#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 03 Oktober 2014

Bisik

Berbisik selalu menjadi tanda yang mengawali kecurigaan. Ada sesuatu yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan yang tidak boleh dketahui isi dari bisikannya itu. Apalagi jika bisikkan diolah dengan lirikan mata. Maka sempurnalah kecurigaan. Jika orang-orang disekitarmu ada yang berbisik-bisik tentu kau akan merasa resah, bukan karena khawatir atau takut tapi karena rasa ingintahumu ditekan oleh orang lain.


Ambang


Apa yang terjadi kemarin maupun hari ini? Kemarin seharusnya menjadi hari yang menyenangkan karena semua kembali seperti adanya. Lepas lebih dari 2 minggu tanpa mereka,kemarin malam kembali menjadi bagian indah bersama mereka, seharusnya. Tapi yang terjadi sama sekali berbeda. Malam menjelang akhir, ternyata menyisakan pesan yang tak kunjung bisa dilupakan begitu saja. Tak bisa sedikitpun aku melepas pesan singkat itu semalam.  Tolong ....... Begitulah kira-kira pesan singkat yang menjadi bebanku sekarang. Tanpa basa-basi dan tanpa pengantar atau pendahuluan, strukturnya tidak lengkap tapi terarah jelas pada tujuannya. Semuanya berawal dari pesan itu.


Yah aku tak pernah berpikir untuk membuat sebuah tindakan yang membuat orang lain merasa dirugikan atau dibuat kecewa. Sama sekali tak merencanakan untuk yang demikian. Kemarin semua berjalan wajar tapi ketidakwajaran ternyata dirasakan oleh orang yang berbeda. Sungguh di luar perkiraan. Aku tidak bisa melepaskan kesalahan yang tanpa sengaja itu sampai sekarang. Perjalanan hari ini pun menjadi melayang tanpa tujuan. Begitupun dengan semua lengan dan kepala yang tiba-tiba lemas tanpa syarat dan perintah. Semuanya melemah dan mengambang mengakibatkan aku bergelut dengan ketidakjelasan. Semua perkara seperti menuntut dalam waktu yang bersama-sama tanpa antrean tanpa urutan. Sekarang atau mati saja kau!

Senin, 30 Juni 2014

Empat yang kemarin

Ada banyak orang dengan banyak sudut pandang. Tapi apakah kamu pernah berpikir pada orang-orang yang tidak seberuntung kamu sekarang? Aku tak pernah membuat masalah, sekalipun kamu tak ambil peduli pada orang-orang sekitarmu. Bagiku hanya ketukan hatimu yang sedang melirih pada nurani yang makin lebur pada empati. Tapi kepercayaan tinggi selalu ada pada setiap orang. Tak peduli apakah dia masih bisa mengambil sikap terhadap apa yang dilihatnya maupun tidak. Mereka adalah orang-orang dengan titik Tuhan yang tinggi. Cobalah tanyakan pada dirimu sendiri ketika rasa takut membuatmu panik karena berbuat salah. Itu adalah penanda paling jujur terhadap keempatianmu yang sesungguhnya masih ada, hanya tertidur sesaat.

Tak butuh banyak uang atau materi untuk sebuah empati. Tak perlu juga menunggu kaya, karena menolong tak pernah kenal kata status. Bukan hanya karena materi kau bisa tersenyum bahagia. Ada banyak cara kau bisa menebusnya. Tentu pesan dari kakekmu masih kau ingat. Hentikan kepura-puraanmu dan berhentilah bertanya karena kau tahu apa yang harus kau lakukan. Malam maupun siang kita akan tetap menemukan orang-orang yang sama dengan latar belakang yang berbeda. Setidaknya kata yang tertulis di sini telah mengawali penyadaranku secara pribadi. Mungkin kau lebih dulu atau bahkan baru saja, mungkin juga segera mendapatkannya. Pada saat itu kau akan mendapatkan senyuman itu tanpa syarat apapun. Tanpa wanita, tanpa pesta dan tanpa asap apapun yang membuatku senang sesaat kemudian sesak berkepanjangan.

Pilihan akan menentukan kepada siapa kita pada akhirnya berhenti dan berjalan. Keputusan juga yang pada saatnya akan menuntun dan membimbing kita pada jalan yang bebas dari rasa takut dan khawatir. Semua dimulai dari penyadaran.

Empat yang kemarin adalah penebusan
Dua yang sekarang adalah kekuatan
Satu yang terakhir adalah kesadaran

Jakarta, 16 September 2013
22:50

Ibu dan Bapak

Air baru saja selesai mengguyur gang-gang sempit dan padat di sekitar rumah kami. Di antara gang-gang yang sempit, ada sebuah gang yang paling lebar di tepian sebuah warung. Di antara warung dan tembok-tembok rumah itulah orang-orang kampung biasa menghilangkan kepenatan dan kejenuhan pikiran. Ada yang bermain kartu, ada yang bermain karet, ada yang sekadar ngobrol satu dengan yang lainnya. Anak-anak, tua maupun muda bergabung tanpa risih atau sungkan. Kadang kalau bapak-bapak kami selesai memandikan ayam-ayamnya, sesekali bapak mengadunya sembari menjemur bulu-bulu ayamnya yang basah. Kami senang menontonnya ketika cucuk-cucuk ayam mematuk kepala ayam yang lain. Kami juga senang melihat bulu-bulu ayam mengembang memperlihatkan kejagoannya kepada yang lain. Tapi kami sebenarnya tak tega melihat bulu-bulu yang masih muda terpaksa tercabut oleh yang lain. Tapi kami juga tak tega melihat bapak kami murung dan termenung setiap pagi memikirkan pekerjaan yang belum juga datang. Kami lebih senang melihat bapak kami tersenyum melihat jagoannya menang saat diadu dengan ayam tetangga. Kami juga senang melihat bapak tak lagi diam dan termenung setiap pagi di emperan rumah kami yang tak berteras. Biarlah ayam-ayam itu menjadi semangat bapak kami untuk mengajak kami bermain dengan caranya.

Sementara bapak kami mengurusi ayam-ayamnya, ibu-ibu kami tak punya perkerjaan juga selepas masak dan mengambil air. Biasanya ibu kami melamun di depan kompor tungku memikirkan nyala kompor yang makin hari makin kecil dan redup, memikirkan apa yang akan dimasak besok, memikirkan seragam sekolah kami yang harus segera diganti, memikirkan kami yang akan ujian nasional, memikirkan pakan ayam-ayam yang belum dibeli bapak, memikirkan uang kontrak rumah bulan depan, memikirkan segala-gala tentang hidup. Kami kasihan memerhatikan ibu-ibu kami. Tapi hari ini kami merasa senang karena ibu kami sudah punya pekerjaan lain selain berpikir yang berupa-rupa itu. Ibu kami duduk bersama-sama saling  memegangi kepala yang lain sambil berkeluh kesah dan berbicara satu sama lain. Kami senang melihat ibu berbicara karena artinya ibu tidak lagi memikirkan tapi membicarakan dengan ibu-ibu yang lain. Kami senang karena ibu-ibu kami saling meringankan beban dengan memijat kepala-kepala yang berat karena banyak beban. Kami senang karena kepala ibu kami jadi ringan dan tidak gatal lagi setelah banyak kutu dipanen. Kami juga senang karena ibu mengajari kami cara bermain monopoli biarpun sebenarnya kami ingin sekali diajari cara melipat origami. Kami juga senang dibelikan kelereng sekalipun kami lebih senang dibelikan sebuah pensil dan selembar kertas. Tapi kami tahu sebutir kelereng lebih murah ketimbang sebatang pensil atau selembar kertas.

