#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 13 Desember 2013

111213


Segala-galanya memang telah berakhir untuk sementara ini. PKM. Praktik keterampilan mengajar yang menjadi rutinitas selama satu semester ini resmi telah berakhir dan dilepas sekolah rabu kemarin, 11 Desember 2013. Meskipun baru hari inilah kami benar-benar angkat kaki dari sekolah, SMPN 71 Jakarta menuju rutinitas kampus lagi.

Satu semester ini saya, Ivana, dan Yuliana dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia menjalaninya bersama. Bersama dengan kami juga Abdul Latif, Dwi Lina, Arum, Dina dan Desi. Mereka dari jurusan IPS dari kampus yang sama. Membicarakan mereka adalah bercerita tentang kelucuan, kekakuan, kegalauan dan segala hal tentang anak muda yang kadang aneh dan tidak bisa dimengerti. Begitulah tapi saya tidak akan membicarakan salah satu dari mereka. Kalian semua baik dan luar biasa. Semua perkara anak-anak yang membuat kita greget dan marah telah berhasil sama-sama kita selesaikan satu semester ini. Untuk sementara kita berhasil  “dikasih tahu” oleh anak anak-anak bagaimana cara mendidik yang selama ini hanya kita bayangkan.

Acara perpisahan yang sederhana yang pada awalnya tak hendak dihadiri oleh dosen pembimbing, akhirnya justru dihadiri oleh keduanya. Takdir yang membuat senang dan haru di saat yang penting. Namun betapapun senangnya melepas tugas, selalu ada perasaan gugup dan rasa bersalah pada orang-orang yang hendak ditinggalkan. Ada kata yang mungkin terlalu banyak diucap. Ada kalimat yang mungkin justru tak sempat terucap. Ada pesan yang mungkin terabaikan dan ada banyak lagi kemungkinan yang membuat kita salah di sana. Pengalaman ini baru setetes air dari maha luasnya lautan. Begitu pesan salah satu guru pamong di sana. Sebuah kalimat sederhana yang memang benar adanya.

Saya dipaksa mengusap mata kali ini.

Semoga kesalahan yang sempat kami perbuat di sana tak lantas membuat kenangan buruk yang tersimpan lama dalam hati. Terimakasih Bunda Fitri MZ dan rekan-rekan guru di SMPN 71. Ini pengalaman yang luar biasa. Pasti saya kembali lagi ke sana suatu saat nanti.
Semoga kesuksesan selalu menyertai kita.:)

Jakarta, 131213.


- Salam - 

Selasa, 10 Desember 2013

DUKA


Dramatis. Tapi ini bukan sebuah drama melainkan tragedi ketika sebuah rangkaian gerbong kereta api beradu kekuatan dengan sebuah truk pengangkut bahan bakar minyak sebanyak 24.000 kiloliter. Tapi bukan karena kuatnya kereta menghantam truk tersebut, melainkan karena tanggungjawab seorang masinis, teknisi, beserta asisten masinis di dalamnya yangn membuat saya merinding. Betapa tidak, mereka berkorban nyawa untuk memberikan lebih banyak kesempatan hidup untuk para penumpangnya. Padahal kesempatan untuk lekas keluar dari rangkaian gerbong itu jelas betul terbuka lebar.

Penuturan yang begitu jujur dari salah satu korban yang selamat membuat siapapun yang mendengar kisah ini akan sangat bangga terhadap mereka.  Syuhada jelas menjadi konsekuensi atas tanggung jawab profesi yang begitu besar sampai detik nafas yang terakhir bagi mereka.keegoisan itu pasti ada pada setiap orang, tapi entah firasat apa yang membuat mereka memilih untuk altruis hebat hingga mengorbankan kehidupannya sendiri. Sebuah teladan yang akan sangat sulit kita temukan di tengah puncak keegoisan manusia kota yang begitu tinggi. Semoga tempat terindah telah membuat tenang kalian di sana bersama dengan korban-korban lainnya yang tak sempat menghindari maut. Amiin.




Senin, 09 Desember 2013

Hakim


Itu artinya masih ada satu lagi kemungkinan hakim yang akan datang padaku. Aku tak menampakkan diri beberapa hari ini. Bukan karena aku takut pada hakim yang sewaktu-waktu datang ke rumahku. Pikiran pun sudah bermacam-macam rupa untuk untuk mendeskripsikan siapa hakim itu, barang apa saja yang dibawanya, hingga para pengawal yang mengamankan setiap jengkal langkahnya. Oh tidak. Perkaranya adalah aku tidak pernah tahu siapa dia yang akan menjadi hakim atas kasus ini. Bahkan aku tak pernah mendapat penjelasan tentang kasus yang katanya telah aku perbuat. Media-media masa mengabarkan dengan begitu menggebu-gebu kasus yang ternyata sama sekali tak penting ini. Soal kepercayaan dan penghianatan. Tak penting karena semakin banyak orang menganggap materi jauh lebih dari soal hati dan nurani. Materi untuk bertahan dan menyerang. Sementara hati sekadar meminta belas kasih. Menyedihkan. Tapi rupanya ketidakpentingan inilah yang justru menarik para pemburu berita.

Korban menjadi terdakwa. Bayangan bui dan cambuk sudah berkali-kali mampir dalam setiap malam. Kini penantian semakin dekat. Rumah semakin sering didatangi orang-orang yang tak aku kenal. Beruntunglah aku hanya mendapatkan ceritanya dari tetangga yang menyampaikan pesan kepadaku. Setelah pesan-pesan tetanggaku itu jatuh ke kepalaku, aku menjadi semakin curiga dengan setiap orang. Laku aneh pun mulai menjadi kebiasaan. Soal kesehatan tak lagi jadi kebutuhan. Aku hanya memikirkan rasa aman yang direnggut oleh berita-berita yang hipokrit, kamera-kamera yang menusuk, hingga pada mulut-mulut yang tak henti-hentinya mencabik-cabik kebebasan gerak langkahku, bahkan di dalam rumahku sendiri.

 Ruang kesadaran berubah menjadi ruang imajinasi. Ruang imajinasi telah melebur menjadi ruang gossip ibu-ibu murahan. Tak tersisa lagi ruang untuk sekadar memicingkan mata ke teras rumah. Tak tersisa lagi ruang untuk mengintip rumahku sendiri. Aku dipasung zaman. Menjadi manusia dengan seribu pasang bola mata yang seolah bertindak seperti kamera pengintai. Setiap pasang mata adalah mata-mata yang harus saya hindari. Aku kehilangan keberanian untuk menatap ke depan. leherku kehilangan tenaga untuk melihat langit yang maha tinggi. Oh betapa besar derita orang biasa sepertiku.

Aku sudah tak tahan lagi menahan diri dalam pengawasan seribu mata di sini. Aku kecil yang dilindas kekuasaan dan kedudukan. Aku punya mulut tapi dibungkam. Aku punya kaki tapi dipasung. Aku punya tangan tapi diikat. Aku punya otak tapi digebiri. Aku punya keluarga tapi ditakut-takuti. Aku punya saudara tapi diancam mati. Aku punya kawan tapi kini menjadi lawan karena hasutan. Aku punya mata tapi dibutakan. Aku punya hak tapi direnggut. Aku punya suara tapi dibisukan. Aku mendengar tapi ditulikan. Aku merasakan tapi mati rasa karena tekanan. Aku hanya punya hati sekarang, yang tak bisa kau bohongi. Hati yang berkata benar untuk kebenaran. Hati yang berkata jujur untuk kejujuran. Hati yang menunduk untuk kesalahan. Hati yang tegar karena penderitaan. Hati yang masih bisa memaafkan.


Bersambung…
Puas. Perihal hasrat yang harus segera diselesaikan. Tanpa pemenuhannya adalah sebuah tekanan sekaligus siksa batin yang menyedihkan. Pilihannya kadang antara menyenangkan diri atau menghukum diri. Menyenangkan diri ketka sebuah keinginan tersalurkan. Konsekuensinya pada saluran yang bahkan bisa jebol menahan gempuran hasrat yang berlebih, atau pilihan sakti lainnya adalah derita untuk penerima hasrat. Barangkali dalam hati setelah hasrat itu tersalurkan semua orang akan berkata dengan degup jantung yang urung berhenti. Mampus kau! Kemudian tak lama setelahnya dia akan mengakui penyesalannya dengan tertutup. Semacam perenungan untuk mencapai titik katarsis. Selang tak lama kemudian lupa dan hilang.

Saya tak sedang bermimpi atau mengangan sesuatu apapun. Tak ada juga keinginan yang buru-buru hendak saya capai selain mencoba menghayati cara memberi dan menerima dengan cara yang terbaik. Apa yang telah maupun akan saya terima adalah bekal yang berharga sebelum saya memberikan sesuatu kepada orang lain. Emosi tidak selamanya mengandung nilai yang cacat. Ada celah-celah pesan yang sebenarnya terselip diantara cara biacara yang semakin cepat, mulut yang mengumpat tanpa henti hingga gesture tangan yang terlihat semakin alami memainkan benda apa saja di sekitarnya. Keinginan ke dua yang ingin segera saya salurkan adalah memuat kata-kata tak berguna ini pada rumah pribadi saya. Tak peduli siapa hendak berkomentar apa tentang ini karena sampai dengan saat ini saya masih meyakini itu adalah cara terbaik untuk menyalurkan keinginan yang sederhana. Tanpa mencabut harga diri orang lain, tanpa biaya mahal, tanpa memalukan diri sendiri, tanpa mengangkat kesombongan sebagai alibi dasar membuat orang lain kecil, tanpa kedudukan untuk memerintah, tanpa kekuasaan untuk mengatur dan tanpa kekerasan untuk menindak.

