#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 28 Oktober 2013

85 Tahun Sumpah Pemuda


Esok adalah 85 tahun sumpah pemuda. Kalau seseorang  saat itu menjadi bagian dari para pemuda yang mengikat janji persatuan nusa, bangsa dan bahasa maka sekarang beliau pasti sedang melihat anak cucunya menikmati hasil perjuangan mereka. Tapi sepertinya seseorang itu tidak akan puas dengan keadaan sekarang. Lihatlah kita memang sudah merdeka dan bersatu. Tapi kemerdekaan itu ternyata menciptakan model baru penjajahan dari rakyatnya sendiri. Bukan rakyat sebenarnya kalau dia menjadi antek dari penjajahan baru itu. Kedegilan macam itu hanya menjadi sampah dari rumah sendiri. Kedegilan yang diciptakan oleh oknum-oknum yang antinasionalisme.

Seharusnya siapapun tahu betapa persatuan dan kemerdekaan adalah harga yang hanya bisa didapat dengan kerja paling keras, mengorbankan harta, raga dan jiwa sekalipun. Tapi kau kehilangan harga diri sekarang. Sesuatu yang menjadi barang terlarang untuk dijual kepada siapapun. Kau jual harga diri berarti kau jual kemerdekaan itu!

Tak ada lagi memang pemutaran film-film perjuangan yang diputar secara masal di televisi, bahkan televise milik Negara sekalipun. Agaknya menjadi tidak penting untuk mengulang-ulang film yang sama setiap tahun, pikir mereka. Padahal logika mengatakan setiap ada ribuan pasang mata baru yang terlahir di bumi Indonesia. Persoalan sejarah bukan monopoli orang tua saja. Anak-anak kecil tak tahu sejarah bangsanya bagai terlahir tanpa pernah tahu siapa ibu dan bapaknya. Sehingga ketika melihat sosok orang yang berperawakan tinggi, tegak, putih dan berambut pirang dia akan selalu berpikir untuk tunduk padanya. Kita sama-sama diciptakan Tuhan tanpa kewajiban untuk saling menyembah kecuali tolong menolong.
Sejarah seharusnya mampu meningkatkan rasa bangga dan cinta  terhadap pribadi dan bangsanya. Tapi tanpanya?

Jakarta, 27 Oktober 2013

Minggu, 27 Oktober 2013

MINGGU RASA HARU

Minggu yang melelahkan tapi membahagiakan. Pertama bukan saja karena aku menjadi salah satu orang yang terlibat dalam pemenangan lomba sosiodrama tingkat SMP se-jabodetabek di museum sumpah pemuda kemarin. Tapi juga karena aku terlibat dalam dua panggung yang berbeda hari ini, yaitu panggung festival musik jurusan ekonomi dan panggung apresiasi jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Aku tahu ini tidak lantas membuatku puas sampai di sini karena kesibukan bukanlah alat ukur untuk menentukan keberhasilan. Tapi setidaknya aku mendapatkan perasaan senang sebagai konsekuensi rasa lelah dua hari ini.

Esok aku harus mencari celah lain untuk mendapatkan kemenangan yang lain. Aku tak tahu pasti Tuhan akan memberiku kesempatan apa lagi. Tapi setidaknya kemungkinan kesempatan yang besar pasti sudah disiapkan. Aku tinggal menyambutnya saja.

Jakarta,24 Oktober 2013

18:37

PAKET ANTARA KESIAPAN DAN NASIB BAIK

Rabu itu adalah hari pelaksanaan lomba sosiodrama antarsekolah menengah pertama se-jabodetabek yang diselenggarakan oleh museum sumpah pemuda, Jakarta. Sosiodrama adalah istilah yang jujur baru pertama kali aku dengar. Yah dari namanya sih ngga terlalu asing, kurang lebihnya semacam drama yang berkaiterat dengan social masyarakat. Kebetulan momentum yang diambil adalah tentang sejarah sumpah pemuda.

Surat yang diantar oleh guru pamongku tertulis tanggal 7 Oktober 2013, namun aku membacanya tanggal 9 Oktober 2013 setelah Ivana dan Yuliana, rekan PKMku di sekolah memberitahu. Hari itu berarti tepat dua minggu sebelum pelaksanaan lomba. Mendapat tawaran untuk mengumpulkan sekaligus melatih anak-anak aku antusias menerimanya, begitu juga dua rekanku. Aku hanya berpikir ini pengalaman baru yang dikirimkan Tuhan kepada kami di sini dan mungkin tak akan kami dapatkan setelah selesai masa tugas menjadi guru “relawan” di sekolah ini. 