Ibu kami memang bijak. Selepas sekolah kami diberi karet agar belajar melompat tinggi, mengejar cita-cita dan impian.  Sebelum tidur kami didongeng agar punya cerita yang bisa dibagi ke teman-teman kami besok. Sebelum tidur kami didoa agar jadi anak yang baik dan berguna bagi orang lain. Saat tidur kami berkelana ke ujung dunia meninggalkan gang-gang sempit metropolitan menuju ruang sebebas-bebasnya meraih terang dan menghapus gelap. Kami tinggalkan kejahilan, kami tinggalkan prasangka buruk, kami tinggalkan ayam bapak, kami tinggalkan kelereng, kami tinggalkan untaian karet dari ibu dan kami tinggalkan bapak dan ibu kami yang kasihan. Rasanya kami tak ingin terbangun lagi.

Minggu, 29 Juni 2014

Minggu terakhir di bulan Juni

Minggu terakhir di bulan Juni ini aku bertemu dengan kawan lama di sekitaran Kapuk, tak jauh dari kota Tua. Ini adalah pertemuan rutin yang selalu kami rencanakan di setiap akhir bulan. Tapi Juni ini sepertinya bukan menjadi bulan yang mengenakan bagi kawanku. Memang dia cerdik sekali melucu dibalik masalahnya. Aku pun tanpa paksaan membaca sebuah catatan yang masih menyala di laptop kerjanya ketika dia meminjamkannya padaku selang sebulan setelah pertemuan Juni itu. Banyak rasa ingin tauku membuat banyak mencari tau. Tanpa sengaja aku membaca ini persis setelah laptop kunyalakan. Tentu ini catatan yang tidak mengenakan baginya. Kurang lebihnya seperti ini..
 “
Hari ini saya tidak bisa diam barang sebentar menunggu kabar dari kendaraan yang akan mengangkut kami, tak kunjung datang. Pesan singkat sudah terkirim namun tak ada balas. Telefon dilayangkan namun tak berjawab. Hanya rasa gugup dan khawatir yang menguasai diri. Lebih pada khawatir agenda kerja yang akan berantakan dan tertunda bahkan mungkin gagal karena tak ada kendaraan yang bakal mengangkut rekan-rekan kantor ke tujuan.

Hampir seminggu yang lalu saya mati-matian (beruntung tak sampai mati) mengejar setoran untuk berjalannya acara yang diagendakan berlangsung selama beberapa waktu di tepian Juni. Apapun alasannya saya telah berkeyakinan bahwa tidak mungkin tertunda lagi karena bakal membawa beban yang semakin berat buat saya sendiri tentunya. Ada lebih banyak kekecewaan yang saya dapatkan di sini. Orang-orang banyak yang menganggap ini sebagai sebuah pembelajaran. Yah ini memang pembelajaran dan lebih tepat sebagai pembelajaran pribadi yang terlalu ekstrim. Ibarat anak muda mungkin konteks pembelajaran yang dimaksud seperti dalam kalimat mampus, ini pelajaran buat loe! Maka ini jadi seperti tulisan yang meredam efek traumatik yang telah saya jalani dengan sekuat tenaga selama ini. Betapapun lelah dan kasihannya, saya tidak banyak mendapat bantuan kecuali pertanyaan dan permintaan maaf. Sesuatu yang sulit untuk ditolak tapi juga menyakitkan untuk menerimanya. Perasaan yang demikian membuat semangat saya menggebu-gebu.
Tapi sayang sekali, datangnya semangat tersebut bukan karena alasan yang bagus, Bukan karena motivasi yang hebat atau tantangan yang meminta jawab. Bukan juga karena jatah waktu yang makin sempit. Tapi karena psimisme dan ketiadaan kekuatan lagi untuk bertahan. Sekali-kali saya juga pernah berbalas sumpah serapah tapi toh tak juga mau keluar dari kata-kata kecuali teriakan dalam hati yang tertimbun nurani. Hati nurani terlanjur berbisik untuk sabar dan memaafkan. Tak tega juga seandainya harus membuat perasaan semacam ini kembali dirasakan oleh orang lain. Meskipun gregetan juga bilamana melihat rekan lain memungut rasa ketiadategaan saya itu menjadi bahan untuk maklum. Saya menjadi menyesal menyimpan rasa tidak tega itu untuk orang yang tidak tepat. Mungkin sebaiknya siapapun belajar supaya tidak mendapatkan pelajaran yang sama dengan apa yang pernah saya terima. Makin banyak pelajaran makin sempurnalah hidup. Dengan catatan siapapun harus tahu diri!

Tidak sadar saya pun telah melenyapkan kepentingan diri saya sendiri demi kepentingan ini. Ironi bagi saya karena mesti melenyapkan diri sendiri terlebih dulu bahkan hanya untuk mengangkat dan menjulurkan sebuah jari tangan saya sendiri ke atas meminta ulur tangan yang lain. Seperti pekerjaan yang bakal sia-sia karena toh kehidupan setelah kelenyapan hanyalah kehidupan yang semu dan antisosial kecuali pada dunia metafisis yang hilang. Tapi kepercayaan membuat saya bergeming dan bertahan dengan semangat menggebu-gebu tadi. Saya pun merasa menjadi orang yang altruis karena tersesat bukan karena keinginan dan motivasi yang benar tapi karena kebetulan. Egoisme saya hancur berkeping-keping melihat empati rekan saya juga yang telah larut bersama permintaan maaf. Saya tidak butuh itu! Apalagi penyesalan karena sudah tidak berfaedah lagi sekarang. Sudah saya bayangkan bagaimana perasaan bebas itu. Sudah saya siapkan prosesi mewah untuk menyambut jiwa-jiwa yang keluar dari penjara kamar. Sudah saya perkirakan kapan waktu dan tempat perayaan itu. Yang jelas saya tidak akan mengundang siapa-siapa kecuali orang-orang yang masih punya tanggung jawab dan empati, itu saja. Yang lain silakan mengantri untuk mendapat dua syarat itu jika ingin datang. Keyakinan saya adalah tak mungkin ada yang datang kecuali kebiasaan untuk mewakilkan kedatangan dengan permintaan maaf.