Tak banyak pasang mata yang akan mengintip rumah orang lain. Prinsipnya sama, karena mengintip adalah suatu hal yang tabu. Jadi membaca pun adalah sebuah kegiatan yang tidak wajar dan harus dicurigai.
Ada hakim-hakim yang hanya berlaga label sarjana tanpa hati dan nurani. Sekali lagi bukan untuk memelasi dan merasa iba pada terdakwa. Tapi melaslah pada korban yang telah terlanjur menjadi korban dan tak bakal kembali pulang menjadi sesuatu yang utuh lagi. Ahh nurani tak patut buat diplintir dan diimprovisasi. Biarkan dia ada untuk menerima dan memilih sendiri nasibnya. Seperti sebuah tulisan yang akan mendapatkan predikat sebagai anak haram, sampah hingga kotoran oleh pembacanya. Semua tak pernah aku perkarakan karena keinginan telah terselesaikan. Tak perlu lagi mengundang akses opini untuk menghibur diri karena setelah ini pasti ada keinginan lain yang segera meminta saluran pembuangannya.


Saya membenci orang-orang yang tak mau mengakui kesalahannya. Saya membenci juga orang-orang yang menajiskan kepercayaan yang telah saya berikan. Saya membenci kedudukan tinggi yang selalu menekan siapapun yang di bawahnya. Saya membenci orang-orang tak tahu apa-apa berbicara hingga berbusa-busa. Saya membenci kata-kata bijak yang tak dibuang pada tempatnya. Maka katakanlah dengan jujur tanpa ditutup-tutupi. Saya tak butuh kesenangan yang semu. 

AKSES

Akses. Jalan untuk memudahkan sebuah langkah panjang. Perihal sedikit yang sering dilupakan hingga kebingungan menjadi lingkaran yang sulit untuk dipecahkan. Sama halnya dengan pribahasa tikus mati di lumbung padi. Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mengapa bisa terjadi demikian? Jawaban simpelnya adalah karena tak ada akses untuk menjangkau makanan tersebut. Seberapapun besar dan banyak makanan yang tersedia di dekat kita kalau kita tak punya akses untuk mendapatkanya maka sama halnya kita menunggu kematian. Saya tak hendak menyamakan kita dengan tikus. Tapi nasibnya akan sebodoh tikus ketika banyaknya peluang di sekitar kita namun hanya sebatas penglihatan dan kemudian hilang.

Pentingnya akses untuk menggapai sebuah tujuan adalah sebuah kebutuhan. Sampai-sampai orang begitu rela kehilangan harga diri untuk “mengemis dan meminta” hanya untuk sebuah akses.  Mereka yang beruntung memanfaatkan jaringan nepotisnya untuk akses tersebut. Yang kurang beruntung hanya bisa bersiap menunggu kematian menjemput. Yang lain lagi memanfaatkan segala cara untuk mendapatkannya. Dari mulai dukun sakti, paranormal, orang pintar,guru spiritual,  professor hingga tukang pukul dikerahkan untuk mendapatkan akses. Cara yang terakhir biasanya lebih banyak menjadi pilihan karena alasan pribadi yang lemah tapi berkecukupan secara materi. Cara baik ditempuh oleh orang-orang yang baik. Cara yang buruk dipilih oleh orang-orang yang buruk. Apapun cara yang ditempuh semuanya untuk satu tujuan yang sama, akses.

Di sini tidak berlaku kedudukan yang sama. Justru kedudukan dan kekuasaan sangat menentukan. Maka wajar saja ketika di bangku sekolah dasar dulu bahkan hingga sekolah menengah berlaku kalimat bijak tempat duduk menentukan sebuah hasil yang dicapai. Anak-anak pun berlomba-lomba untuk datang lebih pagi dari yang lain untuk sekadar memilih kedudukan yang paling strategis secara pengawasan. Sadar ataupun tidak itulah realita yang pasti kita sama-sama amini. Sebegitu pentingnya akses hingga orang mati terbunuh karenanya atau satu tingkat yang lebih beruntung dibawahnya adalah gila.
Padahal kebahagiaan sebagai tujuan hidup tidak bisa didapat hanya sekadar mendapatkan akses. Akses kebahagiaan yang paling sederhana adalah memberikan akses kebahagiaan yang kita punya sekecil apapun untuk orang-orang disekitar kita.



Kamis, 05 Desember 2013

Menatap optimisme di penghujung PKM


Mengawali dengan optimisme yang sama, mengakhiri pun dengan semangat optimis yang sama. Nah yang akan tertulis ini adalah proses berjalannya. Ada keoptimisan yang tetap terjaga, tapi juga ada keprihatinan (bukan sekadar mengucap saya turut prihatin ya,hehe). Tapi saya berusaha membuatnya berimbang antara rasa optimis yang dibangun sejak awal hingga menjaganya sampai dengan batas waktu memutuskan hubungan mitra ini. Pengalaman pasti didapat. Tak semuanya memuaskan, tapi ada juga yang enggan melepas, barangkali ada juga yang bersorak gembira karena taka da lagi Pak Imam yang selalu marah-marah di depan kelas. Tapi mungkin ada juga yang kecewa karena tidak bisa melihat lagi pak Imam kepanasan sambil mengusap keringat yang terjun bebas dari pipinya. 

Jujur saya memang senang bisa melepas dan menyelesaikan tugas ini pada akhirnya. Munafik juga kalau saya berpura-pura tetap ingin bertahan. Bukan karena tak mau tapi karena masih banyak hal menanti harus yang saya selesaikan juga setelah PKM ini. Anak yang menyebalkan adalah hal yang wajar, tapi masalahnya menjadi hal yang tidak wajar ketika sifat yang sama dilakukan secara kolektif. Jujur saja itu yang belum bisa saya selesaikan sampai dengan saat ini. Ada beban antara tidak mau disebut sebagai guru yang hanya suka ceramah dan marah-marah dengan cara untuk mengondisikan kelas yang kondusif. Lagi-lagi anak-anak, punya tradisi yang sama pada usia menjelang remaja.

Berat sebenarnya meninggalkan anak-anak dengan kekikukan yang masih sama bahkan ketika diajak untuk menuliskan pengalaman keseharian mereka. Rasanya mereka sulit sekali bahkan hanya untuk merangkai kata dan kata menjadi sebuah kalimat. Begitupun ketika kelas bermain drama berlangsung. Keaktifan mereka juga belum tersalurkan secara maksimal di dalam setiap peran yang mereka bawakan. Ini adalah cermin, jadi saya pantas mengoreksi diri.

Sekarang tinggal sisa-sisa berkas yang harus kembali saya kumpulkan untuk urusan birokratis kampus. Bayangan anak-anak segera menjadi masa lalu. Indah pada saatnya nanti.

Hari ini pun telah menjemputku untuk segera tinggalkan mata-mata kalian yang penuh rasa ingin tahu.  Jujur saja tiba-tiba ada kegugupan sekaligus rasa khawatir yang sama ketika harus ada kata perpisahan, termasuk dengan kalian. Tapi telah menjadi jalan yang sama dimanapun bahwa setiap pasangan pertemuan adalah perpisahan. Hari ini saya kikuk bertemu kalian bukan karena saya takut bertemu kalian atau belum menyiapkan materi untuk belajar. Kegugupan itu ada mengikuti momen yang akan segera berakhir. Ada pesan dan kesan yang harus segera saya tuntaskan dengan kalian. Setidaknya saya akan merasa senang ketika ada perubahan nyata ke arah yang positif setelah kita tidak bersama-sama lagi.

Saya bahkan pernah menulis sebuah surat pink untuk orang yang dulu pernah saya sukai. Tapi apa yang saya tulis sekarang ini jauh lebih mengenang daripada surat cinta yang pertama itu. Saya bukan siapa-siapa. Hanya orang yang kebetulan diberi kesempatan untuk bertemu kalian di sini hanya untuk satu tujuan pengalaman. Saya mendapatkan pengalaman yang berharga dari kalian. Semoga kalian juga mendapatkan pengalaman yang sma berharganya dengan apa yang sama dapatkan bersama kalian. Bahkan jauh lebih berharga daripada sekadar cara mengajar saya di kelas yang mungkin aneh dan tidak jelas. Ambil yang teladan yang baik dari saya dan tinggalkan contoh yang buruk dari saya. Sampai dengan saat ini saya masih menyakini bahwa kalian memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari apa yang kalian punya sekarang. Kalau bisa menjadi yang terbaik mengapa harus menunda. Kalau ada contoh yang nyata-nyata memotivasi kalian mengapa harus mengabaikan. Kunci dari kemenangan adalah semangat meraih apa yang dicita-citakan. Kalian mungkin tidak akan mendapatkan hasilnya sekarang secara langsung. Tapi di masa-masa yang akan datang mungkin manfaat itu baru bisa kalian rasakan. Berpikir positif dan belajar menerima saran dan pendapat orang lain. Saya juga sama seperti kalian dan anak-anak yang lain. Ada kelemahan, ada kemalasan, ada keburukan tapi kita semua punya kekuatan, punya semangat, punya kelebihan untuk menjadi pribadi yang terbaik.

Ingatkan selalu pada diri sendiri juga untuk tak menjadi pribadi yang angkuh dengan ilmu dan pencapaian kalian. Tak ada pantasnya menyombongkan apapun yang kita punya. Buka mata, buka hati dan buka pikiran bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang jauh lebih hebat dari kita sekarang. Ada saatnya kalian sendiri dan ada saatnya nanti kalian harus bekerja bersama-sama dalam tim. Kurangi keegoisan untuk membentuk tim yang solid. Ingat pesan yang saya selipkan ketika kita berhitung di dalam kelas.
Semoga kesempatan lain segera membuat pertemuan kita lagi di waktu yang akan datang.

