ribuan pasang mata baru yang terlahir di bumi Indonesia.
Persoalan sejarah bukan monopoli orang tua saja. Anak-anak kecil tak tahu
sejarah bangsanya bagai terlahir tanpa pernah tahu siapa ibu dan bapaknya.
Sehingga ketika melihat sosok orang yang berperawakan tinggi, tegak, putih dan
berambut pirang dia akan selalu berpikir untuk tunduk padanya. Kita sama-sama
diciptakan Tuhan tanpa kewajiban untuk saling menyembah kecuali tolong
menolong.
Sejarah
seharusnya mampu meningkatkan rasa bangga dan cinta terhadap pribadi dan bangsanya. Tapi tanpanya?
Jakarta, 27 Oktober
2013
Langganan:
Postingan (Atom)