Seandainya saya bisa menolak etika maka akan kulindas orang-orang yang berpura-pura punya etika. Sialan, enak saja! Tapi saya tak kuasa menolaknya maka saya mencoba mati demi kehidupan yang telah dijanjikan oleh konsekuensi. Saya melanglang mencari jalan, memutar kepala membuka mata mencari celah untuk menutup kekurangan. Saya hampir tak sanggup dan gontai mencari kawan. Tapi saya juga urung menemukan kecuali kawan lama, sahabat maaf dan sahabat sesal. Biarpun begitu saya selalu mengucap terimakasih demi sebuah pelajaran ini. Pelajaran ini telah  mendatangkan kekuatan dan kepercayaan untuk menutup dan memutus ini. Jadi saya anggap ini untung biarpun buntung di sana-sini. Saya anggap berlebih sekalipun defisit untuk membuat akar kuat pada optimisme.

Beranjak dari sebuah tempat ke tempat yang lain saya akhirnya nekat untuk jalan karena desakan waktu. Seiringan dengan itu keringat dan letih saya sudah hampir selesai, nafas makin pendek dan cepat, kepasrahan makin dekat, ketegangan makin memuncak, dan emosi makin tak terarah. Saya menyerah untuk mengorbankan diri. Waktu saat itu melemah dan sejenak membuat saya tenang. Saya tidak ingat apa-apa pada diri saya sendiri kecuali pada kewajiban ini. Pada saat itu saya berada puncak ketiadaan. Beban-beban sebagai individu telah saya sesatkan entah kemana.  Meskipun saya tahu mereka pun suatu saat bakal meminta jawab untuk diselesaikan.

Menjelang pukul 8 malam saya kembali. Rekan-rekan telah berkumpul menunggu di depan ruang kerja. Ada yang berdiskusi, ada yang juga yang sembari menikmati segelas kopi. Melihatnya sepertinya nikmat sekali ketimbang harus mengisap kenalpot kopaja ibu kota, dan mengisap baju yang penuh keringat sepanjang hari tadi. Apalagi jika harus berteman dengan kemacetan yang mengular sepanjang jalan. Mata yang letih pun tak kuasa juga memejamkannya. Hanya kepala yang miring dan pusing sebagai penggantinya. Saya langsung saja menyampaikan poin baiknya. Lepas itu saya pergi mengistirahatkan diri di rumah. Tapi ponsel genggam saya berdering sepanjang saya hendak memejamkan mata. Pesan singkat silih berganti meminta balasan segera. Saya kehilangan kesempatan lagi untuk istirahat. Lagi-lagi urusan kerja yang terus saja membuntuti hingga rumah.

Pagi pun menjelang lebih cepat dari biasanya. Tidak banyak waktu tersedia untuk ayah, ibu, kakak maupun adik. Mereka melihat saya hanya ketika membuka dan menutup pintu penanda pergi dan pulang. Itu saja, karena selebihnya saya tidak di rumah. Apalagi hari ini adalah kelangsungan acara yang penting bagi kantor. Selepas pukul 7 pagi tuan direktur dari rekanan kantor akan membuka acara secara simbolik. Namun menjelang pukul 6 pagi kendaraan yang akan mengangkut rekan-rekan kantor dan segala kebutuhan acara tak kunjung datang. Ponsel saya semakin panas mencari alternatif tapi sia-sia.
"Selang 3 hari kemudian saya dipecat!”

Saya diam memandang layar laptop yang masih menyala. Sebagai rekan kantornya yang cukup lama dan dekat selama ini ternyata aku belumlah mengenalnya.




Senin, 23 Juni 2014

Kunci



Aku bebas keluar masuk rumahku sendiri. Tapi aku tak bisa pergi dan kabur karena pasti semua orang akan mencariku. Bukan mencariku sebagai seonggok tubuh, tapi mencari kunci yang selalu aku bawa. Mereka tak membawanya selalu, maka aku harus menjadi kakak yang selalu siaga pada kepulangan maupun kepergian. Tak jarang mereka tak pulang selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Sampai dengan datang berita bahwa dia tak akan pernah kembali lagi. Ada juga yang datang sebentar kemudian pulang dengan sebuntel tanda tangan. Ada pula yang datang tergopoh-gopoh dengan berbagai masalah di punggungnya. Aku melayani siapapun yang datang dengan sebaik-baiknya. Tak pernah aku membedakan dia cantik atau sebaliknya. Aku hanya tau dia bagian dari rumah warisan ini. Sekarang aku kehilangan kunci di rumah sendiri. 
Mereka satu per satu pergi dan tak kembali. Bukan karena bosan tapi karena tak ada lagi kunci.

Senin, 26 Mei 2014

SURAT MALAM

4 tahun lalu

Jikalau malam kini tak lagi melihat
kesempurnaan karena waktu
Jikalau malam kini tak mampu menyapamu lagi
karena kesempatan
Jikalau malam kini tak sanggup lagi mengulurkan
seribu tangannya karena jaraknya
Jikalau seribu kali harapan
kau gantungkan aku di malam ini
dan malam kini seolah tak lagi bersahabat
seperti awalnya karena aku
Haruskah ranting dedaunan tanggal begitu saja
hanya dalam satu hembusan angin malam
Mungkin seperti dua titik
yang tak pernah sekalipun terhubung
Meskipun telah berikrar diantaranya
untuk sebuah g a r i s . . .



Kemeriahan dan kesepian

Ada yang bilang ini seperti makan buah simalakama. Ada juga yang bilang sakit seperti ketika gigi memahat lidahmu sendiri. Tapi tidak ada pilihan. Ini bukan paksaan tapi keharusan. Semua orang mengamini saya untuk ada di sini. Saya tidak mengatakan saya tidak bisa. Tapi saya ingin mengatakan saya tidak bisa tanpa bantuan kalian. Itulah yang saya khawatirkan. Prosesi pengangkatan memang berjalan meriah dengan suasana kekeluargaan yang luar biasa. Saya memang merasakan itu di sana, di permulaan, ketika saya baru akan memulai. Tapi selepas start dimulai kemeriahan itu mulai luntur juga. Kekhawatiran terjawab dengan keadaan. Saya bisa menjawab kondisi ini dengan berbagai konsekuensi. Bukan loyalitas atau komitmen yang saya gadaikan tapi kepetingan pribadi yang tergerus organisasi. Konsekuen-konsekuen itu mulai bisa diraba dan dirasakan sekarang bahkan melihatnya pun tak sesulit seperti mengumpulkan anak-anak untuk belajar membaca, menulis dan menghitung.

Semangat pun mudah luntur seperti bara api tanpa kawan. Hanya datangnya rasa sesal yang bisa sedikit mengobati waktu yang telah terluka. Tapi saya juga meragukan datangnya rasa sesal itu, hanya pelajaran yang bakal mengubahnya. Saya bukan aktor, bukan juga superman! Saya mengada tapi lebih sering kalian meniadakan. Jujur saya merindukan kemeriahan itu bukan pada saat prosesi lepas jabatan dan pengangkatan. Tapi saat proses hanya ditemani kesepian.
#Meretas batas melawan keterbatasan!

Rabu, 07 Mei 2014

Seharusnya saya menulis sesuatu yang lain


Tapi pikiranku tak juga mau pergi dari hal-hal yang sepele. Pada kepura-puraan kehilangan kesadaran, kepura-puraan kehilangan ingatan, kepura-puraan banyak kesibukan, kepura-puraan tidak tahu dan kepura-puraan lupa. Rasanya sudah tidak sabar saya memberikan pelajaran kepada kepura-puraan itu. Begitupun kalian yang merasakan hal yang sama. Rasanya ingin segera pergi dari perihal sepele demikian.