Ada kalian:  8-6 & 82

SMPN 71 JAKARTA

Senin, 25 November 2013

Jauh panggang dari api

Tidak penting bagi saya soal persiapan yang begitu macam kalau pada akhirnya tak terlaksana juga. Apalagi tipe serupa superpengawas yang hanya meminta jatah perbekalan sebelum per jalanan panjang. Ini pendidikan sudah terlalu akut dengan nilai-nilai kognitif yang dituhankan. Betapa teori-teori tentang kecakapan hidup dalam hubungan sosial berhenti pada batasan konsep dan diskusi. Pendidikan mandeg dan terjebak pada egois nilai-nilai yang menjadi target belajar. Bagi saya nilai adalah kejujuran, bukan soal tinggi rendahnya angka yang didapat tapi tentang keterampilan yang dia punya. Ini tentang nilai-nilai altruis yang kemudian mulai harus ditumbuhkan dan kepekaan sosial yang mulai diperhatikan.

Saya tercengang membaca sebuah artikel tentang kelompok masyarakat tertentu yang memosisikan hidup dan kehidupannya dengan begitu matangnya. Bahkan sampai pada masa dalam kandungan dan rahim ibu sekalipun. Betapa nilai-nilai kehidupan telah diajarkan oleh orang tua bahkan sebelum kelahirannya ke dunia. Tapi yang saya temukan pada koran-koran dan berita-berita di televisi nasional akhir-akhir ini di bumi Indonesia tidaklah demikian. Bayi-bayi merah terbuang atau mungkin lebih banyak karena sengaja dibuang diberitakan dimana-mana. Ibu-ibu muda yang mengandung di luar nikah, hingga praktik aborsi legal maupun ilegal, terbuka maupun sembunyi-sembunyi mulai terbongkar ke publik. Betapa hidup dan kehidupan tak lagi sebagai sebuah amanat yang penting dari Tuhan.

Sementara itu tengoklah sejenak ke sebuah klinik, puskesmas atau rumah sakit terdekat.  Anak-anak meratap meminta kesembuhan atas sakit yang sedang dialami orang tuanya. Ibu-ibu muda bersujud bersama tangis pilu melihat suaminya yang terkapar. Hingga orang tua yang menangisi anak semata wayangnya yang sakit terjangkit DBD. Semuanya meminta hal yang sama kepada Tuhan yaitu kehidupan. Sebuah hal yang ironi sekaligus paradoks dalam ruang yang sebenarnya berdekatan. Antara kehidupan yang dianggap penting dan tidak penting.

Tak hanya pada soal kelahiran bahkan sampai hal paling kecil sekalipun “mereka” sangat memperhatikannya. Asap rokok, sebuah hal kecil yang disepelekan di bumiku Indonesia. Tak hanya sebagai penghasil karbonmonoksida, racun yang mematikan bagi manusia tapi juga mengandung nikotin dan zat-zat lain yang tak kalah destruktif terhadap otak manusia. Mereka sangat menghindarinya. Kita sudah tahu dampak buruk dari itu semua. Tapi kita “ndableg” menghisapnya juga. Mereka percaya bahwa dosa asap rokok adalah dosa turunan yang tak akan pernah berhenti hitungannya. Maka apa yang terjadi di sini? Anak-anak kecil bahkan balita beberapa kali bahkan nongol di televisi sebagai perokok aktif yang tak sekadar menghabis satu atau dua batang rokok setiap harinya. Anak-anak menjadi korban prilaku orang tua yang tak peduli pada kehidupan dan kesehatan. Prinsip anak adalah aku kerjakan apa yang orang tuaku ucapkan dan kerjakan. Sederhana tapi terabaikan. Maka wajar saja kalau muncul pribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Orang tua yang ndableg  akan menghasilkan anak-anak yang ndableg juga.


Tiba-tiba saya teringat pada sebuah pidato menteri pendidikan dan kebudayaan dalam rangka peringatan hari guru nasional kemarin. Katanya dalam sambutan pidati tertulisnya, kita harus menyiapkan generasi emas penerus bangsa pada tahun 2045 mendatang, menyambut 100 tahun kemerdekaan Negara. Apa jadinya generasi emas itu jika soal kebutuhan untuk hidup saja bukan menjadi sebuah kebutuhan yang penting dan mendasar. 
Barangkali bukan emas 24 karat yang dilahirkan. Tetapi emas yang berkarat

Sabtu, 23 November 2013

Singkat

Pagi ini salah satu anak didik ada yang jujur berkata, “Tulisan Bapak di blog kaya buku harian pak.”
Terus saya cuma jawab, “Iya ngga apa-apa.”
“Kalau saya sih mending nulis di buku harian pak.”
“Oh iya bagus itu yang penting ada ruang untuk berekspresi.”

Kami meninggalkan percakapan singkat itu tanpa komando. Ibu kantin langganan saya sudah siap ditangannya lontong sayur lengkap dengan kerupuk di atasnya. Seperti biasa saya duduk menikmati sarapan berkuah pagi ini. Kami pun berlalu.

Tinggi:untuk melihat ke bawah

Puncak tak selamanya menjadi batas tertinggi. Ekspektasi yang terlalu tinggi adalah salah satu penyebab tergelincirnya kepuasaan pada batas yang biasa-biasa saja. Saya teringat pada beberapa kata yang pernah saya tulis sebelum ini. Tidak perlu jauh kau daki gunung-gunung hingga puncak tertinggi bumi jika pada akhirnya kau hanya akan menemukan alasan untuk melupakan penciptamu sendiri. Wajar saja jika lelah kaki berjalan merajai tubuh yang semakin bergetar karena jarak yang tiba-tiba ekstrim. Kaki-kaki menelusuri lembah-lembah yang curam, bertahan dan terus berjalan hanya untuk titik tertinggi daratan ini. Tapi tak sesederhana itu. Di sini adalah tempat berbagi, tak sekadar beban atau curahan perasaan. Lebih dari itu adalah tentang hidup untuk saling menghidupi bukan malah membebani. 

Bukan soal ketidakikhlasan yang akan diungkap, tapi soal tanggungjawab atas pribadi yang landai dimakan kaki-kaki yang keram. Puncak pun menunggu klimaks yang tak terduga menembus batas-batas senja bersama kaki-kaki yang kaku, badan yang menggigil, topi yang terbang melayang, kawah yang curam dan api yang menjadi teman tanpa sadar.

10 November 2013

Senin, 28 Oktober 2013

85 Tahun Sumpah Pemuda


Esok adalah 85 tahun sumpah pemuda. Kalau seseorang  saat itu menjadi bagian dari para pemuda yang mengikat janji persatuan nusa, bangsa dan bahasa maka sekarang beliau pasti sedang melihat anak cucunya menikmati hasil perjuangan mereka. Tapi sepertinya seseorang itu tidak akan puas dengan keadaan sekarang. Lihatlah kita memang sudah merdeka dan bersatu. Tapi kemerdekaan itu ternyata menciptakan model baru penjajahan dari rakyatnya sendiri. Bukan rakyat sebenarnya kalau dia menjadi antek dari penjajahan baru itu. Kedegilan macam itu hanya menjadi sampah dari rumah sendiri. Kedegilan yang diciptakan oleh oknum-oknum yang antinasionalisme.

Seharusnya siapapun tahu betapa persatuan dan kemerdekaan adalah harga yang hanya bisa didapat dengan kerja paling keras, mengorbankan harta, raga dan jiwa sekalipun. Tapi kau kehilangan harga diri sekarang. Sesuatu yang menjadi barang terlarang untuk dijual kepada siapapun. Kau jual harga diri berarti kau jual kemerdekaan itu!

Tak ada lagi memang pemutaran film-film perjuangan yang diputar secara masal di televisi, bahkan televise milik Negara sekalipun. Agaknya menjadi tidak penting untuk mengulang-ulang film yang sama setiap tahun, pikir mereka. Padahal logika mengatakan setiap ada ribuan pasang mata baru yang terlahir di bumi Indonesia. Persoalan sejarah bukan monopoli orang tua saja. Anak-anak kecil tak tahu sejarah bangsanya bagai terlahir tanpa pernah tahu siapa ibu dan bapaknya. Sehingga ketika melihat sosok orang yang berperawakan tinggi, tegak, putih dan berambut pirang dia akan selalu berpikir untuk tunduk padanya. Kita sama-sama diciptakan Tuhan tanpa kewajiban untuk saling menyembah kecuali tolong menolong.
Sejarah seharusnya mampu meningkatkan rasa bangga dan cinta  terhadap pribadi dan bangsanya. Tapi tanpanya?

Jakarta, 27 Oktober 2013

Minggu, 27 Oktober 2013

MINGGU RASA HARU

Minggu yang melelahkan tapi membahagiakan. Pertama bukan saja karena aku menjadi salah satu orang yang terlibat dalam pemenangan lomba sosiodrama tingkat SMP se-jabodetabek di museum sumpah pemuda kemarin. Tapi juga karena aku terlibat dalam dua panggung yang berbeda hari ini, yaitu panggung festival musik jurusan ekonomi dan panggung apresiasi jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Aku tahu ini tidak lantas membuatku puas sampai di sini karena kesibukan bukanlah alat ukur untuk menentukan keberhasilan. Tapi setidaknya aku mendapatkan perasaan senang sebagai konsekuensi rasa lelah dua hari ini.

Esok aku harus mencari celah lain untuk mendapatkan kemenangan yang lain. Aku tak tahu pasti Tuhan akan memberiku kesempatan apa lagi. Tapi setidaknya kemungkinan kesempatan yang besar pasti sudah disiapkan. Aku tinggal menyambutnya saja.