Beruntunglah Tuhan membukakan pintu izin kami untuk menjadi peserta dengan nomor urut 6 di sana. Setelah mengalami banyak perubahan pemain dan konsep pasca gladi resik lomba, akhirnya dengan perasaan seadanya kami berangkat Rabu pagi pukul 08:10 wib. Banyak anak yang bertanya.
 “Pak kita naik apa ke sana?”
Saya jawab aja tanpa rasa bersalah. “Kita naik bis nanti.”
“Pak katanya naik bis?”
“Iya,tuh sopirnya udah nungguin?”
“Jadi mana bisnya?”
“Itu. Mini bis.”
“Haha..Bapak, itu kan mikrolet.”
“Kapan lagi naik mikrolet bareng-bareng? Yang penting asik rame-rame.”
“Oke deh Pak.”

Kami pun melaju 15 orang dalam sebuah mikrolet ditambah sopirnya tentu. Beruntunglah yang ngga dapat jatah kursi duduk, karena mereka akhirnya tahu arti pentingnya berbagi untuk memangku temannya. Mikrolet melesat dengan kecepatan sangat lambat melewati jalan Percetakan Negara yang padat. Setengah jam kemudian kami sampai di bakal TKP.
“Pak ini sudah sampai?”
“Iya sudah sampai. Itu kita nanti di sana. Di gedung yang pagarnya ada kain merah putih.”

Kami turun tepat di depan gerbang masuk museum. Mikrolet melaju lagi bersama kertas biru bergambar I Gusti Ngurah Rai. Kami langsung masuk ke dalam area museum dan melakukan pendaftaran ulang. Sambil mengunyah kudapan yang dikasih panitia seorang siswa bertanya lagi dengan khawatir.
“Pak mereka pakai biola!”
“Ngga usah terpengaruh dengan sekolah lain. Main aja kaya latian kemarin. Tampilkan aja yang terbaik. Ngga perlu mikir menang atau kalah.”

 Setelah itu kami berdoa bersama dan acara pun dibuka oleh ketua museum. Ternyata seleksi alam masih terjadi lagi di sini. Dari 10 sekolah yang mendaftar, hanya ada  empat sekolah yang memenuhi janjinya di hari pelaksanaan. Jadi perasaan was-was sedikit berkurang. Tapi tetap saja anak-anak yang baru pertama kali ikut lomba, semuanya panik luar biasa. Tapi cuma sesaat. Sampai dengan akhirnya mereka tampil juga ke depan.

Di sinilah dimulai…
Meskipun mendapatkan nomor urut 6 tapi nyatanya mereka tampil di urutan ke dua. Kendala teknis. Anak-anak memang belum terbiasa untuk menanggapi sesuatu yang dilihatnya lebih bagus dari apa yang dia punya. Terlebih setelah mereka melihat penampilan kelompok pertama yang memang tampil dengan cukup meyakinkan. Hampir semuanya aku lihat menjadi berkurang semangatnya. Aku hanya berpesan, “Kalian punya kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik.”

Mereka pun tampil maksimal hari itu. Mereka menang secara semangat dari kelompok-kelompok lain. Tapi sayang dari segi konsep yang dibuat bersama-sama olehku, Ivana dan Yuliana memang masih kalah. Satu kelompok memang terlihat lebih dominan dari yang lain. Mereka anak yang sudah terbiasa dengan kegiatan drama atau teater di sekolah. Jadi aku anggap wajar mereka dominan. Berbeda dengan anak-anak yang aku bawa hari ini. Mereka sama sekali tak aktif dalam kegiatan drama di sekolah maupun di luar sekolah. Beberapa anak memang katanya pernah main drama, Cuma seadanya saja di ruang-ruang kelas. Tapi bagiku mereka menunjukan perkembangan yang cukup signifikan sekalipun mereka semua belajar dari awal.

Singkat cerita mereka mendapat predikat kelompok terbaik ke dua. Seperti juga yang telah aku perkirakan. Luar biasa. Wajah-wajah mereka pun bebas dengan senyuman terlebar. Berkemas dari perlombaan dengan membawa sebuah map berisi sertifikat penghargaan dan plakat kemenangan. Anak-anak pun pulang dengan kepala tegak. Namun aku mengingatkan untuk selalu menundukkan kepala, tidak cepat merasa puas, apalagi bersombong dengan hasil yang didapat hari ini. Kalian bisa lebih baik lagi, dengan ataupun tanpa kami sebenarnya.

“Berikan yang terbaik yang kalian bisa untuk orang tua, guru, sekolah dan teman-teman kalian semua.”