Sudah tak terhitung berapa kali saya meminta bantuan, sesering itu pula saya mendapatkan kepura-puraan. Saya mulai mengadu argumen di dalam pikiran saya sendiri. Kalaulah kepura-puraan ditentangkan dengan kepura-puraan yang lain, apa yang bakal terjadi adalah kebinasaan. Barangkali itu jawaban dari sebuah perjalanan. Sayang sekali tidak ada manusia layaknya superman yang bisa mengerjakan semua kegiatan sendiri. Sayang sekali juga setiap orang dibekali dengan keterbatasan. Namun lebih sayang lagi karena setiap orang dibekali kemampuan untuk berpura-pura. Sekali lagi jawabannya adalah agar kita bisa berinteraksi dengan orang lain. Takdir Tuhan menentukan kebaikan untuk setiap ciptaannya, termasuk kepura-puraan. Kalau tak ada kepura-puraan maka tak ada sandiwara. Kalau tak ada sandiwara maka tak ada tontonan dan hiburan. Kalau tak ada hiburan kita suntuk. Kalau suntuk apalagi yang mesti datang kecuali rasa kantuk. Kalau sudah datang rasa kantuk maka tidurlah kita dan mati sesaat kalau beruntung, yang sial tidur selamanya kemudian disyukuri orang-orang.

Kalau janji sudah dipenuhi, tanggung jawab sudah dijalani, dan totalitas sudah diberikan apalagi yang mau ditunggu kecuali menunggu rasa kantuk dan tertidur. Yang beruntung tidur sesaat dan kemudian bangun tanpa kepura-puraan. Yang sial, tidur dan mati dalam kepuran-puraan dan orang-orang tidak tahu dalam kepura-puraan kemudian menguburkannya.

Sadar dan tak sadar ternyata saya ada di penghujung jembatan gantung. Melangkah ke depan berarti kebinasaan untuk orang lain. Melangkah ke belakang berarti menunda masa depan. Melangkah ke samping berarti bunuh diri. Memutus tali jembatan berarti membunuh semuanya. Mebuat jembatan baru berarti meminta bantuan orang lain. Meminta bantuan orang lain berarti harus bersiap mendapat kepura-puraan. Jadi mana yang harus saya binasakan paling dulu? Kepura-puraan.

Tapi bagaimana membumihanguskan kepura-puraan adalah dengan membakar akar pangkalnya yaitu cara berpikir untung dan rugi. Kalau sudah berbicara persoalan keuntungan maka bersiaplah untuk memilih sadar atau berpura-pura. Jangan menanyakan siapa yang diuntungkan karena tak ada yang diuntungkan kecuali diri kita sendiri. Tapi tanyakanlah pada hati kecil berapa banyak orang yang kita rugikan.

Sial sekali. Momen ketakberdayaan tubuh membuat orang berusaha bangkit dari kematian. Tapi datang kepulihan, kemudian tubuh dipaksa kembali mati. Begitu seterusnya.

Sayang sekali tidak ada superman, bahkan juga manusia burung yang bisa terbang melarikan diri. Tapi saya harus memilih, tentu dengan tanpa kepura-puraan. Sebaiknya jangan berpura-pura karena ini harus diselesaikan tanpa kepura-puraan. Serius! Saya tidak berpura-pura!
10 April 2014_05:45

Rabu, 15 Januari 2014

Karakter: hanya pelengkap?

Sebuah momen mengumpulkan beberapa bakal calon rektor baru dari sebuah kampus hadir dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa. Diskusi ini lebih banyak dimonopoli oleh ceramah dengan motif kepentingan menyampaikan visi misi. Diskusi yang juga membicarakan keinginan-keinginan yang kadang mengambil tajuk khayalan yang terlampau jauh dan tinggi hingga lupa diri.

Berbicara tentang keterbukaan, keadilan, kompetensi, daya saing, integritas dan moto hidup lainnya adalah soal pemilihan kata yang bisa dilakukan oleh semua orang. Jenuh rasanya mendengarkan hal demikian berjam-jam dari beberapa orang dalam waktu yang bersamaan dalam panggung yang sama, panggung sejarah calon penguasa. Pemimpin dipilih bukan untuk memilih kata-kata terbaik ketika ditakdirkan, tapi berkerja dengan komitmen pengabdian yang terbaik dalam perjalananya. Mereka semua berbicara banyak dan visioner. Tapi lupa pada hal-hal kecil yang bersifat praktis. Obrolan mandeg pada evaluasi dan penjajakan solusi yang teoritis dan normatif tapi lupa pada kebermanfaatan dan penerapannnya.

3 jam menunggui ceramah ini saya hanya mendapatkan upaya dialogis yang begitu mapan dan mumpuni dari semua bakal calon rektor. Kalau saya bertindak sebagai dosen pengampu mata kuliah berbicara maka saya akan langsung menganugrahi nilai A pada ketiganya. Gaya berbahasanya meyakinkan dengan sesekali akronim-akronim baru serta jargon-jargon yang mereka buat. Tapi kalau saya bertindak sebagai juri dalam pertandingan badminton, maka saya hanya melihat shuttle cock yang dimainkan masing-masing oleh bakal calon rektor ini melayang-layang di atas kepala. Tidak ada arah dan sasaran yang jelas dalam praktik-praktik dan penerapan dari mimpi-mimpi yang telah mereka utarakan. Semua masih melayang-layang di atas kepala karena logika manusia teori yang berjalan bukan manusia sosial yang mengambil posisi manfaat dan gerak pasti. Semua mengambil jarak terhadap nilai-nilai praktis dan sikap terhadap seni dan budaya.

Padahal integritas yang dimaksud dalam pendidikan tidak mungkin mengabaikan seni dan budaya sebagai landasannya. Kalaulah kampus mau dibangun untuk mencetak manusia-manusia robot yang terlatih dalam kotak-kotak fakultasnya masing-masing maka diskusi hari ini sudah mengarah ke sana. Pendidikan karakter mungkin hanya akan dibangun dengan pembangunan fisik baik dari segi sarana dan prasarana penunjang maupun ketangguhan manusianya dalam hal akademik. Otak kiri akan digenjot sedemikian rupa sehingga menggembung sebesar-besarnya dan otak kanan yang berbasis kreativitas dan kesenian akan digembosi sehingga menyusut sedemikian rupa hingga menjadi kerdil. Maka tidak ada perubahan yang mungkin bisa diharapkan dari penguasa baru kampus kecuali melanjutkan pengerdilan. *semoga tidak terjadi.

Pada akhirnya semoga timbul kesadaran dan kemauan penguasa baru untuk menjadikan kampus yang cerdas akademik juga cerdas budaya tanpa berlindung dibalik tendensi apapun dan siapapun. Jangan biarkan nafsu materi menguasai tapi biarkanlah nurani untuk berpikir dan menentukan pilihannya.