Jakarta,24 Oktober 2013

18:37

PAKET ANTARA KESIAPAN DAN NASIB BAIK

Rabu itu adalah hari pelaksanaan lomba sosiodrama antarsekolah menengah pertama se-jabodetabek yang diselenggarakan oleh museum sumpah pemuda, Jakarta. Sosiodrama adalah istilah yang jujur baru pertama kali aku dengar. Yah dari namanya sih ngga terlalu asing, kurang lebihnya semacam drama yang berkaiterat dengan social masyarakat. Kebetulan momentum yang diambil adalah tentang sejarah sumpah pemuda.

Surat yang diantar oleh guru pamongku tertulis tanggal 7 Oktober 2013, namun aku membacanya tanggal 9 Oktober 2013 setelah Ivana dan Yuliana, rekan PKMku di sekolah memberitahu. Hari itu berarti tepat dua minggu sebelum pelaksanaan lomba. Mendapat tawaran untuk mengumpulkan sekaligus melatih anak-anak aku antusias menerimanya, begitu juga dua rekanku. Aku hanya berpikir ini pengalaman baru yang dikirimkan Tuhan kepada kami di sini dan mungkin tak akan kami dapatkan setelah selesai masa tugas menjadi guru “relawan” di sekolah ini. 

Beruntunglah Tuhan membukakan pintu izin kami untuk menjadi peserta dengan nomor urut 6 di sana. Setelah mengalami banyak perubahan pemain dan konsep pasca gladi resik lomba, akhirnya dengan perasaan seadanya kami berangkat Rabu pagi pukul 08:10 wib. Banyak anak yang bertanya.
 “Pak kita naik apa ke sana?”
Saya jawab aja tanpa rasa bersalah. “Kita naik bis nanti.”
“Pak katanya naik bis?”
“Iya,tuh sopirnya udah nungguin?”
“Jadi mana bisnya?”
“Itu. Mini bis.”
“Haha..Bapak, itu kan mikrolet.”
“Kapan lagi naik mikrolet bareng-bareng? Yang penting asik rame-rame.”
“Oke deh Pak.”

Kami pun melaju 15 orang dalam sebuah mikrolet ditambah sopirnya tentu. Beruntunglah yang ngga dapat jatah kursi duduk, karena mereka akhirnya tahu arti pentingnya berbagi untuk memangku temannya. Mikrolet melesat dengan kecepatan sangat lambat melewati jalan Percetakan Negara yang padat. Setengah jam kemudian kami sampai di bakal TKP.
Pak ini sudah sampai?”
“Iya sudah sampai. Itu kita nanti di sana. Di gedung yang pagarnya ada kain merah putih.”

Kami turun tepat di depan gerbang masuk museum. Mikrolet melaju lagi bersama kertas biru bergambar I Gusti Ngurah Rai. Kami langsung masuk ke dalam area museum dan melakukan pendaftaran ulang. Sambil mengunyah kudapan yang dikasih panitia seorang siswa bertanya lagi dengan khawatir.
Pak mereka pakai biola!”
“Ngga usah terpengaruh dengan sekolah lain. Main aja kaya latian kemarin. Tampilkan aja yang terbaik. Ngga perlu mikir menang atau kalah.”

 Setelah itu kami berdoa bersama dan acara pun dibuka oleh ketua museum. Ternyata seleksi alam masih terjadi lagi di sini. Dari 10 sekolah yang mendaftar, hanya ada  empat sekolah yang memenuhi janjinya di hari pelaksanaan. Jadi perasaan was-was sedikit berkurang. Tapi tetap saja anak-anak yang baru pertama kali ikut lomba, semuanya panik luar biasa. Tapi cuma sesaat. Sampai dengan akhirnya mereka tampil juga ke depan.

Di sinilah dimulai…
Meskipun mendapatkan nomor urut 6 tapi nyatanya mereka tampil di urutan ke dua. Kendala teknis. Anak-anak memang belum terbiasa untuk menanggapi sesuatu yang dilihatnya lebih bagus dari apa yang dia punya. Terlebih setelah mereka melihat penampilan kelompok pertama yang memang tampil dengan cukup meyakinkan. Hampir semuanya aku lihat menjadi berkurang semangatnya. Aku hanya berpesan, “Kalian punya kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik.”

Mereka pun tampil maksimal hari itu. Mereka menang secara semangat dari kelompok-kelompok lain. Tapi sayang dari segi konsep yang dibuat bersama-sama olehku, Ivana dan Yuliana memang masih kalah. Satu kelompok memang terlihat lebih dominan dari yang lain. Mereka anak yang sudah terbiasa dengan kegiatan drama atau teater di sekolah. Jadi aku anggap wajar mereka dominan. Berbeda dengan anak-anak yang aku bawa hari ini. Mereka sama sekali tak aktif dalam kegiatan drama di sekolah maupun di luar sekolah. Beberapa anak memang katanya pernah main drama, Cuma seadanya saja di ruang-ruang kelas. Tapi bagiku mereka menunjukan perkembangan yang cukup signifikan sekalipun mereka semua belajar dari awal.

Singkat cerita mereka mendapat predikat kelompok terbaik ke dua. Seperti juga yang telah aku perkirakan. Luar biasa. Wajah-wajah mereka pun bebas dengan senyuman terlebar. Berkemas dari perlombaan dengan membawa sebuah map berisi sertifikat penghargaan dan plakat kemenangan. Anak-anak pun pulang dengan kepala tegak. Namun aku mengingatkan untuk selalu menundukkan kepala, tidak cepat merasa puas, apalagi bersombong dengan hasil yang didapat hari ini. Kalian bisa lebih baik lagi, dengan ataupun tanpa kami sebenarnya.

“Berikan yang terbaik yang kalian bisa untuk orang tua, guru, sekolah dan teman-teman kalian semua.”

            Jakarta, 23 Oktober 2013
Salam,
Imam udin-ivantia-yuriana

Selasa, 08 Oktober 2013

Menanam dan memanen

Menanam dan memanen. Dua kata yang berpasangan dengan tanpa paksaan. Begitupun dengan apa yang aku lakukan sekarang. Maka aku akan mendapat hasilnya, sekarang ataupun nanti. Sama halnya dengan apa yang aku kerjakan dulu dan sekarang aku mendapat hasil dan konsekuensinya. Kenakalan yang aku pandang wajar ternyata menunjukkan hal yang sebaliknya di mata orang lain. Memandang wajar pada suatu hal ternyata belum tentu sama dirasakan sama oleh orang lain. Barangkali aku dulu nakal maka sekarang pun aku harus berhadapan anak-anak yang nakal pula. Seperti hukum rimba atau hukum alam. Siapa yang bersalah dia yang berdosa.
Perasaan memang bisa tidak jujur dan seringkali menipu, menyesuaikan dengan kebutuhan. Seringkali perasaan salah ditekan sedalam-dalamnya pada titik terjauh. Tapi seringkali pula perasaan itu terapung kembali pada alam kesadaran yang nyata. Efek yang muncul kemudian adalah perasaan takut dan khawatir yang berlebihan. Sekali lagi karena kau membohongi diri sendiri, berusaha menghibur diri dan membuat senang. Tapi efek sesaat yang didapat. Kemudian kembali pada perasaan yang sebenarnya.
Aku merasa wajar, dulu. Tapi aku mendapat ketidakwajaran sekarang. Ini berarti ada kesempatan besar yang akan membuatku lebih dewasa dari sebelumnya.

Ada jalan untuk orang kecil menjadi besar. Ada kesempatan untuk mengubah pahit menjadi manis pada waktunya nanti. Semuanya adalah rencana Tuhan untuk membalikkan keadaan yang tertekan menjadi leluasa. Tapi bukan karena kekuasaan yang bebas dan tanpa batas. Melainkan kekuasaan berbekal moralitas yang matang. Aku mau hidup dan menghidupkan.

Minggu, 06 Oktober 2013

Wanita


Wajar saja jika banyak orang mengatakan bahwa rambut seorang wanita adalah mahkota. Mahkota adalah lambing yang agung, tinggi dan suci yang dengan atau tanpanya seseorang bisa berubah 180 atau bahkan 360 derajat. Maka wajar pula jika agama tertentu sangat melindungi bagian dari tubuh wanita ini karena kesuciannya.

Barangkali tak banyak wanita yang menyadari betapa bagian dari anggota kepalanya itu adalah pemikat orang-orang di sekelilingnya. Meskipun tak semua pria memandang itu adalah bagian mutlak untuk menentukan apakah seorang wanita dikatakan cantik dan sebaliknya. Tapi sebagian besar mengatakan “ya.” Aku sendiri tak bisa mengelaknya. Ada perasaan alami yang muncul ketika melihat wanita dengan rambut terurai di kepalanya. Terlebih jika rambut yang teruarai itu sengaja dirapikan secara terbuka. Sebaiknya wahai kau kaum hawa benar-benar bisa menjaga kecantikan yang telah dianugerahkan Tuhan buatmu. Tidak semua wanita seberuntung kamu. Jadi peliharalah, bukan malah diobral gratis untuk mata-mata yang tidak semuanya bisa menjaga diri.


Kamis, 03 Oktober 2013

Emosi peristiwa


Kau akan tahu pentingnya sebuah peristiwa terjadi ketika emosimu benar-benar terlibat di dalamnya. Selama emosimu belum juga berada di dalam peristiwa tersebut maka jangan harap kau akan mendapatkan kenangan dari peristiwa itu. Bahkan sambil lalu saja gambar-gambar akan terlintas kemudian hilang dan lupa. Begitu pentingya emosi ada di dalam peristiwa seperti kadar garam di lautan. Tanpanya lautan adalah hamparan air tanpa rasa yang bergelombang di tepiannya saja.