            Jakarta, 23 Oktober 2013
Salam,
Imam udin-ivantia-yuriana

Selasa, 08 Oktober 2013

Menanam dan memanen

Menanam dan memanen. Dua kata yang berpasangan dengan tanpa paksaan. Begitupun dengan apa yang aku lakukan sekarang. Maka aku akan mendapat hasilnya, sekarang ataupun nanti. Sama halnya dengan apa yang aku kerjakan dulu dan sekarang aku mendapat hasil dan konsekuensinya. Kenakalan yang aku pandang wajar ternyata menunjukkan hal yang sebaliknya di mata orang lain. Memandang wajar pada suatu hal ternyata belum tentu sama dirasakan sama oleh orang lain. Barangkali aku dulu nakal maka sekarang pun aku harus berhadapan anak-anak yang nakal pula. Seperti hukum rimba atau hukum alam. Siapa yang bersalah dia yang berdosa.
Perasaan memang bisa tidak jujur dan seringkali menipu, menyesuaikan dengan kebutuhan. Seringkali perasaan salah ditekan sedalam-dalamnya pada titik terjauh. Tapi seringkali pula perasaan itu terapung kembali pada alam kesadaran yang nyata. Efek yang muncul kemudian adalah perasaan takut dan khawatir yang berlebihan. Sekali lagi karena kau membohongi diri sendiri, berusaha menghibur diri dan membuat senang. Tapi efek sesaat yang didapat. Kemudian kembali pada perasaan yang sebenarnya.
Aku merasa wajar, dulu. Tapi aku mendapat ketidakwajaran sekarang. Ini berarti ada kesempatan besar yang akan membuatku lebih dewasa dari sebelumnya.

Ada jalan untuk orang kecil menjadi besar. Ada kesempatan untuk mengubah pahit menjadi manis pada waktunya nanti. Semuanya adalah rencana Tuhan untuk membalikkan keadaan yang tertekan menjadi leluasa. Tapi bukan karena kekuasaan yang bebas dan tanpa batas. Melainkan kekuasaan berbekal moralitas yang matang. Aku mau hidup dan menghidupkan.

Minggu, 06 Oktober 2013

Wanita


Wajar saja jika banyak orang mengatakan bahwa rambut seorang wanita adalah mahkota. Mahkota adalah lambing yang agung, tinggi dan suci yang dengan atau tanpanya seseorang bisa berubah 180 atau bahkan 360 derajat. Maka wajar pula jika agama tertentu sangat melindungi bagian dari tubuh wanita ini karena kesuciannya.

Barangkali tak banyak wanita yang menyadari betapa bagian dari anggota kepalanya itu adalah pemikat orang-orang di sekelilingnya. Meskipun tak semua pria memandang itu adalah bagian mutlak untuk menentukan apakah seorang wanita dikatakan cantik dan sebaliknya. Tapi sebagian besar mengatakan “ya.” Aku sendiri tak bisa mengelaknya. Ada perasaan alami yang muncul ketika melihat wanita dengan rambut terurai di kepalanya. Terlebih jika rambut yang teruarai itu sengaja dirapikan secara terbuka. Sebaiknya wahai kau kaum hawa benar-benar bisa menjaga kecantikan yang telah dianugerahkan Tuhan buatmu. Tidak semua wanita seberuntung kamu. Jadi peliharalah, bukan malah diobral gratis untuk mata-mata yang tidak semuanya bisa menjaga diri.


Kamis, 03 Oktober 2013

Emosi peristiwa


Kau akan tahu pentingnya sebuah peristiwa terjadi ketika emosimu benar-benar terlibat di dalamnya. Selama emosimu belum juga berada di dalam peristiwa tersebut maka jangan harap kau akan mendapatkan kenangan dari peristiwa itu. Bahkan sambil lalu saja gambar-gambar akan terlintas kemudian hilang dan lupa. Begitu pentingya emosi ada di dalam peristiwa seperti kadar garam di lautan. Tanpanya lautan adalah hamparan air tanpa rasa yang bergelombang di tepiannya saja.

Emosi bukan sekadar marah-marah. Tapi lebih dari sekadar hal bodoh itu. Ada banyak pengorbanan tenaga maupun pikiran yang terbuang karena momentum. Ada banyak cerita yang akan selalu indah ketika kau berniat mengulangnya. Suatu ketika kau pasti merasakannya juga. Semoga segera perasaan itu menjemputmu. Aku pun akan membuat cerita lain dengan emosi yang tak jauh berbeda dari yang aku rasakan sekarang. Kita akan berjumpa di sana. Pada puncak-puncak kenangan yang takkan pernah terpikirkan sebelumnya.

Jakarta, 3 Oktober 2013

18.59

MALAS DAN BERPURA-PURA


Baru kali ini saya temukan kebodohan karena kemalasan kolektif yang begitu tinggi di sebuah ruang tempat belajar. Apakah saya yang terlalu menganggap mereka cerdas atau mereka memang lamban. Tapi kepura-puraan jauh lebih tampak daripada keseriusan seorang anak tengil yang hobi bermain. Malas. Akhirnya satu kata itu yang menjadi akhir simpulan. Kemalasan yang dilakukan bersama-sama menjadi bagian kebiasaan yang sudah dianggap wajar. Datang sekadar menghindari ocehan orang rumah yang rebut, gang-gang yang sempit dan bau, lalat-lalat yang naik-turun di atas pagar, serta gerobak-gerobak sampah yang parkir seadanya di sisa jalan. Maka ruang belajar akhirnya menjadi sarana yang paling tepat untuk bermain, mencurahkan segala kesuntukan rumah, jalanan, serta preman rumahan.

