Rabu itu adalah hari
pelaksanaan lomba sosiodrama antarsekolah menengah pertama se-jabodetabek yang
diselenggarakan oleh museum sumpah pemuda, Jakarta. Sosiodrama adalah istilah
yang jujur baru pertama kali aku dengar. Yah dari namanya sih ngga terlalu
asing, kurang lebihnya semacam drama yang berkaiterat dengan social masyarakat.
Kebetulan momentum yang diambil adalah tentang sejarah sumpah pemuda.
Surat yang diantar oleh
guru pamongku tertulis tanggal 7 Oktober 2013, namun aku membacanya tanggal 9
Oktober 2013 setelah Ivana dan Yuliana, rekan PKMku di sekolah memberitahu.
Hari itu berarti tepat dua minggu sebelum pelaksanaan lomba. Mendapat tawaran
untuk mengumpulkan sekaligus melatih anak-anak aku antusias menerimanya, begitu
juga dua rekanku. Aku hanya berpikir ini pengalaman baru yang dikirimkan Tuhan
kepada kami di sini dan mungkin tak akan kami dapatkan setelah selesai masa
tugas menjadi guru “relawan” di sekolah ini.
Beruntunglah Tuhan
membukakan pintu izin kami untuk menjadi peserta dengan nomor urut 6 di sana.
Setelah mengalami banyak perubahan pemain dan konsep pasca gladi resik lomba, akhirnya
dengan perasaan seadanya kami berangkat Rabu pagi pukul 08:10 wib. Banyak anak
yang bertanya.
“Pak kita naik apa ke sana?”
Saya jawab aja tanpa
rasa bersalah. “Kita naik bis nanti.”
“Pak
katanya naik bis?”
“Iya,tuh
sopirnya udah nungguin?”
“Jadi
mana bisnya?”
“Itu.
Mini bis.”
“Haha..Bapak,
itu kan mikrolet.”
“Kapan
lagi naik mikrolet bareng-bareng? Yang penting asik rame-rame.”
“Oke
deh Pak.”
Kami pun melaju 15
orang dalam sebuah mikrolet ditambah sopirnya tentu. Beruntunglah yang ngga
dapat jatah kursi duduk, karena mereka akhirnya tahu arti pentingnya berbagi
untuk memangku temannya. Mikrolet melesat dengan kecepatan sangat lambat
melewati jalan Percetakan Negara yang padat. Setengah jam kemudian kami sampai
di bakal TKP.
“Pak ini sudah sampai?”
“Iya
sudah sampai. Itu kita nanti di sana. Di gedung yang pagarnya ada kain merah
putih.”
Kami turun tepat di
depan gerbang masuk museum. Mikrolet melaju lagi bersama kertas biru bergambar
I Gusti Ngurah Rai. Kami langsung masuk ke dalam area museum dan melakukan
pendaftaran ulang. Sambil mengunyah kudapan yang dikasih panitia seorang siswa
bertanya lagi dengan khawatir.
“Pak mereka pakai biola!”
“Ngga
usah terpengaruh dengan sekolah lain. Main aja kaya latian kemarin. Tampilkan
aja yang terbaik. Ngga perlu mikir menang atau kalah.”
Setelah itu kami berdoa bersama dan acara pun
dibuka oleh ketua museum. Ternyata seleksi alam masih terjadi lagi di sini.
Dari 10 sekolah yang mendaftar, hanya ada
empat sekolah yang memenuhi janjinya di hari pelaksanaan. Jadi perasaan
was-was sedikit berkurang. Tapi tetap saja anak-anak yang baru pertama kali
ikut lomba, semuanya panik luar biasa. Tapi cuma sesaat. Sampai dengan akhirnya
mereka tampil juga ke depan.
Di sinilah dimulai…
Meskipun mendapatkan
nomor urut 6 tapi nyatanya mereka tampil di urutan ke dua. Kendala teknis.
Anak-anak memang belum terbiasa untuk menanggapi sesuatu yang dilihatnya lebih
bagus dari apa yang dia punya. Terlebih setelah mereka melihat penampilan
kelompok pertama yang memang tampil dengan cukup meyakinkan. Hampir semuanya
aku lihat menjadi berkurang semangatnya. Aku hanya berpesan, “Kalian punya kesempatan yang sama untuk
menjadi yang terbaik.”
Mereka pun tampil
maksimal hari itu. Mereka menang secara semangat dari kelompok-kelompok lain.
Tapi sayang dari segi konsep yang dibuat bersama-sama olehku, Ivana dan Yuliana
memang masih kalah. Satu kelompok memang terlihat lebih dominan dari yang lain.
Mereka anak yang sudah terbiasa dengan kegiatan drama atau teater di sekolah.
Jadi aku anggap wajar mereka dominan. Berbeda dengan anak-anak yang aku bawa
hari ini. Mereka sama sekali tak aktif dalam kegiatan drama di sekolah maupun
di luar sekolah. Beberapa anak memang katanya pernah main drama, Cuma seadanya
saja di ruang-ruang kelas. Tapi bagiku mereka menunjukan perkembangan yang
cukup signifikan sekalipun mereka semua belajar dari awal.
Singkat cerita mereka
mendapat predikat kelompok terbaik ke dua. Seperti juga yang telah aku
perkirakan. Luar biasa. Wajah-wajah mereka pun bebas dengan senyuman terlebar.
Berkemas dari perlombaan dengan membawa sebuah map berisi sertifikat
penghargaan dan plakat kemenangan. Anak-anak pun pulang dengan kepala tegak. Namun
aku mengingatkan untuk selalu menundukkan kepala, tidak cepat merasa puas,
apalagi bersombong dengan hasil yang didapat hari ini. Kalian bisa lebih baik
lagi, dengan ataupun tanpa kami sebenarnya.
“Berikan yang terbaik
yang kalian bisa untuk orang tua, guru, sekolah dan teman-teman kalian semua.”
Jakarta, 23 Oktober 2013
Salam,
Imam
udin-ivantia-yuriana