Emosi bukan sekadar marah-marah. Tapi lebih dari sekadar hal bodoh itu. Ada banyak pengorbanan tenaga maupun pikiran yang terbuang karena momentum. Ada banyak cerita yang akan selalu indah ketika kau berniat mengulangnya. Suatu ketika kau pasti merasakannya juga. Semoga segera perasaan itu menjemputmu. Aku pun akan membuat cerita lain dengan emosi yang tak jauh berbeda dari yang aku rasakan sekarang. Kita akan berjumpa di sana. Pada puncak-puncak kenangan yang takkan pernah terpikirkan sebelumnya.

Jakarta, 3 Oktober 2013

18.59

MALAS DAN BERPURA-PURA


Baru kali ini saya temukan kebodohan karena kemalasan kolektif yang begitu tinggi di sebuah ruang tempat belajar. Apakah saya yang terlalu menganggap mereka cerdas atau mereka memang lamban. Tapi kepura-puraan jauh lebih tampak daripada keseriusan seorang anak tengil yang hobi bermain. Malas. Akhirnya satu kata itu yang menjadi akhir simpulan. Kemalasan yang dilakukan bersama-sama menjadi bagian kebiasaan yang sudah dianggap wajar. Datang sekadar menghindari ocehan orang rumah yang rebut, gang-gang yang sempit dan bau, lalat-lalat yang naik-turun di atas pagar, serta gerobak-gerobak sampah yang parkir seadanya di sisa jalan. Maka ruang belajar akhirnya menjadi sarana yang paling tepat untuk bermain, mencurahkan segala kesuntukan rumah, jalanan, serta preman rumahan.

Aku datang untuk belajar. Aku pulang membawa ilmu.  Dua kalimat yang antipati pada kemalasan karena dua alasan. Pertama, karena kedatangan mereka bukanlah bukan untuk tujuan belajar tapi membawa dan memindahkan segudang masalah dari rumah serta jalanan. Ke dua, niat yang salah membawa cara pandang yang salah pula sehingga kepulangan membawa ilmu hanyalah mitos dan mimpi yang jauh panggang dari api.

Ini masalah anak-anak pinggiran Jakarta yang juga saya yakini kemiripannya dengan kota-kota besar lainnya di sekitar kita. Bahkan bukan kota sekalipun, jika latar belakang anak memaksa mereka untuk terbiasa hidup dengan “kebusukan” , ketakutan dan kekerasan maka situasi kemalasan yang sama akan terjadi. Dari sini saya merasa beruntung karena saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis. Meskipun pertengkaran kecil orang tua, adik serta kakak adalah hal yang wajar dan biasa. Saya juga beruntung karena hidup dalam alam pedesaan yang segar dan hijau di masa-masa seperti kalian sekarang. Tapi saya jauh lebih beruntung karena bertemu dengan kalian di sini sekarang. Setidaknya saya masih percaya bahwa belajar tidak sekadar dari kebenaran saja. Kita juga bisa belajar dari kesalahan, kebodohan serta kemalasan. Tapi bukan menggeluti kesalahan, kebodohan serta kemalasan itu. Kalian salah dalam hal persepsi. Bingkai kemalasan takkan pernah membuat masalahmu berkurang apalagi hilang. Malah justru semakin bertambah dan bertumpuk.

Sekarang kalian yang tentukan, apakah kalian mau hidup terus dengan kebusukan ini atau memberi wewangian baru untuk mengganti kebusukan yang terlanjur kau selami? Tetap dengan kemalasan dan kebodohan atau berubah untuk kecerdasan mental dan pikiran?

Catatan : tulisan di atas beradu pengalaman, fiksi dan imajinasi
Jakarta, 3 Oktober 2013

17.03

Sabtu, 21 September 2013

Menjadi orang lain



Kami adalah keluarga. Tapi aku tak pernah menganggap kau adik apalagi kakak. Bagiku ketika waktu mendudukkan kita bersama-sama di hadapan orang tua kita, maka saat itu kita sedang duduk sebagai musuh bukan saudara. Semua karena kita dibesarkan dengan cara yang berbeda. Aku merasa berdiri karena kedua kakiku sendiri bukan atas uluran tangan-tangan ibu bapakku. Aku sudah bosan meminta. Jadi aku putuskan untuk mencari kehidupanku sendiri. Silakan hidupkan saudaraku yang masih butuh banyak perhatian.

      Aku dibesarkan untuk menjadi takdir rivalitas dalam rumahku sendiri. Ini agenda besar orang tuaku yang telah bosan dengan teriakan-teriakanku menjelang dewasa saat itu. Kini aku putuskan untuk berikan apa yang aku bisa untuk orang lain dengan jalan dan caraku sendiri. Aku tak lagi kenal kata euforia pribadi atau golongan. Euforia bagiku hanya ada ketika aku berbagi dengan orang lain bukan dengan orang tua, saudara atau diriku sendiri. Bagiku kebahagiaan terbesar bukanlah ketika aku bisa menertawakan saudaraku dengan sepuas-puasnya, melainkan menaklukan wajah-wajah sangar kepada senyuman paling bebas.

      Aku tak pernah menanyakan mengapa ibu-bapakku begitu sayang pada saudaraku itu. Aku terlanjur kehilangan perhatian dan rasa kekerabatan dengan saudaraku sendiri. Selalu saja batas itu begitu tampak sekalipun orang-orang tak pernah ambil pusing soal ini. Tapi aku jauh lebih tahu dari apa yang orang-orang anggap wajar dan sederhana. Hingga pada suatu ketika ibu-bapakku benar-benar memberikan hak asuh atas aku sepenuhnya kepada seseorang. Begitupun atas saudaraku. Tak pernah aku bayangkan ini semua akan terjadi. Titik tengah yang diambil oleh kedua orang tuaku sama sekali tak mencerminkan kasih sayang lagi kepada anak-anaknya. Melepas begitu saja anak-anak yang terlahir tanpa niat dan keinginan keluar rumah. Peristiwa ini adalah pengusiran pertama yang aku terima sepanjang hidupku menjelang 21 tahun. Aku kehilangan simpati bahkan kepada rahim ibuku sendiri.

      Tidak pernah aku bayangkan aku akan terbuang dari rumahku sendiri. Sementara 2 tahun setelah pengusiran halus itu aku mendengar kabar bahwa saudaraku telah kembali ke rumah. Lebih tepatnya dijemput oleh ibu-bapakku. Aku menantikan saat-saat yang sama tapi sampai dengan penantian itu hilang ditelan kekecewaan, orang tuaku  tak pernah datang. Saat-saat itu adalah hari-hari yang begitu panjang bagiku. Hidup dalam asuhan orang yang sama sekali tak aku kenal secara nomaden. Tak ada atap atau tembok yang membuat benteng dari segala udara panas, maupun dingin. Apalagi rumah permanen dengan pendingin ruang dan daun-daun hijau di terasnya. Tapi aku punya lebih banyak dari itu. Taman-taman yang aku tiduri memberiku lebih banyak kebahagiaan dari sekadar pembuangan. Dari sinila aku temukan kehidupan dan kebahagiaan hidup yang sebenarnya. Pada orang-orang nomaden tanpa kelas, strata apalagi status hidup yang tak pernah ada pada catatan sipil kelurahan.

 Hingga akhirnya aku menemukan orang tuaku di sana tanpa statusnya lagi.
Jakarta, 10 September 2013


Sepasang Mata bola


Ada deskripsi yang sama tentang keindahan. Senyuman. Tapi akhirnya semua akan bermula lagi dari awal. Pada masa ketika sosok kecil menari-nari bak angsa di tanah yang luas. Sayap-sayapnya imajiner mengembangkan daya tarik untuk siapa saja yang melihatnya. Kau mungkin bisa melihatnya juga ketika mata bertemu pandang untuk pertama kalinya. Tapi cukup berjarak untuk bisa mendekat. Tapi sebenarnya kedekatan tidak terlalu menentukan sifat indah, namun bagaimana cara menikmati keindahan yang bisa membuat perasaan nyaman itu ada. Suatu saat kau menemukan indah itu ada di sana. Tapi saat yang lain kau juga menemukan di tempat yang sama sebuah pesakitan. Lagi-lagi karena kau punya cara pandang yang berbeda di lain kesempatan.

Latar belakang. Kadang hal itu adalah motivasi utama kau mempunyai keinginan untuk menyukai atau membenci sesuatu. Semua wajar dengan bekal hasrat yang dimiliki oleh setiap pemilik ruh yang sehat. Sepasang mata bola akhirnya akan menggelinding menurut kemauannya. Kau takkan pernah menangkapnya sampai dengan kau mau untuk menjemputnya ke bawah. Karena naluri tak akan sampai membuat bola bisa melawan gravitasi dan menggelinding ke atas. Kecuali kau mau menjadi penopangnya selalu di belakang.
Sepasang mata bola jatuh pada lubang yang salah. Tenggelam dan akhirnya menghilang dalam dekapan sekalipun. Kemudian sesal menjadi teladan yang dipersalahkan.


Jakarta, 21 September 2013.