Aku datang untuk belajar. Aku pulang membawa ilmu.  Dua kalimat yang antipati pada kemalasan karena dua alasan. Pertama, karena kedatangan mereka bukanlah bukan untuk tujuan belajar tapi membawa dan memindahkan segudang masalah dari rumah serta jalanan. Ke dua, niat yang salah membawa cara pandang yang salah pula sehingga kepulangan membawa ilmu hanyalah mitos dan mimpi yang jauh panggang dari api.

Ini masalah anak-anak pinggiran Jakarta yang juga saya yakini kemiripannya dengan kota-kota besar lainnya di sekitar kita. Bahkan bukan kota sekalipun, jika latar belakang anak memaksa mereka untuk terbiasa hidup dengan “kebusukan” , ketakutan dan kekerasan maka situasi kemalasan yang sama akan terjadi. Dari sini saya merasa beruntung karena saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis. Meskipun pertengkaran kecil orang tua, adik serta kakak adalah hal yang wajar dan biasa. Saya juga beruntung karena hidup dalam alam pedesaan yang segar dan hijau di masa-masa seperti kalian sekarang. Tapi saya jauh lebih beruntung karena bertemu dengan kalian di sini sekarang. Setidaknya saya masih percaya bahwa belajar tidak sekadar dari kebenaran saja. Kita juga bisa belajar dari kesalahan, kebodohan serta kemalasan. Tapi bukan menggeluti kesalahan, kebodohan serta kemalasan itu. Kalian salah dalam hal persepsi. Bingkai kemalasan takkan pernah membuat masalahmu berkurang apalagi hilang. Malah justru semakin bertambah dan bertumpuk.

Sekarang kalian yang tentukan, apakah kalian mau hidup terus dengan kebusukan ini atau memberi wewangian baru untuk mengganti kebusukan yang terlanjur kau selami? Tetap dengan kemalasan dan kebodohan atau berubah untuk kecerdasan mental dan pikiran?

Catatan : tulisan di atas beradu pengalaman, fiksi dan imajinasi
Jakarta, 3 Oktober 2013

17.03

Sabtu, 21 September 2013

Menjadi orang lain



Kami adalah keluarga. Tapi aku tak pernah menganggap kau adik apalagi kakak. Bagiku ketika waktu mendudukkan kita bersama-sama di hadapan orang tua kita, maka saat itu kita sedang duduk sebagai musuh bukan saudara. Semua karena kita dibesarkan dengan cara yang berbeda. Aku merasa berdiri karena kedua kakiku sendiri bukan atas uluran tangan-tangan ibu bapakku. Aku sudah bosan meminta. Jadi aku putuskan untuk mencari kehidupanku sendiri. Silakan hidupkan saudaraku yang masih butuh banyak perhatian.

      Aku dibesarkan untuk menjadi takdir rivalitas dalam rumahku sendiri. Ini agenda besar orang tuaku yang telah bosan dengan teriakan-teriakanku menjelang dewasa saat itu. Kini aku putuskan untuk berikan apa yang aku bisa untuk orang lain dengan jalan dan caraku sendiri. Aku tak lagi kenal kata euforia pribadi atau golongan. Euforia bagiku hanya ada ketika aku berbagi dengan orang lain bukan dengan orang tua, saudara atau diriku sendiri. Bagiku kebahagiaan terbesar bukanlah ketika aku bisa menertawakan saudaraku dengan sepuas-puasnya, melainkan menaklukan wajah-wajah sangar kepada senyuman paling bebas.

      Aku tak pernah menanyakan mengapa ibu-bapakku begitu sayang pada saudaraku itu. Aku terlanjur kehilangan perhatian dan rasa kekerabatan dengan saudaraku sendiri. Selalu saja batas itu begitu tampak sekalipun orang-orang tak pernah ambil pusing soal ini. Tapi aku jauh lebih tahu dari apa yang orang-orang anggap wajar dan sederhana. Hingga pada suatu ketika ibu-bapakku benar-benar memberikan hak asuh atas aku sepenuhnya kepada seseorang. Begitupun atas saudaraku. Tak pernah aku bayangkan ini semua akan terjadi. Titik tengah yang diambil oleh kedua orang tuaku sama sekali tak mencerminkan kasih sayang lagi kepada anak-anaknya. Melepas begitu saja anak-anak yang terlahir tanpa niat dan keinginan keluar rumah. Peristiwa ini adalah pengusiran pertama yang aku terima sepanjang hidupku menjelang 21 tahun. Aku kehilangan simpati bahkan kepada rahim ibuku sendiri.