Jumat, 13 Desember 2013

111213


Segala-galanya memang telah berakhir untuk sementara ini. PKM. Praktik keterampilan mengajar yang menjadi rutinitas selama satu semester ini resmi telah berakhir dan dilepas sekolah rabu kemarin, 11 Desember 2013. Meskipun baru hari inilah kami benar-benar angkat kaki dari sekolah, SMPN 71 Jakarta menuju rutinitas kampus lagi.

Satu semester ini saya, Ivana, dan Yuliana dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia menjalaninya bersama. Bersama dengan kami juga Abdul Latif, Dwi Lina, Arum, Dina dan Desi. Mereka dari jurusan IPS dari kampus yang sama. Membicarakan mereka adalah bercerita tentang kelucuan, kekakuan, kegalauan dan segala hal tentang anak muda yang kadang aneh dan tidak bisa dimengerti. Begitulah tapi saya tidak akan membicarakan salah satu dari mereka. Kalian semua baik dan luar biasa. Semua perkara anak-anak yang membuat kita greget dan marah telah berhasil sama-sama kita selesaikan satu semester ini. Untuk sementara kita berhasil  “dikasih tahu” oleh anak anak-anak bagaimana cara mendidik yang selama ini hanya kita bayangkan.

Acara perpisahan yang sederhana yang pada awalnya tak hendak dihadiri oleh dosen pembimbing, akhirnya justru dihadiri oleh keduanya. Takdir yang membuat senang dan haru di saat yang penting. Namun betapapun senangnya melepas tugas, selalu ada perasaan gugup dan rasa bersalah pada orang-orang yang hendak ditinggalkan. Ada kata yang mungkin terlalu banyak diucap. Ada kalimat yang mungkin justru tak sempat terucap. Ada pesan yang mungkin terabaikan dan ada banyak lagi kemungkinan yang membuat kita salah di sana. Pengalaman ini baru setetes air dari maha luasnya lautan. Begitu pesan salah satu guru pamong di sana. Sebuah kalimat sederhana yang memang benar adanya.

Saya dipaksa mengusap mata kali ini.

Semoga kesalahan yang sempat kami perbuat di sana tak lantas membuat kenangan buruk yang tersimpan lama dalam hati. Terimakasih Bunda Fitri MZ dan rekan-rekan guru di SMPN 71. Ini pengalaman yang luar biasa. Pasti saya kembali lagi ke sana suatu saat nanti.
Semoga kesuksesan selalu menyertai kita.:)

Jakarta, 131213.


- Salam - 

Selasa, 10 Desember 2013

DUKA


Dramatis. Tapi ini bukan sebuah drama melainkan tragedi ketika sebuah rangkaian gerbong kereta api beradu kekuatan dengan sebuah truk pengangkut bahan bakar minyak sebanyak 24.000 kiloliter. Tapi bukan karena kuatnya kereta menghantam truk tersebut, melainkan karena tanggungjawab seorang masinis, teknisi, beserta asisten masinis di dalamnya yangn membuat saya merinding. Betapa tidak, mereka berkorban nyawa untuk memberikan lebih banyak kesempatan hidup untuk para penumpangnya. Padahal kesempatan untuk lekas keluar dari rangkaian gerbong itu jelas betul terbuka lebar.

Penuturan yang begitu jujur dari salah satu korban yang selamat membuat siapapun yang mendengar kisah ini akan sangat bangga terhadap mereka.  Syuhada jelas menjadi konsekuensi atas tanggung jawab profesi yang begitu besar sampai detik nafas yang terakhir bagi mereka.keegoisan itu pasti ada pada setiap orang, tapi entah firasat apa yang membuat mereka memilih untuk altruis hebat hingga mengorbankan kehidupannya sendiri. Sebuah teladan yang akan sangat sulit kita temukan di tengah puncak keegoisan manusia kota yang begitu tinggi. Semoga tempat terindah telah membuat tenang kalian di sana bersama dengan korban-korban lainnya yang tak sempat menghindari maut. Amiin.




Senin, 09 Desember 2013

Hakim


Itu artinya masih ada satu lagi kemungkinan hakim yang akan datang padaku. Aku tak menampakkan diri beberapa hari ini. Bukan karena aku takut pada hakim yang sewaktu-waktu datang ke rumahku. Pikiran pun sudah bermacam-macam rupa untuk untuk mendeskripsikan siapa hakim itu, barang apa saja yang dibawanya, hingga para pengawal yang mengamankan setiap jengkal langkahnya. Oh tidak. Perkaranya adalah aku tidak pernah tahu siapa dia yang akan menjadi hakim atas kasus ini. Bahkan aku tak pernah mendapat penjelasan tentang kasus yang katanya telah aku perbuat. Media-media masa mengabarkan dengan begitu menggebu-gebu kasus yang ternyata sama sekali tak penting ini. Soal kepercayaan dan penghianatan. Tak penting karena semakin banyak orang menganggap materi jauh lebih dari soal hati dan nurani. Materi untuk bertahan dan menyerang. Sementara hati sekadar meminta belas kasih. Menyedihkan. Tapi rupanya ketidakpentingan inilah yang justru menarik para pemburu berita.

Korban menjadi terdakwa. Bayangan bui dan cambuk sudah berkali-kali mampir dalam setiap malam. Kini penantian semakin dekat. Rumah semakin sering didatangi orang-orang yang tak aku kenal. Beruntunglah aku hanya mendapatkan ceritanya dari tetangga yang menyampaikan pesan kepadaku. Setelah pesan-pesan tetanggaku itu jatuh ke kepalaku, aku menjadi semakin curiga dengan setiap orang. Laku aneh pun mulai menjadi kebiasaan. Soal kesehatan tak lagi jadi kebutuhan. Aku hanya memikirkan rasa aman yang direnggut oleh berita-berita yang hipokrit, kamera-kamera yang menusuk, hingga pada mulut-mulut yang tak henti-hentinya mencabik-cabik kebebasan gerak langkahku, bahkan di dalam rumahku sendiri.

 Ruang kesadaran berubah menjadi ruang imajinasi. Ruang imajinasi telah melebur menjadi ruang gossip ibu-ibu murahan. Tak tersisa lagi ruang untuk sekadar memicingkan mata ke teras rumah. Tak tersisa lagi ruang untuk mengintip rumahku sendiri. Aku dipasung zaman. Menjadi manusia dengan seribu pasang bola mata yang seolah bertindak seperti kamera pengintai. Setiap pasang mata adalah mata-mata yang harus saya hindari. Aku kehilangan keberanian untuk menatap ke depan. leherku kehilangan tenaga untuk melihat langit yang maha tinggi. Oh betapa besar derita orang biasa sepertiku.