Selasa, 17 September 2013

Melihatnya lagi


Ada beberapa hal yang membuatku tak juga ingin menidurkan mata hingga tengah malam ini. Ini adalah tentang langkah-langkah yang kembali mengingatkanku pada titik romantika masa yang sulit. Antara perasaan yang tertekan karena takut mengungkapkan dan perasaan lega yang harus segera terpuaskan. Hingga pada akhirnya aku memilih pilihan yang ke dua dengan berbagai konsekuensi kemungkinan. Konsekuensi tersebut antaranya adalah fisik yang tak lagi punya ruh karena ruh kabur meninggalkan raga yang malu menampakkan kebodohan. Ke dua adalah raga yang bertambah panas tiba-tiba dan mengucurkan keringat yang dingin. Ke tiga adalah soal ruh yang begitu berpengaruh pada rasa curiga, khawatir, takut, dan menduga-duga sesuatu yang mungkin.
Pada akhirnya perasaan tertekan itu pun lepas bagai balon yang lepas ke udara langit. Seiring dengan itu ke dua tangan itu mulai bergandeng malu pada perjalanan malam. Pulang.
Malam ini aku melihatnya lagi, maka aku menulisnya.
00:22

25 Juli 2013

Bola Ping-pong


Pantas saja Iwan Fals memberi gelar bahkan untuk sebuah mata dengan bola pingpong pada wanita. Barangkali saat lirik lagu itu ditulis dia pun merasakan hal yang sama dengan saya saat ini. Atau lebih tepatnya saya yang memiliki perasaan yang sama dengannya. Nyatanya memang sulit untuk dijelaskan dengan metode keilmuann manapun, kecuali perasaan yang mungkin bisa sedikit dijelaskan oleh psikologi. Tapi psikologi terlalu jatuh pada teori-teori yang menjenuhkan. Sementara ini jelas sekali ada dalam hati setiap orang. Bagaimana mungkin sebuah bola mata menjadi menyerupai bola pingpong dalam pandangan mata orang lain? Bahkan bukan sekadar bola matapun sebenarnya banyak lagi anggota tubuh yang menjadi tampak lebih spesial dari biasanya.

Bola pingpong. Apakah Iwan punya deskripsi bayang pada mata wanita yang dilihatnya saat itu, bahwa mata yang biasa itu menjadi bola pingpong ketika bertatap temu dengan matanya? Atau hatinya yang barangkali naik turun dan memantul layaknya bola pingpong saat melihatnya sengaja ataupun tanpa sengaja. Hati kecil manapun pasti akan berbisik dengan penuh emosional kepada pemiliknya,”Dia manis.”


Jakarta, September 2013

Minggu, 28 Juli 2013

Dinamika


Kami tidak percaya lagi pada pendidikan, barangkali. Ini titik menjenuhkan jadi semua kata tak tersensor, maaf. Semakin kami terdidik semakin kami menyadari betapa tidak jelasnya pendidikan yang ditinggi-tinggikan itu. Waktu sama sekali tidak dihargai di sini. Hanya waktu sang guru yang berharga. Kami layaknya kacang yang dikupas dan di jual eceran di pinggiran jalan untuk mendapatkan uang. Kami jembatan menuju penghargaan yang absurd. Apakah pendidikan sudah serusak ini? Kami yang lahir dari bingkai kerusakan apakah akan muncul sebagai anak hilang yang terdidik dengan ketidakjelasan. Kami anak yang terasing dari hak kami apakah akan menjadi anak yang pasrah pada sang guru. Kami bukan kerbau yang manggut untuk dicucuk setiap waktu kapanpun kau mau. Kami anak Tuhan yang dititipkan untuk kau cerdaskan. Tidak dengan segala tuntutan dan kewajiban tapi juga pengertian dan pemahaman.

Engkau sang guru apakah akan menunggu anak-anakmu bergerak dalam barisan yang tak terduga? Engkau sang guru telah kebal dengan nurani yang melas karena kepala telah penuh dengan ilmu-ilmu non praktis. Duniawi yang mengancam pendidikan estetis sekalipun. Pembelajaran karakter tidak bermakna! Hanya konsep dan alibi penelitian! Mungkin sekali waktu sang guru pun harus dipindahtugaskan ke bukit-bukit kemilau di NTT atau Papua karena penelitian mereka bilang punya nilai guna. Maka di sanalah saatnya nilai guna itu dimanfaatkan. Bukan dikebumikan dalam perpustakaan-perpustakaan para borjuis. Inikah filsafat aksiologis yang digadang-gadang oleh para ilmuwan? Kemana aksi-aksi atas penelitian berlabuh?

Paradoks in melahirkan efek domino tidak hanya soal kebermanfaatan tapi juga perkara waktu yang tersita untuk “kurcaci-kurcaci” mereka di kelas. Terkadang alibi pengabdian sering menyendirikan para siswa. Katanya sih belajar mandiri. Kalau begitu untuk apa status sang guru itu? Aduh terlalu banyak pertanyaan yang muncul setelah mendapat stimulus kamuflase pendidikan hari ini. Sebagai orang yang terdidik saya sama sekali tidak ingin hal seperti ini saya kerjakan alami juga. Sejatinya ilmu adalah kebermanfaatan untuk orang lain bukan diri sendiri. Sejatinya kamipun tidak ingin meneladani contoh dan pengalaman yang absurd ini. Ini harus segera dibongkak, didobrak dan segera dikebumikan dari bumi pendidikan!


Jakarta, 3 Juli 2013

18:39 WIB

Keluar rumah


Sekarang saya mengerti tentang apa yang dipikirkannya. Tidak sedangkal yang saya kira. Ini bukan lagi sekadar gengsi atau rivalitas semata yang dipertaruhkan. Meskipun nyata-nyata keadaan sekarang tidak menguntungkan. Bagaimanapun cara cerdas itu harus kelar juga dengan sesingkat mungkin. Harga diri tidak akan pernah terjual seberapapun besarnya dengan apapun. Barangkali itulah yang menjadi prinsipnya. Sekarang saya mengerti bagaimana dulu saya dibesarkan buka hanya dalam hati tapi juga dalam sejarah. Sekali lagi mungkin itu cara salah satu cara cerdas yang dipilih. Maaf mungkin agak terhalang konteks tulisan dengan situasi anda sekarang. Saya memang sengaja menulisnya demikian.
Bahkan sampai dengan detik ini pun saya harus mengakui kekalahan itu sebenarnya dengan besar hati. Maka akhirnya saya memutuskan untuk keluar rumah dan bercerita dengan anak-anak di kampung sebelah. Ternyata di sana jauh menyenangkan daripada berdiam diri di rumah. Inilah kebahagiaan berbagi yang takkan pernah terganti dengan kegiatan apapun. Bagi saya.

Jakarta, 28 Juli 2013

16:48

Jumat, 26 Juli 2013

Bukti Kata


Ternyata kata-kata itu begitu hebat. Malam tadi aku mendapatkan bukti dari kata-kata yang keluar dari lisan seseorang. Dia begitu merendahkan diri dalam sebuah forum padahal dia punya sesuatu yang lebih daripada sekadar penurunan kualitas dan keterampilannya. Yah saya jadi teringat pada waktu-waktu yang telah berlalu sebelumnya. Kami sempat mempunyai forum lain dalam satu atap yang cukup membuatnya rendah diri mungkin. Hal tersebut dimulai dengan niatan mengevaluasi dan perbaikan. Namun karena kata-kata yang kurang bisa menghargai kerja kerasnya akhirnya kata-kata tersebut juga yang terbawa sampai dengan detik malam tadi. Semoga kita mengambil pelajaran dari hal kecil semacam ini. Saran maupun kritik itu sesuatu yang wajar. Tapi selayaknya berikan motivasi juga, tak sekadar mengungkapkan kekurangan dan ketidaksenangan ke orang lain.


26 Juli 2013 (03:42)

Rabu, 24 Juli 2013

Kesempatan yang berbeda


Ada beberapa hal yang membuatku tak juga ingin menidurkan mata hingga tengah malam ini. Ini adalah tentang langkah-langkah yang kembali mengingatkanku pada titik romantika masa yang sulit. Antara perasaan yang tertekan karena takut mengungkapkan dan perasaan lega yang harus segera terpuaskan. Hingga pada akhirnya aku memilih pilihan yang ke dua dengan berbagai konsekuensi kemungkinan. Konsekuensi tersebut antaranya adalah fisik yang tak lagi punya ruh karena ruh kabur meninggalkan raga yang malu menampakkan kebodohan. Ke dua adalah raga yang bertambah panas tiba-tiba dan mengucurkan keringat yang dingin. Ke tiga adalah soal ruh yang begitu berpengaruh pada rasa curiga, khawatir, takut, dan menduga-duga sesuatu yang mungkin.
Pada akhirnya perasaan tertekan itu pun lepas bagai balon yang lepas ke udara langit. Seiring dengan itu ke dua tangan itu mulai bergandeng malu pada perjalanan malam. Pulang.
Malam ini aku melihatnya lagi, maka aku menulisnya.

00:22

25 Juli 2013

Batas Imajiner



Maaf ini bukan soal tempat yang megah atau panggung yang indah tapi ini soal siapa yang akan melihatnya. Kita memang berbeda. Terlalu sulit untuk menyatukannya. Lagi-lagi ada batas imajiner yang terus menghalangi kedekatan kita. Kau kah itu sejarah yang panjang? Sejarah ada untuk membesarkan kita seharusnya. Tapi ini justru membuat rival yang tidak jelas ujungnya. Kita sama-sama mengakui jarak imajiner itu. Tapi mengapa sejarahnya menciptanya begitu indah? Kau kah itu dunia  yang berurusan dengan materi dan nepotisme.
Anak kecil akan tetap tersenyum lagi sekalipun dia baru saja menangis. Bahkan seringkali dia tersenyum dalam tetesan air matanya. Nurani pada akhirnya akan mengalahkan segalanya bagi orang yang memilikinya. Ini pilihan yang kita jalani masing-masing. Ini yang aku yakini kebenarannya. Kau pun menyakini kebenaran idealismemu. Kita hidup serumah tapi dalam kamar yang berbeda.

24 Juli 2013

15:57

Senin, 22 Juli 2013

Samar


Sesungguuhnya saya baru benar-benar menyadari kalau segala keabsurdan yang selama ini saya jalani hanyalah kamuflase untuk menghidupkan kembali arwah raga yang gentayangan dimakan kerapuhan fisik, usia dan ketidakpedulian. Saya tidak menafik ada sisa-sisa kepedulian di ujung nafas yang hampir habis. Tapi itu sekejap saja, setelah itu pergi dan benar-benar habis nafas. Hanya segelintir orang saja yang benar-benar masih saya hormati di sini. Mereka yang mau disebut sebagai senior maupun junior. Bagi saya sama saja. Ketika anda bertanggung jawab atas komitmen maka di situlah saya akan menghargai keberadaan. Tapi sekali anda berkilah maka setelah itu percuma saja kau berusaha menghapus kesalahan itu. 