      Tidak pernah aku bayangkan aku akan terbuang dari rumahku sendiri. Sementara 2 tahun setelah pengusiran halus itu aku mendengar kabar bahwa saudaraku telah kembali ke rumah. Lebih tepatnya dijemput oleh ibu-bapakku. Aku menantikan saat-saat yang sama tapi sampai dengan penantian itu hilang ditelan kekecewaan, orang tuaku  tak pernah datang. Saat-saat itu adalah hari-hari yang begitu panjang bagiku. Hidup dalam asuhan orang yang sama sekali tak aku kenal secara nomaden. Tak ada atap atau tembok yang membuat benteng dari segala udara panas, maupun dingin. Apalagi rumah permanen dengan pendingin ruang dan daun-daun hijau di terasnya. Tapi aku punya lebih banyak dari itu. Taman-taman yang aku tiduri memberiku lebih banyak kebahagiaan dari sekadar pembuangan. Dari sinila aku temukan kehidupan dan kebahagiaan hidup yang sebenarnya. Pada orang-orang nomaden tanpa kelas, strata apalagi status hidup yang tak pernah ada pada catatan sipil kelurahan.

 Hingga akhirnya aku menemukan orang tuaku di sana tanpa statusnya lagi.
Jakarta, 10 September 2013


Sepasang Mata bola


Ada deskripsi yang sama tentang keindahan. Senyuman. Tapi akhirnya semua akan bermula lagi dari awal. Pada masa ketika sosok kecil menari-nari bak angsa di tanah yang luas. Sayap-sayapnya imajiner mengembangkan daya tarik untuk siapa saja yang melihatnya. Kau mungkin bisa melihatnya juga ketika mata bertemu pandang untuk pertama kalinya. Tapi cukup berjarak untuk bisa mendekat. Tapi sebenarnya kedekatan tidak terlalu menentukan sifat indah, namun bagaimana cara menikmati keindahan yang bisa membuat perasaan nyaman itu ada. Suatu saat kau menemukan indah itu ada di sana. Tapi saat yang lain kau juga menemukan di tempat yang sama sebuah pesakitan. Lagi-lagi karena kau punya cara pandang yang berbeda di lain kesempatan.

Latar belakang. Kadang hal itu adalah motivasi utama kau mempunyai keinginan untuk menyukai atau membenci sesuatu. Semua wajar dengan bekal hasrat yang dimiliki oleh setiap pemilik ruh yang sehat. Sepasang mata bola akhirnya akan menggelinding menurut kemauannya. Kau takkan pernah menangkapnya sampai dengan kau mau untuk menjemputnya ke bawah. Karena naluri tak akan sampai membuat bola bisa melawan gravitasi dan menggelinding ke atas. Kecuali kau mau menjadi penopangnya selalu di belakang.
Sepasang mata bola jatuh pada lubang yang salah. Tenggelam dan akhirnya menghilang dalam dekapan sekalipun. Kemudian sesal menjadi teladan yang dipersalahkan.


Jakarta, 21 September 2013.

Selasa, 17 September 2013

Melihatnya lagi


Ada beberapa hal yang membuatku tak juga ingin menidurkan mata hingga tengah malam ini. Ini adalah tentang langkah-langkah yang kembali mengingatkanku pada titik romantika masa yang sulit. Antara perasaan yang tertekan karena takut mengungkapkan dan perasaan lega yang harus segera terpuaskan. Hingga pada akhirnya aku memilih pilihan yang ke dua dengan berbagai konsekuensi kemungkinan. Konsekuensi tersebut antaranya adalah fisik yang tak lagi punya ruh karena ruh kabur meninggalkan raga yang malu menampakkan kebodohan. Ke dua adalah raga yang bertambah panas tiba-tiba dan mengucurkan keringat yang dingin. Ke tiga adalah soal ruh yang begitu berpengaruh pada rasa curiga, khawatir, takut, dan menduga-duga sesuatu yang mungkin.
Pada akhirnya perasaan tertekan itu pun lepas bagai balon yang lepas ke udara langit. Seiring dengan itu ke dua tangan itu mulai bergandeng malu pada perjalanan malam. Pulang.
Malam ini aku melihatnya lagi, maka aku menulisnya.
00:22

25 Juli 2013

Bola Ping-pong


Pantas saja Iwan Fals memberi gelar bahkan untuk sebuah mata dengan bola pingpong pada wanita. Barangkali saat lirik lagu itu ditulis dia pun merasakan hal yang sama dengan saya saat ini. Atau lebih tepatnya saya yang memiliki perasaan yang sama dengannya. Nyatanya memang sulit untuk dijelaskan dengan metode keilmuann manapun, kecuali perasaan yang mungkin bisa sedikit dijelaskan oleh psikologi. Tapi psikologi terlalu jatuh pada teori-teori yang menjenuhkan. Sementara ini jelas sekali ada dalam hati setiap orang. Bagaimana mungkin sebuah bola mata menjadi menyerupai bola pingpong dalam pandangan mata orang lain? Bahkan bukan sekadar bola matapun sebenarnya banyak lagi anggota tubuh yang menjadi tampak lebih spesial dari biasanya.