Aku sudah tak tahan lagi menahan diri dalam pengawasan seribu mata di sini. Aku kecil yang dilindas kekuasaan dan kedudukan. Aku punya mulut tapi dibungkam. Aku punya kaki tapi dipasung. Aku punya tangan tapi diikat. Aku punya otak tapi digebiri. Aku punya keluarga tapi ditakut-takuti. Aku punya saudara tapi diancam mati. Aku punya kawan tapi kini menjadi lawan karena hasutan. Aku punya mata tapi dibutakan. Aku punya hak tapi direnggut. Aku punya suara tapi dibisukan. Aku mendengar tapi ditulikan. Aku merasakan tapi mati rasa karena tekanan. Aku hanya punya hati sekarang, yang tak bisa kau bohongi. Hati yang berkata benar untuk kebenaran. Hati yang berkata jujur untuk kejujuran. Hati yang menunduk untuk kesalahan. Hati yang tegar karena penderitaan. Hati yang masih bisa memaafkan.


Bersambung…
Puas. Perihal hasrat yang harus segera diselesaikan. Tanpa pemenuhannya adalah sebuah tekanan sekaligus siksa batin yang menyedihkan. Pilihannya kadang antara menyenangkan diri atau menghukum diri. Menyenangkan diri ketka sebuah keinginan tersalurkan. Konsekuensinya pada saluran yang bahkan bisa jebol menahan gempuran hasrat yang berlebih, atau pilihan sakti lainnya adalah derita untuk penerima hasrat. Barangkali dalam hati setelah hasrat itu tersalurkan semua orang akan berkata dengan degup jantung yang urung berhenti. Mampus kau! Kemudian tak lama setelahnya dia akan mengakui penyesalannya dengan tertutup. Semacam perenungan untuk mencapai titik katarsis. Selang tak lama kemudian lupa dan hilang.

Saya tak sedang bermimpi atau mengangan sesuatu apapun. Tak ada juga keinginan yang buru-buru hendak saya capai selain mencoba menghayati cara memberi dan menerima dengan cara yang terbaik. Apa yang telah maupun akan saya terima adalah bekal yang berharga sebelum saya memberikan sesuatu kepada orang lain. Emosi tidak selamanya mengandung nilai yang cacat. Ada celah-celah pesan yang sebenarnya terselip diantara cara biacara yang semakin cepat, mulut yang mengumpat tanpa henti hingga gesture tangan yang terlihat semakin alami memainkan benda apa saja di sekitarnya. Keinginan ke dua yang ingin segera saya salurkan adalah memuat kata-kata tak berguna ini pada rumah pribadi saya. Tak peduli siapa hendak berkomentar apa tentang ini karena sampai dengan saat ini saya masih meyakini itu adalah cara terbaik untuk menyalurkan keinginan yang sederhana. Tanpa mencabut harga diri orang lain, tanpa biaya mahal, tanpa memalukan diri sendiri, tanpa mengangkat kesombongan sebagai alibi dasar membuat orang lain kecil, tanpa kedudukan untuk memerintah, tanpa kekuasaan untuk mengatur dan tanpa kekerasan untuk menindak.

Tak banyak pasang mata yang akan mengintip rumah orang lain. Prinsipnya sama, karena mengintip adalah suatu hal yang tabu. Jadi membaca pun adalah sebuah kegiatan yang tidak wajar dan harus dicurigai.
Ada hakim-hakim yang hanya berlaga label sarjana tanpa hati dan nurani. Sekali lagi bukan untuk memelasi dan merasa iba pada terdakwa. Tapi melaslah pada korban yang telah terlanjur menjadi korban dan tak bakal kembali pulang menjadi sesuatu yang utuh lagi. Ahh nurani tak patut buat diplintir dan diimprovisasi. Biarkan dia ada untuk menerima dan memilih sendiri nasibnya. Seperti sebuah tulisan yang akan mendapatkan predikat sebagai anak haram, sampah hingga kotoran oleh pembacanya. Semua tak pernah aku perkarakan karena keinginan telah terselesaikan. Tak perlu lagi mengundang akses opini untuk menghibur diri karena setelah ini pasti ada keinginan lain yang segera meminta saluran pembuangannya.


Saya membenci orang-orang yang tak mau mengakui kesalahannya. Saya membenci juga orang-orang yang menajiskan kepercayaan yang telah saya berikan. Saya membenci kedudukan tinggi yang selalu menekan siapapun yang di bawahnya. Saya membenci orang-orang tak tahu apa-apa berbicara hingga berbusa-busa. Saya membenci kata-kata bijak yang tak dibuang pada tempatnya. Maka katakanlah dengan jujur tanpa ditutup-tutupi. Saya tak butuh kesenangan yang semu. 

AKSES

Akses. Jalan untuk memudahkan sebuah langkah panjang. Perihal sedikit yang sering dilupakan hingga kebingungan menjadi lingkaran yang sulit untuk dipecahkan. Sama halnya dengan pribahasa tikus mati di lumbung padi. Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mengapa bisa terjadi demikian? Jawaban simpelnya adalah karena tak ada akses untuk menjangkau makanan tersebut. Seberapapun besar dan banyak makanan yang tersedia di dekat kita kalau kita tak punya akses untuk mendapatkanya maka sama halnya kita menunggu kematian. Saya tak hendak menyamakan kita dengan tikus. Tapi nasibnya akan sebodoh tikus ketika banyaknya peluang di sekitar kita namun hanya sebatas penglihatan dan kemudian hilang.

Pentingnya akses untuk menggapai sebuah tujuan adalah sebuah kebutuhan. Sampai-sampai orang begitu rela kehilangan harga diri untuk “mengemis dan meminta” hanya untuk sebuah akses.  Mereka yang beruntung memanfaatkan jaringan nepotisnya untuk akses tersebut. Yang kurang beruntung hanya bisa bersiap menunggu kematian menjemput. Yang lain lagi memanfaatkan segala cara untuk mendapatkannya. Dari mulai dukun sakti, paranormal, orang pintar,guru spiritual,  professor hingga tukang pukul dikerahkan untuk mendapatkan akses. Cara yang terakhir biasanya lebih banyak menjadi pilihan karena alasan pribadi yang lemah tapi berkecukupan secara materi. Cara baik ditempuh oleh orang-orang yang baik. Cara yang buruk dipilih oleh orang-orang yang buruk. Apapun cara yang ditempuh semuanya untuk satu tujuan yang sama, akses.

Di sini tidak berlaku kedudukan yang sama. Justru kedudukan dan kekuasaan sangat menentukan. Maka wajar saja ketika di bangku sekolah dasar dulu bahkan hingga sekolah menengah berlaku kalimat bijak tempat duduk menentukan sebuah hasil yang dicapai. Anak-anak pun berlomba-lomba untuk datang lebih pagi dari yang lain untuk sekadar memilih kedudukan yang paling strategis secara pengawasan. Sadar ataupun tidak itulah realita yang pasti kita sama-sama amini. Sebegitu pentingnya akses hingga orang mati terbunuh karenanya atau satu tingkat yang lebih beruntung dibawahnya adalah gila.
Padahal kebahagiaan sebagai tujuan hidup tidak bisa didapat hanya sekadar mendapatkan akses. Akses kebahagiaan yang paling sederhana adalah memberikan akses kebahagiaan yang kita punya sekecil apapun untuk orang-orang disekitar kita.