Saya tidak suka pendendam hanya tidak mau dibohongi untuk beberapa kali. Apalagi dengan tipuan sekilas yang baru saya sadari sekarang. Masih ada sisa sebagian yang benar-benar merasa punya tanggung jawab dalam bangunan raga ini. Selebihnya hanya menuntut untuk ini dan itu. Habis itu kabur dan pura-pura diam atau tidak tahu. Alasan klasiknya “Ini bukan masa gue lagi. Ini waktu kalian. Maka segera saja ” tiba-tiba senyap sebentar dan gue pergi!

Romantisme kecil



Hari ini tiba-tiba ingin merasakan lagi romantisme sakit dan bahagia saat jatuh cinta. Biarpun lebih banyak perasaan luka yang tertinggal bersamamu tapi tak ada alasan bagiku untuk mengelakanmu. Tidak untuk selamanya karena aku pasti takkan bisa.bersamamu adalah kenangan singkat yang sampai dengan saat ini tak pernah hilang dari ingatan. Kau mungkin mudah saja untuk menghapus jejak singkat di antara kita. Tapi tidak bagiku. Aku tahu aku hidup bukan untuk masa lalu tapi dari masa aku bertolak untuk masa yang akan datang. Kau telah mengganti sayang dengan orang-orang setelahku. Mudah memang bagimu untuk segera beranjak dari kisah yang terlalu singkat. Bahkan aku masih ingat betul sangat sambungan telepon jarak jauh mengakhiri semuanya. Aku sadar yang memulainya saat itu. aku melihat indikasi ketidakenakan pada kau saat itu. aku terlalu sibuk dengan urusanku dan begitupun kau. Mungkin sampai dengan sekarang. Aku hadir sebagai dian yang tak lagi menyala seterang dulu menurutmu. Tapi aku justru merasa lebih terang dari sebelumnya sekalipun dian-dian lain berlalu menggantikan dian yang sempat meninggalkanmu sementara.
Ini bukan soal ketidaksetiaan tapi tentang tanggung jawab. Aku datang tanpa apa-apa kecuali perasaan yang memotivasiku untuk mengatakan sesuatu yang kini kusebut “cinta.” Hanya itu. Tapi aku sadar seiring hasratku mengatakan hal tersebut. Selalu ada konsekuensi yang harus aku terima meskipun terloihat kurang bersahabat denganmu. Aku terima dan semoga saja “iya” denganmu.

Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu. Tapi untuk mendapatkanmu..

25 Juni 2013

Yang ini untuk kau

Aku malu
Jika apa yang aku tahu tidak sampai pada adikku
Aku malu
Jika apa yang aku tahu menjadi milikku sendiri
Aku malu
Jika apa yang aku tahu menjadi kesombongan
Aku malu
Jika apa yang aku tahu tak sampai mengubahku
Aku malu
Jika apa yang aku tahu tak diketahui oleh adikku
Aku malu
Jika adikku tampil apa adanya
Aku malu
Jika pengetahuanku berhenti pada titik ini
Aku malu
Jika aku meninggalkan adikku tanpa bekal apa dan apa
Aku malu
Jika aku tak merasa
Itu aku

KKL:perjalanan


Belajar banyak mengenal niat dan tujuan. Apalah anda mendeskripsikannya. Terkadang apa yang dilakukan bisa saja diterjemahkan sebagai sesuatu yang salah orang lain. Bahkan hanya sekadar jabat tangan atau duduk di tempat yang dirasa nyaman dan santai. Bahkan niat mengakrabkan bisa berubah menjadi lakuan yang salah seratus delapan puluh derajat. Inilah yang terjadi saat ini. Perjalanan penjang Bali-Jogja yang sama panjangnya dengan singgungan banyak cara dari orang yang berbeda juga. Ada yang diam, ada juga yang tidak mau tahu dengan apa yang terjadi. Tidak ada kepentingan maka tidak ada urusan. Ini saat yang menyenangkan kawan. Tapi kau hendak menerjemahkan sebagai sesuatu yang lain. Sayang. Lebih baik menikmati perjalanan panjang ini.
Tapi semua perjalanan bergantung pada masing-masing pejalannya. Saya tidak berhak memaksakan anda untuk menikmati kesenangan atau kesedihan anda. Yang terpenting bagaimana cara pandang anda saja. Saya tidak ada niatan lain kecuali untuk menikmati setiap perjalanan yang saya jalani. Sekarang bersama anda dan juga anda.

Indah kalau ada peduli. Tapi peduli untuk memerhatikan bukan untuk menyalahkan. Sifat dan sikap terserah anda.

13 Mei 

Sudut pandang:lagi

Mulai lagi. aku telah cukup lama meninggalkan kebiasaan lama untuk terus mengabadikan setiap kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Tapi ide-ide indah itu menguap begitu saja seiring dengan satu tugas yang begitu aku tuhankan melebihi segalanya. Aku salah tapi tak berdaya menerimanya. Sampai dengan batas-batas yang seharusnya harus segera aku dobrak tak kunjung aku pecahkan. Bahkan membuat benteng pandangan mata yang kaku dan menjadi pribadi yang egois. Maaf kawan seharusnya ini membuatku berubah menjadi pribadi yang lebih simpatik tapi aku melihatnya dari sudut yang tidak menguntungkan.

Ini tidak sesuai dengan jalur yang seharusnya aku tempuh. Tapi terlanjur berjalan. Ini tidak boleh berakhir begitu saja tanpa bekas-bekas keindahan dan kepuasan batin yang melegakan. Ini harus berlanjut ketimbang berhenti di tengah jalan dengan rasa lelah yang menanggung. Yah,,aku akan tetap terjaga dalam program yang berbelit dan lama. Hasil tak jelas tapi aku lakukan juga. Hanya demi eksistensi. Bahkan lupa diri dan melupakan orang lain. Maaf. Kalian…

3 Mei 2013

Masih tentang personality


Ada kegelisahan dalam  lindap langkah tanpa keyakinan. Pada tatap mata penuh beban dan  tekanan. Membisukan mulut yang biasa riang tanpa pertimbangan. Hingga mengunci bahkan untuk sekadar senyum melihat kelucuan seorang anak kecil menggendong seekor kelinci. Apa salah yang dia hadapi. Tidak ada kecuali membatu dalam kesombongan. Mestinya ini tidak terjadi. Bahkan untuk sedetik sekalipun. Karena mengubahmu menjadi diam dalam kesibukanmu adalah sesuatu yang ironis. Paradoks kebenaran dengan cia-cita yang terpaksa kau jalani. Bukan! bukan seperti itu caranya!

Mulailah dengan sedikit keihklasan untuk berbagi. Tidak ada salahnya membagikan kesenangan dengan yang lain. Begitupun dengan beban tugas yang sedang kau jalani. Tidak perlu belajar menghibur diri kalau toh nyatanya kau tak pernah bisa melakukannya. 

18 April 2013

Penyampaian



Perlahan aku mulai bisa menemukan pola pengendalian diri yang paling efektif. Malam ini aku menemukan dan sekaligus melakukannya. Apapun kepedulian kalian padaku saat ini, aku ucapkan terimakasih banyak telah bersama-sama sampai denga hari ini. Aku paham benar kesibukan ini pun kadang melengahkanku dari tanggungjawab dan amanah. Berapa banyak komunitas yang telah aku sisihkan, aku juga sampai lupa berapa jumlahnya. Tetapi paling tidak sekarang aku hanya punya kalian Teater Zat yang menjadi satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Kian bertambah waktu kian paham bahwa aku tak dapat meraihnya sekaligus. Tapi jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Aku dilahirkan bukan untuk menguasai segalanya, aku bukan robot. Aku terlahir untuk satu keahlian utama saja. Selebihnya adalah keterampilan tambahan yang menyempurnakan. Semoga ini jalan benar yang diizinkanNya. 

2 April 2013

Penyampaian



Perlahan aku mulai bisa menemukan pola pengendalian diri yang paling efektif. Malam ini aku menemukan dan sekaligus melakukannya. Apapun kepedulian kalian padaku saat ini, aku ucapkan terimakasih banyak telah bersama-sama sampai denga hari ini. Aku paham benar kesibukan ini pun kadang melengahkanku dari tanggungjawab dan amanah. Berapa banyak komunitas yang telah aku sisihkan, aku juga sampai lupa berapa jumlahnya. Tetapi paling tidak sekarang aku hanya punya kalian Teater Zat yang menjadi satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Kian bertambah waktu kian paham bahwa aku tak dapat meraihnya sekaligus. Tapi jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Aku dilahirkan bukan untuk menguasai segalanya, aku bukan robot. Aku terlahir untuk satu keahlian utama saja. Selebihnya adalah keterampilan tambahan yang menyempurnakan. Semoga ini jalan benar yang diizinkanNya. 

2 April 2013

Penyampaian



Perlahan aku mulai bisa menemukan pola pengendalian diri yang paling efektif. Malam ini aku menemukan dan sekaligus melakukannya. Apapun kepedulian kalian padaku saat ini, aku ucapkan terimakasih banyak telah bersama-sama sampai denga hari ini. Aku paham benar kesibukan ini pun kadang melengahkanku dari tanggungjawab dan amanah. Berapa banyak komunitas yang telah aku sisihkan, aku juga sampai lupa berapa jumlahnya. Tetapi paling tidak sekarang aku hanya punya kalian Teater Zat yang menjadi satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Kian bertambah waktu kian paham bahwa aku tak dapat meraihnya sekaligus. Tapi jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Aku dilahirkan bukan untuk menguasai segalanya, aku bukan robot. Aku terlahir untuk satu keahlian utama saja. Selebihnya adalah keterampilan tambahan yang menyempurnakan. Semoga ini jalan benar yang diizinkanNya. 