Bola pingpong. Apakah Iwan punya deskripsi bayang pada mata wanita yang dilihatnya saat itu, bahwa mata yang biasa itu menjadi bola pingpong ketika bertatap temu dengan matanya? Atau hatinya yang barangkali naik turun dan memantul layaknya bola pingpong saat melihatnya sengaja ataupun tanpa sengaja. Hati kecil manapun pasti akan berbisik dengan penuh emosional kepada pemiliknya,”Dia manis.”


Jakarta, September 2013

Minggu, 28 Juli 2013

Dinamika


Kami tidak percaya lagi pada pendidikan, barangkali. Ini titik menjenuhkan jadi semua kata tak tersensor, maaf. Semakin kami terdidik semakin kami menyadari betapa tidak jelasnya pendidikan yang ditinggi-tinggikan itu. Waktu sama sekali tidak dihargai di sini. Hanya waktu sang guru yang berharga. Kami layaknya kacang yang dikupas dan di jual eceran di pinggiran jalan untuk mendapatkan uang. Kami jembatan menuju penghargaan yang absurd. Apakah pendidikan sudah serusak ini? Kami yang lahir dari bingkai kerusakan apakah akan muncul sebagai anak hilang yang terdidik dengan ketidakjelasan. Kami anak yang terasing dari hak kami apakah akan menjadi anak yang pasrah pada sang guru. Kami bukan kerbau yang manggut untuk dicucuk setiap waktu kapanpun kau mau. Kami anak Tuhan yang dititipkan untuk kau cerdaskan. Tidak dengan segala tuntutan dan kewajiban tapi juga pengertian dan pemahaman.

Engkau sang guru apakah akan menunggu anak-anakmu bergerak dalam barisan yang tak terduga? Engkau sang guru telah kebal dengan nurani yang melas karena kepala telah penuh dengan ilmu-ilmu non praktis. Duniawi yang mengancam pendidikan estetis sekalipun. Pembelajaran karakter tidak bermakna! Hanya konsep dan alibi penelitian! Mungkin sekali waktu sang guru pun harus dipindahtugaskan ke bukit-bukit kemilau di NTT atau Papua karena penelitian mereka bilang punya nilai guna. Maka di sanalah saatnya nilai guna itu dimanfaatkan. Bukan dikebumikan dalam perpustakaan-perpustakaan para borjuis. Inikah filsafat aksiologis yang digadang-gadang oleh para ilmuwan? Kemana aksi-aksi atas penelitian berlabuh?

Paradoks in melahirkan efek domino tidak hanya soal kebermanfaatan tapi juga perkara waktu yang tersita untuk “kurcaci-kurcaci” mereka di kelas. Terkadang alibi pengabdian sering menyendirikan para siswa. Katanya sih belajar mandiri. Kalau begitu untuk apa status sang guru itu? Aduh terlalu banyak pertanyaan yang muncul setelah mendapat stimulus kamuflase pendidikan hari ini. Sebagai orang yang terdidik saya sama sekali tidak ingin hal seperti ini saya kerjakan alami juga. Sejatinya ilmu adalah kebermanfaatan untuk orang lain bukan diri sendiri. Sejatinya kamipun tidak ingin meneladani contoh dan pengalaman yang absurd ini. Ini harus segera dibongkak, didobrak dan segera dikebumikan dari bumi pendidikan!


Jakarta, 3 Juli 2013

18:39 WIB

Keluar rumah


Sekarang saya mengerti tentang apa yang dipikirkannya. Tidak sedangkal yang saya kira. Ini bukan lagi sekadar gengsi atau rivalitas semata yang dipertaruhkan. Meskipun nyata-nyata keadaan sekarang tidak menguntungkan. Bagaimanapun cara cerdas itu harus kelar juga dengan sesingkat mungkin. Harga diri tidak akan pernah terjual seberapapun besarnya dengan apapun. Barangkali itulah yang menjadi prinsipnya. Sekarang saya mengerti bagaimana dulu saya dibesarkan buka hanya dalam hati tapi juga dalam sejarah. Sekali lagi mungkin itu cara salah satu cara cerdas yang dipilih. Maaf mungkin agak terhalang konteks tulisan dengan situasi anda sekarang. Saya memang sengaja menulisnya demikian.
Bahkan sampai dengan detik ini pun saya harus mengakui kekalahan itu sebenarnya dengan besar hati. Maka akhirnya saya memutuskan untuk keluar rumah dan bercerita dengan anak-anak di kampung sebelah. Ternyata di sana jauh menyenangkan daripada berdiam diri di rumah. Inilah kebahagiaan berbagi yang takkan pernah terganti dengan kegiatan apapun. Bagi saya.