Kamis, 05 Desember 2013

Menatap optimisme di penghujung PKM


Mengawali dengan optimisme yang sama, mengakhiri pun dengan semangat optimis yang sama. Nah yang akan tertulis ini adalah proses berjalannya. Ada keoptimisan yang tetap terjaga, tapi juga ada keprihatinan (bukan sekadar mengucap saya turut prihatin ya,hehe). Tapi saya berusaha membuatnya berimbang antara rasa optimis yang dibangun sejak awal hingga menjaganya sampai dengan batas waktu memutuskan hubungan mitra ini. Pengalaman pasti didapat. Tak semuanya memuaskan, tapi ada juga yang enggan melepas, barangkali ada juga yang bersorak gembira karena taka da lagi Pak Imam yang selalu marah-marah di depan kelas. Tapi mungkin ada juga yang kecewa karena tidak bisa melihat lagi pak Imam kepanasan sambil mengusap keringat yang terjun bebas dari pipinya. 

Jujur saya memang senang bisa melepas dan menyelesaikan tugas ini pada akhirnya. Munafik juga kalau saya berpura-pura tetap ingin bertahan. Bukan karena tak mau tapi karena masih banyak hal menanti harus yang saya selesaikan juga setelah PKM ini. Anak yang menyebalkan adalah hal yang wajar, tapi masalahnya menjadi hal yang tidak wajar ketika sifat yang sama dilakukan secara kolektif. Jujur saja itu yang belum bisa saya selesaikan sampai dengan saat ini. Ada beban antara tidak mau disebut sebagai guru yang hanya suka ceramah dan marah-marah dengan cara untuk mengondisikan kelas yang kondusif. Lagi-lagi anak-anak, punya tradisi yang sama pada usia menjelang remaja.

Berat sebenarnya meninggalkan anak-anak dengan kekikukan yang masih sama bahkan ketika diajak untuk menuliskan pengalaman keseharian mereka. Rasanya mereka sulit sekali bahkan hanya untuk merangkai kata dan kata menjadi sebuah kalimat. Begitupun ketika kelas bermain drama berlangsung. Keaktifan mereka juga belum tersalurkan secara maksimal di dalam setiap peran yang mereka bawakan. Ini adalah cermin, jadi saya pantas mengoreksi diri.

Sekarang tinggal sisa-sisa berkas yang harus kembali saya kumpulkan untuk urusan birokratis kampus. Bayangan anak-anak segera menjadi masa lalu. Indah pada saatnya nanti.

Hari ini pun telah menjemputku untuk segera tinggalkan mata-mata kalian yang penuh rasa ingin tahu.  Jujur saja tiba-tiba ada kegugupan sekaligus rasa khawatir yang sama ketika harus ada kata perpisahan, termasuk dengan kalian. Tapi telah menjadi jalan yang sama dimanapun bahwa setiap pasangan pertemuan adalah perpisahan. Hari ini saya kikuk bertemu kalian bukan karena saya takut bertemu kalian atau belum menyiapkan materi untuk belajar. Kegugupan itu ada mengikuti momen yang akan segera berakhir. Ada pesan dan kesan yang harus segera saya tuntaskan dengan kalian. Setidaknya saya akan merasa senang ketika ada perubahan nyata ke arah yang positif setelah kita tidak bersama-sama lagi.

Saya bahkan pernah menulis sebuah surat pink untuk orang yang dulu pernah saya sukai. Tapi apa yang saya tulis sekarang ini jauh lebih mengenang daripada surat cinta yang pertama itu. Saya bukan siapa-siapa. Hanya orang yang kebetulan diberi kesempatan untuk bertemu kalian di sini hanya untuk satu tujuan pengalaman. Saya mendapatkan pengalaman yang berharga dari kalian. Semoga kalian juga mendapatkan pengalaman yang sma berharganya dengan apa yang sama dapatkan bersama kalian. Bahkan jauh lebih berharga daripada sekadar cara mengajar saya di kelas yang mungkin aneh dan tidak jelas. Ambil yang teladan yang baik dari saya dan tinggalkan contoh yang buruk dari saya. Sampai dengan saat ini saya masih menyakini bahwa kalian memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari apa yang kalian punya sekarang. Kalau bisa menjadi yang terbaik mengapa harus menunda. Kalau ada contoh yang nyata-nyata memotivasi kalian mengapa harus mengabaikan. Kunci dari kemenangan adalah semangat meraih apa yang dicita-citakan. Kalian mungkin tidak akan mendapatkan hasilnya sekarang secara langsung. Tapi di masa-masa yang akan datang mungkin manfaat itu baru bisa kalian rasakan. Berpikir positif dan belajar menerima saran dan pendapat orang lain. Saya juga sama seperti kalian dan anak-anak yang lain. Ada kelemahan, ada kemalasan, ada keburukan tapi kita semua punya kekuatan, punya semangat, punya kelebihan untuk menjadi pribadi yang terbaik.

Ingatkan selalu pada diri sendiri juga untuk tak menjadi pribadi yang angkuh dengan ilmu dan pencapaian kalian. Tak ada pantasnya menyombongkan apapun yang kita punya. Buka mata, buka hati dan buka pikiran bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang jauh lebih hebat dari kita sekarang. Ada saatnya kalian sendiri dan ada saatnya nanti kalian harus bekerja bersama-sama dalam tim. Kurangi keegoisan untuk membentuk tim yang solid. Ingat pesan yang saya selipkan ketika kita berhitung di dalam kelas.
Semoga kesempatan lain segera membuat pertemuan kita lagi di waktu yang akan datang.

Ada kalian:  8-6 & 82

SMPN 71 JAKARTA

Senin, 25 November 2013

Jauh panggang dari api

Tidak penting bagi saya soal persiapan yang begitu macam kalau pada akhirnya tak terlaksana juga. Apalagi tipe serupa superpengawas yang hanya meminta jatah perbekalan sebelum per jalanan panjang. Ini pendidikan sudah terlalu akut dengan nilai-nilai kognitif yang dituhankan. Betapa teori-teori tentang kecakapan hidup dalam hubungan sosial berhenti pada batasan konsep dan diskusi. Pendidikan mandeg dan terjebak pada egois nilai-nilai yang menjadi target belajar. Bagi saya nilai adalah kejujuran, bukan soal tinggi rendahnya angka yang didapat tapi tentang keterampilan yang dia punya. Ini tentang nilai-nilai altruis yang kemudian mulai harus ditumbuhkan dan kepekaan sosial yang mulai diperhatikan.

Saya tercengang membaca sebuah artikel tentang kelompok masyarakat tertentu yang memosisikan hidup dan kehidupannya dengan begitu matangnya. Bahkan sampai pada masa dalam kandungan dan rahim ibu sekalipun. Betapa nilai-nilai kehidupan telah diajarkan oleh orang tua bahkan sebelum kelahirannya ke dunia. Tapi yang saya temukan pada koran-koran dan berita-berita di televisi nasional akhir-akhir ini di bumi Indonesia tidaklah demikian. Bayi-bayi merah terbuang atau mungkin lebih banyak karena sengaja dibuang diberitakan dimana-mana. Ibu-ibu muda yang mengandung di luar nikah, hingga praktik aborsi legal maupun ilegal, terbuka maupun sembunyi-sembunyi mulai terbongkar ke publik. Betapa hidup dan kehidupan tak lagi sebagai sebuah amanat yang penting dari Tuhan.