2 April 2013

Posisi dan tanggungjawab


Posisi dan tanggungjawab seringkali memaksa orang untuk berbuat melebihi kemauannya. Membongkar batas-batas diri yang mengurungnya dalam sebuah penjara kreativitas dan produktivitas kerja. Begitupun yang terjadi hari ini denganku. Meskipun aku hidup di antara kesadaran dan ketaksadaran yang tinggi namun keberadaanku saat ini memaksaku berlabuh cepat pada tiap-tiap target untuk menciptakan rencana menjadi realita. Menjadi sesuatu yang benar-benar wujud. Tidak sekadar konsep dan wacana lagi.
Sekarang aku pun sadar ternyata amanah itu membuatku jauh lebih cepat dari biasanya. Memaksaku mencari lebih banyak dan lebih cepat dari biasanya. Memang kadangkala keterpaksaan itu penting untuk memajukan seseorang. Dalam hal ini aku.
Sore tadi aku bercakap di fb dengan seorang teman baru. Aktivis teater dari UNY. Perempuan mahasiswa jurusan bahasa Perancis angkatan 2010. Berarti seumuranlah. Tidak ada niat lain kecuali menguras semua kegiatan teater di sana seperti apa. Dan inilah yang aku dapat sementara ini.

Bahwa teater menjadi program adalah benar dengan beberapa kegiatan diantaranya adalah jelajah alam, workshop, pentas teater, regenerasi, antologi sastra dan lain-lain. Lakon yang pernah dimainkan diantaranya Pinangan, dll.

29 Maret 2013 

Sudut pandang



Sempat terpikir untuk membuat semacam tulisan bercambung berbentuk cerita dalam berbagai variasi sudut pandang yang berbeda. Melihat satu hal yang sama dari berbagai sisi. Sederhananya seperti itu. Barangkali aku akan banyak belajar dan menjadi orang paling bijak dalam tulisanku sendiri. Ini ide bagus yang tinggal menjalankannya saja dan pelan namun pasti aku akan menyamai esai Goenawan Mohamad yang terbit setiap pekannya di tempo. 

29 Maret 2013

Respon


Aku mulai merespon kenangan yang tidak terlalu mengenakkan. Pada sebuah masa yang telah aku tinggalkan. Kelompok-kelompok kecil itu berusaha menjadi maharaja. Tidak ada yang mau mengalah, begitupunpada tiap orang yang mengaduh. Lembaran naskah yang kau baca berulang tak kunjung kau selesaikan tafsirnya. Ini sajak di bawah pohon tua pada selembar kertas. Sambil menunggu keelokan dari seorang yang telah menjanjikan. Ini sajak pada lembaran batin. Tentang penguasan dan yang dikuasai. Ini kewajibanku. Tapi kau tidak acuh. Itu kewajibanmu. Tapi kau mengalihkan.

Aku mulai bosan dengan tulisanku sendiri. kacau tanpa arah dan kejelasan. Aku terlalu asik dengan dunia kertas. Berdiskusi dengan mahluk-mahluk bisu tanpa suara. Aku terlalu pada lembar-lembar kosong itu, yang aku coret sesukanya saja. pada sebuah kertas. Tentang arti diam, suara, dan orang-orang di bawah rangkulan malam. Kosong!

28 Maret 2013 

Awal 1

05:31
Malam tadi baru saja memastikan naskah yang akan dipentaskan bersama di beberapa sekolah di Jakarta. kesepakatan itu akhirnya terbentuk setelah selama pertemuan sebelumnya hanya berputar-putar pada naskah yang berbeda-beda setiap minggunya. Kemudahan ini atas izin Allah dan semoga langkah awal ini semakin terang dan cerah, progresif dari hari ke hari. Waow tentu saja karena waktu pemilihan naskah yang cukup lama telah menghabiskan banyak waktu. Alhasil waktu pendalaman pada naskah ini menjadi semakin sempit. Bisa!

Aku melihat semangat itu masih tetap terpancar pada kalian. Dan karena itu aku yakin ini akan berhasil diselesaikan. Kembali ke niat awal, niat untuk berbagi tentang pendidikan teater dan teater untuk pendidikan. Pasti bisa!

S-I

Hari ini seminar internasional. Katanya? Karena menurut pedoman yang berlaku sekarang seminar internasional minimal harus dihadiri oleh 5 pembicara dari 5 negara yang berbeda. Tapi sekarang hanya ada 2 pembicara dari 2 negara yang berbeda. Tidak apa-apa. Pembelajaran. Modus bela diri. Manusia memang sudah tabiatnya untuk membela diri. Begitulah sampai kadang harus mematikan yang lain. Tapi setidaknya mereka berani dan mampu tampil ke depan. Ets..saya juga tampil tapi hanya sebagai ajudan, mereka jenderalnya.haha luar biasa!


11 Februari 2013
Sergur 15.08

Sama


Aku tulis ini kala penyakit melemahkanku. Dua malam tidur bersama ketidaknyamanan. Tapi itu pun sama saja dengan aku menikmati 24 jam waktu yang telah diberikan Tuhan kepadaku. Begitu pun ketika aku harus merasakan sakit dalam tiap malam pembaringanku, maka sebenanrnya itu hanya tipu daya yang membuatku terbatas dalam gerak dan aktivitas. Lihatlah lidah yang mulai memutih karena suhu badan yang terlalu tinggi. Lihat pula bibir yang mulai mengering karena alasan yang sama. Tapi itu juga hanya sebatas penebus atas dosa-dosa yang aku buat selama ini. Begitupun atas 24 jam waktu yang belum bisa aku sempurnakan manfaatnya.

Aku tidak menyesali ini sebagai hukuman atau konsekuensi atas tindakanku. Tapi ini lebih memiliki kecenderungan pada waktu yang tepat untuk memastikan diri berada pada perenungan dan penghitungan diri. Atas segala kebaikan juga keburukan yang telah terjadi selama 24 jam waktu yang diberi Tuhan setiap harinya kepadaku. Ada saatnya juga tubuh butuh istirahat. Ada saatnya juga badan harus berhenti dari aktivitas karena manusia bukanlah robot. Mudah-mudahan ini menjadi penanda baik untuk 24 jam-24 jam waktu yang mungkin masih akan diberikan Tuhan kepadaku, kepada kita, manusia. 

GREAT TEACHER

ONIZUKA SENSE
Barangkali dialah profil guru idola di negeri sakura Jepang. Malam ini kami baru menamatkan 11 edisi film yang berjudul Great Teacher Onizuka. Tidak disangka Onizuka sebagai guru sekaligus tokoh utama di film benar-benar  memberikan inspirasi tidak hanya pada siswa-siswanya di sana tapi juga para penontonnya, saya yakin. Akhirnya saya menemukan lagi film bergenre pendidikan yang bisa membangkitkan semangat mengajar. Orang-orang seperti saya dan mungkin anda membutuhkan film-film inspiratif seperti ini.

Persoalan yang rumit menjadi sederhana karena si Onizuka, karena guru. Hal terpentingnya lagi adalah betapa seorang guru di Jepang begitu dihargai dalam bentuk semua sapaan. Semua panggilan selalu melekat guru pada nama aslinya. Meskipun hal kurang baiknya adalah anak-anak yang berandal, tidak teratur dan criminal menjadi potret utama masalah pendidikan di sana. Namun pada satu titik mengerucut pada masalah cinta, dan kasih sayang yang hilang dari orang tua kepada anaknya. Begitu rumit dan kompleks. Luar biasa. ini cerita yang tak terduga. Lagi-lagi aku terjebak pada kata bijak “judge the book from the cover.”

Jakarta, 22 Juli 2013

23:09

Sabtu, 16 Maret 2013

Pengendalian




Aku tidur cepat malam ini. Pening kepalaku memaksaku merebahkan badan lebih cepat dari biasanya. Tak kusangka, aku bangun sepagi ini. Pening kepalaku pun telahh kabur terbawa mimpi yang tak terlihat lagi.
Kemarin aku memutuskan untuk "prihatin" sebagai bentuk permohonan ampun atas dosa-dosaku selama ini. Aku bertekad ini akan menjadi kebiasaan baru yang wajib dan tidak boleh ditinggalkan. Pening kepala kemarin aku anggap sebagai bagian dari adaptasi tubuh yang belum biasa. itu pun dudah aku perkirakan sebelumnya. Hingga sampai dengan saat ini aku yakin kebaikan apapun yang aku lakukan tidak akan pernah sia-sia. Semua terbalas sesuai dengan apa yang aku lakukan, pada apa dan siapapun. Hingga saat ini aku juga yakin bahwa pengendalian diri akan menjadi prioritas pertama jika aku mau mengendalikan orang lain.

Ulang tahunku yang kemarin menjadi petanda yang tidak baik sebenarnya. Kala itu sedikit sekali kebaikan yang aku tebar dan taburkan. Hasilnya pun menyesuaikan. Maka kali ini aku hendak mengubahnya dengan serius. Ingin rasanya membawa tubuh yang semakin termakan waktu ini menggantikan masa-masa sulit yang berlalu dengan tidak baik. Esok aku akan mengubahnya. Yang kemarin memang tidak bisa. Tapi selanjutnya pasti bisa. Tidak ada keraguan lagi.
Padahal aku sudah tahu soal pengendalian diri ini sejak lama. Tapi kemarin akalku terlalu sibuk dengan dunia. Alhamdullah hari ini aku terbuka. Aku tinggal  menjaganya dengan segala kemungkinan.