Jakarta, 28 Juli 2013

16:48

Jumat, 26 Juli 2013

Bukti Kata


Ternyata kata-kata itu begitu hebat. Malam tadi aku mendapatkan bukti dari kata-kata yang keluar dari lisan seseorang. Dia begitu merendahkan diri dalam sebuah forum padahal dia punya sesuatu yang lebih daripada sekadar penurunan kualitas dan keterampilannya. Yah saya jadi teringat pada waktu-waktu yang telah berlalu sebelumnya. Kami sempat mempunyai forum lain dalam satu atap yang cukup membuatnya rendah diri mungkin. Hal tersebut dimulai dengan niatan mengevaluasi dan perbaikan. Namun karena kata-kata yang kurang bisa menghargai kerja kerasnya akhirnya kata-kata tersebut juga yang terbawa sampai dengan detik malam tadi. Semoga kita mengambil pelajaran dari hal kecil semacam ini. Saran maupun kritik itu sesuatu yang wajar. Tapi selayaknya berikan motivasi juga, tak sekadar mengungkapkan kekurangan dan ketidaksenangan ke orang lain.


26 Juli 2013 (03:42)

Rabu, 24 Juli 2013

Kesempatan yang berbeda


Ada beberapa hal yang membuatku tak juga ingin menidurkan mata hingga tengah malam ini. Ini adalah tentang langkah-langkah yang kembali mengingatkanku pada titik romantika masa yang sulit. Antara perasaan yang tertekan karena takut mengungkapkan dan perasaan lega yang harus segera terpuaskan. Hingga pada akhirnya aku memilih pilihan yang ke dua dengan berbagai konsekuensi kemungkinan. Konsekuensi tersebut antaranya adalah fisik yang tak lagi punya ruh karena ruh kabur meninggalkan raga yang malu menampakkan kebodohan. Ke dua adalah raga yang bertambah panas tiba-tiba dan mengucurkan keringat yang dingin. Ke tiga adalah soal ruh yang begitu berpengaruh pada rasa curiga, khawatir, takut, dan menduga-duga sesuatu yang mungkin.
Pada akhirnya perasaan tertekan itu pun lepas bagai balon yang lepas ke udara langit. Seiring dengan itu ke dua tangan itu mulai bergandeng malu pada perjalanan malam. Pulang.
Malam ini aku melihatnya lagi, maka aku menulisnya.

00:22

25 Juli 2013

Batas Imajiner



Maaf ini bukan soal tempat yang megah atau panggung yang indah tapi ini soal siapa yang akan melihatnya. Kita memang berbeda. Terlalu sulit untuk menyatukannya. Lagi-lagi ada batas imajiner yang terus menghalangi kedekatan kita. Kau kah itu sejarah yang panjang? Sejarah ada untuk membesarkan kita seharusnya. Tapi ini justru membuat rival yang tidak jelas ujungnya. Kita sama-sama mengakui jarak imajiner itu. Tapi mengapa sejarahnya menciptanya begitu indah? Kau kah itu dunia  yang berurusan dengan materi dan nepotisme.
Anak kecil akan tetap tersenyum lagi sekalipun dia baru saja menangis. Bahkan seringkali dia tersenyum dalam tetesan air matanya. Nurani pada akhirnya akan mengalahkan segalanya bagi orang yang memilikinya. Ini pilihan yang kita jalani masing-masing. Ini yang aku yakini kebenarannya. Kau pun menyakini kebenaran idealismemu. Kita hidup serumah tapi dalam kamar yang berbeda.

24 Juli 2013

15:57

Senin, 22 Juli 2013

Samar


Sesungguuhnya saya baru benar-benar menyadari kalau segala keabsurdan yang selama ini saya jalani hanyalah kamuflase untuk menghidupkan kembali arwah raga yang gentayangan dimakan kerapuhan fisik, usia dan ketidakpedulian. Saya tidak menafik ada sisa-sisa kepedulian di ujung nafas yang hampir habis. Tapi itu sekejap saja, setelah itu pergi dan benar-benar habis nafas. Hanya segelintir orang saja yang benar-benar masih saya hormati di sini. Mereka yang mau disebut sebagai senior maupun junior. Bagi saya sama saja. Ketika anda bertanggung jawab atas komitmen maka di situlah saya akan menghargai keberadaan. Tapi sekali anda berkilah maka setelah itu percuma saja kau berusaha menghapus kesalahan itu. 