Sementara itu tengoklah sejenak ke sebuah klinik, puskesmas atau rumah sakit terdekat.  Anak-anak meratap meminta kesembuhan atas sakit yang sedang dialami orang tuanya. Ibu-ibu muda bersujud bersama tangis pilu melihat suaminya yang terkapar. Hingga orang tua yang menangisi anak semata wayangnya yang sakit terjangkit DBD. Semuanya meminta hal yang sama kepada Tuhan yaitu kehidupan. Sebuah hal yang ironi sekaligus paradoks dalam ruang yang sebenarnya berdekatan. Antara kehidupan yang dianggap penting dan tidak penting.

Tak hanya pada soal kelahiran bahkan sampai hal paling kecil sekalipun “mereka” sangat memperhatikannya. Asap rokok, sebuah hal kecil yang disepelekan di bumiku Indonesia. Tak hanya sebagai penghasil karbonmonoksida, racun yang mematikan bagi manusia tapi juga mengandung nikotin dan zat-zat lain yang tak kalah destruktif terhadap otak manusia. Mereka sangat menghindarinya. Kita sudah tahu dampak buruk dari itu semua. Tapi kita “ndableg” menghisapnya juga. Mereka percaya bahwa dosa asap rokok adalah dosa turunan yang tak akan pernah berhenti hitungannya. Maka apa yang terjadi di sini? Anak-anak kecil bahkan balita beberapa kali bahkan nongol di televisi sebagai perokok aktif yang tak sekadar menghabis satu atau dua batang rokok setiap harinya. Anak-anak menjadi korban prilaku orang tua yang tak peduli pada kehidupan dan kesehatan. Prinsip anak adalah aku kerjakan apa yang orang tuaku ucapkan dan kerjakan. Sederhana tapi terabaikan. Maka wajar saja kalau muncul pribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Orang tua yang ndableg  akan menghasilkan anak-anak yang ndableg juga.


Tiba-tiba saya teringat pada sebuah pidato menteri pendidikan dan kebudayaan dalam rangka peringatan hari guru nasional kemarin. Katanya dalam sambutan pidati tertulisnya, kita harus menyiapkan generasi emas penerus bangsa pada tahun 2045 mendatang, menyambut 100 tahun kemerdekaan Negara. Apa jadinya generasi emas itu jika soal kebutuhan untuk hidup saja bukan menjadi sebuah kebutuhan yang penting dan mendasar. 
Barangkali bukan emas 24 karat yang dilahirkan. Tetapi emas yang berkarat

Sabtu, 23 November 2013

Singkat

Pagi ini salah satu anak didik ada yang jujur berkata, “Tulisan Bapak di blog kaya buku harian pak.”
Terus saya cuma jawab, “Iya ngga apa-apa.”
“Kalau saya sih mending nulis di buku harian pak.”
“Oh iya bagus itu yang penting ada ruang untuk berekspresi.”

Kami meninggalkan percakapan singkat itu tanpa komando. Ibu kantin langganan saya sudah siap ditangannya lontong sayur lengkap dengan kerupuk di atasnya. Seperti biasa saya duduk menikmati sarapan berkuah pagi ini. Kami pun berlalu.

Tinggi:untuk melihat ke bawah

Puncak tak selamanya menjadi batas tertinggi. Ekspektasi yang terlalu tinggi adalah salah satu penyebab tergelincirnya kepuasaan pada batas yang biasa-biasa saja. Saya teringat pada beberapa kata yang pernah saya tulis sebelum ini. Tidak perlu jauh kau daki gunung-gunung hingga puncak tertinggi bumi jika pada akhirnya kau hanya akan menemukan alasan untuk melupakan penciptamu sendiri. Wajar saja jika lelah kaki berjalan merajai tubuh yang semakin bergetar karena jarak yang tiba-tiba ekstrim. Kaki-kaki menelusuri lembah-lembah yang curam, bertahan dan terus berjalan hanya untuk titik tertinggi daratan ini. Tapi tak sesederhana itu. Di sini adalah tempat berbagi, tak sekadar beban atau curahan perasaan. Lebih dari itu adalah tentang hidup untuk saling menghidupi bukan malah membebani. 

Bukan soal ketidakikhlasan yang akan diungkap, tapi soal tanggungjawab atas pribadi yang landai dimakan kaki-kaki yang keram. Puncak pun menunggu klimaks yang tak terduga menembus batas-batas senja bersama kaki-kaki yang kaku, badan yang menggigil, topi yang terbang melayang, kawah yang curam dan api yang menjadi teman tanpa sadar.

10 November 2013

Senin, 28 Oktober 2013

85 Tahun Sumpah Pemuda


Esok adalah 85 tahun sumpah pemuda. Kalau seseorang  saat itu menjadi bagian dari para pemuda yang mengikat janji persatuan nusa, bangsa dan bahasa maka sekarang beliau pasti sedang melihat anak cucunya menikmati hasil perjuangan mereka. Tapi sepertinya seseorang itu tidak akan puas dengan keadaan sekarang. Lihatlah kita memang sudah merdeka dan bersatu. Tapi kemerdekaan itu ternyata menciptakan model baru penjajahan dari rakyatnya sendiri. Bukan rakyat sebenarnya kalau dia menjadi antek dari penjajahan baru itu. Kedegilan macam itu hanya menjadi sampah dari rumah sendiri. Kedegilan yang diciptakan oleh oknum-oknum yang antinasionalisme.

Seharusnya siapapun tahu betapa persatuan dan kemerdekaan adalah harga yang hanya bisa didapat dengan kerja paling keras, mengorbankan harta, raga dan jiwa sekalipun. Tapi kau kehilangan harga diri sekarang. Sesuatu yang menjadi barang terlarang untuk dijual kepada siapapun. Kau jual harga diri berarti kau jual kemerdekaan itu!

Tak ada lagi memang pemutaran film-film perjuangan yang diputar secara masal di televisi, bahkan televise milik Negara sekalipun. Agaknya menjadi tidak penting untuk mengulang-ulang film yang sama setiap tahun, pikir mereka. Padahal logika mengatakan setiap ada ribuan pasang mata baru yang terlahir di bumi Indonesia. Persoalan sejarah bukan monopoli orang tua saja. Anak-anak kecil tak tahu sejarah bangsanya bagai terlahir tanpa pernah tahu siapa ibu dan bapaknya. Sehingga ketika melihat sosok orang yang berperawakan tinggi, tegak, putih dan berambut pirang dia akan selalu berpikir untuk tunduk padanya. Kita sama-sama diciptakan Tuhan tanpa kewajiban untuk saling menyembah kecuali tolong menolong.
Sejarah seharusnya mampu meningkatkan rasa bangga dan cinta  terhadap pribadi dan bangsanya. Tapi tanpanya?

Jakarta, 27 Oktober 2013