Saya tidak suka pendendam hanya tidak mau dibohongi untuk beberapa kali. Apalagi dengan tipuan sekilas yang baru saya sadari sekarang. Masih ada sisa sebagian yang benar-benar merasa punya tanggung jawab dalam bangunan raga ini. Selebihnya hanya menuntut untuk ini dan itu. Habis itu kabur dan pura-pura diam atau tidak tahu. Alasan klasiknya “Ini bukan masa gue lagi. Ini waktu kalian. Maka segera saja ” tiba-tiba senyap sebentar dan gue pergi!

Romantisme kecil



Hari ini tiba-tiba ingin merasakan lagi romantisme sakit dan bahagia saat jatuh cinta. Biarpun lebih banyak perasaan luka yang tertinggal bersamamu tapi tak ada alasan bagiku untuk mengelakanmu. Tidak untuk selamanya karena aku pasti takkan bisa.bersamamu adalah kenangan singkat yang sampai dengan saat ini tak pernah hilang dari ingatan. Kau mungkin mudah saja untuk menghapus jejak singkat di antara kita. Tapi tidak bagiku. Aku tahu aku hidup bukan untuk masa lalu tapi dari masa aku bertolak untuk masa yang akan datang. Kau telah mengganti sayang dengan orang-orang setelahku. Mudah memang bagimu untuk segera beranjak dari kisah yang terlalu singkat. Bahkan aku masih ingat betul sangat sambungan telepon jarak jauh mengakhiri semuanya. Aku sadar yang memulainya saat itu. aku melihat indikasi ketidakenakan pada kau saat itu. aku terlalu sibuk dengan urusanku dan begitupun kau. Mungkin sampai dengan sekarang. Aku hadir sebagai dian yang tak lagi menyala seterang dulu menurutmu. Tapi aku justru merasa lebih terang dari sebelumnya sekalipun dian-dian lain berlalu menggantikan dian yang sempat meninggalkanmu sementara.
Ini bukan soal ketidaksetiaan tapi tentang tanggung jawab. Aku datang tanpa apa-apa kecuali perasaan yang memotivasiku untuk mengatakan sesuatu yang kini kusebut “cinta.” Hanya itu. Tapi aku sadar seiring hasratku mengatakan hal tersebut. Selalu ada konsekuensi yang harus aku terima meskipun terloihat kurang bersahabat denganmu. Aku terima dan semoga saja “iya” denganmu.

Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu. Tapi untuk mendapatkanmu..

25 Juni 2013

Yang ini untuk kau

Aku malu
Jika apa yang aku tahu tidak sampai pada adikku
Aku malu
Jika apa yang aku tahu menjadi milikku sendiri
Aku malu
Jika apa yang aku tahu menjadi kesombongan
Aku malu
Jika apa yang aku tahu tak sampai mengubahku
Aku malu
Jika apa yang aku tahu tak diketahui oleh adikku
Aku malu
Jika adikku tampil apa adanya
Aku malu
Jika pengetahuanku berhenti pada titik ini
Aku malu
Jika aku meninggalkan adikku tanpa bekal apa dan apa
Aku malu
Jika aku tak merasa
Itu aku

KKL:perjalanan


Belajar banyak mengenal niat dan tujuan. Apalah anda mendeskripsikannya. Terkadang apa yang dilakukan bisa saja diterjemahkan sebagai sesuatu yang salah orang lain. Bahkan hanya sekadar jabat tangan atau duduk di tempat yang dirasa nyaman dan santai. Bahkan niat mengakrabkan bisa berubah menjadi lakuan yang salah seratus delapan puluh derajat. Inilah yang terjadi saat ini. Perjalanan penjang Bali-Jogja yang sama panjangnya dengan singgungan banyak cara dari orang yang berbeda juga. Ada yang diam, ada juga yang tidak mau tahu dengan apa yang terjadi. Tidak ada kepentingan maka tidak ada urusan. Ini saat yang menyenangkan kawan. Tapi kau hendak menerjemahkan sebagai sesuatu yang lain. Sayang. Lebih baik menikmati perjalanan panjang ini.
Tapi semua perjalanan bergantung pada masing-masing pejalannya. Saya tidak berhak memaksakan anda untuk menikmati kesenangan atau kesedihan anda. Yang terpenting bagaimana cara pandang anda saja. Saya tidak ada niatan lain kecuali untuk menikmati setiap perjalanan yang saya jalani. Sekarang bersama anda dan juga anda.

Indah kalau ada peduli. Tapi peduli untuk memerhatikan bukan untuk menyalahkan. Sifat dan sikap terserah anda.

13 Mei